April 30, 2026
nft

Beberapa minggu terakhir ini perhatian masyarakat tertuju pada satu fenomena yang terbilang baru di dunia virtual. Seorang pemuda bernama Ghozali sempat menjual foto selfie-nya dalam bentuk NFT selama empat tahun hingga bernilai Milyaran Rupiah. Tentu saja hal ini mengejutkan banyak pihak, terutama yang belum mengenal apa itu NFT. Berbagai pertanyaan kemudian muncul: (1) apakah NFT itu? (2) mengapa dokumen digital seperti foto bisa laku dan bernilai tinggi? (3) apakah NFT akan menjadi salah satu budaya baru yang akan melakukan disrupsi di berbagai sektor, termasuk pendidikan musik?

Apa itu NFT?

NFT (Non-fungible token) adalah aset digital berupa token yang mewakili kepemilikan atas suatu benda atau barang tertentu yang unik atau berbeda satu sama lain. NFT berfungsi sebagai bukti kepemilikan yang otentik atas suatu karya. Sejauh ini NFT digunakan untuk medaftarkan atau menjual karya seni, item-item dalam games, atau barang koleksi lainnya. Melihat perkembangan NFT yang sangat cepat dan respon masyarakat dunia yang ramai-ramai membuat akun untuk mendaftarkan NFT mereka, nampaknya NFT akan digunakan juga untuk kepentingan lain. NFT juga bisa berguna untuk menyimpan dan mendaftarkan sertifikat keaslian software, akta kelahiran, dan akta kematian. Saat ini banyak orang mempertanyakan mengapa aset digital yang terkesan tidak berharga bisa dinilai denga harga yang tinggi. Untuk memahami hal-hal mendasar semacam ini tentu saja perlu investigasi yang mendalam tentang bagaimana NFT bekerja. Apakah cara dunia bekerja masih sama seperti dulu, atau jangan-jangan telah berubah dan menjadi tidak masuk akal. Sebagai ilustrasi sederhana misalnya, item-item dalam games yang sempat dijual secara virtual, bahkan sebelum NFT menjadi perbincangan, telah banyak para pemain game online yang memperjualbelikan item-item digital berupa koleksi yang sangat unik. Tujuan utamanya tentu saja mendapatkan nilai (value) kepuasan, karena item yang dimiliki terkadang sulit didapatkan sehingga harganya cukup mahal. Dengan logika dasar seperti ini seorang penikmat game akan melakukan apa saja untuk mendapatkan item yang diinginkannya. Jadi, sebenarnya NFT telah berlangsung cukup lama sebelum menjadi viral seperti sekarang.

Kembali lagi mengenai NFT, aset-aset digital yang saat ini diperjualbelikan dengan harga yang sangat tinggi mungkin saja tidak bernilai oleh sebagai orang, tetapi memiliki kegunaan, fungsi, atau nilai bagi orang-orang yang memiliki kepentingan; bahkan jika kepentingan itu hanya untuk sekadar memenuhi kepuasan. Jadi, pada tahap tertentu dunia NFT bukan sekadar menjadi trend baru tetapi menjadi pasar jual beli masa depan. Karena menggunakan sistem penyimpanan blockchain maka semakin banyak yang tertarik pada NFT, karena dinilai lebih aman untuk menjaga aset-aset digital. Blockchain adalah sebuah tempat penyimpanan data berupa sistem yang memiliki tingkat keamaan sangat tinggi. Hal ini karena teknologi blockchain divalidasi oleh banyak validator yang sulit untuk diretas. Server blockchain saling terhubung satu sama lain, sehingga jika terjadi perubahan data mudah untuk terekam diketahui oleh banyak pihak. Blockchain merupakan teknologi yang menjadi tulang punggung crypto currency. Crypto currency pertama kali diperkenalkan tahun 2009 dengan menawarkan sistem keuangan yang desentralisasi. Singkatnya, segala transaksi keuangan yang terjadi di dunia digital dengan sistem blockchain akan terekam dan transparan. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang kemudian beralih menginvestasikan uang mereka melalui sistem blockchain.

Sistem yang ditawarkan NFT melalui blockchain men-disrupsi banyak praktik perdagangan dan investasi. Barang atau aset yang sebelumnya dinilai tidak berharga, setelah didaftarkan menjadi NFT menjadi aset yang memiliki nilai. Oleh karena itu, setelah fenomena Ghozali-selfie itu banyak orang yang kemudian menjadi ā€˜latah’ dan ikut menjual dokumen-dokumen pribadi mulai dari KTP hingga video-video yang menjadi koleksi pribadinya. NFT menawarkan pengalaman baru yang cukup berharga yakni kepemilikan atas aset tertentu. Karena bersifat sangat personal, maka aset-aset digital dalam NFT menjadi sangat bernilai bagi pemiliknya, sehingga ada beberapa aset digital yang bernilai fantastis dalam situ jual-beli NFT.

NFT muncul di berbagai sektor dengan spesifikasinya sendiri. Misalnya di dunia musik, salah satu platform musik NFT bernama Royal didirikan oleh Justin Blau dan teman-temannya. Platform musik ini sekilas mirip dengan spotify atau YouTube, tetapi di sini para artis dapat memberikan secara langsung kepemilikan lagu-lagu mereka; dan yang lebih mengejutkan para penggemar yang membeli lagu-lagunya itu juga ikut mendapatkan royalti.

Cara tradisional dalam menikmati konser musik juga ikut berubah. Penyelanggara konser telah bekerja sama dengan perusahaan metaverse untuk menyelenggarakan konser online. Musisi seperti Zedd dan Alan Walker menyelenggarakan konser digital mereka di dalam metaverse bernama Roblox. Adopsi NFT dalam industri musik tumbuh lebih cepat setiap hari, dari platform musik NFT hingga festival di dunia metaverse. Beberapa penyelenggara konser musik saat ini sudah mengeluarkan tiket konser dalam bentuk NFT.

Metaverse adalah dunia virtual yang saat ini sedang dikembangkan oleh beberapa perusahaan besar, misalnya Microsoft dan Meta (Facebook). Diprediksi ini akan menjadi sebuah lingkungan virtual baru dengan berbagai fitur menyerupai dunia nyata. Metaverse di desain menyerupai aset dan benda-benda fisik di dunia nyata. Karena seluruh aktivitas kehidupan akan dilakukan di dunia virtual ini, maka seluruh aset atau benda apapun bisa memiliki nilai sebagaimana di kehidupan nyata. Saat ini banyak pihak berlomba-lomba berinvestasi pada aset-aset digital, mulai dari properti, kendaraan, pakaian, hingga aksesoris yang menunjang kehidupa sosial nanti di metaverse. Seluruh aset digtal yang terdapat di dalam metaverse berbentuk NFT, terdaftar, bernilai, dan bisa dipergunakan sebagaimana di dunia nyata. NFT menjadi teknologi yang mendukung keberadaan metaverse.

Untuk menjawab pertanyaan mengapa NFT bisa bernilai sangat mahal, kita perlu menggunakan analogi sederhana. NFT bukan hanya sebagai aset digital, tetapi juga digital art, di sinilah letak irasionalitasnya. Karena aset digital pada NFT dipandang sebagai sebuah karya seni, maka tidak ada standarisasi khusus yang baku untuk setiap item yang terdaftar. Baik itu foto, video, maupun dokumen lainnya yang telah terdaftar di NFT dinilai sebagai karya seni. Karya seni seperti lukisan misalnya bisa berharga 10 juta, 50 juta, hingga 1 Miliyar. Harganya ditentukan bisa dari nilai sejarah, level estetis, atau faktor lainnya, semuanya bersifat fluktuatif. Atas dasar logika itulah NFT bisa menjadi sangat mahal. Bagi orang-orang yang memiliki pengalaman atau kedekatan emosional pada aset digital dan karya seni di NFT bisa saja mengabaikan faktor material dan lebih fokus kepada nilai-nilai dan makna di dalam NFT. Para pemilik NFT mendapat jaminan penuh atas keaslian aset atau karya seninya melalui token atau sertifikat digital.

Pendidikan Musik Menggunakan Teknologi NFT

Salah satu nilai yang paling kuat ditawarkan oleh blockchain dan NFT adalah faktor autentisitas. Siapaun yang pernah mendaftarkan aset digitalnya ke dalam NFT akan mendapatkan penjaminan terhadap keaslian aset digitalnya. Misalnya, jika seniman membuat karya seni dan langsung mendaftarkan karyanya itu ke dalam NFT maka karyanya itu tercatat sebagai aset digital yang memiliki nilai.Ā  Hal ini sangat berlawanan dengan sistem internet dan media sosial memperlakukan informasi secara tradisional, sehingga membuatnya mudah untuk disalin (copy) untuk disebarkan ke banyak orang orang. Di media sosial tidak ada jaminan tentang autentisitas karya seseorang atau aset digtal mereka, sementara NFT sangat menghargai hal semacam itu. NFT memiliki semacam kode kepemilikan aset digital yang bisa digunakan untuk menunjukkan autentisitas aset seseorang. Inilah yang menjadi nilai yang mendasari teknologi NFT. Bagi orang-orang yang sangat menghargai karya intelektual sebagai aset digital tentu saja munculnya NFT sedikit menjawab kegelisahannya selama ini. Mungkin saja masalah hak cipta karya musik juga dapat diselesai melalui teknologi ini.

Walaupun terbilang masih sangat baru dan terus diperbincangkan, NFT terus mencari bentuk di segala lini, mulai dari sektor ekonomi, seni, budaya, games, olah raga, hingga pendidikan. Jika dilihat dari potensinya yang besar, NFT seharusnya menjadi salah satu alat yang bisa digunakan dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan musik. Tahapan awalnya adalah menjaungkau para pendidik musik yang belum ter-literasi tentang NFT. Melalui pelatihan singkat tentang crypto, blockchain, dan NFT, diprediksi para pendidik musik juga bisa menerapkan berbagai fitur yang ditawarkan NFT.

NFT juga membuka peluang bagi para pelajar, mahasiswa, guru, dan dosen-dosen musik yang kreatif mendaftarkan asetnya secara digital. Sehingga karyanya tercatat dan memiliki hak atas kepemilikannya. Terlepas NFT akan digunakan sebagai situs jual beli atau tidak, setidaknya NFT telah membuka ruang bagi masyarakat seni untuk menyimpan karya-karyanya dengan aman. Tidak hanya karya seni atau musik yang bisa didaftarkan, bahwa video pembelaran, tutorial musik, etude, buku teks versi digital, dan berbagai aset lainnya dapat dipergunakan untuk kepentingan pembelajaran musik.

Dengan penggunaan yang tepat NFT dapat memperkecil masalah plagiarisme karya ilmiah an karya musik di lingkungan pendidikan. Sebagaimana diketahui praktik plagiarisme selama beberapa tahun terkahir meningkat seiring dengan kemudahan akses informasi dan berbagai aplikasi yang disalahgunakan untuk kepentingan itu. Plagiarisme menjadi tidak terdeteksi, ide dan gagasan dapat dengan mudah dicuri dan diambil. NFT dapat digunakan untuk menyelesaikan satu dari sekian banyak permasalahan itu. Misalnya, seorang pendidik meminta tugas-tugasnya di unggah ke dalam NFT setelah melewati uji plagiarisme. Dengan begitu hasil karya para siswa tercatat kepemilikannya secara pribadi. Bagi karya seni atau musik yang memiliki nilai juga bisa juga dipasarkan secara bebas. Keuntungan hasil penjualan karya itu dipergunakan untuk kepentingan siswa atau disepakati bersama dengan guru yang bersangkutan. Dengan demikian sejauh ini NFT sebetulnya bisa digunakan untuk hal-hal postif dalam dunia pendidikan. Berbagai hasil karya siswa dan guru musik dapat didaftarkan sekaligus diperjualbelikan untuk kepentingan bersama.

Konsep blockchain dalam NFT sebetulnya bisa digunakan juga untuk kepentingan penyimpanan data-data riset secara digital. Terutama arsip hasil kegiatan musik, FGD, dan lain-lain. Selama ini banyak kegiatan virtual atau non-virtual yang terekam tetapi tidak diimpan dengan baik, sehingga tidak dapat digunakan untuk kepentingan tertentu di masa depan. Misalnya untuk kepentingan penelitian dalam bidang musik. Arsip-arsip digital seharusnya bisa disimpan dalam satu ruang penympanan khusus dengan kapasitas penyimpanan tidak terbatas. Agar mampu seluas-luasnya dimanfaatkan oleh para penentu kebijakan dan akademisi musik mengembangkan keilmuan mereka. Konsep penyimpanan tunggal di dalam komputer sangat rentan, sehingga memiliki potensi fail hilang atau terhapus karena perangkat keras yang digunakan untuk menyimpan data tidak aman. Beralih ke teknologi ā€˜cloud’ juga masih menimbulkan kendala. Misalnya jika ā€˜google drive ā€˜ dikelola oleh satu atau dua orang yang masih berpotensi lupa password dan semacamnya. Saat ini gagasan yang terbilang aman untuk dilakukan adalah mengadopsi pola penyimpanan ala blockhain dan NFT. Jadi, penyimpanan dokumen bisa dilakukan dengan berbagai akun, pengelola, dan menggunakan sistem imitasi. Jika suatu saat dokumen di satu akun atau sumber hilang atau terhapus, maka masih terdapat dokumen lainnya. Prinsipnya adalah ā€˜keterhubungan dan pengelolaan berbasis jaringan’.

Kebutuhan terhadap autentisitas saat ini cukup tinggi, terutama di tengah kemajuan teknologi yang memungkinkan berbagai pemalsuan data dan ide. Hadirnya NFT sedikit membantu para pekerja musik dan akademisi musik untuk mendaftarkan karya intelektual mereka dalam bentuk aset digital. Pembelajaran musik di kelas atau di lembaga kursus tertentu sangat mungkin untuk disimpan dalam bentuk digital aset. Format dokumennya dapat disimpan dalam bentuk foto, audio, maupun video. Melalui sistem penyimpanan dan pencatatan yang saat ini paling aman, NFT mampu memberikan penjaminan bagi siapapun untuk mentipkan hasil karyanya. Di tengah kemajuan teknologi dan berkembangnya berbaga aplikasi, kecurangan dan tindakan ilegal semakin makark terjadi. Oleh karena itu, NFT seharusnya bisa menjadi sistem penyimpanan dan pencatatan arsip, dokumen, dan karya seni digital yang otentik. Pada akhirnya kebutuhan dasar setiap orang di masa depan hanya memastikan karya mereka sebagai aset digital tersimpan dengan aman.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya jika NFT memiliki nilai pembeda karena terdapat token atau sertfikat digital. Dengan demikian maka NFT dapat berfungsi juga untuk sertifikasi secara online. Sekolah, kampus, atau lembaga kursus musik bisa saja menerbitkan sertifkat digital berbentuk NFT. Semua sudah lengkap, mulai validasi, sistem pencatatan, dan meta data lainnya. Sertifikat berbentuk token NFT nampaknya akan menjadi bagian dari masa depan pendidikan musik, atau mungkin pendidikan dalam konteks yang lebih luas. Pembayaran atau penebusan ijazah musik misalnya bisa dilakukan melalui trasaksi dompet digital.

Catatan rekaman pendidikan berupa transkrip nilai saat kuliah, nilai, atau laporan tahunan dapat disimpan dalam bentuk token di NFT. Sebagai contoh, jika salah seorang mahasiswa musik melamar pekerjaan, dia tidak perlu membawa dokumen ber-legalisir dari pihak sekolah untuk melengkapi lamaran kerjanya. Jika transkirp nilai itu habis, mereka (siswa) harus kembali ke sekolah untuk melegalisir, hal ini sangat tidak efektif. NFT memudahkan akan pencatatan nilai itu dan tersertifikai oleh validator di blockchain, sehingga tidak perlu lagi membutuhkan legalisir ijazah.

Token dalam NFT dapat memiliki peluang yang besar di dunia pendidikan musik. Kursus online, tiket konser, akses untuk buku-buku digital atau score musik dapat seluruhnya menggunakan token NFT. Seseorang hanya perlu mengisi dompet digital mereka dan melakukan transaksi seperti jual-beli biasa.

NFT memberikan pengalaman lain bagi setiap orang untuk menghargai aset yang dimilikinya. Pengalaman juga bisa didaftarkan ke dalam NFT. Misalnya, video pembelajaran seorang musisi terkenal saat pertama kali mempelajari alat musik. Sebelum dia terkenal video itu mungkin tidak terlalu bernilai, tetapi setelah menjadi terkenal banyak orang berlomba berburu video bersejarah itu. Inilah yang dimaksud dengan pengalaman yang mahal dihargai oleh NFT. Memori atau pengalalaman seseorang berupa NFT juga bisa menjadi profil digital yang otentik. Jadi, setiap orang bisa mengetahui bukan sekadar rekam jejak digital seseorang di dunia maya, tapi juga mengetahui kualitas seseorang melalu token NFT yang dimilikinya. Berbagai hal yang dijelaskan itu mungkin terdengar masih sangat abstrak karena belum banyak terjadi dan dilakukan orang. Tetapi jika melihat kembali terhadap apa yang dilakukan Ghozali, tentu saja banyak kemungkinan bisa terjadi, termasuk gagasan-gagasan pemikiran NFT ini dan kaitannya dengan dunia pendidikan musik.

PPT (klik di sini)