Beberapa diantara kita mungkin mengenal istilah ābasslineā. Istilah ini kerap dikaitkan dengan gaya permainan bas yang terdapat di beberapa genre musik tertentu, seperti jazz, blues, funk, dan musik-musik elektronik. Dalam pengertian musik klasik, istilah ābasslineā dipahami sebagai permainan instrumen musik yang bernada/pitch rendah (low). Alat musik bas dapat memiliki beberapa fungsi. Pertama, sebagai ārhythm sectionā, artinya dia bersifat mengiringi kelompok instrumen musik lain seperti gitar, piano, dan saxophone. Dalam memainkan perannya sebagai ārhythm sectionā bas tidak terlalu dominan (tetapi bisa juga jika memang dibutuhkan). Bas yang bisa dimainkan sebagai sebuah ārhythm sectionā berupa electric bass dan kontra bas (double bass). Untuk kontra bas fungsi selanjutnya dapat berupa āstring sectionā. āBasslineā tidak selalu harus dimainkan oleh alat musik bas, tetapi dapat apapun sejauh register-nya (wilayah suara) masuk dalam kelompok ālow pitchā. Dalam musik klasik ābasslineā umumnya juga dimainkan oleh isntrumen bassoon, klarinet bas, trombon bas, tuba dan berbagai ālow pitchā instrumen lainnya. Dalam sebuah band ābasslineā dimainkan oleh pemain bas electric, karena memang permbagian instrumen di dalamnya tidak sebanyak orkestra. Jadi alat musik yang mungkin memainkan nada-nada ālowā hanya bas atau piano/keyboard yang memiliki 5-8 oktaf.

Salah satu pola permainan walking bass
Sebelum dikenal sebagai sebuah gaya permainan musik jazz, istilah āwalking bassā sebetulnya sudah banyak ditemui pada karya-karya musik di era Barok (1600-1750). Pola (pattern) walking bass sangat beragam mulai dari penggunaan not ¼ sampai 1/16 setiap bar atau beat-nya. Selain itu, penggunaan tangga nada, kromatik, dan arpeggio untuk menunjang progresi chord setiap bar atau beat-nya. Dalam jazz, pola permainan walking bass saat ini jauh berkembang dan pengembangan variasi yang semakin kompleks.