Foto: Imam Rozali memainkan Gitar listrik dengan gaya petikan khas "petting gitar" Sumber: dokumentasi pribadi
Oleh: Riyan Hidayatullah

Sumber: dokumentasi pribadi
Kata kunci: Gitar klasik, petting gitar, gitar tunggal Lampung
Beberapa waktu lalu, tepatnya sekitar tanggal 12 Januari 2018, bertepatan dengan acara “Care of Lampung” ( klik disini atau disini) yang diselenggarakan oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Tari FKIP Unila saya bertemu dengan Imam Rozali, seorang pemain “peting gitar” dari Lampung Selatan. Saya tertarik membuka diskusi melalui pengalaman beliau mengikuti “RRREC Fest in The Valley” tanggal 22, 23, 24 Sepetember 2017 di Tanakita Camping Ground, Situ Gunung, Sukabumi, Jawa Barat.
RRREC Fest in The Valley adalah festival musik alternatif tahunan yang menawarkan konsep liburan akhir pekan berisi rangkaian program dan kegiatan menarik di tengah alam pegunungan selama 3 hari/2 malam.RRREC Fest in The Valley bertujuan untuk menyediakan platform guna mendukung terciptanya titik pertemuan dan ruang untuk saling berbagi wawasan di antara gabungan peminat festival musik, seniman, musisi, aktivis, warga setempat, penyelenggara festival, serta publik dari lintas disiplin dan lintas generasi pada umumnya. Melalui proses berkumpul, berkemah, berbagi, dan bertualang bersama sepanjang akhir pekan – didukung oleh atmosfer “nongkrong” yang intim, lepas, dan nyaman – kami percaya bahwa cikal bakal dari ide-ide yang segar, signifikan, dan cerdas akan terbentuk lalu berkembang secara natural. Seiring dengan pergelaran aneka ragam aliran musik alternatif dari dalam maupun luar negeri, festival ini juga berisi rangkaian program dan aktivitas menyenangkan lainnya; mulai dari pemutaran film ala Layar Tancap, presentasi karya seniman residensi, pertunjukan multimedia, berbagai workshop dan sesi diskusi, sampai ke program untuk anak-anak. Semuanya disusun dengan jeli oleh tim kurator festival: Pasangan Baru (Dimas Ario dan Nastasha Abigail) dan The Secret Agents (Indra Ameng dan Keke Tumbuan). RRREC Fest in The Valley juga memberi perhatian khusus untuk menjalin hubungan signifikan dengan lingkungan dan penduduk setempat di sekitar lokasi festival. Untuk itu, beberapa program telah dirancang dengan fokus menjalin hubungan tersebut. (http://valley2017.rrrecfest.com/rrrec-fest-in-the-valley-2017/).
Banyak sekali program-program yang ada di dalam acara tersebut, diantaranya: pameran lukisan, pertunjukan musik, pertunjukan teater, film screening dan masih banyak lagi.Salah satu perogram musik diisi oleh banyak penampilan, diantaranya: FILASTINE & NOVA (Barcelona), Time Travel Astro Sounds FRAU (Yogyakarta), Darkly Dreamy Lullabies Goodnight Electric (Jakarta), Synth Pop Bastardos, dan Imam Rozali (Lampung).
Saya sangat senang menemukan video permainan Imam Rizali dengan judul “kembang kupi”dengan kualitas baik yang diunggah oleh “Orang Lampung Chanel” di youtube (laman: https://www.youtube.com/watch?v=g48_mLmHSGA). Ini menunjukkan bahwa apresiasi masyarakat dari luar Lampung sangat tinggi.
Imam Rozali pernah bermain “petting gitar” di hadapan presiden Indonesia Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono, dan Jokowi. Pengalamannya sebagai seorang seniman lokal terbilang cukup banyak. Imam Rozali mempelajari “petting gitar” melalui Ayah dan Kakeknya secara turu-temurun, melalui praktik dan menuliskannya dalam notasi khusus.
Foto: Palmer Keen dan Imam Rozali (Sumber: Imam Rozali)
Penelitian Relevan
Untuk informasi, “petting gitar atau petting tunggal” ini pernah diteliti oleh teman saya sendiri, Prisma Tejapermana, tahun 2014 dengan judul: Model Pembelajaran Petting Tunggal Untuk Meningkatkan Apresiasi Musik Peserta Didik Kelas XI di SMAN 1 Sidomulyo Lampung Selatan.
Saya juga menemukan referensi dari laman: http://www.auralarchipelago.com/auralarchipelago/gitarklasik
Laman tersebut yangpertama kali merekam permainan “petting gitar” atau “gitar tunggal” Imam Rozali dengan kualitas yang baik. Orang yang merekam ini adalah Palmer Keen, seorang etnomusikologi asal Amerika Serikat yang menghabiskan waktu untuk meneliti dan berkeliling dunia. Palmer mengembara di kepulauan Indonesia yang luas untuk menemukan, mendokumentasikan, mengekspos dan mempromosikan musik tradisional yang tidak banyak dikenal di seluruh negeri. Dalam beberapa tahun, Palmer telah melakukan perjalanan dari pulau-pulau besar seperti Sumatra, Jawa, dan Kalimantan sampai titik-titik kecil di laut seperti Rote dan Selayar untuk mencari beragam dan musik indah yang membuatnya mempesona. Dengan proyek ini, harapannya adalah untuk memungkinkan pendengar yang belum pernah ada sebelumnya (lokal dan asing) mengakses musik yang seringkali sulit atau tidak mungkin untuk didengar. Palmer bisa dihubungi di auralarchipelago@gmail.com
“Cerita asal kita untuk musik gitar bergaya Lampung berasal dari Imam Rozali, yang juga mengikuti judul warna Batin Pahit Lidah (“Batin” adalah judul resmi, sedangkan “Pahit Lidah” berarti “Bitter Lidah”. Berasal dari desa Babatan dekat pantai selatan Lampung, Imam dengan mudah menelusuri akar gitar klasik ke sudut dunia. Sebelum ada gitar di Lampung, Imam mengatakannya, ada kiyas atau kias (baca: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/2016/10/05/hassan-mataraja-penutur-tradisi-lisan-kias-dari-lampung-peminggir-kalianda/), sejenis pidato ritual dan ratapan.Jika seorang teman dekat seorang pria meninggal dunia , dia akan mengungkapkan kesedihannya melalui kiyas, semacam lagu ratapan. Penggunaan kiyas ini sekarang langka, Imam menjelaskan, karena banyak Muslim sekarang mengerutkan dahi pada ratents musik. Akar dalam kesedihan ini, meski masih bisa dirasakan dengan gaya Lampung. gitar klasik yang kerap menjadi karakter yang menyedihkan.
Imam menjelaskan bahwa gitar pertama kali berhasil menembus Sumatera dari pelabuhan selatan Lampung, yang disebarkan oleh penjajah kolonial berabad-abad yang lalu: Belanda, Portugis, dan Inggris. Itu juga di sudut selatan ini, Imam percaya, bahwa gaya gitar klasik pertama berkembang, kemudian menyebar di sepanjang rute yang sama ke daerah lain di mana musik gitar Sumatra sekarang ditemukan. Dia bahkan memasang tanggal lahir gitar klasik: pada tahun 1928, Imam menjelaskan, bahwa paman besarnya kembali dari pertempuran dengan Belanda. Dia telah berada di hutan selama berbulan-bulan terlibat dalam perang gerilya yang sengit, dan ketika dia kembali, dia mengambil sebuah gitar dan menceritakan tentang perjuangannya melalui kiyas. Cerita-cerita itu gelap, tapi dengan iringan gitar mereka lebih mudah dicerna.”
Sumber: http://www.auralarchipelago.com/auralarchipelago/gitarklasik
Riset mengenai kiyas ini pernah diteliti oleh seorang Doktor UI, Syahrial, dengan disertasi berjudul “Tradisi Lisan Kias dalam Masyarakat Lampung Peminggir Kalianda: Bentuk, Fungsi, dan Konteks”.

Sumber: Sumber: http://www.auralarchipelago.com/auralarchipelago/gitarklasik
Notasi
Selain kiprahnya di dunia musik, hal lain yang mencuri perhatian saya adalah bentuk notasi yang Ia tunjukkan.

Sumber:Imam Rozali



Kesimpulan dan Saran
- Fakta yang perlu disampaikan namun sebenarnya miris adalah, seniman dan musisi alam seeprti Imam Rozali kurang dihargai dan diangkat oleh daerahnya sendiri. Perlu ada upaya dan komitmen penuh agar seniman-seniman Lampung mendunia dan mampu mengangkat perekoniman masyarakat sekitarnya. Sektor budaya dan pariwisata perlu bekerja sama dengan seniman, bukan hanya untuk “proyek” yang bersifat sementara, tetapi mengedepankan keberlangsungannya di masa depan untuk seniman dan untuk Lampung.
- Melalui riset/ penelitian, kita dapat mengangkat, mempromosikan kebudayaan Lampung, salah satunya “petting gitar”, agar dapatdiketahui secara lebih luas. Untuk itu, para peneliti dan akademisi Lampung perlu bekerja sama dan menyusun pemetaan budaya untuk memperkenalkan kesenian ini dan kesenian lainnya.
- Dari acara RRREC Fest, kita mampu belajar bagaimana seni dan budaya Indonesia sangat memiliki nilai jual yang cukup tinggi di mata dunia. Hal ini ditandai dengan semakin gencarnya acara-acara seni yang terus mengusung tema etnis dari seluruh dunia. FYI: htm RRREC Fest: Rp. 1.200.000,00 – Rp. 1.800.000,00.
- Perlu dilakukan studi lebih lanjut untuk merumuskan penotasian “petting gitar” agar mudah diajarkan di sekolah dan lingkungan sanggar di masyarakat.
- Selain melakukan riset dan kerjasama, usaha-usaha preventif seperti mendokumentasikan perlu dilakukan. Dokumentasi meliputi: notasi, audio (sudah dilakukan) dan video. Tujuannya agar masyarakat dan generasi setelah ini mampu melihat dan memahami permainan “petting gitar” Lampung selatan secara utuh.
Kata kunci: Gitar klasik, petting gitar, gitar tunggal Lampung
Referensi:
http://www.auralarchipelago.com/auralarchipelago/gitarklasik
https://fib.ui.ac.id/2016/07/20/promosi-doktor-ilmu-susastra-syahrial/
Lampiran

Sumber: dokumentasi pribadi