
Classical Social Theory and Modern Society: Marx, Durkheim, Weber | Amazon
Oleh: Dodi Faedlulloh
Sebagai seorang materialis, Marx menganalisis kondisi masyarakat berdasarkan suatu kondisi material objektif yang terjadi dalam masyarakat. Untuk mengenal kondisi masyarakat perlu melihat bagaimana masyarakat menggorganisir diri dalam berproduksi atau yang Marx sebut sebagai corak produksi (mode of production). Konsep dari corak produksi ini menempati tempat yang sentral dalam teori Marx. Ia adalah dasar dari semua kehidupan sosial dan semua sejarah yang ada.
Rekonstruksi konsepsi corak produksi oleh Royce (2015) dalam buku Classical Theory and Modern Society, dapat kita pelajari sebagai pengantar untuk memahami teori-teori Marx yang lebih luas. Membaca analisis corak produksi juga berguna sebagai landasan untuk memahi tentang teori kapitalisme.
Royce menjelaskan tentang capitalist commodity production dengan memberi pengantar tentang nilai guna dan nilai tukar dari teori Marx. Kelangsungan hidup manusia membutuhkan aktivitas produksi barang tertentu untuk mampu memenuhi kebutuhan. Ketika manusia menanam sumber daya makanan untuk dimakan, menjahit pakaian untuk dipakai, dan menulis buku untuk mendidik dan menghibur. Marx menyebut hal-hal yang berguna ini sebagai “nilai guna”. Di sisi lain, ketika semuanya diproduksi sebagai komoditas, ketika barang ditakdirkan untuk dijual atau ditukar daripada konsumsi pribadi, mereka memperoleh karakter ganda. Barang-barang tersebut tidak hanya memiliki nilai guna; mereka juga adalah pembawa “nilai tukar”. Nilai tukar komoditas mengambil bentuk kesetaraan kuantitatif, proporsi nilai pakai satu jenis diperdagangkan untuk nilai guna jenis lain (Royce, 2015).
Ketika mendiskusikan tentang nilai-guna, Marx mengatakan, setiap benda yang berguna (the usefulness of a thing), pasti memiliki nilai-guna. Namun demikian, kegunaan itu bukanlah sesuatu yang melayang di udara. Kegunaannya ditentukan oleh sifat fisikal komoditi sehingga eksistensinya tidak bisa dipisahkan dari komoditi. Nilai-guna sebagai salah satu aspek dari komoditi, bersesuaian dengan eksistensi fisikal sebuah komoditi. Nilai-guna yang melekat pada sebuah komoditi, membuatnya berbeda dengan komoditi yang lain. Sepasang sepatu memiliki nilai-guna yang berbeda dengan nilai-guna sepasang sandal, meja, kursi, dsb. Di sini, kita berurusan dengan aspek kualitatif sebuah benda. Misalnya, ketika musim hujan, kita lebih membutuhkan payung ketimbang cincin berlian, dan sebaliknya ketika hendak ke pesta, cincin berlian lebih berkualitas ketimbang sebuah payung. Atau sebuah buku teks ilmiah sama bergunanya dengan roman picisan, karena keduanya memuaskan kebutuhan pembacanya. Tapi sayangnya, nilai-guna independen dari kungkungan bentuk ekonomi, karena itu aspek nilai-guna ini tidak mendapatkan perhatian serius dalam studi ekonomi politik (Marx, 2004)
Selanjutnya, bila nilai-guna berurusan dengan kualitas, maka nilai tukar berkaitan dengan soal kuantitas. Misalnya, jika nilai-guna sebuah benda diukur dari kegunaannya dan berakhir dengan konsumsi, maka nilai-tukar diukur dari seberapa bisa benda tersebut dijual dan berakhir dengan pertukaran. Marx (2004) mengatakan, “Nilai-tukar pertama kali muncul sebagai hubungan kuantitatif, proporsi, di mana nilai-guna satu benda dipertukarkan untuk nilai-guna benda lainnya”. Dengan demikian, sepasang sandal memiliki nilai-tukar sejauh ia bisa dipertukarkan dengan benda lain. Semakin banyak jumlah sandal yang bisa dijual, maka nilainya semakin tinggi. Namun, bila kita membeli sebuah motor, tidak dengan sendirinya motor tersebut memiliki nilai-tukar. Jika motor yang kita beli itu hanya digunakan sendiri atau sekadar menghiasi teras rumah kita, maka motor tersebut hanya memiliki nilai-guna, tapi tidak memiliki nilai-tukar. Motor tersebut baru memiliki nilai-tukar ketika kita menjualnya kepada pihak lain. Dari sini, kita bisa mengatakan, nilai-tukar adalah sebuah proses yang tak pernah berhenti. Karena itu, jika nilai-guna eksis dalam semua corak produksi masyarakat, maka nilai-tukar keberadaannya menjadi penanda sebuah corak produksi masyarakat tertentu.
Sebenarnya, proses produksi dan pertukaran komoditas, jelas Royce, ada sebelum kapitalisme. Dalam sistem ekonomi sebelum kapitalisme, satu komoditas dapat ditukar secara langsung dengan komoditas lain. Proses dasarnya yakni satu komoditas (C) dijual dengan uang (M) yang pada gilirannya digunakan untuk membeli komoditas lain (C). Marx menyebut siklus pertukaran ini, CMC, sebagai “sirkulasi sederhana komoditas.” Dengan produksi komoditas kapitalis, rangkaian pertukaran sederhana ini terbalik. Uang digunakan untuk membeli komoditas, yang, setelah dilakukan perombakan ulang, selanjutnya dijual dengan uang lebih banyak lagi: M-C-M ‘. Dengan memperkenalkan kontras antara sirkuit pertukaran komoditi pra-kapitalis, C-M-C, dan sirkuit kapitalis, M-C-M ‘.
Melalui sirkulasi komoditas khas kapitalisme ini, tujuan dari sirkuit pertukaran bertransformasi dari tujuan konsumsi menjadi tujuan untuk profit. Dalam kapitalisme, karena tujuannya optimalisasi profit maka proses sirkulasi tidak berkesudahan, siklus pertukaran terjadi terus-menerus. Karena bila sirkulasi berhenti, maka kapitalisme bisa hancur. Dengan ini, Royce menunjukkan bahwa Marx ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa tujuan perusahaan kapitalis pada dasarnya bukanlah untuk membuat produk yang bermanfaat, melainkan untuk menghasilkan uang. Semua yang dikonsumsi manusia, melalui kapitalisme bertransformasi menjadi komoditas. Apa yang mendorong kapitalis untuk bertindak, bukan pemenuhan kebutuhan manusia tetapi akumulasi kekayaan. Barang diproduksi hanya karena mereka dapat dijual untuk mendapat untung, dan prospek untuk mendapat untung adalah motivasi yang menentukan untuk produksi mereka.
Selanjutnya, Royce menjelaskan aspek penting tentang nilai tenaga kerja. Karl Marx memulai analisis tentang nilai dengan cara mereduksi aspek-aspek nilai menjadi analisis terhadap aspek-aspek kerja. Marx kemudian memilah dua bentuk kerja: kerja konkret dan kerja abstrak. Kerja konkret adalah kerja berguna (useful labour) atau kerja yang menghasilkan nilai pakai suatu barang. Sedangkan kerja abstrak adalah tenaga kerja atau daya kerja manusia terlepas dari realisasinya untuk memproduksi barang dengan kegunaan tertentu. Kerja abstrak, tak seperti kerja konkret, merupakan sebuah produk historis tertentu. Komoditas yang tidak diproduksi untuk memenuhi nilai-pakai melainkan sebagai sarana nilai-tukar mengindikasikan adanya struktur pembagian kerja dalam masyarakat, yaitu saat terjadinya pemisahan antara produsen dan sarana produksi yang muncul dalam relasi kerja-upahan.
Menurut Marx (2004) mengukur besaran nilai adalah dengan jumlah ‘substansi pembentuk nilai’ yang terkandung di dalamnya, yakni kerja. Jumlah kerja ini diukur dengan waktu lamanya kerja, misalnya minggu, hari atau jam. Karena bentuk nilai atau validitas teori nilai-kerja itu sendiri spesifik secara historis, yaitu saat adanya relasi kerja upahan, maka bentuk nilai dan teori nilai-kerja itu tidak berlaku dalam masyarakat sebelum adanya relasi kerja-upahan dan dalam masyarakat yang mana relasi tersebut sudah tidak ada lagi.
Selanjutnya hal yang krusial yang ditulis Royce mengenai asal usul profit dalam kapitalisme. Dalam dua subbab, The Secret of Profit Making dan The Exploitation of Labor, Royce kembali merekonstruksi pemikiran Marx yang cemerlang dalam membedah kapitalisme secara objektif, dan tentunya berdasarkan perspektif kelas pekerja.
Marx menilai profit yang didapat dalam kapitalisme bukanlah berdasar pada proses penjualan komoditas dengan harga lebih tinggi dari nilainya. Marx mengakui bahwa kasus-kasus keuntungan individu melalui pemahatan harga memang terjadi. Tetapi secara umum, ia berpendapat, kapitalis membeli komoditas dengan nilainya, termasuk tenaga kerja komoditas, dan menjual komoditas dengan nilainya. Namun, secara misterius, “dengan semua pesona dari sesuatu yang diciptakan dari ketiadaan,” pada akhir proses kapitalis menerima “nilai lebih dari peredaran daripada yang dilemparkannya ke awal.” Pertukaran komoditas tidak dengan sendirinya, Marx menegaskan, menciptakan nilai. Keuntungan hanya direalisasikan melalui penjualan komoditas di pasar; itu diproduksi dalam proses produksi. Berarti keuntungan tersebut didapat karena ada proses pencurian nilai lebih (surplus value) yang diciptakan pekerja oleh para kapitalis. Dengan kata lain, hanya dengan proses eksploitasi terhadap pekerja, kapitalisme mendapatkan untung. Ada kesetidakbangunan (asimetris) antara nilai yang diciptakan dengan upah yang diberikan oleh kapitalis.
Kapitalis membayar para pekerja kurang dari nilai yang mereka hasilkan dan merau keuntungan untuk diri mereka sendiri. Nilai lebih merupakan perbedaan antara nilai produk ketika dijual dan nilai-nilai elemen-elemen yang digunakan untuk membuat produk tersebut. Kapitalis bisa saja menggunakan keungtungan ini untuk konsumsi pribadi, namun tentunya aktivitas tersebut tidak bisa sebagai ekspansi dari kapitalisme. Kapitalis mengubah nilai lebih tersebut menjadi modal yang akan digunakan untk melebarkan sayarp perusahaan dan menghasilkan nilai lebih yang lebih banyak lagi (Ritzer dan Goodman, 2010).
Selanjutnya dalam Capitalist Contradictions and Crisis Tendencies, Royce menunjukan bahwa Kapitalisme memiliki kontradiksi internal yang dapat mengakibtakan tendensi kehancuran dirinya. Dalam menghadapi persaingan, kapitalis terus-menerus ditekan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Ketika seorang kapitalis memangkas biaya produksi dengan memperkenalkan teknologi hemat tenaga kerja, yang lain terpaksa mengikuti. Tetapi karena mereka bersaing untuk mengungguli satu sama lain dengan meningkatkan metode produksi, hasil yang tidak diinginkan adalah penurunan jangka panjang dalam keseluruhan tingkat laba. Penyebab kecenderungan ini membuktikan sifat merusak diri dari sistem.
Kapitalisme rentan terhadap krisis karena ambisinya yang tak terbatas, kebutuhannya untuk ekspansi yang tak henti-hentinya dan menghasilkan laba tanpa akhir. Keharusan ini tidak dapat dihindarkan lagi bertentangan dengan batasan-batasan yang diberlakukan oleh “kemiskinan dan terbatasnya konsumsi massa.” Kecenderungan krisis kapitalisme dengan demikian menjadi internal dari sistem itu sendiri. Karena kapitalisme memiliki ambisi besar untuk terus menerus mencari profit dan menjalankan sirkulasi kapital, akan ada pada titiknya tercipta over produksi karena barang diproduksi bukan untuk memenuhi kebutuhan riil manusia, melainkan mendapatkan laba. Sedangkan di sisi lain, para pekeraja yang pada dasarnya merupakan konsumen juga atas produk dan barang tersebut, mengalami proses eksploitasi dan upah yang kurang. Akhirnya barang yang diproduksi mangkrak dan kapitalisme mengalami krisis.
Daftar Pustaka
Marx, K. 2004. Kapital Buku I. Jakarta: Hasta Mitra
Ritzer, G, Goodman, D.J. 2010. Teori Sosiologi- Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Bantul: Kreasi Wacana
Royce, E. 2015. Classical Social Theory and Modern Society. Marx, Durkheim, Weber. Londo: Rowman & Littlefield.
Suryajaya, M. 2013. Asal Usul Kekayaan. Yogyakarta: Resist Book.
Leave a Comment