Birokrasi, Distraksi dan Pandemi

Oleh: Dodi Faedlulloh[1] Pandemi telah memaksa banyak hal untuk berubah, tidak terkecuali dunia birokrasi. Tapi untuk konteks Indonesia, transformasi tersebut berjalan lambat. Di tengah hingar bingar narasi sophischated semacam digitalisasi birokrasi, big data dan revolusi industri 4.0, di kala pandemi gagasan tersebut seolah tidak menjejak. Birokrasi Indonesia masih kewalahan  berhadapan dengan “dunia baru”. Birokrasi yang gesit dan luwes masih jauh dari harapan. Beberapa waktu lalu, sempat muncul berita ironi sejumlah oknum Disdukcapil Kota Bandarlampung mengeroyok warga yang sedang meminta pelayanan. … Continue Reading →

Menerobos Pakem Pelayanan Publik

Oleh Dodi Faedlulloh BIROKRASI adalah tulang punggung pembangunan. Oleh karena itu, agenda reformasi birokrasi selalu menjadi aktual. Namun sayang, birokrasi di Indonesia selalu tampil sebaliknya. Alih-alih menjadi tulang punggung, malah jadi penghambat. Citra kaku, ribet, lelet, mahal, bahkan korup masih melekat pada wajah birokrasi kita. Hal ini sering kali terjadi karena birokrasi masih dalam posisi pihak yang dilayani, bukan melayani. Oleh karena itu, reformasi birokrasi yang sedang dan terus berjalan ini memiliki tugas untuk mengembalikan inti birokrasi sebagai pelayan publik. … Continue Reading →

Dosen Juga Buruh

Dalam dunia pendidikan tinggi, dosen menjalankan peran penting karena punya tanggung jawab dalam kerja-kerja pengetahuan dan mendidik generasi masa depan. Namun, terlepas dari pentingnya pekerjaan, dosen sering kali menjadi sasaran kerentanan kerja yang merusak kebebasan akademik dan kesejahteraan mereka. Bahkan, dalam konteks Indonesia, problem birokratisasi dan administrasi semakin memperkuat belenggu ruang gerak dosen. Terakhir, yang sempat menjadi trigger bagi dosen di Indonesia adalah kehadiran Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 1 Tahun 2023 tentang Jabatan Fungsional. Di hadapan kapitalisme … Continue Reading →

Peran Akademisi dalam Membangun Kembali Ruang Publik

Oleh: Dodi Faedlulloh DEMOKRASI tidak melulu soal konsensus. Demokrasi justru terus akan berdenyut ketika disensus berjalan. Perselisihan dan ketidaksepakatan akan menciptakan ketegangan kreatif, sehingga menghidupkan demokrasi sebagaimana mestinya. Di tengah kepungan oligarki, demokrasi hanya akan menghasilkan konsensus berwatak elitis. Hal ini yang patut diwaspadai. Saat ini, demokrasi bisa menemui ajalnya melalui jalur-jalur yang justru demokratis (Levitsky & Ziblatt: 2019). Untuk menangkal kooptasi elit dan oligarki, maka publik harus bisa mengambil perannya kembali sebagai demos. Peran tersebut bisa direalisasi dengan cara membangun kembali … Continue Reading →