Motivasi terbesar saya dalam menulis tulisan ini bukan untuk melakukan sebuah pembenaran atau aksi persuasive untuk anda memilih bidang musik sebagai jalan hidup, tetapi agar kita semua ‘melek ilmu’ dan mampu membuka perspektif sebuah ilmu dari kacamata yang lebih luas.
Saya akan mulai dari sebuah artikel menarik yang ditulis oleh Michael Budi Mulyadi, seorang jurnalis, conductor dan educator bidang seni. Dalam situs: http://musicalprom.com/2016/03/15/luasnya-dunia-musik-dan-studi-interdisiplinernya-2/ dijelaskan bahwa bidang kajian musik sebagai berikut:
- Praktis Pertunjukan
Bidang ini adalah bidang yang paling sering diagung-agungkan sebagai lingkup utama dalam musik. Sayangnya kepercayaan ini kemudian juga mengarah pada pemakzulan bidang yang lain. Studi Praktis Pertunjukan adalah studi yang berkenaan dengan kemampuan umum dalam musik yakni memainkan musik dan bernyanyi. Praktis pertunjukan ini kemudian juga didukung dengan kemampuan turunannya yang berkisar di antara kemampuan mendengarkan. Dunia pertunjukan praktis lebih berfokus pada bagaimana memainkan musik. Ini bidang yang paling umum dipelajari, namun dapat dikatakan sebagai studi yang paling mendasar. - Psikologi Musik
Bidang ini adalah bidang interdisipliner yang menghubungkan musik dengan studi kejiwaan manusia. Bidang ini menjadi salah satu bidang yang menarik terutama karena secara sadar kita menyadari bahwa musik memiliki efek yang besar dalam bagaimana manusia melihat lingkungannya dan bereaksi dengan sekitarnya. Musik secara empiris diteliti dan dibedah satu demi satu untuk dilihat peranannya dalam membentuk dan mempengaruhi pola pikir manusia. Dalam studi ini dibedah bagaimana irama, nada, dan kekayaan musik dari berbagai negara mampu mempengaruhi bagaimana manusia bertindak dan bahkan memiliki efek yang menyembuhkan. Terapi musik adalah salah satu cabang terapan dari bidang psikologi musik ini. - Politik dan Kebijakan Publik
Suka atau tidak suka, musik yang diperdengarkan ke masyarakat umum kemudian bersentuhan dengan masyarakat dan kekuasaan yang ada di sekitar masyarakat tersebut. Musik kemudian digunakan sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan politik dan mendukung kebijakan publik. Seberapa jauh efek kita mengingat musik ‘Pemilihan Umum’ di radio pagi mampu mengubah persepsi masyarakat dan jadi bagian rekayasa sosial ataupun lagu-lagu kebangsaan yang mampu mengobarkan semangat nasionalis dan berbagai agenda khusus lain, seperti membentuk orkestra atau mengundang orkes dangdut untuk mencapai tujuan politik tertentu dan mempengaruhi persepsi publik akan suatu perusahaan atau calon legislatif? Ini yang dipelajari. - Komposisi Musik
Bisa memainkan musik tidak berarti bisa menulis musik. Bidang kreatif menulis musik adalah sebuah bidang sendiri yang digarap dan dilatih dalam studi musik. Seorang pemain tidak serta merta memiliki kapabilitas menulis musik yang indah. Melihat bidang ini sejalan dengan melihat seorang yang mampu mendeklamasikan tulisan dengan baik, tidak serta merta mampu menulis cerita dengan cara yang sama menariknya. Juga sebagaimana seorang aktor tidak tentu mampu menjadi seorang penulis naskah yang ulung. Studi komposisi ini secara mendalam berkaitan dengan banyak bidang lainnya dan terlibat secara aktif dalam proses kreatif dan melihat berbagai kemungkinan yang ada. Komponis yang baik bukan saja mengerti teknik menulis yang baku, tapi juga mengerti bagaimana melihat perkembangan di sekitar untuk menjadi inspirasi. - Historiografi Musik
Bidang ini menyelami berbagai media dan peninggalan sejarah dan keilmuan sejarah dalam musik. Musik memiliki aspek sejarah yang terus berkembang, dan selama ada manusia ada artefak-artefak sejarah yang bisa ditemukan dan diteliti untuk mempelajari musik. Historiografi musik berawal dari mempelajari naskah-naskah musik peninggalan para komponis, menganalisa artefak tersebut dan melihat garapan sejarahnya, tapi juga kemudian beralih pada media lain seperti rekam dan studi kesejarahan lain. Bidang ini seperti banyak bidang sejarah lain kemudian meluas dan bukan hanya belajar sejarah secara khusus tapi juga bidang-bidang sosial lain. Bidang ini adalah cikal-bakal ilmu musikologi yang kita kenal. Menurut kabar musikolog Aditya Setiadi, bidang ini perlahan sudah dianggap obosolet dan dalam studi dan riset terkini sudah mulai ditinggalkan para musikolog. - Etnomusikologi
Setelah belajar musikologi yang sejak sekitar 70 tahun lalu banyak berpusat pada musik Barat, banyak para musikolog kemudian melihat bahwa banyak musik-musik lain di luar tradisi Eropa Barat yang menarik dan patut untuk dipelajari. Tujuan awalnya adalah untuk melestarikan musik-musik rakyat yang perlahan digerus zaman, namun studi ini perlahan menjadi lebih bergairah dibanding banyak bidang musikologi konvensional dikarenakan banyak musik di dunia yang dapat diteliti dan digarap. Studi musik rakyat dan musik etnik masuk dalam bidang ini. Musisi Barat pada masa itu belajar musik selain musik tradisi Barat, belajar instrumennya dan melihat konteksnya. Bidang ini kemudian bersinggungan dengan studi antropologi dan bahkan melebur di dalamnya. - Pendidikan musik
Bidang ini berkenaan dengan studi ilmu keguruan dalam musik. Mengajarkan musik tentunya berbeda denan mengajarkan fisika dan matematik. Tetapi dengan semakin banyaknya jalur pendidikan yang melihat bahwa pendidikan seni termasuk musik penting untuk dimasukkan dalam kurikulum pendidikan, diperlukan pengembangan teknik pengajaran yang baku dan sesuai dengan daya kembang anak di bidang musik. Pendidikan musik kemudian juga membedah teknik-teknik pembelajaran musik yang dialami siswa dan metode-metode terbaik, baik dalam bentuk studi perorangan maupun studi kelompok. Mereka yang terlahir dari bidang ini adalah calon-calon guru yang bukan hanya memahami musik tetapi juga mengerti proses tumbuh kembang dan teknik pembelajaran. - Music Accoustic
Bidang ini bersinggungan dengan studi fisika terutama dalam kerangka bebunyian. Sebagai salah satu properti musik yang terutama, bunyi sebagai sebuah fenomena fisika dikaji lebih jauh dalam studi akustik ini. Bagaimana bentuk gelombang, amplitudo, timbre, spektrum dan berbagai bidang fisika musik lain digarap dalam studi ini. Berkembangnya bidang ini bukan hanya melihat bunyi-bunyi instrumen saja tetapi juga bunyi-bunyian lain yang ada di alam ataupun bunyi-bunyian buatan yang direkayasa manusia. Studi akustik juga melihat secara lengkap bagaimana bunyi kemudian bereaksi terhadap ruang dan bahkan studi organologi, yakni studi tentang anatomi instrumen dan rekayasa bunyi secara menyeluruh. Bidang ini sentral dalam membangun gedung pertemuan yang baik hingga membuat headphone anti bising yang mampu membatalkan suara di luar. - Filsafat
Bidang ini dikatakan sebagai kepalanya segala bidang ilmu. Dari berbagai zaman dari sebelum Masehi seperti Aristoteles hingga kini para filsuf terkini berusaha untuk menggambarkan bagaimana pengaruh musik dalam keragaman berpikir. Beberapa bahkan mencoba mencari tahu bagaimana musik dapat terbentuk oleh manusia, bagaimana selera terbentuk dan mampu mempengaruhi kehidupan manusia secara umum. Kini juga tidak sedikit para pemain musik juga adalah filsafat yang ulung yang berusaha menjabarkan kembali efek musik bagi kehidupan banyak orang dalam aspek sosial hingga spiritual. Bagaimana musik kemudian menjadi bagian dari berbagai kegiatan keagamaan cikal-bakalnya bisa ditelusuri lewat studi filsafat ini. - Manajemen dan Industri Musik
Di masa sekarang ini semakin banyak yang melihat musik sebagai bagian dari kapital budaya (culture capital). Sebagaimana, sebuah kapital musik pun terlibat dalam proses industrialisasi, dimulai dari lahirnya mesin cetak musik hingga teknologi streaming masa kini. Produser lewat jalur distribusi yang terus berubah mencoba menggapai konsumennya. Dari proses ini pula terlahir pertukaran kapital, dari kapital budaya bertukaran dengan kapital keuangan (financial capital). Orang-orang membeli musik, dan musik pun dianalisis bagaimana dibuat, dikemas dan tersampaikan ke masyarakat, baik dalam rupa rekaman hingga rupa pertunjukan di atas panggung. Segala tetek-bengek bisnis berputar di dalamnya, dari trend hingga brand dikupas habis di sini, dari yang bersifat studi ekonomis hingga ilmu praktis seperti ‘best practice‘ berkembang. - Komputasi Musik
Bidang teknologi dan komputasi sepertinya tidak dapat dianggap remeh dalam perkembangan musik. Dimulai dari penggunaan komputasi untuk menyimpan musik digital hingga mencari teknik komputasi agar sebuah program mampu berpikir kreatif hingga mampu menulis sebuah karya musik, dipelajari di bidang teknologi dan komputasi. Teknologi pun berkenaan langsung dengan ilmu praktis sound production dan sound engineering yang berfokus pada kemampuan teknis mengolah suara. Bidang ini begitu luas dan terus berkembang setiap hari, dari teknik praktis mengatur volume di atas amplifier, mixer dan teknik merekam hingga merancang program komputer yang mampu mengenali musik dan kemudian mendeteksi plagiat adalah salah satu contoh bentuk ilmu yang terus menerus digarap. Komputer pun kini menjadi kawan paling baik dari banyak musisi, dari DJ hingga para pemusik tradisi, dari ilmuwan hingga pemain pemula yang menggunakan iPad untuk berlatih pendengaran musik. - Musikologi Kognisi
Belajar musikologi kognisi agak rumit karena bersentuhan bukan hanya pada bidang ilmu psikologi musik yang lekat dengan proses pembelajaran namun juga bersentuhan langsung dengan ilmu kedokteran dan anatomi faal. Musik pun akhirnya bukan hanya dilihat sebagai fenomena alam maupun fenomena fisika, musik kemudian bersentuhan dengan proses pembelajaran dan bahkan lebih dalam hingga menyentuh diskusi biologis dan studi syaraf, neuromusikologi berkembang untuk memandang lebih jauh secara khusus bagaimana bunyi mempengaruhi otak dan tubuh serta kinerja-kinerja hormonal yang mampu mengubah reaksi seseorang akan musik. Bidang ini kemudian juga melihat bagaimana musik masih memiliki pengaruh besar bagi para pasien-pasien yang memiliki keterbatasan neural seperti, mati batang otak, koma ataupun beragam kondisi lain lain. - Studi Sosiokultural
Studi musik bukan hanya melihat studi sosial dan pengaruh antropologis saja tetapi juga studi sosiologis yang sangat luas. Musik bukan saja dilihat sebagai bidang yang berdiri sendiri namun berinteraksi dengan banyak bidang lain, berinteraksi dengan bidang seni lain yang berbeda dan kemudian dengan masyarakat. Di sini konteks musik dalam kemasyarakatan digarap lebih jauh dan bukan hanya dari sisi politis, namun juga studi lingkungan dan pergerakan masyarakat. Di sini studi sosiokultural musik seakan tidak pernah habis, dari bagaimana musik menjadi metode rehabilitasi di lembaga pemasyarakatan hingga bagaimana musik digunakan untuk meraih dan menjangkau lebih banyak orang dan menjadi pemersatu banyak orang, bagian dari diplomasi dan banyak lainnya. Bidang ini seakan tidak pernah habis.
Tanggapan saya:
Bagaimana? Anda masih menganggap dunia musik itu sempit? Anggapan bahwa musik itu bisa dipelajari di lembaga kursus, sanggar dan tidak perlu sekolah musik adalah pemahaman yang sangat SEMPIT untuk memaknai dunia musik. Karena jika itu yang menjadi dasar pemikiran, maka anda hanya berpikir musik hanya pada tataran praktis, misalnya: bermain musik itu hanya soal main gitar, main piano, bagaimana menguasai teknik bermain dan hal teknis lainnya. Padahal, banyak permasalahan yang lebih kompleks dari sekedar membaca not balok, menguasai alat musik dan memainkan lagu dengan piawai layaknya musisi profesional. Kalau anda masih berpikiran demikian, saya sangat paham seberapa dalam kajian anda tentang musik.
Francis Rauscher dan Gordon Shaw pada tahun 1993 adalah dua orang pertama yang melaporkan bahwa mendengarkan Sonata in D Mayor untuk dua piano karya Mozart selama 10 menit dapat meningkatkan kemampuan siswa sekolah menengah dalam memecahkan masalah spasial tempora (Dhojan, 2007:26). Sampai akhirnya media mempublikasikan bahwa musik klasik memiliki pemacu kognitif (walaupun masih harus banyak pembuktian secara saintifik) yang mampu merangsang kognisi seorang anak. Ini salah satu data yang menujukan bahwa ada sebuah riset yang cukup dalam hanya untuk mengembangkan musik yang baik untuk perkembangan otak, dan ilmuwan ini sama sekali TIDAK bermain alat musik. Jadi tidak ‘melulu’ semua tentang bagaimana memainkan musik (teknis).
Adalah Rudolf Hertz yang memperkenalkan konsep tuning melalui sebuah ilmu elektromagnetismenya. Dari ilmu ini kita bisa mengukur frekuensi yang membuat kita mampu memutuskan suatu nada itu ‘fals’ atau tidak.
Adalah Jaap Kunts yang memprakarsai munculnya sebuah bidang kajian etnomukologi. Kita mampu epelejari kebudayaan musik lintas benua dan lain sebagainya.
Adalah Pythagoras yang menghubungkan musik dengan matematika sehingga kita mampu mengenal birama, tempo, pola ritme dan snkopasi sebagai perluasannya, Musik yang kompleks tercipta karena ada rumus matematika di dalamnya.
Adalah Guido d’Arrezo yang mengenalkan notasi musik dan menjadi standar di muka bumi ini (Setiawan, 2014:53)
Semua fakta di atas adalah sebagian kecil realitas yang kita temui dalam bidang musik, dan pada akhirnya generasi sekarang merasakan MANFAAT dari pengembangan ilmu interdisipliner musik itu sendiri. Sloboda dalam Setiawan (2014) dalam Psychology of Music (2009) mengatakan bahwa mempelajari musik itu perlu dua langkah strategis:
- Komunikasi struktural, bagaimana pemusik harus menyelesaikan urusan TEKNIS dan KARYA yang dimainkan sebelum tampil di hadapan publik. Hal inilah yang banyak diamati dan dipandang sebagai sebuah standar musik di Indonesia, Bahwa seseorang yang mahir dalam musik adalah HANYA orang yang mampu memainkan alat musik dan KARYA dengan baik.
- Komunikasi emosional, adalah bagaimana tentang mentransfer energy kepada audiens yang menyaksikan kita, sehingga mereka merasakan betul getaran bunyi maupun aura yang lahir dari olahraga (motorik) dan jiwa (roh) kita.
KEBANYAKAN, kita hanya fokus pada poin pertama. Kita fokus pada penguasaan alat, materi tetapi tanpa memperhatikan ruh secara emosional dari karya tersebut. Itulah sebabnya sering ditemui banyak musisi yang ‘bermain tetapi tidak bernyanyi’, maksudnya adalah yang ia mainkan hanya seputar notasi, nilai ritmik, tempo dan hal-hal teknis lainnya. Tetapi estetika musik dan ruh lagunya banyak yang tidak tersampaikan. Nah, hal-hal semacam ini hanya dapat dipahami apabila kita melakukan studi lebih dalam, khususnya jalur akademis.
Contoh lain dalam bidang FILM. Kita mengenal Sountrack (OST) dan Film scoring. Jika anda sering menonton film-film Hollywood, amak anda akan disajikan orkestrasi musik yang monumental, sebut saja karya Danny Elfman dalam film ‘Spiderman’, Jihn Williams dkk dalam film ‘Harry Potter’, Carter Burwell dalam film ‘Twilight’, James Horner dalam film ‘Titanic’ dan masih banyak lagi garapan musik yang memerlukan bidang musik KHUSUS di dalamnya. Saya bisa jamin, tidak ada musisi ‘otodidak’ yang mampu membuat karya-karya sehebat itu.
Di Amerika dan Eropa, institusi musik secara umum terbagi menjadi dua, 1. Konservatorium, 2. Universitas. Konservatorium, identik dengan pendidikan vokasi musik yang lebih menekankan pada seni pertunjukan dan spesialisasi musik, jika diibaratkan koservatorium masih memegang kuat ‘tradisi’ musik di suatu daerah. Sedangkan universitas lebih fokus pada bidang akademis empiris. Melakukan studi musik ‘by research’. Bagaimana di Indonesia, kita memiliki beberapa ‘konservatorium’ seperti di Solo, Yogyakarta, Padang, Bandung dan Insha Allah nanti di Lampung. Amiiinnn. Bidang studi musik di perguruan tinggi tentu levelnya tidak dapat disamakan dengan lembaga kursus, JELAS BERBEDA. Sama halnya jika anda ingin membandingkan bagaimana kemampuan bahasa seorang anak kecil dengan orang dewasa. Ada perbedaan yang sangat mendasar, sehingga kita tidak bisa membandingkan sesuatu yang tidak setara.
TUJUAN SEKOLAH MUSIK DAN KURSUS MUSIK
Di perguruan tinggi (PT) studi mengenai musik dirancang untuk sebuah tujuan. Misalnya saja di PT yang berlabel Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) seperti, UPI Bandung, UNY (Jogja), (UNJ) Jakarta, (UNNES) Semarang, (Unimed) Medan, (Unima) Manado, (Unila) Lampung dan masih banyak lagi. LPTK ini memuliki satu tujuan yakni mencetak para lulusannya menjadi seorang guru musik atau pendidik musik dan BUKAN seorang Musisi. Tetapi, dalam pembekalannya, kurikulum disajikan sesuai kebutuhan daerah tersebut, jika sebuah Program Studi Pendidikan Musik (PSPM) misalnya didirikan di Lampung, maka kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan di Propinsi tersebut. Hal ini akan berpengaruh dalam perumusan silabus dan sebagainya yang ditetapkan dalam Undang-Undang dan aturan Universitas. Sementara itu, kursus musik, hanya memiliki satu tujuan, yakni memberikan materi ajar untuk satu jenis instrumen saja. Tidak ada pelajaran tentang apresiasi musik, estetika musik, komposisi musik, psikologi musik, komputasi dan lainnya. Semua hanya terfokus pada satu jenis keterampilan bermusik saja. Inilah yang secara jelas membedakan PT dengan ‘kursusan’. Bagaimana jika di PT ada UKMBS musik? Organisasi ini dibuat biasanya hanya untuk ‘menyalurkan’ bakat yang sudah ada dan ‘mengembangkan bakat’ tanpa kurikulum yang jelas. Bagaimana kita bisa menimba ilmu secara dalam dalam sebuah unit kegiatan kemahasiswaan saja.
Di perguruan tinggi (PT) seorang mahasiswa tidak hanya dididik untuk terampil bermain musik, tetapi juga mampu memahami hakekat dari musik itu sendiri. Mahasiswa dituntut untuk mampu memiliki kreatifitas, berkeskpresi dan berkomunikasi melalui unsur-unsur musikal, tahu soal sejarah dan budaya, disiplin, independen, bekerja dalam tim terutama dalam sebuah ensambel, memecahkan masalah, mengembangkan terus bakatnya melalui berlajar musik terbaru, mencapai standar tertinggi level musik, metakognisi (bagaimana belajar cara untuk belajar), berani untuk tampil dan mengambil resiko dalam pertunjukan, memiliki kesadaran untuk praktik dan latihan lebih dalam karena sadar kemampuan diri, sains, apresiasi, analisis kritis sebuah karya, jujur, mudah tersentuh dan beberapa orang-orang sukses adalah orang yang memiliki kecakapan yang baik di bidang musik, sebut saja: Condoleeza Rice Bill Clinton, Albert Einstein, Benjamin Franklin dan masih banyak lagi.
Data-data ini saya sajikan sekedar untuk membuka wawasan kita melihat betapa luasnya Tuhan menciptaan dunia dan seisinya (ilmunya).
Best Regards,
Musisi sekaligus Edukator
Riyan Hidayatullah