Kita mungkin sering mendengar ungkapan bahwa “jika kita memberikan ilmu kepada orang lain maka ilmu kita akan bertambah”. Sepertinya dalam memahami maksud dari perkataan ini harus dicermati secara seksama dan bijak. Dalam dunia musik, mengajar merupakan bagian dari perjalanan musikal yang tidak bisa dilepaskan dari hidup seorang musisi. Entah ia pada awalnya merencanakan untuk menjadi seorang guru atau pun tidak. Entah ia berlatar pendidikan formal atau pun tidak. Selebihnya hanya keterampialn seorang musisi tidak ditentukan dari mana ia berasal, tetapi seberapa berpengaruh ia di komunitas atau struktur terkecil masyarakat dimana ia tinggal.
Seseorang yang terjun dalam profesi pengajar musik, entah itu di sekolah formal maupun sekolah nonformal, tentu menyadari satu disiplin dasar yang harus dimiliki seorang guru musik, yakni mempraktikkan materi yang diajarkannya. Jika murid berlevel tinggi, misal dalam pelajaran piano maka dapat dipastikan sang guru harus memiliki level bermusik yang jauh lebih tinggi (setidaknya ia mampu memainkan karya/lagu berlevel 5 ke atas). Hal ini disadari oleh beberapa orang tetapi terkadang diabaikan juga oleh beberapa institusi musik. Hasilnya, kualitas pengajaran yang kurang maksimal dan cetakan murid yang kurang sempurna.
Mengajar musik harus memiliki disiplin yang tinggi, karena tuntutan dasar seorang guru musik adalah mampu memainkan dengan “baik” alat musik dan lagu yang diajarkannya. Jadi, akan terdengar ironis bila memainkan sebuah karya sederhana untuk sang murid saja, sang guru tidak mampu untuk mempraktikkannya.
Banyak guru-guru musik tingkat dasar atau di sekolah formal yang enggan untuk mengasah kemampuan atau keterampilan bermusiknya. Alasannya sangat beragam, mulai dari faktor usia, lingkungan yang mempengaruhi, ketersediaan alat, wadah untuk menyalurkan keterampilannya itu, sampai terlalu sering mengajar murid anak-anak atau balita. Guru musik dengan level tinggi dan mengajar tingkat dasar/pemula akan sibuk dengan masalah metodologi, bukan pada pengembangan keterampilan bermusik. Jadi, fokusnya adalah pengembangan metode mengajar dan materi-materi apa saja yang sesuai dengan murid-murid level bawah. Semetara, jika hal ini terjadi untuk jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan menurunnya teknik yang merupakan hal terpenting dalam bermain musik.
Teknik-teknik tinggi hanya ditemukan dengan level pendidikan tinggi dan tidak akan ditemui di level dasar. seorang guru yang mulanya solois, akan terjebak dalam situasi sulit untuk mempertahankan keterampilan atau teknik permaianan karena kesehariannya tidak ada tuntutan materi yang terlalu tinggi, sehingga terkadang membuat seorang musisi cenderung malas.
Mengajar adalah sebuah kegiatan mulia, apabila dilakukan dengan benar dan penuh tanggung jawab. Seorang guru musik harus bertanggung jawab penuh atas apa dan siapa yang diajarnya. Jika sikap seperti itu tertanam, maka keterampialn dan teknik bukanlah sebuah ancaman, tetapi menjadi acuan untuk mengasah keterampilan bermusik lebih tinggi lagi. Dalam dunia musik, guru yang baik adalah guru yang mampu mempraktikkan materi secara langsung dan membahas dimana saja letak kesulitan sebuah lagu. Sehingga ada langkah-langkah pemecahan yang dapat diberikan oleh sang guru untuk menguasai teknik bermain tertentu. Untuk mampu mengenali kesulitan sebuah lagu, guru harus terlebih dahulu tahu dan paham tentang lagunya. Jika tidak, akan sulit untuk memberikan sesuatu kepada murid-muridnya, apalagi mencontohkannya.