May 25, 2026
Punden Berundak

Punden Berundak

Oleh: Riyan Hidayatullah
FKIP Universitas Lampung

Hari ini kami mendampingi mahasiswa berkunjung ke salah satu situs purbakala yang berada di Kabupaten Lampung Timur, Pugung Raharjo. Situs ini sering disebut Taman Purbakala Pugung Raharjo merupakan situs arkeologi yang terletak di Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Tenggara, Provinsi Lampung, Indonesia. Kepurbakalaan Pugung Raharjo pertama kali ditemukan pada tahun 1957, ketika sejumlah penduduk membuka butan dan menjumpai sebuah patung BUDHISATWA. Sebelumnya, penduduk sekitar mempercayai bahwa hutan Pugung sangatlah angker.
Di lingkungan situs ini terdapat peninggalan dari masa kebudayaan megalitikum seperti arca, punden berundak, batu mayat (batu kandang), altar batu, menhir, batu berlubang, dan dolmen Peninggalan dari periode klasik berupa batu prasasti dan keramik asal dinasti Han, Sung, dan Ming. Sebelum masuk ke dalam situs, kita pertama kali akan dihadapkan pada satu ruang informasi yang berisikan prasasti, artefak, menhir dan beberapa barang peninggalan sejarah lain. Rumah informasi ini merupakan sumber infromasi yang memberikan berbagai informasi terkait situs, beberapa peneltian terkait situs, dan hal-hal lain yang dirasa penting. Berikut ini adalah gambar rumah informasi tersebut.

20161124_121812

Berikut ini merupakan beberapa artefak yang terdapat di dalam Rumah Informasi Situs Pugung Raharjo.

Menhir tinggi 85 cm diameter 24
Menhir
tinggi 85 cm
diameter 24

20161124_111346
Staba/Tugu Kecil

 

 

 

 

1. Batu pipisan 2. Batu pengerik 3. Batu berlubang
1. Batu pipisan
2. Batu pengerik
3. Batu berlubang
Batu Pra Punden
Batu Pra Punden

Diketemukan di situs Batu Bata Kemiling, desa Pugung Raharjo kecamatan kekampung udik Kec. Lampung Timur tahun 1980. Bertuliskan: Angka tahun Jawa kuno1247 – Caka- 1325 M – Berbahan tufa berbentuk balok

Batu Berlubang Ditemukan tahun 1983 dipergunakan sebagi alat pelumat
Batu Berlubang
Ditemukan tahun 1983 dipergunakan sebagi alat pelumat

Temuan batu berlubang di sekitar sungai dan mata air situs Pugung Raharjo, di sebelah barat sebuah mata air ditemukan 4 batu berlubang dan sebuah batu bergores. Pada tepi sungai kecil ditemukan sebuah batu berlubang dan lumpang batu. Pada bagian timur di sebelah mata air ditemukan 10 buah batu berlubang dan sebuah lumpang batu. Temuan batu berlubang yang lain terdapat di dekat punden berundak di sebelah barat. Jumlah batu berlubang dan lumpang batu yang ditemukan di situs sebanyak 19 buah, lumpang batu 2 buah dan batu bergores sebanyak 4 buah.

Penemuan batu berlubang di sini dalah untuk membedakan antara jenis lumpang batu dan batu dakon. Lumpang batu biasanya memiliki garis tengah luar dan dalam yang lebih besar. Pada tepinya terdapat tonjolan pinggiran (pelipit) yang berfungsi untuk menahan biji-bijian yang ditumbuk, terkadang juga memiliki permukaan yang lebih cekung. Sedangkang batu berlubang, terdiri hanya dari satu lubang besar saja.

Fungsi dari batu berlubang atau batu lumpang adalah untuk memenuhi kebutuhan praktis yaitu melumati sesuatu yang perlu dihaluskan, di samping itu ada hubungan dengan upacara-upacara kematian. Hal ini dapat dibuktikan dengan temuan batu dakon/batu berlubang di tempat penguburan Ciampea (Bogor) dan Matisih (karanganyar-Solo), (Teguh Asmar, 1975). Fungsi batu bergores untuk mengasah senjata menambah kekuatan magis. (Sumber: Rumah Informasi TPR)

Menhir Tinggi 90 cm diameter 21 cm
Menhir
Tinggi 90 cm
diameter 21 cm
Patung Type Polinesa
Patung Type Polinesa

Ditemukan oleh: Abdul Rohman, di Gunung Langkap tahun 1963, bercirikan tradisi megalitik. Menurut kepercayaan yang berkembang di masyarakat sekitar, jika kita dapat menghitung jumlah kalung yang ada patung tersebut sebanyak tiga kali dengan jumlah sama maka akan dipermudah dalam mendapatkan jodoh

Arca Bodhisatwa ("Putri Badariah")
Arca Bodhisatwa (“Putri Badariah”)

Diketemukan tangal 14 agustus 1957, oleh Alm. Bpk. Kadiran,tinggi keseluruhan: 90 cm, tinggi arca: 70 cm, tinggi asana: 17 cm, Padmasana: 62 cm, lebar dada: 33 cm, lebar perut: 20 cm, panjang muka: 15 cm, panjang lengan atas 29 cm, pj lengan bawah: 20 cm. Arca ini diperkirakan berada pada masa Hindu-Budha ( Klasik ), temuan di Punden Berudak no. 7 di situs Pugung Raharjo. Arca dalam sikap duduk vajrasana, diduga Dharmacakra Mudra

Prasasti Bungkuk Diketemukan 8 maret 1985 di desa Bungkuk, Kec. Marga Sekampung, Kab. Lampung Timur Diperkirakan berasal dari abad ke 7 Masehi
Prasasti Bungkuk,
Diketemukan 8 maret 1985 di desa Bungkuk, Kec. Marga Sekampung, Kab. Lampung Timur. Diperkirakan berasal dari abad ke 7 Masehi

Prasasti Bungkuk

Huruf: Pallawa, Berbahasa: Melayu Kuno, Isinya: terdiri dari 13 baris, berisi mengenai sumpah dan kutukan bagi mereka yang tidak tunduk dan berbuat jahat kepada Sriwijaya, tinggi: 63 cm, atas: 70 cm, bawah: 70 cm, berbahan: Andesit

Kapak dan sendok batu asal: : Lampung Tengah Kec. Batang hari, periode: prasejarah, Pemilik: Sudarman, status: Titipan
Kapak dan sendok batu
asal: : Lampung Tengah Kec. Batang hari, periode: prasejarah, Pemilik: Sudarman, status: Titipan
Keramik Lokal, manik-manik,
Keramik Lokal, manik-manik,
Batu Bergores
Batu Bergores
Masa Prasejarah Diketemukan tahun 1983 digunakan sebagai alat pengasah
Masa Prasejarah
Diketemukan tahun 1983
digunakan sebagai alat pengasah
Batu Bergores, diketemukan tahun 1980
Batu Bergores,
diketemukan tahun 1980
Prasasti Dalung (Tembaga)
Prasasti Dalung (Tembaga)

Prasasti Dalung (Tembaga)

 

 

Diketemukan oleh sulta Banten, Huruf: Arab pegon, Bahasa: Jawa Banten. Mengatur tentang pelayaran dan perniagaan di daerah Lampung. Terdiri dari 32 baris yang terdapat 12 poin yang bisa disebut pasal. Tiap pasal ditulis pada baris baru, dan diakhiri dengan lingkaran kecil, dengan titik ditengahnya. Pada pasal penutup berbunyi:” Dhawuh undang-undang dalem iki ing akhiring wulan Jumadil awal tahun Be’ Sewu Satus Rang Tahun lumaku saking hijrah Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam”,yang artinya” Ditetapkan: akhir bulan Jumadil awal tahun Be’ 1102 Hijriyah – akhir februari

 

Keramik Lokal, manik-manik,

Contoh kehadiran keramik asing di situs Pugung Raharjo adalah hasil pekerjaan Arkeologis. Keramik yang ditemukan di situs Pugung Raharjo sangatlah banyak dan jumlahnya mencapai ribuan. Hal ini mungkin berkaitan dengan nenek moyang kita sudah melakukan perdagangan yang sangat luas dan berkaitan dengan kerajaan Sriwijaya atau melakukan pelayaran yang lebih jauh lagi sampai ke negeri Cina. Hal ini dibuktikan dengan sangat banyaknya keramik dan tersebar diseluruh situs, dapat diketahui kronolginya dimulai dari abad 8 atau ke 9, hingga abad ke 17 M ditandai dengan ditemukannya keramik “Tang”, keramik yang paling muda adalah keramik “Ching”. Jumlah Keramik terbanyak adalah keramik “Sung” dan “Ming” dari abad ke 10 sampai abad ke 17 M. Hal ini menunjukkan kembali bahwa keadaan perdagangan nenek moyang kita di abad 10 sampai 17 M di kawasan Way Sekampung sangatlah ramai. Namun, beberapa dari keramik tersebut saat ini hanya beberapa saja jumlahnya dan tidak dalam keadaan utuh, seperti Guci, buli-buli, cepuk dan mangkuk. Suatu ketika ada beberapa peneliti dari Jepang yang datang untuk melakukan penelitian di situs Pugung Raharjo, para peneliti tersebut ingin mengetahui sejarah perkembangan Hindu-Budha sebelum masuk ke jepang yang ternyata Melalui India dan kemudian Indonesia sebelum sampai ke negeri matahari terbit tersebut.

20161124_113525

Keramik

Kecamatan Sekampung Udik - Lampung Timur
Kecamatan Sekampung Udik – Lampung Timur

SUMBER DAYA ARKEOLOGI PUGUNG RAHARJO

Situs Pugung Raharjo terdiri atas area yang bisa disebut kompleks seluas sekitar 25Ha. Ada beberapa kronologi yang membangun situs ini yakni, zaman prasejarah, zaman klasik dan zaman Islam. Kelengkapan artefak yang pernah ditemukan sejauh ini meliputi: Keramik dari berbagai dinasti seperti, Tang, Song, Yuan dan Ching. Selanjtnya ada manik-manik, benda-benda perunggu, dolmen, menhir, batu bergores, batu pipisan, batu berlubang, kapak batu, patung klasik. Beberapa fitur yang terdapat dalam komplek situs yakni: Benteng parit, Punden dan kolam megalitik.

PEMUGARAN (1984)

Situs Pugung Raharjo pernah mengalami pemugaran untuk mempercantik situs dan mempermudah akses masyarakat yang ingin berkunjung. Beberapa program pemugaran tersebut diantara.
1. Penataan kembali enam buah punden
2. Penataan kembali komplek batu mayat
3. Pembuatan jalan setapak di dalam dan luar benteng tanah
4. Pembuatan beberapa pos untuk beristirahat
5. Pembuatan tempat parkir (paving block)
6. Penataan lingkungan dan pemberian petunjuk jalan
7. pembuatan rumah Informasi
8. Pembebasan tanah seluas kira-kira 2.5 Ha

PENELITIAN YANG PERNAH DILAKUKAN

1. Tahun 1968 oleh Tim yang dipimpin Drs. Buchori
2. Tahun 1973 LPPN bekerjasama dengan Pennylvania Museum University melakukan pencatatan dan pendokumentasian
3. Tahun 1975 Drs. Soekatno TW dkk melakukan penelitian dengan melakukan pemetaan dan survey permukaan
4. Tahun 1977 Drs. Haris Sukendar melakukan penelitian dan berhasil mengidentifikasi sejumlah batu berlubang dan
batu bergores dengan luas sebaran diperkirakan sektar 2.5 Ha
5.Tahun 1980 Drs. Haris Sukendar Melakukan penggalian arkeologi

SITUS

Pintu Gerbang Situs

jalan setapak
jalan setapak
Tradisi Megalitikum Fungsi: tempat Upacara Pemujaan Diketemukan Tahun 1957, dipugar tahun 1978, Ukuran Menhir: Tinggi: 205 cm,
Tradisi Megalitikum
Fungsi: tempat Upacara Pemujaan
Diketemukan Tahun 1957, dipugar tahun 1978, Ukuran Menhir: Tinggi: 205 cm,
Batu Mayat/Batu Kandang
Batu Mayat/Batu Kandang

Merupakan kumpulan batu megalitik yang konon memiliki fungsi sebagai tempat sakral untuk pemujaan arwah nenek moyang. Ditemukan di situs purbakala Pugung Raharjo Lampung Timur
20161124_125701

20161124_125453

Punden Berundak

Punden Berundak
Punden Berundak

Merupakan gundukan tanah yang “berundak”; menyerupai bentuk candi Borobudur dan berfungsi sebagai kuburan pada zaman klasik/Hindu. Ditemukan di kawasan situs purbakala Pugung Raharjo Lampung Timur

Punden Berundak
Punden Berundak
Punden Berundak
Punden Berundak
Punden Berundak
Punden Berundak
Kolam Megalitik (Kolam Bertuah) Diketemukan sekitar tahun 1957, dipugar tahun 1980 Isi Kolam: 1) Batu berlubang; 2) Batu Bergores
Kolam Megalitik (Kolam Bertuah)
Diketemukan sekitar tahun 1957, dipugar tahun 1980
Isi Kolam: 1) Batu berlubang; 2) Batu Bergores
Kolam Megalitik (Kolam Bertuah)
Kolam Megalitik (Kolam Bertuah)
Kolam Megalitik (Kolam Bertuah)
Kolam Megalitik (Kolam Bertuah)

Kolam Megalitik Merupakan kolam yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan praktis, cuci, mandi, serta meramu. Kolam ini dipercaya dapat memberikan banyak manfaat, salah satunya barang siapa yang mencuci muka atau mandi maka akan dilancarkan jodohnya. Para peneliti dari beberapa isntitusi salah satunya Universitas Lampung pernah melakukan penelitian terhadap air kolam yang mendekati PH 7, sehingga air ini bisa dikatakan layak untuk dikonsumsi atau langsung diminum. Saat ini kolam digunakan untuk kebutuhan mandi dan para pemeluk agama Hindu yang memanfaatkan mata air untuk sarana ibadah. Di dalam kolam terdapat ikan-ikan kecil, para pendudk biasa menyebutnya “cenang”. Ikan ini berukurang sangat kecil dan akan hinggap di kulit apabila kita memasukkan salah satu anggota tubuh ke dalam air. Air dalam kolam ini tidak pernah kering bahkan pada musik kemarau sekalipun.

Kolam Megalitik (Kolam Bertuah)
Kolam Megalitik (Kolam Bertuah)
Kolam Megalitik (Kolam Bertuah)
Kolam Megalitik (Kolam Bertuah)

Sumber: Rumah Informasi TPR
Dokumentasi: Riyan Hidayatullah

Kamis, 24 November 2016