April 30, 2026
music+climate

Oleh: Riyan Hidayatullah

Perubahan iklim atau ā€˜climate change’ mungkin bukan isu baru yang dibicarakan banyak pihak, terutama berkaitan dengan perubahan lingkungan. Tempat di mana manusia hidup di seluruh muka bumi telah mengalami efek perubahan iklim ini. Beberapa pihak merespons tetapi banyak juga yang apatis terhadap dampak yang terjadi. Padahal efek nyata dari perubahan sangat jelas terasa. Polusi udara, berkurangnya kualitas air, meningkatnya temperatur dan cuaca secara ekstrim, berkurangnya persediaan bahan makanan, dan masih banyak lagi. Segala bentuk kekacauan itu tentu mempengaruhi eksistensi manusia di masa depan, tidak terkecuali dalam hal bermusik.
Seperti sifat seni lainnya, musik juga mampu mengubah cara pandang manusia terhadap dunia yang selalu berubah. Misalnya dengan mengomunikasikan wawsan tentang perubahan iklim dan mengelola emosi. Musik terbukti mampu melakukan langkah-langkah persuasif kepada masyarakat, khususnya dalam memandang perubahan iklim. Walaupun tidak semua orang peduli dengan keadaan lingkungan mereka, tetapi melalui komunikasi yang tepat persepsi orang juga bisa ikut berubah. Jika perubaan iklim adalah sebuah realitas, maka musik seharusnya bisa bertujuan untuk mengamati dan mengubah situasi dengan kritis. Gagasan atau ide-ide tentang lingkungan dapat menjadi isu yang pernting diangkat dalam musik. Musisi dapat membuat karya musik yang mengantarkan pesan musikal yang dalam tentang perubahan iklim. Sama seperti seniman-seniman lain yang bergerak melalui seni instalasi atau karya kontemporer.
Salah satu kekuatan musik ada pada tema, nilai, dan makna yang bia digunakan untuk mempengaruhi emosi. Sehingga cara pandang manusia dapat berubah menuju kehidupan yang lebih baik dalma konteks sosial dan budaya. Kekuatan sebuah lagu dapat mempengaruhi banyak pendengarnya, terutama dalam melihat perubahan iklim. Bahkan, melalui judul dan liriknya saja, banyak pengalaman musikal yang berubah setelah diperdengarkan. Isu tentang perubahan iklim adalah masalah lingkungan yang mendasar dan ancaman bagi peradaban manusia modern. Tindakan kritis tentang isu lingkungan mampu diwujudkan melalui musik, dengan cara mendengarkan dan membuat musik. Setidaknya pergerakan semacam itu dapat mempengaruhi pendengarnya untuk bangkit dan mengambil peran. Sehingga efek domino yang ditimbulkan bisa semakin meluas.
Melalui kolaborasi, kreativitas, dan peningkatan keterampilan musik perubahan iklim bisa sedikit teratasi. Kita tentu mengetahui jika banyak alat musik yang juga terbuat dari alam. Misalnya angklung (Jawa Barat), gamolan pekhing (Lampung), Kendang, Suling, dan lain-lain. Material dasarnya adalah kayu dan bambu yang menuntut terus diperbarui. Keberadaan bahan-bahan tersebut berpengaruh pada kelangsungan musik dan ekonomi para pengrajin. Tanpa tindakan penyadaran yang tepat manusia hanya akan mengonsumsi tanpa berusaha untuk ā€˜mengembalikan’-nya pada alam. Pada akhirnya keseimbangan terganggu dan mempengaruhi ekoistem.
Walaupun sudah banyak musisi (misalnya Joni Mitchell dan Michael Jackson) yang berusaha membuat lagu untuk perubahan iklim, tetapi tidak semuanya terjual dengan angka fantastis. Berbeda dengan tema ā€˜romance’ yang selalu menarik untuk dikonsumsi. Selain lagu, para artis-artis besar juga ikut mengampanyekan perubahan iklim melalui blog dan media sosialnya. Jelas mereka adalah musisi berlabel ā€˜environmentalist’.
Pendidikan musik yang baik adalah membentuk karakter dan emosi seseorang. Sehingga mereka tergerak untuk melakukan hal-hal positif. Orang-orang yang terdidik secara musikal akan terdorong untuk melakukan sesuatu berdasarkan kecerdasan emosional. Kecerdasan ini penting untuk memandang dan menyikapi perubahan sosial dan lingkungan yang terjadi. Wawasan musik harus memberikan dukungan penuh terhadap tindakan postif apapun; termasuk memerangi perubahan iklim. Manusia yang terdidik secara musikal seharusnya mampu memiliki perasaan yang sensitif.
Cuaca sering digunakan sebagai metafora dari emosi. Misalnya matahari yang menggambarkan perasaan senang atau gembira, atau mendung untuk melambangkan perasaan sedih. Banyak karya musik juga diciptakan untuk merespons perubahan iklim atau bencana yang terjadi. Jika perubahan iklim membawa dampat terhadap emosi seseorang, maka musik seharunya dapat menyembuhkan. Emosi dapat dituangkan dalam cara konkret atau gagasan intelektual. Cara konkret bisa dilakukan dengan melakukan berbagai tindakan nyata, sedangkan proses intelektual dilakukan melalui karya musik. Pendengar yang menangkap pesan musikal itu akan mendapatkan gambaran dan tergugah kesadarannya terhadap lingkungan.
Lagu dapat memberikan ketenangan hingga menyembuhkan kondisi mental seseorang. Lagu juga dapat mengajarkan manusia tentang konsep keindahan, mencintai antar sesama, memperkuat ikatan sosial, dan pemahaman multikultural. Di tinjau dariberbagai aspek, musik atau lagu lebih banyak membawa dampak positif. Jika lagu ada sebuah media untuk mempersatukan dan menumbuhkan kesadaran manusia, setidaknya bencana dari perubahan iklim dapat ditanggulangi. JIka tidak ada lingkungan yang nyaman untuk ditinggali, bagaimana manusia bisa mengekspresikan pemikirannya melalui musik.