PENGALAMAN MUSIK DAN “AHLI MUSIK”
Ada sebuah dikotomi khusus yang hidup dan berkembang di kalangan musisi sejaligus seniman, bahwa pengalaman selalu diakitkan dengan tingginya pemahaman. Saya pertegas lagi, bahwa generasi yang hidup lebih dulu dan mengalami panjangnya perjalanan sebuah sub-genre musik dirasa lebih “tahu” dan “paham” soal musik itu sendiri. F.H. Smits van Waesberghe S.J. menegaskan bahwa ada perbedaan yang sangat fundamental antara “mengalami” dengan “mengerti musik”. Perbedaan ini sebenarnya merupakan dua sikap manusia terhadap karya seni (musik) yang didasarkan atas suatu pengalaman perasaan saja, atau suatu pengalaman pengetahuan tentang musik yang akan selalu berhubungan erat dengan aktivitas akal budinya. Perbedaan tersebut mirip dengan perbedaan pengalaman musikal yang dimiliki oleh seorang penggemar musik (amatir) dan ahli musik (profesional). Pandangan ini tidak sertamerta membenarkan seseorang yang lebih ahli di bidang musik dan menganggap semua pendahulunya itu ‘remeh’. Sama seperti seorang anak yang pergi merantau ke luar negeri untuk belajar ilmu musik dan kembali dengan wajah sombong dan merendahkan guru-gurunya.
Sebut saja, jika dikatakan seseorang hidup di tahun 70-an sampai sekarang dan mengikuti perkembangan musik pada zaman itu, maka bisa dikatakan ia lebih paham soal sejarah. Contoh lain, seorang musisi yang hidup di era yang sama dan banyak menghabiskan waktu dari panggung ke panggung, tentu hanya persoalan teknis yang melekat dalam pengalamannya. Misalnya, jika ia seorang pemain Bas atau Drum, maka pengalamannya hanya terisi oleh hal-hal teknis yang bersifat fisik dan metodis. Bagaimana memainkan drum, teknik bermain bas atau gaya-gaya baru dalam permainan keduanya. Persoalan dilematis muncul, bahwa oaring-orang yang tahu sejarah musik tidak mahir bermain musik, dan sebaliknya para pemusik belum tentu mengerti mengenai asal-usul musik yang ia mainkan. Persoalan ini memang membutuhkan perspektif khusus dalam menjawabnya. Misalnya, seorang pemain musik yang secara ‘sadar’ membuat sebuah karya/lagu yang didasari dengan ‘pengalaman’. Pengalaman yang dimaksud di sini adalah pengalaman musikal yang membentuk karakter sang musisi tersebut. Sebuah karya yang dibuat dengan penuh konsentrasi dan pemusatan perasaan akan pengalaman tentu mampu membuat konsonansi pengalaman terhadap pendengarnya. Fenomena ini memang tidak selalu terjadi, contohnya saja dalam kasus selera musik orang Indonesia.
Enak Dan Tidak Enak
Dalam mendengarkan lagu-lagu berbahasa asing (Inggris), kita tidak perlu memahami dulu apa isi lirik dari lagu tersebut. Sejauh nada, ritme, beat, atau melodinya enak untuk didengar, maka bisa dikatakan lagu-lagu seperti ini laris di konsumsi oleh orang Indonesia. Saya yakin hal yang sama juga terjadi di belahan dunia lain. Hal inilah yang semakin menegaskan bahwa musik adalah bahasa universal. Musik-musik elektronik (EDM) yang saat ini banyak diperdengarkan, selalu dimulai dengan riff-riff yang sebenarnya tidak memerlukan kekuatan lirik dan maksud dari penciptaannya. Lagu-lagu tersebut seolah dibuat hanya untuk memanjakan telinga akan “pattern”, “motif” dan pola musikalnya saja. Beberapa tidak menghiraukan di mana letak nilainya secara kentekstual.
Tetapi, kembali ke bahasan sebelumnya, bahwa apa yang dikatakan ‘enak’ itu sangat berkaitan erat dengan pengalaman musikal. Jika kita memperdengarkan sebuah lagu ‘dangdut’ kepada seorang pecinta jazz fanatik maka musik tersebut akan secara langsung ditolak dan dianggap musik ‘sampah’, hal yang sama juga terjadi sebaliknya. Kembali lagi ke pengalaman dan memahami musik, pengalaman memiliki level. Level pertama adalah hidup di era tersebut, level selanjutnya adalah mencari fakta-fakta terkait era di zaman musik tersebut, level selanjutnya adalah keheterogenan dalam memperdengarkan suatu karya musik dan level yang tertinggi adalah mampu memetakkan atau membuat lanskap yang jelas mengenai musik yang dialaminya tersebut. Level terakhir ini juga bisa disebut sebagai seorang ‘ahli’ di bidang musik untuk selanjutnya menjadi seorang ‘profesional’. Profesional di musik bukan hanya tahu, mengalami, tetapi memiliki strategi. langah-langkah yang jitu dan yang pasti menguasai teknik dalam satu bidang musik.
Menelisik musik berarti menelusuri sejarah, salah satu caranya adalah dengan melakukan komunikasi dengan orang-orang yang lebih dulu mengalami era-era keemasan suatu musik. Maksud dan tujuan yang sangat baik jika diawali dengan ‘napak tilas’ sejarah untuk menggali informasi yang bersifat estetis atau musikal.
Referensi
Sunarto. (2016). Estetika Musik. Yogyakarta: Thafamedia