April 30, 2026
026661700_1447767015-dirigen

PERKEMBANGAN MUSIKAL PADA ANAK USIA SEKOLAH
Riyan Hidayatullah
Prodi Seni Pertunjukan
FKIP Universitas Lampung, Jl. Prof. Soemantri Brojonegoro No.1
Telp: 081389777661, email: riyanhidayat28@gmail.com

( Musical Development in the Schoolchild )

Abstract

Music has emotional closeness to the people especially on development ages and period of transition. A children in schoolchilds has more space in their musical development. Sense of music in the children has differences and influenced by several factors, among: pratices, environments and culture. Absolut pitch or perfect pitch is an ability to recognize and to identified name of the notes or without an existing references not that given before. The ability was a ā€œgiftā€ that has been taken since they borns and very helped in playing a musical instruments. A musician who has an absolut pitch is more has a precision in catching a notes. Genetics factor and musical history in a family become one of the largest influenced that create an musical ability of the children.
Keywords: Absolut Pitch, Musical, Schoolchilds

Abstrak

Musik memiliki kedekatan emosional terhadap manusia terutama pada usia perkembangan dan masa transisinya. Seorang anak pada usia sekolah lebih memiliki ruang yang luas dalam perkembangan musiknya. Musikalitas pada anak berbeda-beda dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya: latihan, lingkungan dan budaya. Absolute pitch atau perfect pitch adalah kemampuan untuk mengenali dan mengidentifikasi nama nada atau not tanpa adanya referensi not yang diberikan sebelumnya. Kemampuan ini merupakan ā€œpemberianā€ yang sudah dimiliki sejak lahir dan sangat membatu dalam memainkan sebuah instrumen musik. Seorang musisi yang memiliki absolut pitch lebih memiliki ketepatan dalam menjangkau suatu nada. Faktor genetik atau riwayat musik dalam keluarga menjadi salah satu pengaruh terbesar yang membentuk kemampuan musikal seorang anak.

Kata Kunci: Absolut Pitch, Musikal, Anak Usia Sekolah

PENDAHULUAN

Sangat menarik untuk mengamati dan mengikuti setiap tahapan perkembangan hidup dalam anak. Dalam setiap tahapan tersebut akan ditemukan aspek-aspek apa saja yang berkembang pada anak dan faktor-faktor apa saja yang membuat atau mempengaruhi aspek tersebut. Pada kesempatan ini akan dibahas tentang perkembangan aspek-aspek musik pada anak usia sekolah dasar. Selama masa sekolah dasar ini ada beberapa aspek yang berkembang dalam musikalitas seorang anak. Aspek-aspek tersebut adalah:

1.Perkembangan kemampuan melodis
Di usia sekolah dasar mulai ada perkembangan kemampuan melodis (membaca melodi) seperti mengenali perbedaan pitch, kemampuan absolute pitch dan kemahiran tonalitas (menebak nada dasar).

2.Perkembangan kemampuan harmonis
Dalam kemampuan harmonis, anak mulai mengenal adanya melodi lagu diantara fuga (komposisi musik) dua, tiga atau empat suara dan juga mulai menunjukkan kesenangan atau ketidaksenangan terhadap suatu interval (jarak nada).

3.Representasi anak terhadap musik
Anak usia sekolah dasar mencoba untuk merepresentasikan musik yang berupa pola ritmis sederhana dengan simbol-simbol yang dia ketahui, bukan dengan simbol-simbol yang biasa digunakan dalam menulis notasi musik.

4.Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan musikalitas
Bagi seorang pendidik atau tenaga pengajar di bidang musik perlu untuk mengetahui apa yang mempengaruhi musikalitas anak usia sekolah dasar. Apakah usia seorang anak dalam belajar musik, lamanya pendidikan musik yang diperoleh atau lingkungan sekitar adalah benar merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan musikalitas seorang anak.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Data yang di dapat dari hasil pengumpulan data dilaporkan untuk selanjutnya diolah menggunakan teknik pengolahan data yang koheren. Pendekatan kualitatif digunakan untuk memetakan data awal penelitian ini bersifat alamiah (naturalistik). Data yang didapat dari hasil pengumpulan data dibeberapa sekolah tingkat satuan pendidikan Sekolah dasar (SD) dilaporkan untuk selanjutnya diolah menggunakan teknik pengolahan data yang komprehensif. Pengumpulan data selalu dapat diperbarui selama proses pengolahan data jika ditemukan temuan-temuan baru terkait penelitian ini.
Kajian pustaka dan analisis dokumen dilakukan sebagai salah satu bagian dari metode pengumpulan data untuk selanjutnya diolah melalui beberapa proses yakni: identifikasi masalah, menentukan pendekatan, mengumpulkan data (tahap kerja lapangan), analisis data, perbaikan, dan penulisan laporan hasil penelitian.

PERKEMBANGAN MUSIKAL SEORANG ANAK

Gardner (1973) mengatakan bahwa anak usia 7 tahun yang kompeten dalam musik sebaiknya memahami pengukuran dasar dari sistem musikal dan tangga nada, harmoni, kadens (sebuah kalimat akhiran musik) yang sesuai serta dapat menggabungkan beberapa motif yang diberikan padanya menjadi suatu unit musikal yang cocok dengan kebudayaannya tetapi bukan merupakan suatu karya yang lengkap. Yang masih kurang adalah keluwesan dalam kemampuan motorik yang berfungsi untuk menunjang akurasi performa, pengalaman dalam membaca kode dan perasaan dalam lagu.
Konsep pertama tentang persepsi dan performa musik dapat diidentifikasi secara jelas pada masa pra sekolah dan diperhalus lagi pada usia sekolah. Pengalaman dari bersekolah itu sendiri menggunakan pengaruh nyata dari lagu-lagu yang umum dan bentuk musikal dari kebudayaan untuk perkembangan musikal mereka. Tahap ini dimulai pada usia antara 5 – 7 tahun bagi sebagian besar anak di Eropa.
Membedakan pemahaman antara akulturasi musikal dan pelatihan musikal sangat penting. Sloboda (1985) mengatakan pada intinya akulturasi merujuk pada perkembangan musikal yang terjadi secara spontan tanpa ada arahan atau kemauan dari diri sendiri sedangkan pelatihan merujuk pada kesadaran diri dan kemauan yang terarah untuk memperbaiki atau meningkatkan kemampuan musikal tertentu.
Wacana pada bab empat buku ini memfokuskan pada akulturasi musikal yang terjadi selama masa-masa sekolah khususnya dalam perkembangan kemampuan harmoni dan melodi serta representasi anak dalam media yang lain seperti menggambar. Bagian terakhir dalam bab ini akan membahas pengaruh lingkungan terhadap perkembangan musikal anak.

a. Perkembangan kemampuan melodi

1. Perbedaan Pitch
Seluruh peneliti setuju bahwa kemampuan mengidentifikasi pitch akan berkembang seiring dengan pertambahan usia. Namun yang menjadi pertentangan adalah pada usia berapa anak mampu mengenali perbedaan pitch tersebut. Bentley (1966) mengatakan bahwa anak usia 7 tahun dapat membedakan perbedaan pitch dari 440 Hz turun menjadi 428 Hz dan kemampuan ini meningkat pada usia 12 tahun dimana anak dapat mengenali perbedaan 8 nada.
Sergeant dan Boyle meneliti bahwa anak akan mampu mengenali perbedaan pitch jika suatu nada dipertentangkan dengan nada yang lain. Contohnya adalah memainkan dua not dimana not pertama dimainkan dengan pitch lebih tinggi dari not kedua atau not pertama dan not kedua memiliki pitch yang sama. Hasil pada anak usia 11 – 12 tahun adalah 50 % menjawab dengan benar.
Hair (1977) meneliti perkembangan kemampuan perbedaan pitch pada anak usia 6 tahun. Dia memberikan tiga pertanyaan kepada tiap anak, yang pertama adalah pergerakan dua not yang dimainkan sama atau tidak, yang kedua adalah memainkan bel sesuai dengan pergerakan dua not pada pertanyaan pertama dan pertanyaan ketiga adalah menjelaskan pergerakan not pada pertanyaan satu dan dua dengan kata-kata. Hasilnya adalah jawaban anak pada pertanyaan kedua lebih baik daripada dua pertanyaan yang lain. Nampaknya anak mengalami kesulitan untuk menjelaskan konsep naik dan turun pada pergerakan dua not itu.

2. Absolute Pitch (Titi nada mutlak)
Absolute pitch atau perfect pitch adalah kemampuan untuk mengenali dan mengidentifikasi nama nada atau not tanpa adanya referensi not yang diberikan sebelumnya. Wards dan Burns (1982) memberikan gambaran tentang absolute pitch seperti ini :
ā€œ…bila kita memainkan nada-nada dengan frekuensi ini 260, 260, 290, 330, 260, 330 dan 290 Hz lalu bertanya pada orang yang buta nada maka mereka akan asal menjawab bahwa itu adalah rangkaian nada yang membentuk lagu. Beberapa orang Amerika yang non musisi akan mungkin akan menjawab bahwa itu adalah lagu Yankee Doodle dan beberapa di antara mereka yang masih ingat pelajaran di sekolah akan menyanyikannya dengan do, do , re, mi, do, mi, re (identifikasi solfegio). Beberapa musisi juga akan menjawab seperti not di atas dengan menambahkan keterangan interval seperti dua mayor naik, dua mayor naik, tiga mayor turun, tiga mayor naik dan dua mayor turun (identifikasi interval). Namun hanya orang-orang dengan kemampuan absolute pitch yang dapat menjawab C tengah, C, D, E, C, E, Dā€.

Kemampuan absolute pitch merupakan anugerah bagi sebagian musisi. Ini berguna untuk menyanyikan suatu lagu tanpa iringan, memainkan instrument dengan pitch yang tepat, mendengar suatu partitur musik tanpa harus memainkannya dan lain-lain. Kemampuan ini lebih banyak didapati di antara musisi daripada orang awam meski tidak berhubungan dengan tingginya tingkatan talenta musik.
Sebagian besar musisi dan orang yang berpengalaman dalam musik memiliki kemampuan relative pitch. Mereka telah membentuk suatu tangga nada yang konsisten yang menghadirkan hubungan di antara 12 semitone (setengah nada) dalam tangga nada Barat. Beberapa musisi juga melalui tahap yang dinamakan quasi-absolute pitch (Bachem, 1937). Quasi-absolute pitch ini mirip dengan absolute pitch untuk nada tunggal. Contohnya adalah pemain oboe (alat musik tiup) yang secara teratur memainkan nada A untuk orkestrasi dan pemain biolin (sejenis violin) yang sering memainkan nada A pada saat open string dapat mengenali dan menyanyikan nada A secara spontan dan memainkan nada yang lain dengan menggunakan relative pitch.

3. Kemahiran tonalitas
Bartlett dan Dowling (1980) meneliti kemahiran tonalitas pada beberapa orang dengan usia yang berbeda dengan memakai lagu Twinkle twinkle little star yang dimainkan pada tangga nada C dan diikuti oleh dua perubahan. Hasil yang didapat adalah orang dewasa yang non musisi mengenali perubahan tonalitas dari tangga nada C ke tangga nada yang lain juga perubahan not yang ada. Anak-anak usia 5 tahun tidak dapat membedakan mana melodi yang standard an yang sudah berubah namun mereka dapat mengikuti perubahan tangga nada. Penelitian ini memperlihatkan bahwa anak usia 5 tahun dapat mendeteksi perubahan tangga nada sama seperti orang dewasa tetapi tidak dapat mendeteksi perubahan interval.
Imberty (1969) menemukan bahwa anak usia 7 tahun dapat mendeteksi perubahan tangga nada di pertengahan lagu yang sudah familiar baginya dan anak usia 8 tahun dapat mendeteksi perubahan dari mayor ke minor. Brehmer (1925) mendemonstrasikan bahwa anak usia 6 tahun mengerti bahwa suatu lagu harus diakhiri dengan tonika dari tangga nada lagu tersebut.

b. Perkembangan kemampuan harmoni
Akulturasi musikal anak terhadap tonalitas bermanfaat bagi kemampuan harmoni mereka. Zenatti (1969) meneliti kemampuan harmoni ini dengan memainkan fuga yang terdiri dari dua suara, tiga suara dan empat suara dari lagu yang familiar bagi anak-anak (Malbrough s’en va-t-en guerre’). Mereka diminta untuk mengidentifikasi di bagian mana mereka dapat menemukan melodi dari fuga tersebut, yang digambarkan Zenatti sebagai bermain petak umpet. Dia menemukan bahwa terjadi perkembangan yang stabil terhadap kemampuan harmoni anak usia 8 – 10 tahun tetapi anak usia 12 tahun pun masih menemukan kesulitan untuk mengerjakan tugas tersebut.
Valentine (1942) melakukan sejumlah studi di tahun 1910 tentang interval mana yang lebih disukai pada anak usia 6 – 14 tahun. Sampel penelitiannya terdiri dari 200 anak sekolah yang membuat penilaian dengan menjawab suka, tidak suka atau tidak tahu terhadap 12 interval yang dipresentasikan dengan piano. Valentine merujuk major second, minor seventh, major seventh dan minor second sebagai discord dan delapan interval yang lain sebagai concord. Dia menemukan bahwa tidak ada preferensi bahwa concord lebih disukai daripada discord sampai anak usia 9 tahun. Pada anak usia 11 tahun, anak lebih menyukai concord dan sekaligus menunjukkan bahwa mereka tidak menyukai discord. Pada usia 12 dan 13 tahun, Valentine menemukan bahwa preferensi ini makin berkembang mengikuti pola orang dewasa yaitu lebih menyukai discord.

c. Representasi anak terhadap musik
Gambar anak-anak telah menjadi topik pembicaraan dalam beberapa diskusi karena mereka membentuk suatu simbol paralel yang akan mencerahkan perkembangan musikal.
Goodnow (1971) mempresentasikan tepukan ritmis yang sama seperti Stambak dan meminta mereka untuk menuliskan pola ritmis tersebut. Usia pra sekolah belum dapat menggambarkan jarak pemisah antar ketuk, mereka hanya menggambar bulatan-bulatan yang mewakili ketukan. Mulai usia 5 tahun, gambar mulai membentuk pola dua kelompok di mana kelompok pertama terpisah dengan kelompok kedua. Pada usia 5 – 7 tahun anak mulai mengenal ukuran, posisi dan pemisahan untuk menjelaskan interval waktu. Penelitian dengan bentuk yang sama juga dilakukan oleh Bamberger. Dari hasil penelitiannya Bamberger mengatakan bahwa pendidikan musik formal memfasilitasi anak belajar menulis dan membaca notasi namun hal tersebut akan menghilangkan kepekaan anak terhadap figure dan rasa musikal akan ritmis.

d. Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan musikal
1. Pengaruh dari berlatih dan pelatihan
Kemampuan membedakan pitch dapat ditingkatkan melalui pelatihan. Pelatihan tersebut bermanfaat bagi penyanyi yang tidak memiliki kepekaan terhadap pitch. Pelatihan serupa juga dapat dilakukan untuk mengajar anak bernyanyi dengan akurasi pitch yang tepat dengan metode memasangkan not-not tunggal sesuai dengan pitch-nya, menggunakan alat musik keyboard untuk mengiringi, mencontohkan lagu yang akan dinyanyikan dan anak langsung meniru dan lain-lain. Sebagian besar anak yang mengikuti pelatihan ini berhasil menyanyi dengan akurasi pitch yang tepat.
Penelitian tentang efek berlatih jangka pendek dan jangka panjang juga dilakukan. Program pelatihan jangka pendek dilakukan untuk memberi pengaruh signifikan memperhalus rasa musikal meski sulit untuk diketahui tanpa mengikuti data. Archibeque (1966) meneliti bahwa murid kelas 7 yang telah mempelajari musik kontemporer mengekspresikan preferensi terhadap musik tersebut dibanding dengan anak yang tidak mempelajarinya. Namun tidak ada bukti kuat bahwa efek pelatihan jangka panjang menghasilkan preferensi seperti yang disebut di atas.

2. Lingkungan rumah dan budaya
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menemukan hubungan antara aspek lingkungan rumah dengan kemampuan musikal anak. Status sosial ekonomi nampaknya memegang peran dominan dalam perkembangan kemampuan musikal.

PEMBAHASAN

a. Absolute Pitch
Absolute pitch ini masih menjadi perdebatan di antara para peneliti dan para musisi. Salah satu argumen yang beredar saat ini adalah absolute pitch merupakan kemampuan yang dibawa seseorang sejak lahir. Beberapa peneliti yang mengatakan ini adalah:
1.hadir di usia awal anak-anak, biasanya sebelum usia lima tahun. (Grebelnik, 1984)
2.diperoleh dengan sangat cepat (Burns and Campbell, 1994)
3.diperoleh tanpa berusaha (Takeuchi and Hulse, 1993); dan
4.berlangsung secara turun temurun (Revesz, 1953)
Seorang peneliti , Bachem, melakukan pembagian absolute pitch menjadi genuine absolute pitch, quasi-absolute pitch dan pseudo-absolute pitch. Bachem tetap memisahkan genuine absolute pitch dari yang lainnya karena dia berpendapat bahwa genuine absolute pitch adalah absolute pitch yang benar atau asli. Peneliti yang lain, Baharloo, juga membagi absolute pitch menjadi beberapa subkelas dan mengatakan bahwa Absolute Pitch 1 adalah absolute pitch yang sejati.
Takeuchi dan Hulse (1993) berpendapat bahwa absolute pitch adalah suatu kemampuan yang multi dimensi dan terus menerus. Menurut mereka diskriminasi pitch berbeda pada beberapa dimensi, termasuk warna nada (timbre) dan jangkauan pitch (pitch range) dan respon seseorang mungkin berbeda dalam keakuratan dan kedewasaan terhadap dimensi-dimensi ini. Contohnya adalah seseorang mungkin dapat segera mengidentifikasi beberapa nada dengan akurat hanya bila nada tersebut memiliki warna nada yang khas.
Perdebatan tentang absolute pitch ini mendorong Nan Bahr, Mark Bahr dan Carol A. Christensen dari universitas Queensland, Australia, untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Mereka melakukan penelitian terhadap 13 orang yang berusia antara 17 tahun – 60 tahun, 11 diantaranya diberi label pemilik absolute pitch dan 2 orang yang lain diberi label pemilik relative pitch. Seluruh partisipan adalah musisi tingkat mahir dan masih aktif. Kemusisian ditentukan dari jam terbang mereka malang melintang di dunia musik (sudah lebih dari 10 tahun) dan keinginan mereka untuk menampilkan yang terbaik dalam setiap pertunjukan musik yang mereka lakukan. Mereka semua adalah penduduk Queensland yang direkrut melalui iklan di majalah-majalah. Pekerjaan partisipan yang diberli label pemilik absolute pitch bervariasi, dua orang adalah guru musik di sekolah umum, tiga orang adalah guru musik untuk instrumen musik tertentu, dua orang adalah mahasiswa jurusan musik, satu orang musisi freelance, satu orang mahasiswa jurusan kedokteran gigi, satu orang mahasiswa hokum dan seorang psikolog. Partisipan yang diberi label pemilik relative pitch keduanya bekerja sebagai guru musik di sekolah.
Stimulus diberikan melalui software yang berisi 60 nada yang diacak dan diputar dua kali. Nada yang diperdengarkan menggunakan warna nada piano, sine wave dan instrumen musik yang sering digunakan oleh partisipan sehingga total jumlah nada yang diperdengarkan adalah 360 nada. Setiap nada diperdengarkan selama 0,8 detik yang dilanjutkan dengan 5 detik masa hening dan 5 detik masa suara lain. Maksud dari 5 detik masa suara lain adalah untuk menghapus memori partisipan dari nada yang diperdengarkan sebelumnya.
Dari penelitian tersebut didapatkan hasil yang berbeda dari setiap partisipan terhadap warna nada dari instrumen musik, warna not (hitam dan putih) dan jangkauan pitch. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah absolute pitch adalah kemampuan yang bermacam-macam. Manipulasi dari warna nada instrumen musik membawa pengaruh yang berbeda bagi setiap partisipan. Ini berarti bahwa kemampuan absolute pitch tidak begitu saja melibatkan frekuensi suara. Kemampuan absolute pitch tergantung pada beberapa jenis atribut suara seperti tonalitas, warna nada dan jangkauan pitch. Hal ini sama seperti pendapat Takeuchi dan Husle di atas bahwa absolute pitch adalah kemampuan yang multi dimensi.

b. Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan musikal
Maria Manturzewska, peneliti dari institut penelitian pendidikan musik Chopin Academy of Music, melakukan penelitian terhadap tahapan perkembangan hidup dari musisi profesional. Beliau meneliti 165 orang musisi di
Polandia yang berusia 21 – 89 tahun. Tujuan dari penelitiannya adalah:

1. untuk mengumpulkan data empiris yang berhubungan dengan masalah-masalah dalam tahapan perkembangan hidup para musisi profesional di Polandia.

2. untuk menggambarkan struktur alami dari perkembangan hidup para musisi.

3. untuk menguji hipotesis yang berhubungan dengan faktor psikologi dan sosiologi yang mempengaruhi keaslian, perkembangan dan aktivitas profesional dari para musisi di berbagai situasi dan tahapan hidup.

Penelitiannya melibatkan musisi dari bermacam bidang seperti komposer, konduktor, pianis, pemain biola, pemain alat musik tiup dan penyanyi. Para musisi tersebut diwanwancara secara perorangan oleh psikolog, sosiolog dan pendidik musik. Untuk memastikan keakuratan informasi yang didapat maka kuesioner dan pertanyaan yang dipakai dalam wawancara adalah pertanyaan terstruktur dan pernah dipakai dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Yang menjadi topik pertanyaan adalah sebagai berikut:

1. Lingkungan keluarga dan keturunan
2. Pengalaman dan kegiatan bermusik di masa kanak-kanak
3. Kapan pertama kali belajar memainkan alat musik dan pendidikan musik
4. Karir artistik dan profesional dan penghargaan yang diperoleh
5. Para sponsor/pendukung dan pengajar
6. Nilai dan tujuan dalam setiap tahapan hidup
7. Pernikahan, keluarga dan status social ekonomi
8. Waktu, organisasi dan bentuk relaksasi/kesenangan di tahap usia yang berbeda
9. Evaluasi diri dan kepuasan profesional

Hasil yang didapat dari kuesioner dan wawancara tersebut adalah:

1.Mayoritas dari para musisi profesional tersebut berjenis kelamin pria yaitu 65% dan wanita 35% karena pria lebih termotivasi untuk berkarir sebagai musisi secara profesional.

2.Dilihat dari latar belakang keluarga, 50% musisi mengikuti jejak ayahnya untuk bermusik dan lebih dari 25% musisi yang mengikuti jejak ibunya untuk menjadi musisi. Hanya 5% musisi yang berasal dari keluarga yang tidak memiliki tradisi atau bakat musik. Pengecualian adalah ada 2 musisi hebat yang berasal dari keluarga yang tidak memiliki tradisi atau bakat musik. Ini berarti bahwa kebiasaan musikal dalam keluarga merupakan faktor yang penting untuk dipertimbangkan meski tidak serta merta menjadi syarat utama untuk membangun karir profesional.

3.Ditinjau dari status sosial ekonomi, hampir 50% musisi berasal dari keluarga kaum terpelajar dan 20,8% dari keluarga para ahli keterampilan teknik. Hanya 4% musisi profesional yang berasal dari keluarga petani. Setelah 40 tahun ke depan pun hasil yang diperoleh tetap sama bahwa mayoritas dari musisi profesional berasal dari kaum terpelajar dan minoritas dari kaum petani (hanya 1%). Ini sama dengan teori yang telah disebutkan dalam buku The Developmental Psychology of Music bahwa status sosial ekonomi mempengaruhi perkembangan kemampuan musikal seseorang.

4.Tempat kelahiran juga merupakan faktor yang mempengaruhi seorang musisi. Mayoritas dari para musisi yang diwawancara lahir di kota baik itu kota besar maupun kota kecil. Hanya sedikit sekali orang yang lahir di daerah pedesaan yang mengejar karir sebagai musisi profesional. Dari grafik penelitian tentang tempat kelahiran disimpulkan bahwa karir musikal bergantung secara kuat pada kondisi lingkungan dan biografi. Penjelasan yang masuk akal untuk ini adalah keadaan sekitar keluarga dan fasilitas sosio kultural mempermudah akses untuk pendidikan musik, sekolah musik, intitusi dan model yang memiliki fungsi sejajar dalam perkembangan minat musik, motivasi dan karir.

5.Usia saat pertama kali belajar musik mempengaruhi tingkat kemahiran seorang musisi di masa depan. Hipotesis dari grafik penelitian adalah bila seseorang mulai belajar musik di usia 9 tahun untuk menjadi seorang pemain piano atau biola yang hebat (virtuoso) maka dia tidak akan dapat mencapai level tersebut karena tidak akan mampu meraih kemahiran dalam hal kemampuan musikal dan tingkat motivasi dilihat dari tingkat perkembangan hidup. Seseorang yang terlambat untuk memulai belajar musik dapat meraih kompetensi secara internasional hanya sebagai composer dan konduktor.
6.Lama masa belajar musik mempengaruhi seseorang untuk menjadi musisi profesional. Masa pendidikan yang dibutuhkan kira-kira 16 tahun baik itu di dalam atau di luar sekolah musik dibawah bimbingan yang sistematis dari seorang guru yang memenuhi kualifikasi dan perlu diingat bahwa lamanya waktu yang dihabiskan untuk belajar tidak berhubungan dengan karir di bidang musik. Ada catatan khusus disini bahwa motivasi dan kepribadian serta kompetensi dan gengsi sosio profesional guru akan menginspirasi murid untuk menjadi seorang musisi profesional.

7.Musisi profesional rata-rata mencapai prestasi artistiknya di usia 25 – 45 tahun. Di lain pihak, musisi terebut mencapai prestasi mengajar tertingginya setelah selesai periode di mana dia mencapai prestasi tertinggi untuk artistiknya. Para musisi mulai tertarik untuk lebih serius mengajar musisi-musisi yang muda ketika mereka merasa lelah dengan aktivitas konser mereka sendiri. Hanya ketika mereka serius untuk berhenti berkonserlah mereka siap untuk berkonsentrasi secara penuh dalam membangun karir dan prestasi para muridnya. Ini menjelaskan mengapa guru dari para juara kompetisi internasional biasanya sudah berusia separuh baya.

8.Data yang didapat dari hasil wawancara memperlihatkan bahwa usia rata-rata para musisi professional tersebut saat pensiun dari karir bermusik mereka adalah 70 tahun. Ada beberapa musisi yang bahkan masih aktif berkarir sampai usia mereka 90 tahun.

c. Representasi anak terhadap musik
Menurut Heinz Werner, anak-anak tidak sanggup berpikir secara murni konseptual tetapi mereka sering memahami dunia secara konkrit seperti gambar-gambar dari hal khusus. Pikiran anak yang seperti gambar dapat terlihat ketika mereka diminta untuk mendefinisikan kata-kata. Bila seorang anak laki-laki berusia 5 tahun diminta mendefinisikan kata ā€œanak perempuanā€, dia akan menjawab ā€œanak itu cantik, memiliki rambut panjang dan memakai rokā€.
Werner memunculkan topik persepsi fisiognomik yang dihubungkan dengan persepsi anak-anak. Persepsi fisiognomik (ilmu firasat) mengikuti kualitas dinamis dan ekspresif benda-benda. Ini merupakan bentuk persepsi paling dini dan dominan pada anak-anak, yang di dalam budaya kita kemudian digantikan oleh cara pandang yang lebih geometris-teknis. Persepsi fisiognomik berbalikan dengan persepsi geometris-teknis. Persepsi geometris-teknis lebih realistik dan menyentuh fakta sesungguhnya, suatu sifat perceptual para ilmuwan dan teknisi.
Bagi orang dewasa yang rasional, persepsi fisiognomik tepat hanya jika stimuli berjiwa. Kita akan merasa bodoh untuk memahami emosi di dalam bebatuan, pohon, gelas dan benda-benda tidak berjiwa lainnya. Bagi anak-anak, situasinya sangat berbeda. Anak-anak, karena tidak memiliki ikatan diri/lingkungan yang jelas, memahami seluruh dunia penuh kehidupan dan gerakan. Contohnya ketika anak melihat sebatang kayu patah menjadi dua, si anak mungkin akan menganggap kayu merasa sakit.
Dalam banyak hal, membandingkan anak-anak dengan orang dewasa sama seperti membandingkan seniman dengan ilmuwan. Anak-anak, seperti seniman, mendekati dunia lewat gaya fisiognomis, antarindra dan pencitraan gambar yang jelas. Gaya ini muncul pada usia 2 – 7 tahun. Ini artinya bahwa persepsi fisiognomik pada anak berakhir pada usia 7 tahun dan kemudian digantikan oleh persepsi geometris-teknis yang memahami obyek-obyek menurut bentuk, panjang, warna, lebar dan sifat-sifat obyektif lain yang bisa diukur.
Persepsi fisiognomik ini menjelaskan uraian tentang representasi anak terhadap musik. Ketika anak disuruh untuk menuliskan pola ritmis sederhana, anak menggambarkan ketukan-ketukan dengan bulatan-bulatan, baik hanya berbentuk titik atau bulatan yang besar. Anak merepresentasikan ketukan yang durasinya lebih lama menggunakan pola gambar-gambar bulatan. Anak-anak menggunakan bulatan yang lebih besar dari bulatan-bulatan yang lain. Hal yang lain lagi adalah anak merepresentasikan durasi yang lama dengan membuat jarak yang lebih jauh dari bulatan yang satu ke bulatan yang lain sementara untuk ketukan yang cepat anak membuat jarak yang dekat antara bulatan-bulatan tersebut. Setelah usia 7 tahun dimana persepsi fisiognominya berkurang, anak mulai merepresentasikan durasi yang lebih lama dengan menggunakan garis.

D. Kesimpulan
Dari penjelasan di atas didapat informasi bahwa pada anak usia sekolah, khususnya sekolah dasar, terjadi perkembangan musikalitas diantaranya yaitu perkembangan kemampuan melodis dan kemampuan harmonis.
Diantara pembahasan tentang perkembangan musikalitas tersebut masih terdapat perdebatan-perdebatan tentang perkembangan itu sendiri khususnya untuk bagian absolute pitch. Sebagian peneliti mengatakan bahwa kemampuan absolute pitch merupakan anugerah sejak lahir dan ada juga yang mengatakan bahwa kemampuan tersebut dapat diasah dan dipelajari. Penelitian terakhir menyimpulkan bahwa kemampuan absolute pitch merupakan bawaan sejak lahir dan suatu kemampuan yang multidimensional dan terus menerus.
Faktor lingkungan dan status sosial ekonomi juga berpengaruh pada musikalitas seseorang. Selain kedua faktor ini ternyata ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi dan mendukung seseorang untuk menjadi musisi professional, yaitu usia saat pertama kali belajar musik, tempat kelahiran dan lamanya pendidikan musik yang diperoleh oleh seseorang.
Dalam merepresentasikan musik yang didengar, anak usia dua – tujuh tahun menggunakan persepsi fisiognomiknya. Contohnya adalah bulatan yang lebih besar untuk merepresentasikan ketukan yang durasinya lama dan nilai not besar dan bulatan yang lebih kecil untuk merepresentasikan ketukan yang durasinya singkat dan nilai not kecil. Namun seiring dengan pertambahan usia, anak mulai mengalami penurunan kemampuan fisiognomiknya dan digantikan dengan persepsi geometris-teknis yang lebih rasional.

DAFTAR PUSTAKA

Bahr, Nan, Carol A. Christensen dan Mark Bahr. (2005). Diversity of accuracy profiles for absolute pitch recognition. Psychology of Music, vol. 33(1), p. 58-93
Chin, Christina S. (2003). The Development of Absolute Pitch: a theory concerning the roles of music training at an early developmental age and individual cognitive style. Psychology of Music, vol. 31(2), p.155-171
Crain, William. (2006). Theories of Development, Concepts and Applications. New Jersey: Prentice Hall
Hargreaves, David J. (1985). The Developmental Psychology of Music. Cambridge: Cambridge University Press
Hurlock, Elizabeth B. (1980). Developmental Psychology: A Life-Span Approach. New York: McGraw Hill-Inc
Manturzweska, Maria. (1990). A Bibliographical Study of the Life-Span Development of Professional Musicians. Psychology of Music, vol. 18, p.112-139