Beban Kehidupan Dosen

Oleh: Dodi Faedlulloh

Beban kinerja saya semester ini terselamatkan oleh satu publikasi di Desember tahun lalu. Yang mana proses artikel itu terbit memakan waktu cukup lama: satu tahun. Sampai menjelang akhir semester ini, tidak ada satupun artikel saya, baik sebagai penulis utama maupun co-author, yang terbit. Beberapa artikel sedang dalam proses yang saya pun tidak tahu kapan terbitnya, dan bahkan mungkin ditolak.

Dengan logika beban kinerja harus memenuhi semua unsur tri dharma, berarti setiap semester minimal harus ada satu publikasi. Hal ini sebenarnya berpotensi membuat dosen burnout. Saya pernah merasakannya. Di tengah dominasi kerja-kerja administratif, saya sampai stuck menulis.

Untuk dosen dengan jabatan fungsional di bawah lektor kepala, masih ada kesempatan menulis di jurnal non-bereputasi. Jadi, dosen bisa saja hanya menulis untuk sekadar memenuhi kewajiban. Tapi, tentu tujuan akademik bukan sekadar menumpuk tulisan-tulisan ala kadarnya, kan? Namun di sisi lain, meneliti dan menulis serius serta berkualitas hingga terbit minimal satu artikel dalam satu semester itu hal yang sulit, kalau tidak mau dibilang irasional.

Belum lagi aturan tentang penelitian dan luaran publikasi harus dikerjakan dalam tahun yang sama agar selaras dengan anggaran tahun. Ditambah lagi, tidak boleh ada komponen honor penelitian. Hal ini bagi saya tidak masuk akal, tapi sering kali tetap dilakukan oleh dosen-dosen di Indonesia.

Ya begitulah. Selamat mengisi BKD, “Beban Kehidupan Dosen”

Leave a Comment