April 30, 2026
jy

Ada perbedaan mendasar dalam menulis musik menggunakan kode etik jurnalistik dengan menulis musik sebagai sebuah karya ilmiah. Untuk yang kedua, saya rasa penulisan karya ilmiah musik sudah sangat jelas digambarkan melalui penulisan buku teks atau jurnal-jurnal. Melihat perkembangan Perguruan Tinggi musik yang semakin berkembang, saya kira karya ilmiah musik akan terus menemukan bentuk yang ideal. Tapi dalam soal jurnalistik, saya melihat banyak ā€œslot kosong.ā€ Seorang peneliti atau penulis jurnal atau buku-buku teks, belum tentu memiliki kemampuan sebagai jurnalis musik. Karena mulai dari gaya penulsian kalimat, bahasa, diksi, dan cara melakukan risetnya juga sedikit berbeda. Saya sendiri lebih condong melihat jurnalisme sebagai sebuah industri di mana produksi pembuatan naskahnya harus berlangsung cepat, memiliki target, dan tekanan terhadap kebutuhan naskah yang tinggi setiap harinya; pun ini juga terjadi dalam konteks bidang musik.

Seorang jurnalis musik tentu saja tidak harus orang yang pandai memainkan alat musik, tetapi setidaknya memiliki ā€œpassionā€ atau hasrat yang tinggi untuk menyebarkan informasi dan pengetahuan tentang musik. Ini hanya akan dimiliki oleh orang-orang yang sebelumnya gemar menulis, bercerita, dan selalu penasaran dengan hal-hal yang bersifat kekinian. Seorang jurnalis musik juga tentu harus selalu ā€œupdateā€ berita dan informasi seputar musik, sambil mencurahkan waktu dan energinya untuk terus mengasah keterampilan menulisnya. Meskipun bukan seperti ā€œSupermanā€ yang memiliki kekuatan super, namun mereka (jurnalis musik) tetap dituntut untuk memiliki berbagai bahan riset tentang musik. Mulai dari sejarah dan perkembangan musik (populer dan non-populer), profil para musisi atau komposer dunia, hingga pemahaman dasar-dasar teori musik. Hal ini justru sangat penting manakala seorang jurnalis musik akan menjelaskan informasi yang berkaitan dengan diksi-diksi khusus dalam musik. Sebagain contoh, banyak kesalahpahaan dalam memahami istilah ā€œovertuneā€ dalam teori musik. ā€œOvertuneā€ atau ā€œovertune seriesā€ (eng: Harmonic series) adalah sederet nada-nada harmonik murni yang muncul bersamaan dengan frekuensi dasarnya. Ketika sebuah nada dibunyikan, maka ada semacam nada-nada lain yang mengitari ruang akustiknya.

Sedangkan pemahaman ā€œovertuneā€ Ā dalam pemahaman yang umum di masyarakat adalah perubahan kunci atau nada dasar di mana definisi ini sebetulnya mengarah pada istilah ā€œmodulasi.ā€ Hal-hal semacam ini bisa saja menjadi miskonsepsi umum yang kerap terjadi karena didasarkan ketidakpahaman seseorang dalam menggunakan istilah-istilah musik. Mungkin tidak banyak yang memahami hal-hal semacam ini, dan informasi yang selama ini didapatkan bersumber dari kampus atau perguruan tinggi musik. Kemampuan mengapresiasi dan mengritik musik harus dijadikan sebagai dasar menulis. Jika tidak, maka tingkat penasaran (curiosity) yang rendah akan menghasilkan tulisan yang kurang baik, informasinya tidak terlalu valid, dan sangat lemah.

Memulai Melakukan Reviu Musik

Selain memiliki harsat dalam menulis tentang musik, kemampuan dasar menulis musik juga harus diasah melalui berbagai latihan. Sebelum menjadi jurnalis musik yang benar-benar berkompeten, seorang jurnalis musik pemula dapat membuat berbagai ulasan tentang musik, misalnya tentang album musik favorit atau catatan tentang satu pertunjukan musik. Jurnalis musik dapat menyampaikan informasi riil yang didapatkan di lapangan, melalui situs-situs yang kredibel, atau wawancara. Selain bersifat informatif, tulisan jurnalistik yang baik tentu harus menonjolkan gaya penulis dan cara pandangnya dalam melihat sebuah fenomena atau kasus. Hal ini bertujuan mengekspresikan ide atau gagasannya agar terlihat lebih menarik dan menuai kontroversi, sehingga menggerakkan orang untuk berdiskusi. Semakin banyak tahu tentang musik yang sedang diulas, semakin baik. Dengan cakupan pengetahuan yang lebih luas, jurnalis musik akan dapat membuat kritik dan perbandingan yang objektif dengan lebih baik dan membidik apa yang baik dan buruk. Misalnya ketika dia harus menulis tentang sebuah lagu, album, atau pertunjukan musik tertentu.

Mengikuti Berita Terbaru Tentang Musik

Seorang jurnalis musik tentu saja tidak berfokus pada satu jenis berita, tetapi mencakup segala jenis berita yang behubungan tentang musik. Meskipun pada akhirnya berita-berita yang disajikan telah diklasifikasikan oleh majalah, koran, atau situs tertentu. Jurnalis musik adalah pekerjaan yang tidak mengenal waktu dan merupakan pekerjaan sepanjang waktu. Tentu saja sejarah perkembangan musik populer harus terus disampaikan selama mereka hidup, kecuali jika mereka sudah tidak mampu lagi menulis. Menulis tentang musik berarti juga melakukan riset. Banyak hal harus dilakukan, mulai dari mendengarkan banyak lagu, menonton film, berdiskusi, hadir di pertemuan ilmiah (seminar/konferensi), membaca, bepergian, menonton konser/resital, dan lain-lain. Hal-hal semacam itu dimaksudkan untuk memperkaya pengetahuan jurnalis terhadap apa yang akan ditulisnya. Bisa saja seorang jurnalis tiba-tiba terinspirasi menemukan ide setelah menonton satu film atau pertunjukan musik. Melakukan riset adalah bagian penting dari jurnalis mana pun, bahkan lebih memakan waktu daripada menulis itu sendiri.

Berlangganan Berbagai Bahan Bacaan

Menulis akan dimulai dengan aktivitas membaca, misalnya membaca majalah Rolling Stone (format fisik), hingga publikasi online seperti Pitchfork dan Stereogum. Portal berita semacam ini akan memberi banyak gambaran tentang gaya dan konten Ā musik yang dicari editor. Jurnalis juga akan belajar lebih banyak tentang musik dalam prosesnya, tanpa disadari hal-hal itu membantu mendewasakan kemampuan menulisnya. Menulis tentu akan menonjolkan gaya seorang jurnalis itu sendiri setelah mereka menulis ratusan hingga ribuan artikel. Tentu saja bahan-bahan bacaan tidak selalu bersumber dari bacaan populer, tetapi jurnal-jurnal ilmiah juga perlu dikonsumsi. Jurnal justru akan memberikan informasi riset terbaru tentang suatu bidang musik. Setelah menghasilkan banyak tulisan, seseorang sebetulnya tengah membangun citra atau ā€œbrandā€ dirinya sendiri.

Gelar Jurnalisme

Setelah semakin tenggelam dalam dunia penulisan, seorang jurnalis perlu juga mengasah pengetahuan jurnalismenya melalui lembaga resmi. Misalnya mengambil program jurnalisme atau komunikasi di satu perguruan tinggi. Mungkin hal ini tidak banyak dilakukan, terutama bagi mereka yang tidak terlalu memiliki hasrat tinggi dalam menulis; atau bisa juga mereka (jurnalis) justru berangkat dari program studi atau jurusan jurnalisme atau komunikasi. Denga gelar-nya tersebut mereka sebetulnya sudah memiliki ilmu dasar dalam menulis, selebihnya tergantung pada konsistensi. Banyak juga penulis-penulis terkenal yang tidak bermula dari jenjang akademik. Meskipun untuk menjadi seorang penulis tidak mesti bersekolah atau berkuliah terlebih dahulu, tetapi hal ini penting sebagai salah satu poin kredensial seorang jurnalis. Jika satu saat terdapat sebuah perekrutan kontributor atau penulis di suatu media, tentu selain pengalaman juga akan melihat gelar akademiknya terlebih dahulu.

Konteks Era Digital

Saat ini kegiatan menulis bisa dilakukan di mana saja. Bahkan jika seseorang tidak bekerja sebagai seorang penulis profesional, mereka dapat memulainya melalui sebuah blog atau menulis di media sosial seperti Facebook. Kuncinya adalah konsistensi, setelah menghasilkan banyak tulisan yang dibaca oleh banyak orang, memberikan hal-hal informatif seputar musik, tentu saja kepercayaan dan reputasi seorang penulis akan meningkat. Meskipun di awal karirnya dia tidak bergabung dengan salah satu media-media konvensional. Digitalisasi media juga membawa peran besar dalam melakukan banyak disrupsi. Saat ini siapapun dapat menulis apa saja dan menyebarkannya ke ruang virtual. Pada akhirnya, jika tulisan tentang musik itu memang berkualitas, maka tulisan-tulisan itu akan menemukan pembacanya sendiri. Terkadang, artikel jurnalisme juga bisa berkontribusi dalam penulisan makalah-makalah ilmiah seperti jurnal jika informasi yang disajikan memang bernilai, bermanfaat, serta dapat dipertanggungjawabkan. Satu hal yang pasti, seorang jurnalis musik harus tetap menulis meskipun tidak ada yang membaca tulisannya itu.