Oleh: Dodi Faedlulloh
Saya membaca kembali karya Kang Arizal, buku Intelektual Kolektif Pierre Bourdieou. Menurut sosiolog Perancis ini, intelektual kolektif merupakan gabungan dari individu-individu yang berbeda yang memiliki berbagai kompetensi dan otoritas. Mencakup budaya, negara, dan perbatasan, jaringan intelektual kolektif ini dicirikan oleh jejaring yang luas. Prinsip utama yang mendasari pentingnya intelektual kolektif terletak pada komitmen untuk menjaga otonomi.
Bourdieu secara aktif mencontohkannya melalui keterlibatannya dengan Centre de Sociologie Eurpeene, sebuah pusat penelitian yang melakukan riset kolaboratif yang melampaui batas disiplin ilmu dan dalam skala internasional. Upaya ini menjadi alternatif untuk melawan dominasi yang meminggirkan hak-hak publik dan otonomi intelektual.
Perjuangan intelektual kolektif mensyaratkan keterlibatan ganda yang melibatkan kajian ilmiah dan advokasi. Dengan demikian memerlukan perpaduan antara kegiatan akademis dan komitmen. Elaborasi Bourdieu yang diulas Arizal menggarisbawahi peran penting yang dimainkan oleh “orang-orang kampus.”
Hal ini menimbulkan tantangan besar dalam konteks Indonesia. Para dosen di kampus kita lebih sering disibukkan dengan tanggung jawab administratif, sehingga tidak ada energi untuk mengaktifkan peran intelektualnya. Aktivitas publikasi ilmiah bukan untuk pengembangan pengetahuan itu sendiri atau medium perjuangan seperti yang ditekannkan oleh Bourdieu, lebih ke orientasi kum dan penggugur kewajiban. Belum lagi soal problem dasar kesejahteraan para dosen.
Di sisi lain, dosen yang sudah mapan secara ekonomi justru lebih banyak bergelut di arena kekuasaan, baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Oleh karena itu, upaya gerakan intelektual kolektif ini perlu diperluas. Intelektual ini bukan hanya “orang-orang kampus.” Siapa pun, yang memiliki kompetensi, kemampuan khusus, dan komitmen yang teguh, dapat mengambil peran intelektual.
Buku terbitan @semutapi_id ini penting dibaca sebagai bahan refleksi sejauh mana peran intelektual kita hari ini. Apakah benar-benar mampu menjadi gerakan ilmiah yang melawan atau justru malah “terjatuh dan tak bisa bangkit lagi” berhadapan dengan dominasi?
Leave a Comment