April 30, 2026
pan

Selama setahun terakhir dunia dilanda krisis COVID-19 yang berimbas pada seluruh sektor kehidupan. Efek yang paling nyata adanya pembatasan sosial berskala besar hingga istilah-istilah WFH (Work From Home), Lockdown, dan Zoom begitu dekat dengan kehidupan kita sekarang. Di sektor pendidikan musik, penutupan sekolah musik formal dan non-formal menjadi titik balik kemunduran pembelajaran musik yang selama ini dilakukan secara tatap muka. Pembelajaran dan pengajaran musik jarak jauh juga menjadi solusi sementara yang dinilai paling aman untuk menghindari kontak fisik. Pada akhirnya pembelajaran sinkron (synchronous) dan asinkron (asynchronous) juga diterapkan. Sampai titik ini muncul banyak persoalan, mulai dari pengalaman belajar daring yang belum sepenuhnya dikuasai oleh guru dan murid, koneksi dan jaringan internet, gangguan belajar dari rumah, kualitas interaksi dan komunikasi yang terbatas, dan komunikasi musikal guru-murid yang sulit untuk mendemonstrasikan musik (ini khusus untuk pembelajaran instrumen musik).

Guru musik dan murid sama-sama belajar untuk beradaptasi dengan teknologi. Kurikulum ikut disesuaikan, begitu pun dengan kebijakan administrasi sekolah. Seluruh aktivitas pendidikan musik dilakukan jarak jauh. Pengalaman belajar musik secara daring menuntut siswa untuk melakukan segala sesuatu secara mandiri. Pengawasan dan komunikasi dengan guru masih sangat terbatas. Penggunaan aplikasi menjadi sangat penting dalam menunjang proses pembelajaran musik. Pengalaman belajar musik secara ansambel tidak lagi bisa dilakukan karena melalui aplikasi ZOOM akan menemui banyak kendala, misalnya dalam menyatukan permainan musik secara LIVE (Real time). Kecepatan transmisi data menjadi kendala terbesar dalam melakukan kegiatan bermusik daring dalam waktu yang bersamaan. Pada akhirnya mereka (siswa) akan memilih cara terbaik untuk belajar mandiri yakni belajar melalui YouTube. Beberapa guru, pendidik, dan pakar pendidikan musik masih sangat mendukung pembelajaran musik dilakukan secara tradisional (tatap muka).

Di sisi lain, penggunaan video konferensi seperti ZOOM menemui banyak persoalan baru. Selain menuntuk perencanaan dan fleksibilitas yang sangat baik, baik guru maupun murid nampaknya lebih intens dalam berkomunikasi. Melalui pesan grup Whatsapp seluruh aktivitas terpantau dan berkomunikasi bisa dilakukan kapan saja. Jika ada persoalan teknis dialami oleh siswa, terkadang menuntut guru untuk meluangkan waktu lebih bagi siswa-siswanya. Belum lagi peran orang tua yang sama dengan guru, mereka ikut bekerja keras bahkan beberapa dari mereka ikut menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru atau instruktur musiknya.

Ruang diskusi daring dilakaukan menggunakan berbagai platform, YouTube adalah salah satu yang paling populer. Melalui postingan video yang dibuat oleh guru atau siswa, diskusi bisa dilakukan melalui kolom komentar (dengan ketentuan yang dibuat oleh guru). Beberapa guru bahkan menggunakan komentar sebagai indikator kehadiran. Ruang gerak siswa semakin dipersempit melalui kegiatan belajar daring. Tidak jarang guru membuat aturan-aturan ketat, seperti mewajibkan penggunaan nama yang sesuai dengan akta kelahiran, email pribadi, menyusun judul dengan baik, memberikan komentar, menggunakan foto profil yang jelas, dan sebagainya. Hal itu dilakukan untuk mengikat siswa agar tetap berada dalam pantauan selama belajar jarak jauh.

Kreativitas sangat dibutuhkan dalam pembelajaran musik selama pandemi. Untuk pemebalajaran di tingkat sekolah menengah atau perguruan tinggi misalnya. Tidak selamanya siswa memiliki instrumen musiknya sendiri di rumah, sehingga latihan musik menjadi terkendala. Biasanya mereka latihan di sekolah atau kampus, tetapi selama pandemi mengharuskan pembelajaran dilakukan di rumah. Bagi beberapa orang latihan piano dapat di konversi dengan keyboard, tetapi untuk pembelajaran piani klasik membutuhkan instrumen yang sesuai. Biaya menjadi persoalan, karena tidak setiap siswa dapat memiliki instrumen mereka sendiri.

Setelah melewati masa transisi (normal ke digital), para guru-guru musik harus siap dengan tantangan baru dalam mengajar. Kemungkinan terburuk bahwa kondisi pandemi ini akan berlangsung lama harus diterima. Oleh sebab itu, kesehatan mental juga perlu dijaga agar tetap bisa melaksanakan pembelajaran musik. Kelas-kela teori musik mungkin hal yang cocok dilakukan secara jarak jauh, tetapi pendalaman instrumen musik tetap memerlukan pengawasan langsung dari sang guru. Inilah yang menyebabkan pembelajaran daring menjadi kurang efektif dan efisien. Karena hampir seluruh proses pembelajaran bergantung pada teknologi berupa aplikasi. Jika satu server saja mengalami kendala pengiriman data, maka komunikasi akan terganggu.

Selain beradaptasi, nampaknya para guru dan siswa harus berdamai dengan keadaan dan mulai berkolaborasi. Pembelajaran musik tidak lagi dianggap sebagai proses yang berpusat pada guru, tetapi siswa dapat menjadi subjek utamanya. Jika materi musik yang diberikan terasa sangat berat, maka banyak penyesuaian yang bisa dilakukan. Tujuannya agar mencapai hasil belajar yang telah direncanakan sebelumnya.