E-Gov E-Biz E-Com

Entah yang mana di antara program itu yang bisa saya tempuh. Saya ingin menempuh studi terkait e-gov (perguruan tinggi) atau e-biz (komunitas). Kalau bisa di luar negeri walau pun seandainya diterima di dalam negeri, insya Allah, tetap saya jalani. Jika mengacu pada URL http://www.australiaawardsindo.or.id/index.php/id/general-information/areas-and-development-priorities Ternyata akhirnya saya gagal menyelesaikan studi strata tiga yang tinggal menyelesaikan disertasi di Universitas Hasanuddin.

Australia Indonesia Partnership Priority Development Areas (PDA) –> Sustainable Growth and Economic Management –> Description of PDA –> Improving economic policy and management, reducing constraints to growth in infrastructure and productivity, and improving natural resource management, environmental governance and response to climate change. Untuk itu diperlukan knowledge and technopark dalam bentuk engineering center or services.

RASP ingin meneliti terkait electronic government untuk urusan perencanaan infra-struktur kelistrikan dan peningkatan produksi listrik melalui energi terbarukan dan sangkut pautnya dengan hak kekayaan intelektual khususnya di level fakultas teknik. Bagai mana memperbaiki kebijakan dan manajemennya agar aspek EKONOMI TEKNIK diperbaiki (analisis, RAB [rencana anggaran biaya] per-fakultas bisa meningkat)? Bagai mana memperbaiki manajemen sumber daya alam berkat kontribusi fakultas teknik? Bagai mana sembari menjalankan kebijakan manajemen tersebut, sumber daya alam terkelola dengan baik sehingga ada tata kelola lingkungan dan respons terhadap perubahan iklim bisa sesuai standar internasional.

Australia Indonesia Partnership Priority Fields of Study –>

  • Natural Resource Management
  • Agriculture
  • Aquaculture /fisheries
  • Forestry
  • Climate Change
  • (Engineering) Economics
  • Infrastructure Planning
  • Water and Sanitation
  • Rural Growth
  • Small and medium enterprise development

Perencanaan infrastruktur kelistrikan di sektor negara sebagai induk sebaiknya difasilitasi dengan electronic government. Kaitannya dengan sektor bisnis misalnya biro teknik listrik dan Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia bisa difasilitasi dengan electronic business. Selanjutnya untuk tiap perusahaan bisa difasilitasi dengan electronic commerce. Hal ini akan memperlancar koordinasi antar ketiga pihak tersebut.

Menurut Lampung Post Senin 23 Sep 2013 hlm 1, rubrik Kelistrikan, ada judul “Lampung Kekurangan Pembangkit Listrik”. Direktur Perencanaan dan Pembinaan Afiliasi PLN, Murtaqi Syamsuddin menyatakan bahwa Lampung sangat membutuhkan pembangkit dan infra-struktur jaringan. Pasalnya, rasio elektrifikasi (ukuran tingkat ketersediaan listrik di suatu daerah, red) di Lampung masih rendah yakni 72 % dari rerata nasional sebesar 78 %.

“Di samping itu, Lampung masih defisit daya listrik sebesar 100 – 150 MW. Akibatnya, listrik di Lampung sering padam”, ujar dia di kantornya di Jakarta. Menurut Murtaqi, untuk memenuhi kebutuhan listrik Lampung, Pemerintah berencana membangun pembangkit baru antara lain:

1) PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi) Gunung Rajabasa telah siap dibangun oleh investor. PLTP merupakan pembangkit murah, andal, tidak merusak lingkungan, dan tidak ada emisi;

2) PLTP Suoh Sekincau; 3) PLTP Ulubelu 1, 2; 4) PLTP Ulubelu 3, 4; 5) PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) Lampung Barat.

“Kami berharap pembangkit listrik di Lampung bisa terealisasi dengan baik sehingga perkembangan yang terjadi untuk kesejahteraan masyarakat dan menumbuhkan perekonomian masyarakat. Jadi kawasan industri tidak hanya berkembang di Pulau Jawa tetapi nanti akan berkembang di Lampung”, katanya. Harapan itu bisa direalisasi secara gotong royong dengan konsep desa mandiri energi didukung masjid /sekolah /UKM mandiri energi yang didukung oleh knowledge and techno park dalam kerangka badan layanan umum sebagai penerus lembaga bantuan keteknikan tempo dulu.