Pendahuluan laporan ini diawali dengan ironi dari sebagian kinerja pedesaan di Sumatera dan Kalimantan yang menghasilkan kebakaran hutan dan lahan yang berkontribusi bencana asap yang menyesakkan pernafasan banyak orang di dalam dan luar negeri. Ironi ini bisa berupa pembatalan pembangunan pembangkit listrik di tengah defisit pasokan listrik, sehingga sudah dirasakan perlu risk assessment yaitu penentuan kuantitatif atau kualitatif nilai resiko dalam konteks pembahasan yaitu resiko kebakaran hutan dan lahan serta resiko penyebaran bahaya asap. Simak penjelasan lebih lanjut di file RASP Kemajuan renja 04
Di tengah semua ironi yang muncul, penulis memandang bahwa masih ada harapan dan asa untuk mengatasi bahaya kebakaran dan asapnya. Tuhan sudah memulai musim hujan dengan menurunkan air dari langit. Sekali lagi terbukti bahwa manusia lalai dalam merekayasa ekologi pedesaan /kelurahan menuju kebaikan dan manusia tidak optimal dalam merestorasi ekosistem rumah dan pekarangannya /lingkungannya yang porak poranda akibat ulah diri sendiri menuju kawasan rumah pangan lestari. Simak uraian lebih detil di file RASP Solusi IPADI