May 26, 2026
acoustic_guitar_techniques_article_image_2021

Sumber gambar: https://online.berklee.edu/takenote/acoustic-guitar-techniques-to-move-past-beginner-level/

Gitar merupakan alat musik yang hampir ditemui di mana saja dan dimainkan oleh siapa saja. Setidaknya alat musik yang paling populer dan mudah untuk dijangkau ini bisa diakses dengan mudah. Gitar memiliki sistem penalaan (tuning system) yang universal, yaitu E-A-D-G-B-E. Sistem ini menjadi sistem penalaan umum yang digunakan di seluruh dunia. Dalam mempelajari gitar, tidak banyak yang pernah bertanya-tanya mengapa penyetelan (tuning) ā€œstandarā€ gitar adalah EADGBE? Jika ditelusuri, sejarah terbentuk atau disepakatinya sistem penalaan itu cukup menarik. Selama seribu tahun terakhir, orang-orang menggunakan alat musik dawai seperti biola, cello, dan mandolin dan seluruhnya memiliki sistem interval 5th (kwint) dalam penalaannya; sistem interval itu berlaku untuk keadaan senar terbuka (open string). Gitar ditala dalam rangkaian kwart (perfect fourths) dan tert (major third). Urutan dari senar rendah ke tinggi (EADGBE); tiga interval kwart (E rendah ke A, A ke D dan D ke G), diikuti tert (G ke B), diikuti oleh satu lagi interval kwart (B ke E tinggi).

Alasannya utama penentuan sistem penalaan dan interval itu karena nyaman secara musikal dan fisik. Tentu saja penentuan itu datang dalam waktu yang sangat panjang, melalui berbagai diskusi dan percobaan, kesimpulan sistem itu diambil pemain gitar dan pakar beberapa ratus tahun yang lalu. Tujuannya adalah untuk menciptakan sistem penalaan yang akan memudahkan transisi antara chord sederhana, memainkan tangga nada, dan meminimalisir gerakan antar fret. Gerakan antar fret bisa menjadi sangat tidak efektif jika menggunakan posisi yang tidak tepat atau posisi jari cukup jauh. Bentuk gitar yang muncul saat ini tidak begitu saja berbentuk demikian, sebelumnya ada berbagai jenis alat musik dawai serupa yang di berbagai belahan dunia. Penalaan alat musik dawai itu juga belum menggunakan sistem penalaan yang universal seperti saat ini, karena menyesuaikan dengan kondisi wilayah dan kultur masing-masing wilayahnya. Sejak awal periode awal Renaisans, kemunculan dan perkembangan alat musik dawai (menyerupai gitar) sudah memiliki sistem penalaan sendiri. ā€œGuitarra battenteā€ pertama kali muncul di Italia pada tahun 1500-an dan disetel dalam sistem urutan nada (open string) ADGBE. Urutan ini seperti urutan lima senar teratas dari penalaan gitar modern saat ini.

Menyetel atau menala senar ketiga dan kedua (G dan B) ke dalam tert mayor membuat penjarian lebih mudah daripada memukul rata rangkaian interval kwart untuk seluruh senar. Jika hal itu terjadi, maka senar kedua (open string) disetel ke nada C dan senar pertama (open string) disetel ke nada F.

Richard Lloyd, seorang gitaris dan instruktur musik terkenal pernah mengatakan bahwa instrumen seperti biola (violin) dan cello cocok untuk disetel dengan baik karena panjang skalanya (tangga nada) kecil, hal yang sama tidak selalu berlaku pada instrumen berskala besar seperti gitar. Skala di sini bisa dimaknai sebagai ukuran atau diamter fret, ini juga menentukan posisi, jangkauan jari-jari dalam menekan setiap nadanya. Semakin kecil ā€œneckā€ dan ā€œfingerboardā€ pada satu instrumen musik dawai, maka akan menentukan pula posisi penjariannya. Kenyamanan pemain akan sangat menentukan di sini.

Richard Lloyd melanjutkan perkataanya:

ā€œGitar adalah instrumen berskala lebih besar yang dimainkan dengan duduk di pangkuan seseorang. Meskipun cello adalah instrumen yang lebih besar daripada biola, cello dimainkan dengan posisi leher (neck) vertikal yang memungkinkan tangan sedikit lebih mudah meraih nada demi nada. Sementara jika instrumen gitar dimainkan dalam posisi duduk di pangkuan dan leher posisi diagonal kepemain, tekukan di pergelangan tangan mulai membuat jari lebih sulit untuk direntangkan. Jadi pilihan terbaik adalah menyetel dengan interval kwart yang sedikit lebih dekat satu sama lain. Pada gitar, seseorang dengan ukuran tangan normal dapat menjangkan atau memainkan interval tert dengan jari kelingking sambil menahan ā€œtonikaā€ (tonic) dengan jari telunjuk. Jadi masuk akal jika senar berikutnya adalah senar keempat.ā€

Lloyd juga menambahkan bahwa jika gitar dengan enam senar disetem atau ditala seluruhnya dalam interval kwart, maka akan mendapatkan aransemen atau urutan E-A-D-G-C-F (senar rendah ke tinggi) yang tidak selaras secara harmonis. Nada E di senar 6 dan F di senar 1 (open string) hanya berjarak setengah interval, susunan nada-nada ini akan menghasilkan bunyi yang terdengar kurang harmonis dan tidak nyaman untuk dimainkan.

 

Referensi