Tentang Lamunan Pengelola Jurnal

Oleh: Dodi Faedlulloh

Sebelum saya resmi mengabdi di Universitas Lampung, jurusan sudah meminta saya untuk membantu mengelola jurnal elektronik. Tentu, saya sanggupi saja. Sayangnya, saat pertama kali “ngoprek” jurnal, tidak ada yang mendampingi. Akhirnya saya belajar otodidak melalui video tutorial pengelelolaan Open Journal System (OJS) di laman youtube. Sedikit demi sedikit saya mulai paham tentang mengelola sirkulasi artikel yang masuk, tahap-tahapan review, copyediting,  produksi sampai  publish.

Saya cukup punya pengalaman dalam menulis artikel jurnal saat masih bekerja di salah satu kampus swasta, hal itu yang menjadi dasar bagi saya sebagai staf redaksi untuk menjaga mutu kualitas tulisan yang masuk dan menjadi layak publish. Sebagai jurnal yang saat itu belum terakreditasi, mencari artikel adalah tugas tambahan yang melekat sebagai redaksi pemula.

Singkat cerita, saya coba ajukan Administratio, jurnal milik jurusan untuk dinilai/diakreditasi melalui Arjuna. Akhirnya mendapat akreditasi Sinta 4. Sebuah kebangaan tersendiri bagi saya karena bisa mengantar jurnal yang dikelola meraih apresiasi dan akreditasi.

Setidaknya, saat itu di lingkungan fakultas baru jurnal Administratio dan Metakom, yang dikelola kolega saya Yuda, yang mendapatkan akreditasi. Oh iya, selain Administratio, saya juga akhirnya mengelola Jurnal Administrativa, jurnal yang dikhususkan sebagai publikasi bagi mahasiswa.

Soal menjadi single fighter dan reward yang belum optimal, saya sudah sangat siap menerimanya. Makanya, saya banyak bekerja (agak sedikit moralis) atas dasar ikhlas. Yang penting jurnal bisa terbit tepat waktu, kualitas artikel terjaga, dan bisa membantu memperluas pengetahuan. Siapa tahu bisa jadi bagian dari amal ibadah lewat jalur pengelola jurnal. Tapi ternyata seiring berjalan, kekuatan ikhlas tidak mencukupi untuk menjadi pengelola jurnal. Motivasi saya megang jurnal sering naik turun gara-gara problem yang tidak saya kuasai: Infomation and technology (IT).

Saya hitung sudah beberapa kali, OJS terganggu. Hampir setiap tahun selalu saja ada kejadian. Tahun 2019 sempat ada gangguan, ada bugs yang saya tidak mengerti. Sempat lama menggangu proses keredaksian. Tahun 2020 pun juga sama. Jurnal sempat tidak bisa diakses, untung saja masih bisa diselamatkan oleh seorang alumni yang pernah diminta bantuan jurusan untuk mengelola jurnal.

Titik terendah demotivasi dan demoralisasi sebagai pengelola jurnal saya di pertengahan 2021. Kedua jurnal, Administratio dan Administrativa, tidak bisa bisa diakses. Dugaan ada pihak iseng yang sampai sekarang tidak tahu orangnya. Padahal saat itu, Administrativa sedang proses review akreditasi Arjuna. Hasilnya tentu pasti gampang ditebak: akreditasi ditolak karena jurnal tidak bisa diakses.

Kedua jurnal akhirnya bisa pulih, namun memakan waktu yang sangat lama. Administratio pulih dalam jangka dua bulan, sedangkan Administrativa memakan waktu delapan bulan lebih. Yup, anda sedang tidak salah baca. Delapan bulan jurnal tidak bisa diakses.

Ketika dua jurnal kembali pulih, semangat saya kembali naik. Atas izin dari Ketua Jurusan dan Ketua Laboratorium, Saya langsung inisiatif melakukan upgarede sistem OJS dan mengaplikasikan theme baru lewat bantuan pihak ketiga untuk jurnal Administratio agar lebih fresh karena target reakreditasi ke depan bisa naik menjadi Sinta 3, syukur-syukur bisa Sinta 2.

Tapi apa daya, baru saja sehari menikmati tampilan website yang jauh lebih segar, home operasi journal management yang lebih manusiawi, kebahagiaan langsung pupus. Website jurnal Administratio tidak bisa beroperasi karena ada ketidaksengajaan dari seseorang, pihak yang dipercaya bertanggungjawab memegang IT fakultas nimpa file-file yang ada dalam Cpanel Administratio.

Entahlah, saya sedang merasa dalam posisi motivasi di titik yang jauh lebih rendah dibanding kejadian tahun lalu. Saya cukup lelah berurusan dengan perkara IT, yang idealnya, sudah menjadi sistem inheren yang menunjang pengelolaan jurnal.

Kalau sedang melamun, kadang saya membayangkan bila di fakultas sebagai unit kerja yang dipercaya memegang IT secara desentralisasi ini didukung oleh infrastruktur digital yang baik, sumber daya manusia yang cakap dan fokus (bukan sambilan) agar bisa responsif dan cepat tanggap bila ada keluhan, mungkin para pengelola jurnal yang sebenarnya tidak banyak ini bisa lebih giat. Pengelola bisa fokus menjaga mutu artikel dan aktivitas lain yang menunjang pengelolaan jurnal agar lebih profesional. Kalau jurnal-jurnal di FISIP ini bisa terakreditasi, tentu yang bangga adalah para civitas yang ada di dalamnya, bukan?

Melamun adalah hak. Apa yang ditulis di atas adalah sedikit lamunan saya sebagai pengelola jurnal. Tapi, kalau melamun terus, ya kapan bisa lanjut bergerak mengurus jurnalnya?

*) Tulisan dibuat sekitar pertengahan tahun 2022. Pertengahan 2023 problem IT jurnal di lingkungan FISIP Unila kumat lagi.

Leave a Comment