Merayakan Demokrasi Kampus: Momentum Pemilihan Dekan FISIP Unila

Oleh: Dodi Faedlulloh

Beberapa hari ini, terpampang banner informasi di depan Gedung A mengenai lini masa pemilihan Dekan FISIP Unila. Agenda ini bukan hanya sekadar prosedur formal untuk memilih pemimpin baru; ini adalah momen penting yang harus dirayakan bersama. Bulan Juli akan menjadi bulan “politik” di lingkungan fakultas.

Pemilihan ini peluang besar bagi seluruh civitas FISIP untuk terlibat dalam proses demokrasi perwakilan yang bermakna. Di luar protokol kelembagaan hak pilih oleh senat dan suara 35 persen dari rektor, penting untuk mengakui dan merayakan peran signifikan suara akar rumput dalam membentuk masa depan fakultas, termasuk mahasiswa.

Saat ini, ada tiga nama yang mencalonkan diri sebagai dekan: Prof. Noverman Duajdi, Dr. Dedy Hermawan, dan Dr. Anna Gustina Zainal. Masing-masing memiliki rekam jejak yang dapat ditinjau secara kritis oleh seluruh civitas.

Pemilihan dekan bukan semata-mata hajatan senat, oleh karena itu penting menjadikan ini sebagai momentum untuk mengakui suara-suara dari bawah. Meskipun senat mempunyai hak resmi untuk memilih dekan, partisipasi dan keterlibatan mahasiswa, dosen dan pemangku kepentingan lainnya juga sangat penting. Keterlibatan akar rumput memastikan bahwa kepemimpinan merefleksikan beragam aspirasi dan kebutuhan seluruh civitas FISIP.

Melampaui Suara Formal

Saya mengandaikan agenda pemilihan ini menjadi ajang untuk membangun diskursus publik. Di kelas-kelas, para dosen sering mengajarkan mahasiswa tentang substansi demokrasi yang bermakna. Oleh karena itu, praktik demokrasi tersebut juga perlu kita bawa ke ajang pemilihan dekan ini.

Salah satu agensi strategis dari setiap agenda politik pemilihan struktural di lingkungan kampus sebenarnya adalah mahasiswa. Sayangnya, secara aturan formal, mahasiswa tidak memiliki hak suara. Padahal, mahasiswa adalah jantung dari institusi akademis mana pun, dan suara mereka perlu didengar dengan lantang dan jelas dalam hal-hal yang mempengaruhi lingkungan pendidikan dan masa depan mereka.

Mahasiswa bisa berpartisipasi aktif dalam debat dan berbagi gagasan tentang kualitas dan visi yang mereka harapkan dari para kandidat dekan. Di lingkungan mahasiswa sendiri ada BEM, DPM, UKM, dan komunitas-komunitas informal kreatif lainnya yang layak untuk menyuarakan kegelisahan mereka. Keterlibatan ini tidak hanya memperkaya proses pemilihan, tetapi juga menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab moral di kalangan mahasiswa.

Kontrak Politik dan Isu Kampus

Kontrak politik mengacu pada komitmen yang dibuat oleh kandidat untuk menjunjung tinggi prinsip-prinsip dan mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks pemilu seperti pemilihan calon kepala daerah kontrak politik telah menjadi tren tersendiri. Dalam praktiknya, kontrak politik dipahami sebagai perjanjian yang melibatkan antarelite partai koalisi, calon kepala daerah dengan partai pengusung, dan calon kepala daerah dengan pemilih atau rakyat. Sayangnya, dalam kontrak politik yang dilakukan elite, posisi rakyat sering hanya sebagai cheer leaders dan sasaran mobilisasi. Dalam posisi ini, rakyat tetap mengalami marginalisasi peran (Biyanto, 2020).

Belajar dari pengalaman yang lebih besar dari pemilu, maka alih-alih dari para kandidat, dalam konteks akomodasi suara mahasiswa, justru langkah yang bisa diambil adalah para mahasiswa lah yang menawarkan kontrak politik kepada para kandidat. Dengan mahasiswa yang menawarkan kontrak politik, suara mahasiswa menjadi lebih terdengar dan diperhitungkan dalam proses pemilihan. Hal ini memberikan mahasiswa posisi yang lebih strategis dan tidak hanya sebagai penonton pasif.

Para mahasiswa perlu mengorganisir diri untuk membangun komunikasi di luar platform dan jadwal resmi panitia pemilihan. Ajak para kandidat untuk duduk bersama secara egaliter sebagai manfestasi demokrasi partisipatif yang sebenarnya, di mana setiap suara memiliki kesempatan untuk didengar dan dipertimbangkan.

Saya sering mendapat curhatan dan kegelisahan mahasiswa terkait berbagai problem kampus. Adanya pemilihan dekan ini menjadi momentum yang tepat untuk meresonansi suara dari bawah kepada para kandidat. Ada beberapa isu kampus yang penting, misal di antaranya tentang kebebasan akademik dan fasilitas kampus.

Bagi pemilihan dekan FISIP, kontrak semacam ini sangat penting dalam menjamin kebebasan akademik dan meningkatkan aksesbilitas fasilitas kampus untuk mendukung upaya aktivitas intelektual. Jadi siapapun yang terpilih kelak, ada tanggung jawab moral yang harus terjaga.

Salah satu landasan lingkungan akademis yang dinamis adalah kebebasan untuk mengeksplorasi, mengkritik, dan mendiskusikan ide tanpa adanya rasa takut. Kebebasan akademik adalah inti dari kehidupan kampus. Para calon dekan perlu membuat komitmen eksplisit untuk melindungi dan memajukan kebebasan akademik. Hal ini termasuk mendukung dosen dan mahasiswa dalam upaya kerja akademik, aktivitas diskusi, mendorong debat terbuka, dan menolak tekanan eksternal yang mungkin membatasi elaborasi intelektual di lingkungan kampus. Beberapa waktu lalu, salah satu fakultas di Unila pernah tidak memberikan izin diskusi publik. Hal ini tentunya tidak boleh terulang kembali.

Kebebasan akademik tentu akan berjalan bila didukung pula oleh aksesbilitas fasilitas kampus. Para kandidat perlu menguraikan rencana yang jelas untuk meningkatkan aksesbilitas fasilitas kampus agar bisa dimanfaatkan oleh seluruh civitas tanpa birokratis.

Tentu banyak isu lain yang menjadi aspirasi kegelisahan civitas FISIP, khuhusnya mahasiswa. Mahasiwa perlu lebih aware dengan agenda ini sebagai momentum bersama untuk memperkuat dan memastikan kekhawatiran mereka bisa menjadi prioritas dalam agenda dekan terpilih.

Mendekati pemilihan dekan baru FISIP Unila, mari tidak lagi memandangnya sebagai formalitas dan pelaksanaan yang konvensional. Sebaliknya, mari menyambutnya sebagai perayaan demokrasi, inklusivitas, dan keterlibatan seluruh stakeholders.

Dengan melibatkan aktif suara mahasiswa dan akar rumput, memastikan dekan terpilih benar-benar mewakili visi kolektif dan aspirasi seluruh civitas FISIP. Dengan melakukan hal ini, ada harapan besar tidak hanya tentang memilih seorang pemimpin tetapi juga memperkuat landasan demokrasi di fakultas, membuka jalan bagi masa depan yang lebih cerah. Semoga!

Leave a Comment