April 30, 2026
researchkey

Tulisan ini merupakan ulasan sekaligus membagikan kembali pemikiran Tuomas Eerola tahun 2018 tentang berbagi data dalam studi musik dan sains. Saya pada akhirnya juga terinspirasi untuk melakukan cara yang sama—bahkan sudah dilakukan—dengan mulai membagikan data-data penelitian yang kira-kira berguna untuk peneliti lain. Penelitian itu memang sebaiknya bisa direplikasi, maksudnya penggunaan metodenya jelas dan bisa diaplikasikan oleh peneliti-peneliti setlahnya. Kita bisa melihat penelitian atau artikel jurnal yang ber-sitasi tinggi, itu adalah indikasi hasil penelitian yang baik. Makanya, meneliti atau melakukan publikasi itu sebaiknya bukan sekadar ‘kompleks’ tapi mudah untuk dipahami oleh peneliti lain. Sehingga ide dan gagasan kita bisa juga digunakan oleh orang lain.

Data penelitian adalah aset, terutama bagi korporasi yang memang mendanai hasil penelitian besar untuk kepentingan provit. Data sebaiknya tidak hanya mencakup pengamatan mentah tetapi semua penjelasan tentang prosedur (pra-pemrosesan, meta-data, dan lain-lain) yang tersedia secara bebas untuk siapa saja tanpa batasan selain lisensi yang diizinkan oleh pihak pemberi dana. Data tersebut biasanya disebut data ‘Open Data’ atau ‘Open Access’ dalam beberapa Inggris. Open Data sekarang secara aktif didorong dan bahkan dibutuhkan oleh banyak penyandang dana seperti Research Councils di Inggris. Ada banyak peluang untuk berbagi data di repositori yang kuat seperti Harvard Dataverse, UK Data ReShare, Dryad, Figshare, atau Open Science Frame (OSF). Repositori ini akan memberikan panduan yang sangat baik tentang cara terbaik untuk berbagi data. Bagi mahasiswa S1, S2, dan S3, sebaiknya mencari bahan tugas atau penelitian melalui repositori ini karena resmi dan berbeda jauh dengan blog-blog bebas yang sulit dilacak kebenarannya.

Pertanyaan yang kemudian muncul: mengapa data penelitian harus dibagikan? Bukankan itu malah sangat penting dan jangan disebarkan. Bagi peneliti yang sudah bermain di wilayah yang luas—misalnya mendapatkan dana penelitian ratusan hingga milyaran rupiah—tentu data adalah sebuah komoditas dan perlu diperlakukan sebagaimana mestinya. Data sangat dibutuhkan bagi yayasan atau penyandang dana. Data juga berguna bagi peneliti pemula untuk memulai riset mereka, membagun model, dan sebagainya. Data yang dibuka juga memperkecil plagiarisme atau pencurian data. Maksudnya, data yang di buka adalah data yang sudah diunggah ke perpustakaan khusus data yang resmi. Di situ akan tercatat meta-data dan berbagai informasi. Maka, data akan aman tersimpan dan boleh digunakan oleh pemiliknya atau peneliti lain. Data yang dibuka juga akan mengurangi risiko peniruan pekerjaan penelitian.

Data penelitian yang akan disebar secara resmi sebaiknya didapatkan dengan cara yang baik dan sesuai prosedur yang berlaku. Penelitian harus berpegang pada landasan modal yang kuat sehingga pertanggungjawaban ilmu tetap dipertahankan. Membuka data berarti mempromosikan diri kita sebagai peneliti. Setidaknya itu akan meningkatkan sitasi di artikel yang pernah dan akan ditulis nantinya. Penting bagi seorang peneliti untuk membaca apa saja data yang dibutuhkan oleh banyak peneliti. Jika semakin dibutuhkan tentu saja sitasinya akan naik. Meskipun riset di bidang musik cukup kuat tetapi nampaknya belum memunculkan tanda-tanda keterbukaan data. Berbeda dengan bidang sains yang secara vulgar menyebar data (oleh beberapa peneliti). Bidang musik belum secara eksplisit saling berbagi data, jika ada, umumnya itu peneliti pemula yang masih kesulitan mendapatkan akses terhadap penelitian-penelitian berkualitas—karena juga diterbitkan oleh penerbit dan jurnal berkualitas. Tentu saja platform semacam ini mahal dan sulit diakses bagi peneliti pemula yang belum mendapatkan penyandang dana besar. Di sinilah pentingnya kemampuan untuk mengakses jurnal-jurnal “open science” yang juga tetap berkualitas. Berikut contoh ruang penyimpanan data terbuka yang bisa diakses.

Klik di sini

Klik di sini

Referensi