Oleh: Riyan Hidayatullah
Dalam pandangan umum, dunia seni dipandang sebagai sesuatu yang tenang, biasa dan tanpa masalah. Orang-orang menganggap seni hanya bagaimana bermain musik, melukis, menari atau mementaskan sebuah pertunjukan saja. Padahal, ada banyak fakta yang sebenarnya belum tersingkap dalam pembicaraan umum khalayak. Dalam tulisan ini saya ingin membahas sebuah dikotomi klasik yang saat ini semakin santer terdengar di kalangan insan akademis seni dan non-akademis. Tidak jarang hal ini melahirkan berbagai perdebatan dan perang antar sudut pandang satu sama lain. Dikotomi itu terbagi menjadi dua premis, premis yang pertama anggapan bahwa “belajar seni harus bisa memberikan penghidupan” dan premis ke-2 adalah “seni adalah sebuah realitas yang suci”, tidak boleh dicampuadukkan dengan hal komersil apapun. Tentu pandangan ini bagai dua sisi mata pisau yang sebagain benar dan sebagian kurang tepat.
Saya seorang musisi dan pengajar, saat ini waktu saya banyak dihabiskan dengan memberikan pengajaran terhadap mahasiswa dan komunitas. Jika ditanya, hal apa yang membuat saya tertarik untuk belajar musik adalah karena hobi remaja yang tidak terprogram atau bisa dikatakan “kecelakaan”. Tetapi kemudian hal ini memberikan pilihan antara melanjutkan perlajalan musik atau berhenti saja, dan akhirnya saya melanjutkan kuliah dengan spesialisasi pendidikan musik. Banyak hal yang didapat dan karakter yang saya kenal merubah cara pandang saya terhadap musik. Singkat cerita, belajar musik menjadi menyenangkan ketika saya sudah bisa menghasilkan uang. Sekitar 4-5 tahun saya menikmati karir di bidang industri musik dan menyenangkan.
Ternyata hal berbeda cukup saya rasakan, jenuh dalam bermain musik, menginginkan sebuah pencapaian besar tetapi tidak tahu cara menggapainya. Hal lain lagi kemampuan bermusik yang “itu-itu saja” menambah alasan saya hijrah mencari pekerjaan lain. Hal ini saya yakin banyak dirasakan oleh berbagai musisi lain, terutama bagi seorang musisi “tanggung”, yakni, musisi atau seniman yang belum memiliki rencana atau program jagka pendek atau jangka panjang mengenai karir musiknya, sehingga terjebak dalam rutinitas klasik yang pada akhirnya membosankan. Bagaimana tidak, misalnya saja dalam sebuah pentas musik di acara resepsi pernikahan saja misalnya, lagu yang dibawakan terbilang sama dari satu panggung ke panggung lain, tentu dengan tingkat kesulitan yang tidak terlalu sulit (beberapa lagu pop terbilang cukup mudah untuk dibawakan, bahkan oleh seseorang yang belajar musik otodidak) tetapi mendapatkan bayaran yang terbilang cukup menyenangkan dengan kerja yang tidak terlalu berat itu.
Bermusik menjadi begitu pragmatis dan tidak ada tantangan, sehingga ketika saya memutuskan untuk bergabung dengan komunitas musik ada motivasi baru yang saya dapatkan. “Ngulik” (kegiatan rutin para kaum musisi) menjadi kativitas rutin yang menyenangkan karena ada hal-hal baru, teknik-teknik baru, perbendaharaan lagu-lagu baru, teman-teman baru dan masih banyak lagi. Untuk diketahui, kegiatan semacam ini tidaklah menghasilan provit/dibayar, sebaliknya kadang kita yang mengeluarkan biaya untuk kegiatan semacam ini. Menariknya adalah saya sama sekali tidak merasa rugi untuk melakukan hal semacam ini karena saya tahu semakin dilakukan maka ada ilmu baru yang saya dapatkan. Saya yakin pendapat serupa tidak muncul dari pemikiran musisi-musisi lain setingkat saya saat itu. Banyak yang beranggapan bahwa bermusik harus mengasilkan uang atau tidak ada gunanya buang-buang waktu untuk hal yang sama sekali menguras waktu dan biaya. Hal ini tidak dibenarkan dan tidak disalahkan, karena itu pilihan.
Lalu, apa pentingnya mempermasalahkan antara premis pertama dan premis kedua? Sekali lagi saya tekankan tidak ada yang sepenuhnya benar dan salah dalam kedua pandanga ini. Berbekal dengan pandangan “practice makes perfect” saya berasumsi bahwa tanpa kegiatan “berkesenian” maka kita akan berhenti belajar dan terbak dalam rutinitas harian yang sama sekali tidak menambah ilmu bermusik atau seni kita. Jika bermusik hanya bermotivasi uang maka anda hanya akan menjadi ahli dagang, semua hanya soal untung dan rugi. Apa yang anda lakukan haruslah mengahilkan keuntungan, sesuai dengan prinsip dagang. Dalam kehidupan sosila kesenimanan dan bermusik hal ini tidak dipandang sebagai sesuatu hal yang “sehat”. Sementara “berkesenian” di sini dimaknai sebagai sebuah kegiatan seni, bermusik tanpa ada motivasi provit di dalamnya, satu-satunya motivasi terbesarnya adalah belajar. Kegiatan semacam ini hampir banyak ditemui di setiap komunitas, karena dasarnya adalah kebersamaan dan pembelajaran. Ada baiknya sedini mungkin kita menetapkan pilihan mau menjadi seniman, musisi seperti apa? Mau memiliki pandangan seperti apa. Tentu prinsip ini akan berpengaruh dalam kita membangun relasi sosial dengan sesama seniman dan musisi ke depannya. Menjadi seorang seniman dan musisi di Indonesia memang sulit, karena dukungan pemerintah kita sama-sama ketahui sedikit lemah APALAGI ditambah dengan kemampuan dan motivasi yang setengah-setengah, maka akan semakin sulit untuk menentukan pilihan. Seperti banyak dialami beberapa musisi dan senima yang pada akhirnya harus “banting stir” berbisnis, membuka usaha dan pekerjaan lain di luar seni/musik. Hal ini seharusnya menjadi perenungan bahwa memilih jalan di dunia seni (jika ingin sukses) tidaklah mudah dan membutuhkan perjuangan yang besar.