Pengembangan Jejaring Penelitian Micro Services Security Safety

Research network development difokuskan pada topik micro services, bil khusus REST & RESTful matter, dengan fokus security –> secure, safety –> safe. Sekarang RESTful Infrastructure bisa digunakan untuk Digital Ecosystems.

ABSTRAK

Ada aspek desain kunci dari ekosistem digital. Bagai mana hal ini dapat direalisasi dalam web-like environment.

(digital ecosystem) = (digital infrastructures) + (socio-economic context –> called to operate)

Konsep ekosistem digital dibingkai di sekeliling interaksi komplek di antara agen-agen saling ketergantungan, difokuskan pada important properties seperti: 1) loose-coupling, 2) no central point of control or failure, 3) sustainability, 4) resilience, and 5) history.

Sudah dideskripsikan himpunan terintegrasi solusi desain untuk mengoperasionalkan prinsip kunci ekosistem digital menuju infrastruktur peranti lunak. Arsitektur referensi mendorong konstruksi RESTful yang dapat mendukung aplikasi internet masa depan, dan mengerjakan hal ini dalam cara kompatibel ke belakang dengan web sekarang.

Categories and Subject Descriptors: H.5.4 Hypertext /Hypermedia Architectures, H.2.3 Query languages, C.1.4 Distributed architectures;

Keywords: Digital Ecosystems, REST, Complex Systems, Architecture.

INTRODUKSI

Konsep ekosistem meningkat digunakan sebagai metafora dalam bisnis dan pemikiran sistem. Seseorang dapat pergi lebih jauh menggunakan metafora mendorong pengembangan model yang mempunyai nilai nyata dalam memahami dan memfasilitasi transformasi dalam ekonomi digital. Ada potensi signifikan untuk membuka teknologi internet masa depan.

E-commerce dan infrastruktur kolaboratif saat ini hadir sangat banyak di web, dengan perantara seperti portal perjalanan menyusun layanan oleh penyedia lain. Dalam pengertian ini dapat dikatakan untuk menunjukkan beberapa sifat ekosistem digital.

Bersambung ke sini.

Computer for Doctor

Komputer untuk Dokter

Dari referensi: Microsoft Word – NO 6 Masa Depan Lulusan Dokter di Indonesia-pangkat.docx (unsri.ac.id)

Bagai mana dokter masa depan? Masa depan lulusan PSPD terkait dengan format pelayanan kesehatan masa depan. Dengan melihat berbagai regulasi yang ada dan rencana implementasinya dapat diprediksi format pelayanan kesehatan itu berdasarkan:

  1. Implementasi SKN [Sistem Kesehatan Nasional];
  2. UU SJSN [Sistem Jaminan Sosial Nasional];
  3. UU PK [Praktik Kedokteran].

Di samping itu, kondisi real dan tantangan bidang kesehatan membentuk atau memesan jenis pendidikan dokter yang diharapkan. Indikator internasional untuk mengukur hal tersebut sekali gus mengukur keberhasilan pembangunan (kesejahteraan, termasuk kesehatan) suatu bangsa adalah capaian MDG’s [Mellenium Development Goal’s] dan HDI [Human Development Index]. Perlu diperhatikan juga hasil assessment Kementerian Kesehatan.

Format Layanan Kesehatan dan Masa Depan Lulusan Dokter

Pasal kesehatan yang diamandemen dapat dilihat pada pasal 28 H ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi: “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”.

Dalam SKN —tergambar format pelayanan kesehatan masa depan (khususnya untuk format layanan dokter tingkat pertama)—berbunyi: “Sejalan dengan pengembangan Sistem Jaminan Sosial Nasional Bidang Kesehatan, pemerintah tidak lagi menyelenggarakan pelayanan kesehatan individu melalui Puskesmas. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan individu menerapkan konsep dokter keluarga kecuali di daerah yang sangat terpencil yang masih dipadukan dengan pelayanan Puskesmas”. Di sini peran penting lulusan PSPD sebagai dokter keluarga –> praktik kedokteran.

Pelayanan Kedokteran Keluarga sebagai Masa Depan Pengabdian Lulusan Dokter

Guna memenuhi perubahan format tersebut di atas maka orientasi pendidikan kedokteran
haruslah memperhatikan area pengelolaan masalah kesehatan masa depan, yang isinya antara
lain:

1) Mengelola penyakit, keadaan sakit dan masalah pasien sebagai individu yang utuh,
bagian dari keluarga dan masyarakat –> manajemen –> butuh MS Office dan yang sejenis seperti OpenOffice, Trio Office, WPS Office;

2) Melakukan Pencegahan Penyakit dan Keadaan Sakit –>butuh social media untuk membangkitkan peran serta pasien dan keluarganya sekali gus memantau kondisinya;

3) Melaksanakan pendidikan kesehatan dalam rangka promosi kesehatan dan pencegahan penyakit –> hal ini terkait butir 2 di atas, plus bio-informatics;

4) Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan –> butuh tele-medicine, PeduliLindungi App;

5) Mengelola sumber daya manusia dan sarana-prasarana secara efektif dan efisien dalam
pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan dokter keluarga –> butuh internet /online hospital.

Dokter keluarga akan menjadi penghubung dan “jembatan” yang efektif antara pelayanan rumah
sakit dan pelayanan kesehatan pada layanan primer. Hal ini terdukung dengan keberadaan
konsep pelayanan ini yang oleh WHO dinamakan sebagai “Five Star Doctor” atau dokter
bintang lima”.

Dengan konsep ini, seorang dokter keluarga mempunyai kompetensi sebagai:

1) Care provider/menyediakan pelayanan kedokteran –> klinik /praktik kedokteran;

2) Decision maker/pengambil keputusan, termasuk jenis pelayanan dan rujukan apa yang diperlukan untuk ke rumah sakit yang dipilih –> Decision support system for health care resources allocation – PubMed (nih.gov);

3) Communicator/Komunikator –> perlu smartphone & social media, Why Communicating Well With Providers Improves Care (verywellhealth.com);

4) Community leader/pemimpin kesehatan di masyarakat –> kompetensi masa depan yang harus diasah. Leadership in public health – PubMed (nih.gov)

5) Manager of healthcare resources/manajer dari sumber kesehatan yang ada –> mulai dari manager klinik-nya sendiri, Counte_Ch1-d333923f.pdf (ache.org)

Selesai, pelajari juga Masa Depan Mahasiswa Kedokteran – Kompasiana.com