April 30, 2026
sheet_music

Oleh: Riyan Hidayatullah

Bagaimana anda memandang seorang yang gila? apakah pemahaman kita tengang gila? bagaimana mengukur hal tersebut? apa konsepnya? Tentunya pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan muncul secara filosofis di benak siapa saja. Menurut perspektif fisiologi orang-orang seperti ini dikatakan memiliki dimensi yang berbeda secara pemikiran, kita hidup di dimensi A sedangkan ia hidup di dimensi B, C, G, X dan seterusnya. Hal itulah yang menyebabkan kita menyimpulkan seseorang itu dikatakan gila. Bila disepakati, gila tentu keadaan dimana seseorang berprilaku tidak normal atau seperti manusia pada umumnya.

Fenomena lain yang lebih musikal adalah “fals”. fals adalah keadaan dimana suatu nada tidak pas dengan chord atau struktur harmoninya. Misal dalam sistem chord dasar, nada pembentuk adalah 1 – 3 – 5 atau do – mi- sol, maka nada yang muncul selain ketiga nada tersebut dikatakan fals. Ada dua perspektif yang saya gunakan, pertama anggapan dasar bahwa konsep do – mi – sol tersebut dipahami sebagai sebuah konsep yang matang dan tidak terbantahkan, mutlak dan tidak terkecualikan. Pandangan fals yang kedua adalah, frekuensi yang tidak sesuai dengan standarisasi tuning internasional.

Lalu, apa kaitannya dengan penjajahan? Saya mencoba untuk menggunakan dua perspektif tersebut untuk melihat potret masyarakat Indonesia saat ini dalam memandang bunyi secara musikal. Sebagai contoh sederhana, orang Aceh yang pergi ke Jawa Barat tentu akan merasa asing dengan struktur melodi da – mi – na – ti – la – da, karena sistem interval pada skala tersebut berbeda dengan skala nada kultur musik Aceh. Ada yang langsung melakukan justifikasi dan menyatakan bahwa nada tersebut fals (out of tune), padahal yang sebenarnya terjadi adalah pengalaman musikal yang berbeda satu sama lain. Saya akan langsung mengkaitkan dengan perspektif yang lebih luas, yakni musik populer. Saya sendiri besar dengan pengalaman musikal yang cukup beragam, mulai dari dangdut, timur tengah (qosidah), rock, blues, pop, sampai jazz. Semua genre tersebut merupakan sub-genre musik populer yang kemudian berkembang di kalangan generasi Indonesia saat ini. Bagi yang besar dan hidup di dunia rock, akan sangat sulit untuk menerima alunan musik dan tangga nada etnis sunda, padahal ia tinggal di Jawa Barat, misalnya.

Selama ini kita terjajah dengan skala, nada-nada, melodi dan komponen musikal dari Barat, sehingga cukup sulit untuk kita menerima genre musik lain karena tidak sesuai dengan pengalaman auditif yang telinga kita alami. Jika ingin diuraikan lagi, bukan genre yang mempengaruhi seseorang itu menerima musik atau tidak, tetapi lebih dalam lagi, yakni bahasa musikalnya sampai pada struktur terkecil dari sebuah lagu, misalnya not, frase, ritmik, melodi, dan komponen-komponen lain yang membentuk suatu musik atau lagu.