April 30, 2026
061827200_1543206008-Berapa-Usia-Ideal-Si-Kecil-Belajar-Musik-By-HTU-shutterstock

Sebuah tulisan yang diterbitkan RADAR LAMPUNG

melalui kolom OPINI (halaman 11)

Terbit: 26 Desember 2021

Penulis: Riyan Hidayatullah

Selama bertahun-tahun ilmu eksakta dianggap sebagai indikator anak pintar, sementara itu seni mengindikasikan anak berbakat. Hanya sedikit yang berani mengatakan dengan tegas seni juga salah satu indikator anak yang cerdas, bukan hanya berbakat. Bakat adalah sebuah potensi yang diasah sehingga memiliki hasil yang nyata. Pada dasarnya setiap anak memiliki potensi seni, permasalahannya tidak semua anak mendapatkan pengajaran dan proses yang sesuai untuk meningkatkan potensinya itu. Jadi, pada dasarnya semua manusia itu cerdas dan memiliki sifat-sifat seni. Cara berpikir seni adalah cara berpikir imajinatif dan kreatif. Sehingga, jika cara berpikir ini menjadi landasan dan diterapkan ke dalam semua bidang ilmu, maka hasilnya akan sangat baik. Anak-anak yang mahir memainkan repertoar musik dengan teknik tinggi di usia 5-10 tahun adalah salah satu contoh potensi yang bertemu dengan proses pengasahan yang baik. Sementara anak-anak yang belum menonjolkan keterampilannya dalam memainkan alat musik biasanya belum memiliki lingkungan dan pengajaran yang mendukung.

Seni mengajarkan pola berpikir yang kritis dan inovatif. Munculnya kemajuan teknologi juga didukung oleh cara berpikir seni. Jika sebelumnya teknologi handphone hanya memiliki fitur untuk telepon dan SMS, saat ini diperkaya dengan berbagai fungsi menangkap gambar dan video, menunjukan arah, alat pengingat, melakukan interaksi sosial, dan sebagainya. Semua fitur-fitur itu berangkat dari teknologi berpikir yang cerdas, bukan sekadar pintar. Kecerdasan timbul dari pola pikir yang kreatif, maka orang-orang cerdas selalu berusaha menemukan solusi dengan cara yang elegan dan artistik.

Pendidikan hari ini tidak terlepas dari sistem berpikir kolonial, ditambah lagi hegemoni budaya Barat yang terus membayang-bayangi. Ilmu yang saat ini diajarkan pada anak-anak dan mahasiswa mengadopsi teori-teori berpikir Barat. Buku atau pemikiran yang selalu menjadi rujukan pasti sebagian besar bersumber dari Barat; menggunakan bahasa asing dan metodologi berpikir gaya Barat. Padahal, hampir satu abad yang lalu salah satu tokoh pendidikan asli Indonesia, Ki Hajar Dewantara, telah merumuskan gagasannya melalui dua buku tentang ‘Pendidikan’ dan ‘kebudayaan.’  Tetapi warisan pemikiran itu masih jarang dipakai sebagai metodologi dan landasan berpikir dalam pendidikan di Indonesia. Hal ini menunjukan bahwa bangsa Indonesia sebenarnya tidak pernah lepas dari penjajahan. Tentu saja bentuk penjajahan saat ini lebih canggih, bukan bersifat fisik, tetapi berbentuk ideologi dan politik. Politik pendidikan Indonesia hari ini memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan ilmu dan teknologi di kemudian hari.

Dengan sistem pendidikan saat ini, banyak pihak yang terpaksa dikorbankan, mulai dari guru, dosen, mahasiswa, anak-anak, dan masyarakat umum lainnya. Dikotomi tentang ilmu eksakta dan seni, anak pintar dan berbakat, seharusnya tidak perlu ada jika dasar pendidikanya benar. Baik ilmu eksakta maupun ilmu lainnya tidak perlu ada eksklusifitas, semuanya sejajar dan sama sebagai sebuah disiplin ilmu. Bahkan, saat ini paradigmanya semakin berkembang, kajian interdisiplin dan transdisiplin semakin menggeliat digunakan dalam berbagai riset. Pembentukan kurikulum pendidikan tidak lagi berorientasi pada hasil yang “dipaksa baik,” tetapi menekankan pada proses berpikirnya. Seni sangat menghargai proses berpikir, karena tanpa adanya proses mustahil bisa melahirkan karya-karya yang artistik. Sebelum menciptakan sebuah karya seni, para seniman melakukan proses observasi, perenungan, men-sintesis, menganalisa terlebih dahulu; hanya saja proses ini tidak ditulis di atas kertas dan bersifat administratif. Inilah yang mengesankan seni seolah tidak sistematis, karena proses dan tahapan-tahapan itu sangat jarang di munculkan. Bidang seni merupakan satu disiplin yang baik ditawarkan dalam sistem pendidikan di Indonesia, terutama berkaitan dengan fungsinya sebagai metodologi berpikir. Terlebih, jika pemerintah memiliki kemauan untuk merealisasikan pemikiran itu dalam bentuk kelembagaan. Misalnya, dibuat satu divisi khusus yang memberikan akses seni kepada seluruh bidang ilmu pendidikan. Seni bisa diintegrasikan sebagai sebuah metode terapan, model pemikiran, atau proyeksi pada isu-isu baru.

Eksistensi dan kemajuan generasi muda ke depan sangat dipengaruhi oleh sistem pendidikan hari ini. Sekolah seni atau institusi pendidikan seni yang ada di Indonesia saat ini hanya salah satu unsur pendukung dalam mewujudkan cita-cita pendidikan nasional. Sistem pendidikan sebagai fundamen harus dirawat dan diperbaiki ke arah yang lebih baik. Tidak ada rumusan yang secara pasti diterapkan, dipertahankan, dan terus dikembangkan dalam sistem pendidikan. Sehingga seolah-olah sistem pendidikan Indonesia terus mengikuti sirkulasi pergantian menteri di mana jabatannya pun bersifat politis. Hal yang perlu menjadi catatan penting adalah pendidikan formal belangsung di dalam kelas dan sekolah. Pendidikan berlangsung di masyarakat, bukan di parlemen. Atas dasar itulah sebaiknya sistem pendidikan tidak lagi di diregulasi menggunakan sistem command and control, layaknya sebuah barang. Pendidikan tidak perlu lagi tersentralisasi dan diatur penuh oleh pemerintah, tugas utamanya hanya mengawasi iklim pendidikan agar berjalan dengan baik. Pendidikan tidak lagi diatur dan diarahkan secara “ketat” yang selalu berorientasi pada keinginan pemerintah pusat.

Di tengah kondisi pendidikan Indonesia yang terus berkembang, seni dapat memosisikan diri secara dinamis, lebih luwes, dan terinternalisasi secara holistik. Apapun bidang ilmunya, jika menginternalisasikan nilai dan cara berpikir seni, maka akan lebih terarah dan produktif. Sebagaimana sifat seni yang selalu mengembangkan pola pikir kritis dan kreatif, gagasan itu harus dijadikan sebagai landasan yang kuat dalam membangun ‘insfrastruktur pikiran’ dalam konteks pendidikan. Dengan berlandaskan pada pola pikir seni yang artistik, sains tidak lagi berbicara tentang pola pikir singular. Artinya, hanya memikirkan satu persoalan yang fokus pada satu metode. Dalam pola pikir seni cara memandang masalah bersifat kompleks, setiap komponen saling berkaitan. Dengan demikian seni pendidikan tidak lagi memandang persoalan dari satu sisi, tetapi mampu melihat persoalan dalam lanskap yang luas.

Download artikel aslinya (klik di sini)