āThe Musical Mindā (Terjemahan buku: PSYCHOLOGY OF MUSIC (CARL E. SEASHORE))
PSYCHOLOGY OF MUSIC (CARL E. SEASHORE)
Oleh:Riyan Hidayatullah
FKIP UNILA
Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan
PENDAHULUAN
1.Latar Belakang
Berbicara mengenai permasalahan musik adalah berbicara mengenai ārasaā. Rasa yang selalu ingin ditekankan oleh setiap guru atau pendidik musik. Bila kita telusuri, berbagai persoalan bangsa yang muncul adalah persoalan rasa atau perasaan yang kurang peka terhadap sesama. Oleh karena itu, di berbagai negara maju seperti Amerika atau Eropa sangat sadar pentingnya musik dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Hal ini tercermin mulai dari permasalahan birokrasi, kurikulum, biaya dan berbagai permasalahan teknis pendidikan yang masih menjadi polemik di negeri Indonesia ini. Rasa merupakan penentu dalam memberikan ātreatmentā terhadap permasalahan pendidikan, bukan sekedar parameter keberhasilan kontenya, seperti mata pelajaran seni budaya di sekolah-sekolah. Bila permasalahan rasa ini dipahami secara mendalam, maka korelasi antara āoutputā dan akar permasalahan pendidikan di negeri ini akan teratasi. Seorang guru besar, penulis, pejabat, dan berbagai profesi yang dilandasi menggunakan penalaran rasa dan estetika yang baik sebagai produk dari āseniā, akan lebih mampu menuangkan ide-ide segar yang positif untuk masing-masing bidangnya.
Djohan (2001:170) mengatakan: āMusik memiliki dimensi kreatif selain bagian-bagian yang identik dengan proses belajar secara umum. Sebagai contoh, dalam musik terdapat analogi melalui persepsi, visual, auditori, antisipasi, induktif-deduktif, memori, konsentrasi dan logikaā. Berbagai produk diciptakan sebagai output dari musikalisasi personal yang menyeluruh. Tidak sedikit orang-orang hebat yang memiliki profesi sebagai dokter, arsitek, pilot atau bahkan seorang professor yang memiliki keterampilan bermusik yang baik. Hal ini merupakan stimulus positif yang dihasilkan oleh musik.
Disadari atau tidak, setiap manusia memiliki perjalan atau ācerita tersendiriā mengenai musik. Semuanya cenderung mengarah dari tekstual menuju kontekstual. Sebagai contoh, sejak Taman Kanak-kanak atau Sekolah Dasar kita sudah mulai diperkenalkan dengan lagu kebangsaan yang bernafaskan himne atau mars, guru menjelaskan dengan gambar not balok atau not angka yang tertera di papan tulis, Proses bermusik dimulai disini. Selanjutnya, beranjak Sekolah Menengah level kita bertambah dengan menerima materi seperti, mengenal ritme. pitch, interval, tangga nada, dinamika dan sebagainya. Pemahaman terus bertambah sesuai bertambahnya usia dan daya serap memahami yang bertambah pula. Pada saat beranjak dewasa kita mulai menyadari bahwa musik yang kita kenal dan pelajari dari kecil itu membawa dampak psikologis yang signifikan, itu pun jika kualitas belajar atau daya serap kita baik selama prosesnya.
Permasalahan kualitas atau musikalitas memang menjadi permasalah yang sempat menjadi perdebatan selama bertahun-tahun, akan tetapi terlepas dari persoalan bakat musik atau latihan yang tekun keduanya tetap dituntut untuk memahami bagaimana prose situ dapat terbentuk dengan baik hingga mencetak seorang seniman atau manusia yang berkemampuan musik yang baik. Ada beberapa konten yang mendasari beberapa hal diatas. Konten-konten itulah yang akan dipaparkan dalam buku Carl Emil Seashore ini.
2. Carl Emil Seashore (1866-1949)
Carl Emil Seachore adalah seorang ahli psikologi terkemuka yang lahir pada tanggal 28 januari 1866. Ia bermigrasi dengan keluarganya pada tahun 1970 ke Amerika (US) dan tinggal di Lowa. Seashore adalah seorang lulusan Gustavus Adolphus College, St. Peter, Minnesota pada tahun 1891. Ia mempelajari matematika, musik, bahasa klasik dan literatur. Pada beberapa tahun pertamanya Seashore ambil bagian dalam organisasi dan menjadi choir director āSwedish-Lutheran churchā dan ia mendapatkan gaji dar pekerjaannya itu yang digunakan untuk kuliahnya.
THE MUSICAL MIND
āMusical mindā tidak secara dangkal diartikan sebagai sebuah bakat musik, tetapi ada beberapa ārequirementā yang membentuk āmusical mindā itu sendiri āThe musical mind is first of all normal mindā, artinya, semua kemampuan merasakan, mendengar, mengerti dan sebagainya tercipta dalam suatu integrasi āsenseā dari musik. Beberapa parameter terhimpun dalam pembentukan āmusical mindā seperti, kapasitas alat indera ( The Sensory capacities), bayangan musikal, imajinasi, dan memori (Musical Imagery, Imagination, and Memory), kecerdasan musical (Musical intelligence), perasaan musikal (Musical Feeling), dan penampilan musikal (Musical performance).
Ada beberapa sudut pandang yang muncul dalam buku ini adalah berdasarkan pengalaman analisis media musikal-suara fisikal. Anggapan ini mengacu pada asumsi bahwa āmusical mindā (pemikiran musikal/musikalitas) harus memiliki beberapa hal berikut:
Merasakan Suara
Membayangkan suara melalui imajinasi kreatif dan reproduktif (memainkan menggunakan tangan, organ tubuh)
Menimbulkan rangsangan berupa emosional
Memiliki kemampuan berfikir yang mendukung membahasakan pengalaman musikal itu sendiri dan biasanya tidak merasa perlu untuk memberikan bentuk ekspresi mereka dalam penampilan bermusik dan menciptakan musik.
Dari aspek psikologi seni memiliki arti luas, yaitu menunjukkan setiap cara yang sesuai umtuk mengekspresikan diri, berupa tindakan atau sikap yang disampaikan secara lengkap dan jernih dari balik mental, ide, dan emosi. Seni membantu mengindentifikasi āsiapa kitaā dan apa potensi kita. Seni atau musik juga digunakan untuk mewujudkan perasaan-perasan dan memperoleh pengalaman tanpa perlu khawatir dengan aturan-aturannya. Manfaat lainnya adalah musik membantu pembentukan komunikasi verbal dan non-verbal dan menjadi creator untuk mewujudkan diri secara keseluruhan (self actualization) sebagai salah satu kebutuhan pokok hidup manusia dalam teori kebutuhan Maslow (Goble, 1987)
1.Kapasitas Alat Indera ( The Sensory capacities)
Saat manusia lahir, setiap manusia sudah memiliki bakat musik yang disadari ataupun tidak. Sebagai contoh, seorang anak yang sedang tumbuh dan berkembang mempelajari elemen musik dari bahasa verbal seorang ibu. Ini bahasa musik, bahasa ibu adalah bahasa musik pertama yang diserap seorang anak, walaupun artikulasi masih samat disini. Untuk beberapa kasus lain ada seorang anak yang dengan usia masih sangat muda mampu memainkan instrumen musik seperti orang dewasa, artinya kesadaran akan kemampuan ini yang juga didukung oleh proses latihan yang diberikan oleh keluarganya memberikan penegasan mengenai kapasitas anak tersebut.
Ada beberapa konfigurasi sebelum memasuki wilayah musikal lebih dalam, hal ini sangat terkait dengan karakteristik fisik. Wilayah-wilayah itu berupa atribut psikologi suara terbagi menjadi empat , yaitu: Pitch, dinamika, waktu, dan warna suara/ timbre. Secara spesifik, keempat hal tersebut bergantung pada: Frekuensi (banyaknya getaran), amplitudo (lebar getaran), durasi dan bentuk. Berdasarkan beberapa unsur tersebut, pesan yang ingin dijelaskan secara fundamental adalah pengertian/pemahaman menggunakan āsensory capacitiesā (kapasitas panca indera ) lewat beberapa disiplin ilmu baru terkait dengan pengembangan ilmu musik. Sekali lagi Seashore menjelaskan: āthe musician who knows his medium and thinks intelligenty about it has a vastly greater satisfaction than the one who does notā.
2.Bayangan Musikal, Imajinasi, dan Memori (Musical Imagery, Imagination, and Memory)
Sukses dalam musik, tergantung dari kapasitas untuk hidup di nunia ātonalā menggunakan imaginasi produktif dan reproduktif. Hal yang bersifat abstrak ini adalah salah satu modal utama yang penting, karena bagaimana kita dapat bermain musik tanpa imajinasi dan merekamnya dalam sebuah memori. Seorang musisi tidak hanya mendengarkan musik tetapi terkadang hidup secara realistis dalam dan memori yang ia lihat dan merasakan respon pada manusia, instrumen, atau situasi total dalam mennerjemahkan representatif. Ini adalah hal yang paling esensial dari musik, karena tanpa ketiga hal tersebut musik kehilangan satu nilai estetiknya. Ketiga hal ini adalah hal yang bermekanisme saat proses penciptaan musik atau seni itu sendiri.
3.Kecerdasan musical (Musical intelligence)
āMusical Intelligenceā atau kecerdasan musikal itu seperti filosofi, ilmu pasti atau āsains intelligenceā. Kecerdasan musikal menjadi dasar yang penting dalam merangsang intelegensi berfikir secara global. Djohan (2009:173) kembali mengatakan: āMusik dipercaya memiliki banyak keunggulan khususnya membantu anak untuk mengembangkan intelektual, emosi, motor, dan keterampilan sosialā.
Laporan the New York Times international 1996 mengindikasikan bahwa di Jepang, Korea, Taiwan, dan China, musik telah menjadi bagian yang signifikan dalam pendidikan anak. Anak-anak tersebut ternyata lebih banyak memiliki kemampuan āpitchāabsolut (yaitu kemampuan mengidentifikasi nada dengan tepat). Black (1997) dalam ā The Musical Mindā melaporkan penelitian neuromusikal-nya membuktikan bahwa semua bayi telah memiliki mekanisme saraf yang secara eksklusif terfokus pada musik. Demikian pula dengan pentingnya pelatihan musik sejak dini yang akan membantu pengorganisasian dan perkembangan otakanak paa tahap selanjutnya.
4.Perasaan Musikal (Musikal Feeling)
Musik adalah soal ārasaā karena esensi dari musik adalah bermain dengan āperasaanā. Seluruh parameter musik tersebut (tone, rhythm, dan lain-lain) di- manage sepenuhnya menggunakan ārasaā. Merrit (2003:21) mengatakan: āmusik menghubungkan antara pikiran dengan hatiā¦ā, hal ini saemakin memperkuat stigma di atas sebelumnya bahwa bukanlah musik jika tidak ada unsur perasaan di dalamnya. Ada dua aspek rasa dalam merasakan musik. Pertama adalah sifat alamiah pengalaman estetik, dan yang kedua adalah yang bisa kita sebut sebagai āperasaan menciptaā sebagaimana yang terjadi pada seorang komposer. Kedua aspek tersebuh akan memperkuat dan memberikan penegasan emosional mengenai ekspresi semakin nyata.
5.Penampilan Musikal (Musikal performance)
āMusical performanceā merupakan tolak ukur seorang āmusicianā, karena parameter keberhasilan dari pelatihan diri diuji disini. āMusical performanceā menjadi trademark diri karena ini merupakan hasil dari proses musikalisasi (belajar musik, bermain musik, all about music) yang panjang.
6. Maksud dari Analisis (The Meaning of This analysis)
Banyak keuntungan dari studi mengenai musical mind secara psikologis, membawa ke arah yang membangun yang menampakkan ciri-ciri ke dalam keterlibatan penerimaan prosedur ilmiah dalam interpretasi, evaluasi, dan pendidikan pemikiran musikal. Disamping itu, ini memberikan kita psikologi musik yang melengkapi penggambaran dan fakta-fakta teruji sebagai dasar dari klasifikasi.
PEMBAHASAN
Berdasarkan pembahasan dari poin-poin yang merupakan unsur penting musik di atas, maka pencitraan āawamā kita terhadap musik sedikit menebal. Dengan mengetahui kapasitas dan mekanisme otak dan pikiran kita melalui musik, korelasi antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor ter-peta-kan melalui enam sub-bab dalam pembahasan āmusical mindā ini. Secara umum, bab ini memberikan gambaran awal kapasitas musikal yang diikat menggunakan pengetahuan fisikal dan matematis.
Allah berfirman dalam surat Al-kahfi ayat 68, yang artinya: āDan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?ā. Pengetahuan itu secara integral diasosiasikan melalui korelasi antara Sensory capacities, Imagination and memory, Musical Intelligence, Musical Feeling, dan Performance.
Merrit (2003:4) mengatakan: ā Musik yang tidak bermakna ibarat makanan yang tidak sehat bagi tubuh. Banyak orang yang mendengarkan musik tanpa memilih, mereka tidak paham, atau sedikit memahami dampak musik terhadap diri merekaā. Melalui pemahaman yang baik mengenai intelegensi musikal, kapasitas motorik, dan pengolahan rasa bermusik yang dipaparkan dalam tulisan Seashore ini, diharapkan dapat membuka wawasan musik yang lebih luas.
KESIMPULAN
Musik adalah atau seni adalah perpaduan antara logika dan perasaan. Logika diolah menjadi kecerdasan kognitif, sedangkan perasaan bertugas mengolah kognisi tersebut menjadi produk yang humanis. Kemampuan manusia yang digunakan dalam merasakan gejala musical yang retjadi dalam dirinya adalah kemampuan dengan strata menengah, artinya musik disini tidak lagi hanya sebagai pengolahan bunyi, tetapi juga memberikan dampak psikologis yang berarti dalam pembentukan mental dan emosional manusia. Maka musik yang baik adalah musik yang benar-benar menempati dimensi psikolgis tertinggi sehingga berbagai ruang di dalamnya terisi untuk memenuhi kebutuhan musikal manusia, karena manusia sedikitpun hidup menggunakan bahasa musik.
IMPLIKASI
1. Pendidikan
Dalam setiap bidang selalu ada nilai edukasi yang bisa diditawarkan dan ditanamkan kepada masyarakat, termasuk wilayah seni (musik). Psikologi selalu memiliki keterkaitan dalam berbagai aspek ilmu termasuk musik. Melalui kemampuan ke-seniman-an seseorang bisa berangkat untuk mulai mengembangkan nilai-nilai apa saja yang terkandung di dalam musik itu sendiri, sehingga seniman paham benar wilayah-wilayah yang ingin ia kembangkan menjadi bahan pembelajaran. Kurangnya kemampuan seorang seniman dan kemauan untuk menulis, bisa dijadikan sebagai tambahan referensi, karena berbagai literatur musik masih sangat langka di Indonesia.
2. Penelitian
Berawal dari sebuah kajian singkat, sebuah topik yang memiliki signifikansi tinggi dapat berkembang menjadi sebuah penelitian ilmiah. Selanjutnya studi lanjutan mengenai persoalan psikologi pendidikan musik secara lebih dalam merupakan bahan baru untuk sebuah penelitian atau ilmu yang mutakhir. Ini juga bisa menjadi sebuah ide untuk topik penelitian (tesis). Musical mind juga merupakan pisau bedah dalam mengkaji isu-isu psikologi pendidikan musik.
Bibliografi
Al-quran
Black, S. 1997. The Musical Mind, the American School Board Journal.
Djohan. (2001). Psikologi Musik. Yogyakarta: Best Publisher
Goble, F.G. 1987. Mazhab ketiga: Psikologi humanistic Abraham Maslow. Yogyakata: Penerbit kanisius
Merritt, Stephanie. Pengantar M.S. Addie. (2003). Simfoni Otak. Bandung: Penerbit kaifa
Tersedia: http://psychology.wikia.com/wiki/Carl_E._Seashore (Terjemahan)