Merefresh ingatan masa lalu tentang pelajaran sejarah dan dunia perfosilan, sepintas saya teringat dengan kata kata Eugene Dubois, sekalian saja saya posting info info berkaitan dengan tokoh ini disadur dari berbagai sumber.
Marie Eugène François Thomas Dubois (28 Januari 1858 – 16 Desember 1940) adalah ahli anatomi berkebangsaan Belanda. Lahir di Eijsden, ia menjadi terkenal saat menemukan sisa-sisa spesimen hominid yang berada di luar Eropa. Penemuan tersebut adalah di Pulau Jawa tahun 1891, yang kemudian dinamai Pithecanthropus erectus (http://id.wikipedia.org/wiki/Eug%C3%A8ne_Dubois) .
Selama ini kebanyakan dari kita mengenal Belanda sebagai negeri yang menguasai teknologi keairan, konstruksi,ataupun arsitektur. Di banyak tempat kita bisa melihat berbagai peninggalan mulai dari stasiun, bendungan, gereja yang hingga sekarang masih berdiri kokoh. Ternyata selain itu ada banyak hal yang dikuasai mereka. Salah satunya keilmuan dalam bidang arkeologi dan paleontologi. Banyak diantara candi-candi terungkap keberadaanya berkat mereka. Tentunya kita juga tak asing dengan nama Trinil, Sangiran, Wajak.
Terkait dengan kontribusi ilmuwan Belanda dalam bidang Paleontologi saya ingin bercerita tentang satu lokasi di Tulungagung bagian Selatan. Di sana Februari lalu sekelompok peneliti yang tergabung dalam Kelompok Kajian Sejarah dan Sosial Budaya (KS2B) Tulungagung menemukan jejak manusia purba. Melalui sebuah penelusuran di Dusun Mbolu, Desa Ngepo, Kecamatan Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung mereka menemukan sampah dapur atau Kjokken Moddinger. Setidaknya ada 41 fosil yang diduga tulang, 24 fosil terumbu karang dan 92 fosil gastropoda terdiri dari siput, cangkang kerang, keong dan tiram. Usia benda-benda prasejarah tersebut menurut penuturan ketua KS2B Triyono dikutip dari situs okezone.com ( 26 Februari 2010), antara 20.000 hingga 40.000 tahun. Continue reading “Eugène Dubois, Sang Penemu Pithecanthropus erectus”