April 30, 2026
182907-jason-mraz

Umumnya, perjalanan musikal seseorang sangat “random”; tidak memiliki sistematika yang pasti akan alur dalam seseorang memahami musik. Ada banyak sekali genre yang digemari oleh sebagian remaja yang baru mengenal musik dan berkecimpung menjadi seorang pemusik “karbitan”. Salah satu genre yang umum dijumpai adalah musik rock. Musik rock sangat dekat dengan kehidupan para remaja yang mulai mencari jati diri dan sebagai ekspresi anti kemapanan yang dijadikan ideologi. Beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan lain-lain masih menjadi pionir beberapa komunitas rock terbesar sampai saat ini. Musik rock juga dianggap mewakili kehidupan masyarakat Indonesia yang sudah cukup lelah dengan dinamika politik, isu sosial, agama dan sebagainya. Kegemaran akan musik rock ini semakin terpola dengan adanya pengaruh media yang sangat berkembang saat ini, namun dari dahulu hingga saat ini nilai kebanggaan tidak memiliki banyak perubahan. Ada banyak alasan mengapa seseorang mencintai musik rock, yakni: faktor lingkungan, ingin diakui oleh komunitasnya, atau sekedar bisa ikut “headbang”.

Saya dan beberapa teman mengalami siklus ini, siklus dimana kegemaran saya akan musik rock bergeser menjadi musik-musik “mainstream” atau biasa disebut “POP”. Tidak banyak yang mampu saya jelaskan, akan tetapi memang ada sisi “lelah” saat kita selalu “dipaksa” untuk mengikuti alur setiap hentakan yang selalu keras itu. Entah merupakan sebuah kebetulan atau tidak, yang pasti bermusik itu adalah sebuah perjalanan panjang bagi seseorang. Proses pencarian jati diri tidak akan berhenti selama si pemusik terus mempelajari hal-hal baru dan terus dikembangkan. Apapun genre musik yang diperdengarkan pada musik “POP” lah tempatmu kembali. Musik “POP” yang dianggap sebagai salah satu sumber mata pencaharian yang paling mudah dan dekat dengan telinga masyarakat.