Gamolan Pekhing (Foto: Riyan Hidayatullah, 2016))
Narasumber: Sapril Yamin
Gamolan pekhing merupakan alat musik tradisional Lampung yang berasal dari bumi Sekala Brak, Kabupaten Lampung Barat. Oleh beberapa orang, alat musik ini dikenal juga dengan istilah cetik. Istilah gamolan berasal dari gimol yang berarti “gemuruh” atau suara bambu yang bergemuruh. Sekala Brak memiliki dua jenis alat musik tradisional, pertama, alat musik tradisional yang terbuat dari pring/pekhing (bambu), selanjutnya adalah alat musik yang terbuat dari perunggu atau kuningan, masyarakat Sekala Brak sering menyebutnya dengan gamolan balag. Istilah gamolan pekhing muncul untuk membedakan material penyusun sekaligus memberikan penekanan terhadap alat musik tersebut. Menurut Sapril Yamin, gamolan pekhing merupakan cikal-bakal (lebih tua) dari gamolan balag atau yang sering disebut kulintang Lampung.
Sekala Brak memiliki empat paksi/kepaksian, yakni: kepaksisan buai jalan diwai, kepaksian belungu, kepaksian pernong dan kepaksian nyerupa. Masing-masing kepaksian memiliki pola dan aturannya tersendiri, tidak terkecuali dengan gamolan pekhing itu sendiri. Pola permainan (tabuhan), penamaan dan pakem-pakem lainnya memiliki tatanannya sendiri. Saat ini, gamolan pekhing dapat dinikmati siapa saja, tetapi gamolan balag (perunggu) hanya dimiliki oleh tokoh adat atau seorang Sultan saja. Harga gamolan balag yang cukup tinggi, menyebabkan alat musik ini hanya dimiliki oleh kalangan tertentu saja, tetapi hal ini tidak berlaku bagi gamolan pekhing. Siapapun mampu memilikinya karena biaya produksinya yang cukup murah. Saat ini pengrajin gamolan pekhing mulai bertebaran baik di Kabupaten maupun Kota.

Dari empat kepaksian, hanya kepaksian pernong dan kepaksian belungusajalah yang memiliki gamolan balag di rumah adatnya. Semenmtara itu, gamolan pekhing masih tetap berkembang di lingkungan kepaksian jalan diwai, kepaksian pernong dan kepaksian belungu. Hal ini disebabkan masih ada para pengrajin gamolan masih tetap membuat alat musik tersebut. Selain itu, pengaruh komunitas dan tokoh-tokoh dari masing-masing kepaksian memberikan pengaruh sangat besar dalam pelestarian gamolan pekhing, sehingga alat musik ini masih tetap dikenal sampai sekarang. Saat ini, gamolan pekhing sudah sangat dikenal dan tersebar diberbagai tempat di Provinsi Lampung, tetapi penyebaran terbesarnya masih berada di sekitar Kota Bandarlampung. Bahkan di Lampung Barat sendiri perkembangan alat musik ini terbilang cukup lambat.
Sebagian besar masyarakat Lampung zaman dahulu berasal dari daerah Sekala Brak, hal ini juga yang menyebabkan gamolan pekhing tersebar di berbagai Kabupaten di seluruh wilayah Lampung, seperti Tanggamus, Lampung Selatan, Way Kanan, Kota Aung, Tulang Bawang dan sebagainya. Erupsi gunung Krakatau tahun 1883 pada saat itu menyebabkan masyarakat Sekala Brak berpindah tempat, hal ini juga berdampak terhadap penyebaran alat musik gamolan pekhing. Awal munculnya alat musik ini diperkirakan saat masa peradaban kerajaan Sekala Brak tegak berdiri.
Gamolan pekhing merupakan alat musik tunggal yang dimainkan perorangan. Jadi, pada awalnya, alat musik ini tidak dimainkan dengan cara ensambel (bersama-sama). Pada awalnya, alat musik ini dibuat hanya untuk kepentingan hiburan;menghibur diri, namun seiring berlajannya waktu kebutuhan manusia semakin meningkat sehingga gamolan pekhing digunakan untuk mengiringi sastra lisan dan alat musik pengiring tari. Saat ini gamolan pekhing digunakan sebagai alat seni pertunjukan dan banyak dikolaborasikan dengan musik modern secara ensambel, seperti musik jazz dan elektronik. Berbagai komposisi dibuat menggunakan ide-ide kreatif generasi milenial dalam rangka mengembangkan seni tradisi Lampung ini.
Dalam peristilahan gamolan pekhing sering disebut juga sebagai gelitang pekhing, kulintang pekhing, kulintang bambu dan cetik. Selain bunyinya yang mudah diingat dan diucapkan, istilah cetik muncul diperkirakan mewakili bunyi gamolan saat dipukul dan berbunyi “tik” (baca: onomatopoeia). Istilah cetik dipopulerkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Lampung sekitar tahun 1991 melalui buku yang disusun dan berbagai pelatihan yang diberikan untuk masyarakat. Konon, masyarakat Lampung malu untuk menggunakan bahasanya sendiri, sehingga istilah cetik dirasa lebih nyaman untuk diucapkan. Jadi, istilah gamolan pekhing banyak diinterpretasikan oleh masyarakat Lampung. Hal ini menggambarkan bagaimana orang-orang Lampung memiliki berbagai julukan dalam setiap proses kehidupannya. Juluk buadep merupakan istilah yang merepresentasikan banyaknya penamaan terjadap orang Lampung sendiri. Mulai dari nama kecil, nama setelah berkeluarga, nama setelah dinobatkan sebagai pimpinan adat dan masih banyak lagi.
Pada tahun 1991, telah banyak tokoh-tokoh yang mempopulerkan dan serius mengembangkan gamolan pekhing, misalnya di lingkungan masyarakat Saibatin, seperti Hafizi Hasan (Kedondong), Raji Aripin (Krui), Yusrin (Kepaksian Jalan Diwai), Alm. Embarza (Kepaksian Pernong), Suryadi (Kepaksian Belungu).
Di Skala Brak, tempat di mana gamolan pekhing lahir dan berkembang terdapat berbagai jenis bambu. Pertama, bambu bulu balau, bambu jenis ini terbilang kecil/tipis dan banyak digunakan untuk genter (semacam tiang untuk memasang spanduk dan bendera). Kedua, bambu bamban, bambu jenis ini banyak digunakan untuk membuat kue lemang dan “bakul” atau geribik. Gamolan pekhing terbuat dari bambu pilihan atau sering juga disebut “pekhing”. Itulah sebabnya istilah gamolan disandingkan dengan kata pekhing. Pekhing terbagi atas dua jenis, kukhing (belang) dan betung. Pekhing kukhing memiliki serat seperti motif/belang kulit harimau. Sementara pekhing betung merupakan material bambu yang banyak dipakai untuk membuat alat musik gamolan. Pekhing betung memiliki diameter, panjang dan ruas yang sesuai untuk membuat instumen ini. Pakhing merupakan bambu berukuran besar. Para pengrajin gamolan terbiasa memakai bambu jenis ini. Biasanya, satu batang betung yang utuh dapat membuat sekitar 7-8 gamolan pekhing. Satu buku bambu dapat menghasilkan sekitar 6 bilah. Selain bambu-bambu di atas, Lampung memiliki jenis bambu lain, seperti bambu tali, bambu mayan atau bambu manis, bambu apus.
Pada zaman dahulu, dalam membuat gamolan pekhing masyarakat biasa menggunakan bambu yang sudah mati temegi (mati berdiri) atau mati di pohonnya. Bambu dalam kondisi ini sudah dalam keadaan tua dan jarang dibutuhkan orang. Indikator lain dalam membuat gamolan saat itu adalah memilih bambu yang pernah disinggahi oleh “Si Amang” (sejenis kera). Masyarakat percaya jika “Si Amang” pernah berdiri di atasnya, itu berarti bambu dalam kualitas baik.
Setelah ditebang, bambu harus dikeringkan selama enam bulan. Penjemuran tidak langsung di bawah matahari, tetapi hanya “dianginkan”. Setelah proses ini selesai, bambu di potong per ruas atau buku untuk dikelompokkan berdasarkan nadanya. Sebelum dibelah bambu terlebih dahulu dilepaskan dari kulit luarnya. Proses selanjutnya yang paling penting adalah
“pelarasan” (dilaras). Proses ini merupakan membentuk nada dasar atau penentuan tangga nada dari gamolan pekhing. Bernada dasar do= G, do = C dan sebagainya, semua tergantung kebutuhan. Pelarasan saat ini banyak menggunakan piano atau keyboard. Sedangan zaman dahulu, pelarasan tidak menggunakan alat bantu apapun, sehingga antar pengrajin gamolan tidak memiliki nada dasar yang sama. Satu buku bambu dapat menghasilkan beberapa nada gamolan yang sama. Saat ini nada dasar gamolan pekhing lebih mudah untuk disamakan standarnya karena banyak alat yang mendukung pengrajin untuk melakukannya.
Semakin tinggi (atas) letak buku-buku pada bambu, maka suara (pitch) yang dihasilkan semakin tinggi, dengan kata lain, semakin tipis/kecil ruas bambu maka suara yang dihasilkan semakin tinggi. Semakin panjang bilah bambu maka pitch yang dihasilkan semakin tinggi, sebaliknya jika bilah semakin pendek suara yang dihasilkan semakin tinggi.
Para pengrajin gamolan bisanya mendapatkan pekhing di daerah pegunungan, seperti di Kota Agung, Sekala Brak (Lampung Barat), Kalianda. Bambu-bambu tersebut didistribusikan dalam bentuk bilah-bilah (sudah dipotong-potong dan dikeringkan selama enam bulan).
Saat ini, bambu-bambu (pekhing) yang digunakan untuk memproduksi gamolan semakin berkurang. Sementara itu, membuat bambu tetap dapat dipanen merupakan usaha yang tidak sederhana. Perlu ada modal dalam jumlah besar, perlu waktu, perlu riset secara mendalam mengenai karakteristik tanah dan sebagainya. Hal inilah yang saat ini menjadi keresahan para pengrajin gamolan pekhing, mereka khawatir jika bambu habis, maka habis pula mata pencaharian mereka. Oleh karena itu, perlu ada usaha dan sinergi dari berbagai pihak untuk dapat menjaga kelestarian bambu agar tetap bisa dinikmati selaman 50-100 tahun mendatang.
Awalnya, gamolan pekhing hanya memiliki enam nada dan dimainkan oleh satu orang. Seiring berjalannya waktu, pemain gamolan ingin berkolaborasi dengan beberapa orang sehingga tidak lagi dimainkan secara tunggal. Hal inilah yang membuat kebutuhan nada dan bilah-bilah dalam gamolan ditambah. Di lain sisi, pola permainan gamolan yang saling mengiringi membuat beberapa kreasi bunyi, seperti memunculkan “rhythm” atau lebih dikenal dengan gelitak di kalangan masyarakat Lampung. Gelitak juga berfungsi sebagai pengatur dan penjaga tempo permainan. Inilah yang membuat gamolan mengalami penambahan menjadi tujuh bilah nada. Tetapi, saat ini gamolan banyak digunakan oleh orang untuk membuat sebuah komposisi yang unik, sehingga banyak dibuat menjadi delapan, duabelas, duapuluh empat dan sebagainya.
Gamolan pekhing yang saat ini beredar luas hampir seluruhnya bernada dasar G. Hal ini dikarenakan kebutuhan musikal gamolan sendiri sudah sangat tinggi. Banyak lomba-lomba musik tradisional dan musik bambu mempergunakan gamolan sebagai bahan eksplorasinya. Tak jarang gamolan dikombinasikan dengan alat musik Barat, seperti Gitar, Bas, Drum, Piano dan sebagainya. Orang yang mempelopori nada dasar gamolan pekhing menjadi G diantaranya Sapril Yamin dan Ipung.
Pengrajin gamolan pekhing saat ini sudah sangat berkembang, seperi I Nyoman Arsana (Bandarlampung), Wisnu (Bandarlampung) , Sapril Yamin (Bandarlampung) dan Antoni (Skala Brak). Sapril Yamin misalnya, sehari Ia mampu membuat dua buah gamolan. Menurut para pengrajin, proses tersulit dalam pembuatan gamolan adalah proses “melaras” (menentukan nada).
Bermain gamolan pekhing bukan merupakan profesi, inilah yang ada dalam pandangan masyarakat Lampung zaman dahulu. Hal inilah yang menyebabkan kemampuan seperti ini diturunkan langsung dari orang tua ke anaknya. Umumnya anak-anak belajar gamolan dari kakek, paman dan kerabatnya (patih). Saat itu, berkesenian merupakan hal yang tabu bagi anak-anak,mulai dari menari,bermain musik, sastra lisan seluruhnya dikerjakan oleh orang dewasa. Tidak ada notasi yang dibuat untuk mengajarkan gamolan pekhing. Tahun 2010, Sapril Yamin dkk membuat sebuah buku saku sebagai notasi dalam belajar gamolan pekhing.
Metode pengajaran gamolan pekhing ada berbagai cara. Untuk tabuhan adat biasanya melalui belajar langsung pada seniman, sedangkan untuk tabuhan baru dapat belajar melalui buku saku yang saat ini banyak diciptakan. Gamolan pekhing memiliki lima (5) tabuhan adat: tabuh sambai agung, tabuh sekeli, tabuh labung anging, tabuh jakhang belungu, tabuh jakhang pernong. Salh satu tabuhan yang mudah diajarkan ialah tabuh tari. Tabuh adat biasa digunakan untuk penyambutan tamu agung, misalnya tabuh sambai agung. Tabuh Sekeli dan labung angin biasa digunakan untuk selingan dalam acara-acara adat. Tabuh jakhang pernong merupakan tabuh perpisahan atau tabuh kematian misalnya saat penutupan acara dan pengiring jenazah. Beberapa tabuhan baru seperti alau-alau dan hiwang merupakan tabuhan yang cukup banyak dimainkan saat ini.
Referensi
Batin, Maulana, Riyan Hidayatullah, Erizal Barnawi, I. Gusti Nyoman A, Wisnu Nugroho, Raden aditya Saputra Nugraha, Diantori, Ricard Sambera, Rudi Darmawan, Andi Wijaya, Aditya Octavian, Sandro Yudha, and Muhammad Zopi. 2018. Notasi Pembelajaran Musik Tradisional Gamolan Pekhing Sekala Brak Lampung. Bandar Lampung: Aura: CV. Anugrah Utama Raharja.
Biodata Narasumber
Nama: Sapril Yamin adok: Kiemas Amanah
TTL: Kembakhang, 24 Mei 1969
Pnedidikan: SLTA
Hobi: –
Profesi: Pengrajin Gamolan, pengajar dan praktisi musik tradional Lampung
Istri: Hidup Amir
Anak: 1. Abellia Marthadini, S.Pd. (Dini)
- Abellia Dyna Liana (Dina)
- Ahmad Dino Alfanurin (Dino)
Karya Tabuhan: – Tabuh Tari
- Tabuh Hiwang
- Tabuh alau-alau kembakhang
Penghargaan:
- Penghargaan gubernur tahun2010:”pelestari seni tradisonal lampung”
- Penghargaan “Anugerah kreativitas “dari SPDB Sultan Skala Brak yang dipertuan ke – 23 kepaksian pernong ( Drs. Edward Syah Pernong), tahun 2011
- Penghargaan dari pemerintah kab, Lampung Barat tahun 2017:”pelestrasi budaya”
- 100 tokoh inspirasi Lampung verisi Lampung post tahun 2014
Pengalaman:
- Narasumber musik gamolan pekhing di prodi etnmusikologi ISI Surakarta tahun 2016.
- Pementasan Seni Tradisi AsiaPasifik di Thailand tahun 2006
- Beberapa pementasan Skala Lokal dan Nasional