Tuan Gorbachev dan Warisan Perdamaian

oleh Iwan Sulistyo

(opini ini dimuat di Lampung Post, Rabu, 7 September 2022)

Tersiar kabar dari Moskwa bahwa Mikhail Sergeyevich Gorbachev, pemimpin terakhir Uni Soviet, telah menutup mata untuk selama-lamanya pada Selasa malam (30/8) dalam usia 91 tahun. Gorbachev menggantikan Konstantin Ustinovich Chernenko yang mangkat pada 1985 sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komite Sentral Partai Komunis Uni Soviet, posisi terkuat dan terpenting di tubuh negara kompetitor terberat Amerika Serikat kala itu.

Ketika Yuri Vladimirovich Andropov (menjabat Sekjen menggantikan Leonid Ilyich Brezhnev) wafat pada 1984, pernah beredar spekulasi di kalangan analis politik Soviet bahwa figur terkuat sesungguhnya ialah Gorbachev, bukan Chernenko. Chernenko justru dianggap oleh segelintir kalangan sebagai tokoh yang tidak begitu menonjol dan tidak terlalu diperhitungkan di dalam dinamika elite politik Soviet. Ia dipandang sebagai ‘bayang-bayang Brezhnev’. Kemanapun Brezhnev melawat, ia ikut serta. Terpilihnya Chernenko diduga merupakan hasil konsensus politis antara ‘kaum tua’ dan ‘kaum muda’ di internal elite politburo saat itu.

Andai Gorbachev menggenggam posisi Sekjen lebih awal, dan bukan Chernenko yang terpilih pada 1984, ada kemungkinan Perang Dingin berakhir lebih cepat dan Soviet bubar lebih dini karena glasnost (transparansi/keterbukaan) dan perestroika (restrukturisasi/reformasi sistem ekonomi dan politik) juga bergulir lebih awal.

Dari aspek bahasa tubuh, Gorbachev berpembawaan tenang, meyakinkan, dan penuh percaya diri. Ayunan langkah tangan dan kakinya ketika berjalan serta sorotan matanya memancarkan energi optimistis akan masa depan. Ia sangat menguasai podium dan audiensi.

Yang paling mengesankan ialah kalimat yang diucapkannya, nyaris tertata rapi. Suaranya yang khas, nada bicaranya yang sangat jelas, ada jeda antarkalimat yang disampaikan, dan disertai intonasi yang tepat saat bertutur – itu semua kian memperkuat pancaran wibawa dan kharismanya sebagai seorang pemimpin. Setidaknya, kesan itu terasa dari tampilan pertama kalinya tatkala ia berpidato sebagai pemimpin baru Uni Soviet pada pemakaman Chernenko (Sekjen yang ia gantikan) di atas tribun Musoleum Lenin serta pada saat bersalaman dan berbincang dengan para pemimpin negara yang hadir usai pemakaman itu.

Tidak bisa dibantah, Gorbachev telah banyak memahat sejarah, khususnya upaya untuk menciptakan ‘perdamaian abadi’ di mandala Eropa dan dunia. Di dalam beberapa pidatonya, Gorbachev juga menekankan pentingnya menyelamatkan generasi masa depan dari konflik dan perang.

Peredaan Ketegangan Dua Adidaya

Betapapun keras dan pedas kritik serta cacian atas kegagalannya dalam mempertahankan keutuhan dan keberlangsungan Uni Soviet, Gorbachev layak dikenang sebagai individu yang relatif berhasil dalam peredaan ketegangan Moskwa-Washington dan, bahkan politik internasional secara luas, terkait ancaman perang nuklir. Sebelumnya, relasi Moskwa dengan Barat di era Andropov sempat memburuk, khususnya soal perundingan senjata nuklir: Intermediate-Range Nuclear Forces (INF) dan Strategic Arms Reduction Talks (START). Ini kita bisa telaah, setidaknya, dari narasi yang termuat di dalam surat-menyurat antara Andropov dan Presiden AS Ronald Reagan, khususnya pada paragraf penghujung dalam surat yang dikirim Andropov ke Reagan, (tanpa tanggal) Agustus 1983 dan 28 Januari 1984.

Sikap Andropov yang kaku dan relatif jarang dari publikasi media itu sangat berbeda dari pendahulunya, Brezhnev. Brezhnev bahkan mampu bercanda saat penandatanganan perjanjian sembari minum dengan Presiden AS, Richard Nixon. Kebekuan hubungan tersebut kemudian bisa dicairkan dengan cara diplomasi yang lebih elegan dan bermartabat ala Gorbachev.

Beberapa waktu setelah Gorbachev mengambil-alih tampuk kepemimpinan puncak di Kremlin, kenyataan memperlihatkan bahwa relasi yang ia bangun terhadap Gedung Putih mengarah pada ikhtiar persahabatan dan perlahan menepis kecurigaan dan perseteruan. Itu setidaknya dapat kita identifikasi dari bahasa yang digunakan di dalam surat-menyurat antara Gorbachev dan Reagan serta pelbagai pertemuan yang digelar antara keduanya.

Jam terbang diplomatik, luar negeri, dan bahkan intelijen yang dimiliki oleh Gorbachev memang tidak sekaya yang dikantongi Andropov. Sebab, Andropov pernah menjadi Duta Besar Uni Soviet untuk Hongaria (1954–1957) dan pernah pula memimpin lembaga intelijen dalam negeri Soviet (KGB) selama hampir 15 tahun. Selain itu, dilandasi oleh filsafat “lebih baik mengukur tujuh kali sebelum memotong sekali”, Andropov juga telah berupaya secara perlahan dan hati-hati membenahi tata kelola pemerintahan serta urusan ekonomi Soviet agar ketidak-efisienan di dalam pemerintahan tak terulang lagi.

Akan tetapi, tampaknya, naluri Gorbachev untuk membangun perdamaian dunia dengan pihak lawan justru lebih kental dan lebih tajam daripada Andropov dan dari para pendahulunya. Pengakuan internasional atas reputasi Gorbachev ihwal perdamaian dunia terbukti dari pemberian Hadiah Nobel Perdamaian 1990 oleh the Norwegian Nobel Committee. Dasar pemberian itu, antara lain, ialah karena Gorbachev sukses mengedepankan negosiasi ketimbang konfrontasi, terhindarnya dunia dari ancaman perlombaan senjata (ditandatanganinya INF Treaty 1987 setelah berunding beberapa kali), serta hadirnya keterbukaan dan kebebasan di Eropa Timur. Juga, penarikan pasukan Soviet dari Afghanistan (1988).

Arus Kemerdekaan

Akibat kebijakannya, Gorbachev tak mampu membendung derasnya arus kebebasan dan kemerdekaan di negara-negara anggota Soviet. Ia akhirnya mengundurkan diri dari posisinya sebagai presiden, 25 Desember 1991; suatu keputusan monumental yang kemudian menjadi pertanda redanya Perang Dingin dan ambruknya sistem komunisme di sebagian besar Eropa Timur.

Dua peristiwa lain yang berdekatan yang juga menandai Perang Dingin usai ialah runtuhnya Tembok Berlin (8 November 1989) serta menyatunya Jerman Barat dan Jerman Timur (9 Desember 1990). Bagi masyarakat Jerman dan Eropa Barat, Gorbachev adalah pahlawan yang telah menyelamatkan negara-bangsanya dari perpecahan dan potensi kekangan. Di Malta, 2–3 Desember 1989, Gorbachev dan Presiden Bush Senior bertemu. Mereka sepakat untuk mengakhiri Perang Dingin dan menyudahi sikap konfrontasional. Momen yang sungguh menyejukkan bagi sebagian besar masyarakat dunia.

Di abad ini, pemimpin dunia yang masih gandrung perang atau bahkan berupaya membangun persepsi konfliktual dan membawa negara-bangsanya kepada kondisi perang besar adalah pemimpin yang irrasional. Sungguh tangan mereka penuh lumuran darah dan air mata hanya karena ketidakmampuannya dalam mengendalikan diri sendiri serta memperturutkan sifat dasar manusia yang egois dan agresif.

Betapa Gorbachev telah memperlihatkan kesanggupannya dalam mengendalikan diri sendiri dan mengelola ego sebagai pemimpin negara besar untuk tidak menggiring dunia pada jurang pertikaian nuklir yang amat mengerikan meskipun hal itu harus dibayar secara amat mahal dengan kekecewaan dan pertikaian internal sebagian warga atas bubarnya Uni Soviet.

*Iwan Sulistyo, Dosen Hubungan Internasional (HI) FISIP Universitas Lampung (Unila); https://dosen.unila.ac.id/iwansulistyo/