Rekonsolidasi Militer dalam Pemerintahan Sipil: Menuju Toxic Governance?

Oleh: Dodi Faedlulloh* Disetujuinya Rancangan Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI) menandai titik balik penting dalam perkembangan demokrasi Indonesia, karena berpotensi mengancam fondasi supremasi sipil. Dengan melegitimasi keterlibatan militer dalam pemerintahan sipil, kebijakan ini menghidupkan kembali doktrin dwifungsi yang telah lama ditinggalkan pasca-Reformasi 1998. Selain permasalahan dalam proses penyusunannya, implikasi dari disahkannya RUU ini sangat serius. Secara normatif, militer merupakan alat negara yang bertugas menjaga kedaulatan dan keamanan nasional, sedangkan keputusan politik berada di tangan pemimpin sipil yang dipilih secara … Continue Reading →

Tanggapi Mahasiswa UM Metro yang Dipolisikan, KIKA Chapter Lampung Siap Dampingi

Lampung Geh, Bandar Lampung – Menanggapi pembekuan organisasi mahasiswa dan pelaporan mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Metro ke pihak kepolisian, Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) menyatakan kesiapan untuk mendampingi mahasiswa yang terdampak, Jumat (15/11). Koordinator KIKA Chapter Lampung, Dodi Faedlulloh, menilai langkah yang diambil pihak kampus tidak hanya mengancam kebebasan berpendapat, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan yang seharusnya mendukung sikap kritis mahasiswa. “Kampus modern dan mencerahkan adalah kampus yang mampu menerima kritik serta menampung aspirasi mahasiswa,” ujar Dodi. Ia … Continue Reading →

“Aktivisme Borjuis” Lebih Berharga ketimbang Pengorganisasian Kelas yang Hanya di Kepala

Oleh: Dodi Faedlulloh Tulisan Mughis dan Rafiqa di Project Multatuli perlu mendapatkan tanggapan kritis. Mereka mengkritik gerakan Peringatan Darurat beberapa hari lalu sebagai bentuk “Aktivisme Borjuis” yang dianggap reaktif dan moralis. Saya ingin langsung menanggapi bahwa esai tersebut justru mencerminkan bentuk kenaifan yang kerap menjangkiti para akademisi cum intelektual kiri. Dengan nada superioritas yang khas abang-abangan kiri, penggunaan diksi seperti “merengek”, “naif”, “menyedihkan”, dan “tidak berguna” justru meremehkan kemarahan dan gerakat rakyat. Kenaifan ini berakar pada idealisme tentang bagaimana kehidupan politik dan gerakan … Continue Reading →

Merayakan Demokrasi Kampus: Momentum Pemilihan Dekan FISIP Unila

Oleh: Dodi Faedlulloh Beberapa hari ini, terpampang banner informasi di depan Gedung A mengenai lini masa pemilihan Dekan FISIP Unila. Agenda ini bukan hanya sekadar prosedur formal untuk memilih pemimpin baru; ini adalah momen penting yang harus dirayakan bersama. Bulan Juli akan menjadi bulan “politik” di lingkungan fakultas. Pemilihan ini peluang besar bagi seluruh civitas FISIP untuk terlibat dalam proses demokrasi perwakilan yang bermakna. Di luar protokol kelembagaan hak pilih oleh senat dan suara 35 persen dari rektor, penting untuk … Continue Reading →