Di dalam disiplin ilmu apapun pasti ada bagian penting yang menarik untuk dikaji dan berguna untuk kehidupan manusia. Misalnya ilmu fisika, kimia,komputer, mesin, semuanya memiliki karakteristik ilmu dan manfaat yang berbeda untuk manusia. Semuanya memiliki narasi yang didukung oleh subjek untuk mendorong ilmu tersebut berkembang. Di dunia penerbangan seorang B.J. Habibie berhasil menciptakan teori retakan pesawat. Melalui karyanya itu, banyak orang yang terinspirasi hingga belajar bidang ilmu serupa. Dalam hal ini, Habibie telah sukses menyampaikan narasi keilmuwannya dengan baik. Artinya, antara narasi dengan narator harus saling bersinergi.
Pentingnya peran seorang narator untuk memberikan pemahaman secara langsung atau melalui karya-karyanya. Jika konsep ini diterapkan dalam musik tentu perkembangan diskursus musik dan segala isu-isu di dalamnya dapat dengan pesat berkembang. Pada dasarnya setiap orang menyukai musik dan pasti bersinggungan dengan musik. Tetapi, tidak semua orang menganggap bahwa musik adalah sebuah disiplin ilmu yang sama dengan bidang lainnya. Akibatnya pengetahuan orang tentang musik hanya sebatas kulit luarnya saja. Tidak banyak yang paham bahwa musik dapat menghidupi kehidupan mereka layaknya seorang arsitek atau dokter. Semua sudut pandang itu salah satunya disebabkan oleh kurangnya narator dalam bidang musik. Sehingga pengertian orang tidak banyak mendalam tentang musik.
Musik adalah sebuah narasi yang sangat menarik dibicarakan, dianalisis, dipraktikkan, diseminarkan, dan dipertunjukan. Kalau ingin digali lebih jauh, maka banyak profesi-profesi di bidang musik yang sangat cocok dijadikan sebagai pekerjaan utama. Tetapi pengetahuan orang kurang di sini, sehingga, yang terjadi adalah pemahaman yang sempit tentang musik. Musik tidak terkomunikasi dengan baik, akibatnya persepsi negatif selalu muncul pada musik. Beberapa penggiat musik ada yang sudah mengkampanyekan musik dan teori-teori musik. Tujuannya untuk meningkatkan literasi musik, sehingga musik jauh lebih diterima di masyarakat. Literasi musik perlu dilakukan secara masif dan konsisten agar memiliki dampak yang signifikan. Literasi musik juga merupakan
narasi untuk menyebarluaskan eksistensinya agar terus maju dan berkembang. Intinya, perlu lebih banyak relawan dan gerakan yang terus dilakukan agar urgensi tentang betapa pentingnya musik bisa lebih dipahami. Indonesia kekurangan narator yang menyampaikan berbagai realitas musik kepada masyarakat luas.
Narator adalah orang yang mampu menyampaikan isu-isu terbaru tentang musik, merefleksikan hakekat musik, mengedukasi, memberikan contoh, mengevaluasi, dan memastikan segala bentuk informasi tentang musik tersampaikan dengan benar. Seorang narator musik harus bisa bercerita tentang hal-hal yang sulit dipahami orang.
Seorang narator musik harus bisa memperkenalkan karakter musik lokal di daerahnya, bahkan mereka harus bisa memperhitungkan dengan matang siapa saja yang menjadi sasaran literasi musik. Narator musik adalah seluruh elemen masyarakat musik dari berbagai profesi musik yang terus berkiprah. Tanpa peran narator,
musik hanya akan dilihat sebagai sebuah pelengkap, bukan sebagai subjek utama. Seorang narator musik memiliki visi yang jauh ke depan, melihat musik 50-100 tahun lagi. Sehingga mampu merumuskan dan memutuskan langkah-langkah yang tepat dalam memperluas misinya. Bagi seorang narator, mentransmisikan dan mewariskan musik adalah agenda utama mereka. Semakin banyak orang sadardan mengerti tentang “apa itu musik?”
maka akan semakin banyak pula yang menyebarkan ulang musiknya.