April 30, 2026
8tgoqraec

Multi-instrumentalis adalah sebuah istilah untuk menyebutkan kecakapan seseorang dalam memainkan instrumen musik lebih dari satu atau dua. Tingkat kemahiran multi-instrumentalis dinilai pada tingkat profesional, artinya bukan sekadar bisa memainkan, tetapi menguasai permainannya. Di Indonesia, penyebutan multi-instrumentalis biasa disebut ā€œmulti tantentā€, walaupun penggunaan istilah ini sebetulnya tidak tepat. Karena istilah talenta adalah bagian dari kompetensi tertentu untuk melakukan jenis pekerjaan tertentu. Maknan kata ā€œtalentā€ sering disalahkartikan dengan ā€œaptitudeā€, padahal ā€œaptitudeā€ merupakan bagian yang menyusun talenta. Bakat dalam pengertian ā€œaptitude’ dipahami sebagai sebuah potensi fisik atau mental. Bakat (aptitude) merupakan potensi bawaan yang sudah ada sejak manusia lahir untuk melakukan jenis oekerjaan tertentu, baik itu dikembangkan maupun tersimpan secara alami.

Di berbagai ansambel atau grup musik, multi-instrumentalis berfungsi ganda, misalnya dalam sebuah orkestra pemain flute yang merangkap bermain piccolo, pemain saxophone dan flute dalam musik jazz, pemain kontra bas dan bas-electric dalam big band, dan masih banyak lagi. Fenomena ini salah satunya dilatarbelakangi oleh pemanfaatan fleksibilitas musisi sehingga lebih efisien. Dalam konteks pertunjukan musik klasik, para multi-instrumentalis biasanya memegang tugas ganda di satu kelompok instrumen yang sama, contohnya: flute dan saxophone yang sama-sama berasal dari keluarga instrumen tiup, atau kontra-bas dan bas-electric yang juga berasal dari keluarga instrumen dawai (string).

Dalam konteks musik lokal (tradisional), khususnya di Indonesia, para musisi lokal memiliki fungsi yang sama dengan musisi musik klasik. Mereka terdidik secara musikal dan dibesarkan oleh bakat alam untuk mampu memainkan lebih dari satu instrumen. Misalnya pada alat musik gamelan yang memili beberapa waditra. Seorang pemain musik gamelan dituntut untuk bisa memainkan belasan alat gamelan, seperti saron, bonang, slentem, gong, kendang dan-lain-lain. Tidak seluruhnya berbakat dalam hal ini, tetapi musik gamelan memang membutuhkan hal tersebut. Bagi grup musik gamelan, fleksibilitas seluruh pemain sangat dibutuhkan untuk menghadapi persoalan teknis di lapangan. Misalnya salah satu pemain yang berhalangan hadir karena sakit. Setidaknya setiap pemain telah dibekali beberapa keterampilan alat musik dan berada di level bermusik yang sama.

Sementara dalam konteks musik populer, tidak ada tuntutan yang bersifat fungsional dalam pertunjukan. Misalnya seorang penyanyi seperti Isyana Saravati yang juga menguasai piano klasik. Tidak ada aspek kebutuhan seperti yang terjadi dalam musik klasik. Jika seorang penyanyi pop menguasai lebih dari dua instrumen musik, keuntungannya berhubungan dengan proses produksi karya. Dengan menguasai berbagai instrumen, memungkinkan seorang penyanyi menulis atau menciptakan karya hingga proses perekaman dilakukan oleh satu orang. Keuntungan lainnya adalah referensi bunyi, timbre, harmoni yang lebih luas memungkinkan banyak pilihan untuk mengeksekusi setiap bunyi atau nada. Dalam konteks musik populer, tidak ada kewajiban seseorang harus menguasai berbagai alat musik. Salah satu musisi legendari yang juga seorang multi-intrumentalis adalah Paul McCartney. Di dalam albumnya yang berjudul McCartney Ia memainkan beberapa instrumen, seperti: Vokal, gitar akustik, gitar-electric, bas, drum, piano, organ, perkusi, dan lain-lain.