Electronic learning, tingkatan ilmu

World
Lima benua

Aku gunakan berbagai cara untuk keperluan ini. Pertama, ya … blog ini. Kedua, fasilitas e-learning dari Unila yaitu

URL http://e-learning.unila.ac.id/

URL http://kuliah.unila.ac.id/

FB pakai saja keyword “Raden Arum Setia Priadi” untuk menemukannya. Di samping itu ada website yang terpakai juga untuk keperluan ini yaitu: http://ictft.webs.com/.

http://groups.yahoo.com/group/Dana_Abadi/message/2247
 
Fwd: 6 TINGKATAN ILMU
Posted By:
  • morry.infra@…
    • Send Email
Sat Feb 2, 2013 9:57 am  |
———- Forwarded message ———-
From: Ummu Farah <>
Date: 2013/2/2
Subject: 6 TINGKATAN ILMU

Ummu Farah 6:00am Feb 2
6 TINGKATAN ILMU
=============

Imam Ibnul Qayyim rahimahullaahu ta’ala berkata,
“Ilmu memiliki enam tingkatan :
1. Baik dalam bertanya.
2. Diam dan mendengarkannya­ dengan baik.
3. Memahami dengan baik.
4. Menghafalkannya­.
5. Mengajarkannya.
6. Dan yang merupakan buah dari ilmu yaitu mengamalkannya dan memperhatikan batasan-batasan­nya.”
(Miftaah Daaris Sa’aadah, I/511)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullaahu ta’ala berkata,
“Hendaklah seorang penuntut ilmu mengamalkan ilmunya, baik secara aqidah, ibadah, akhlak, adab, dan muamalah. Semua ini merupakan buah dari ilmu dan hasil dari ilmu sendiri, karena orang yang mempunyai ilmu bagaikan seseorang yang membawa senjata, bisa jadi senjata itu berguna bagi dirinya atau bisa jadi senjata tersebut membinasakan dirinya sendiri. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam,
‘Al-Qur’an bisa menjadi hujjah (membela) kamu atau menjadi musuh bagimu.’

Menjadi pembela kamu jika kamu mengamalkan (ilmunya), dan menjadi musuhmu jika tidak mengamalkannya.­'”
(Kitab Al-Ilmu, hal. 188)

Dari Jundub radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata,
Rasulullah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda,
“Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lampu yang memerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri.”
(HR. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir, no. 1681, dan al-Khathib al-Baghdadi dalam al-Iqtidhaa’, no. 70, Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir, no. 5837)

Author: rasp

Saya adalah pejuang, pekerja informatics ipos, mujahid fi sabil lillaah, hamba Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *