Membedah Il Principle Niccolo Machiavelli: Menuju Diktator atau Realis?

Oleh: Dodi Faedlulloh

Niccolo Machiavelli adalah sosok pemikir politik yang sangat berpengaruh, bahkan oleh Michael H, Hart dimasukkan dalam deretan 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Salah satu karyanya yang paling tersohor dan sering menjadi rujukan dalam membicarakan seni berpolitik adalah “Il Principle”. Dengan tegas, Hart menyebut buku yang ditulis Machiavelli ini sebagai buku pedoman untuk para diktator. Dalam bahasa politik keseharian, ada istilah Machiavellis bagi orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan.

Machiavelli lahir di Florence, Italia pada tahun 1469. Saat itu Italia masih terbagi ke dalam negara-negara kecil yang terpecah-pecah. Secara kebudayaan saat itu yang bertepatan pada konteks puncak renaissance, mereka begitu terdepan. Akan tetapi secara militer begitu lemah.

Florence saat itu diperintah oleh Lorenzo Agung dari keluarga Medici yang tersohor. Tahun 1492, Lorenzo meninggal dunia dan menyebabkan keluarga Medici pada beberapa tahun kemudian diusir dari takhata Florence. Kemudian Florence berubah menjadi republik. Pada saat itulah, Machiavelli mengabdikan diri pada pemerintahan Republik Florence.

Pada tahun 1512, keluarga Medici kembali ke atas takhta. Pemerintahan digulingkan dan kemudian Machiavelli sempat dipecat, ditahan dan disiksa karean dituduh berkomplot melawan penguasa Medici. Kareanya bersikeras dirinya tidak bersalah dan dia mampu meyakinkan pemerintahan Medici, Machiavelli pun dibebaskan. Buku Il Principle ini ditulis pada tahun 1513 dan dipersembahkan bagi kelaurga Medici yang berkuasa.

Dalam perbincangan politik sampai situasi kontemporer, karya Machiavelli ini masih banyak dibicarakan. Gagasannya morobohkan narasi political-corectness yang kembali ramai dibicarakan sekarang ini. Il Princple adalah karya yang paling diingat karenay isinya dinilai melegalkan segala tipu muslihat, kelicikan, dusta serta kekejaman dalam upaya menggapai kekuasaan.

Pada kesempatan ini, penulis mencoba kembali mendalam teks dari Machiavelli ini untuk melakukan refleksi kritis. Melakukan review atas poin-poin penting dari gagasan yang termuat dalam Il Principle yang tidak menafikan pada sisi konteks.

Il Principle dibuat berdasarkan observasi Machiavelli pada pola manajemen kekuasaan yang dijalankan Cesare Borgia, putra sulung dari Alexander VI dengan Vannoza de Careneis. Borgia begitu lihai dalam menggunakan kedudukan ayahnya yang kemudian menjadi Paus. Machiavelli menulis Il Principle dengan harapan ia kelak akan mendapatkan kesempatan kembali untuk duduk di kursi kekuasaan di Florenze.

Dalam gambaran umum yang mengemuka tentang Il Principle adalah seorang pemimpin ideal adalah pemimpin yang mampu mengabaikan moral dan mengandalkan segala sesuatu dengan kekuatan serta kelicikan. Tapi dalam membaca Il Princple ini, kita tidak bisa turut serta langsung menghakimi karya Machiavelli ini sebagai suatu hal yang buruk.  Perlu diingat, Machiavelli merupakan sosok pemikir yang hidup di masa puncak pemikiran humanis renaissance. Konteks tersebut tentu berdampak pula pada pemikiran Machiavelli. Oleh sebab itu, ada yang menyebut Machiavelli justru adalah seorang realis (Hardiman, 2001). Sebutan ini diberikan karena pemikiran Machiavelli adalah upaya mengkonseptualisasikan pemikiran filsafat politiknya secara realistis, alih-alih bertolak pada pengandaian yang bersadar pada ide yang abstrak atau bahkan metafisik.  Karakter modernitas tersingkap dalam pemikiran Machiavelli. Oleh karena itu, menaggalkan moralitas dan teologi yang dianjurkan Machiavelli perlu dibaca ulang dalam koridor modernitas.

Begitulah Machiavelli, dikutuk banyak orang sebagai sosok yang bajingan yang tidak memiliki moral dan hati nurani, namun juga dipuja sebagai sosok realis yang berani menjelaskan keadaan dunia apa adanya. Hal yang saat-saat ini begitu jarang terlihat dari laku politikus kita di Indonesia. Kesucian kerap menjadi topeng di balik amoral dan ketidak-shalehan perilaku politik mereka.

Menengok Pemikiran Machiavelli Melalui Il Principle

Il Principle merupakan nasihat praktik terpenting bagi seorang kepada negara. Pikiran dasar dari buku ini adalah, untuk mencapai suatu keberhasilan, sang panggeran harus mengabaikan pertimbangan moral dan mengandalkan segala seuatunya atas kekuatan dan kelicikan. Machiavelli menekankan di atas segala-galanya yang terpenting adalah suatu negara mesti dipersenjatai dengan baik. Dia berpendapat, hanya dengan tentara yang diwajibkan dari warga negara itu sendiri yang bisa dipercaya; negara yang bergantung pada tentara bayaran atau tentara dari negeri lain adalah lemah dan berbahaya.

Dalam menulis Il Princple, Machiavelli banyak mengambil contoh kehebatan-kehebatan taktik politik yang pernah terjadi di zaman lampau, atau dari kejadian di Italia yang masih bisa diobservasi oleh Machiavelli.

Dalam pembahasan awal buku ini, Machiavelli menjelaskan jenis-jenis pemerintahan dan bagaimana mereka dibentuk. Negara kerajaan dikonstruk berlandaskan pada warisan dari keluarga pendahulu, namun ada juga pemerintahan yang dibentuk berdasarkan anggota-anggota baru yang menyusup dalam kerajaan yang kemudian mengambil alih kekuasaan. Dalam bab selanjutnya, Machiavelli menjelaskan negara kerajaan dipertahankan berdasarkan keturunan. Seorang Panggeran yang berjiwa pekerja keras lebih mudah mempertahankan kekuasaannya dibandingkan dengan kekuasaan dari penguasa baru.

Bab selanjutnya, dalam Kerajaan-Kerajaan Campuran, Machiavelli menulis semua negara yang digabungkan mungkin akan melahirkan nasionalisme dan bahasa yang sama. Apabila mereka memilliki nasionalisme dan bahasa yang sama, maka mereka akan mudah dikendalikan. Dengan demikian, tidak perlu melakukan perubahan pada habitus lama mereka dan tidak ada pencampuran dalam tradisi mereka

Kerajaan baru yang berhasil diduduki akan menemui kesulitan-kesulitan di depan matanya. Ekspetasi masyarakat untuk mendapatkan hidup yang lebih baik terlampau besar sehingga mereka secara sukarela mengganti pemimpin mereka yang terdahulu. Secara historis, harapan tersebut seringkali tidak berujung pada realitas. Kondisi tidak berkunjung baik, bahkan malah berdampak buruk bagi masyarakat. Hal ini terjadi karena faktor yang alami, yaitu bahaya yang tidak dapat terhindarkan yang disebabkan oleh sang panggeran terhadap dominion-dominion yang mana sang panggeran berkuasa. Hal ini pun juga terjadi disebabkan oleh pasukan-pasukan sang panggeran dan korban-korban yang diakibatkan oleh penduduknya. Di sisi lain, kesulitan untuk menjalin persahabatan dengan musuh-musuh yang telah diduduki juga menambah persoalan. Bantuan mereka tidak bisa diharapkan. Oleh sebab itu, pusat bantuan untuk mempertahankan kekuasaan berada di negeri jajahan. Cara yang perlu dilakukan untuk menghindari kebangkitan dominion terdahulu adalah melalui pemusnahan semua keluarga para panggeran yang sebelumnya memerintah.

Mempetahankan kekuasaan di negara yang baru diduduki adalah langkah yang tidak mudah. Akan tetapi dengan strategi pemerintahan dan politik yang baik dari sang panggeran, hal tersebut tidak akan menjadi masalah besar. Yang contohkan Machiavelli adalah Kerajaan Darius yang diduduki oleh Alexander Agung yang telah menguasai Asia dalam beberapa tahun, dan hampir tidak ada pihak yang dapat menggantikan kedudukannya ketiak dia meninggal dunia. Mengapa Kerajaan Darius yang diduduki Alexander Agung tidak memberontak setelah kematiannya? Penerusnya mempertahankan posisi mereka relatif tanpa kesilitan berarti. Strategi kekuasaan yang berdasarkan boron-boron yang ditempatkan di daerah-daerah yang memiliki pembantu-pembantu sendiri terbukti dapat meredam dan mencegah segala pemberontakan. Daerah-daerah yang telah dikuasai telah terbiasa hidup dengan undang-undang mereka, ada tiga cara untuk mempertahankannya. Pertama dengan merampas hak milik mereka. Kedua, meneap di sana dan ketiga memperbolehkan mereka untuk hidup dengan undang-undang mereka sendiri. Bagi Machiavelli, metode tersebut tidak benar-benar menjamin bisa mempertahankan sebuah daerah yang telah berhasil diduduki, selain dengan langkah absolut, versi Machiavelli tentunya, yaitu dengan menghancurkan daerah tersebut. Hal ini wajib dilakukan karena motif untuk memberontak akan selalu tersimpan dalam diri penduduk pribumi. Jadi sebelum motif tersebut keluar, maka langkah konkret yang dijalankan adalah dengan menghancurkannya.

Setelah pendudukan, lahir dominion-dominion baru sebagai dampak dari distribusi kekuasaan dari pemerintah pusat ke daerah-daerah yang lebih kecil. Seperti halnya yang terjadi di banyak daerah di Yunani, kota-kota kecil seperti Ionia dan Helspont juga dipilih sang penguasa baru oleh Darius untk mempertahankan kekuasaan. Kekuasaan tersebut dapat dipertahankan atas dasar kekuatan yang berpengaruh dalam kehidupan sosial: seperti keturunan maupun materi. Inilah kekuasaan yang diperoleh atas keberuntungan. Dalam bahasa yang lebih kontemporer, inilah previllage. Sang panggeran dipilih dan dianggakat karena faktor harta, oleh karena itu dia mampu mengkondisikan para pasukannya untuk senantiasa setia kepadanya. Namun negara juga bisa jauh lebih stabil bila dipimpin  oleh panggeran yang jenius karena memiliki kapasitas dan kemampuan yang relevan dengan kekuasaan politik.

Selain melalui keberuntungan dan kemampuan, ada langkah lain dalam memperoleh kekuasaan, yakni dengan cara yang licik dan penuh tipu daya. Hal yang Machiavelli contohkan adalah Agathocles dari Sicilian yang berhasil menjadi panggeran karena tipu muslihat dan kelicikan yang dia pelajari saat ikut serta dalam dunia militer. Padahal Agathocles adalah warga sipil biasa, seorang anak pembuat barang tembikar. Selain itul, ada juga kekuasaan yang diperoleh atas bantuan dari teman-teman seperjuangan. Kekuasaan ini disebut sebagai kerajaan sipil.

Bentuk kerajaan terakhit yang dijelaskan Machiavelli adalah kerajaan kegerejaan. Tentunya kerajaan ini merupakan kekuasaan hasil dari keberuntungan dan kemampuan dari sang panggeran. Kerajaan ini dipertahankan dengan tradisi keagamaan kuno yang sangat kuat dan memiliki kualias sehingga masyarakat memberikan kekuasaan kepada panggeran mereka dalam segala aspek kehidupan.

Setelah jenis-jenis kerajaan yang telah dijelaskan Machiavelli, ada hal pokok yang penting dalam substansi pemikiran Machiavelli dalam Il Principle adalah tentang merebut dan mempetahankan kekuasaan.  Dalam kesempatan ini, penulis tidak akan menjelaskan secara kronologis dari bab per bab, namun pada poin yang penulis anggap penting.

Machiavelli memberikan nasihat penting kepada sang pangeran agar dapat dukungan penduduk, karena kalau tidak, dia tidak punya sumber menghadapi kesulitan. Tentu, Machiavelli maklum bahwa kadangkala seorang penguasa baru, seperti yang telah diulas sebelumnya untuk memperkokoh kekuasaan, harus berbuat sesuatu untuk mengamankan kekuasaannya, terpaksa berbuat yang tidak menyenangkan warganya. Machiavelli mengusulkan untuk merebut sesuatu negara, si penakluk mesti mengatur langkah kekejaman sekaligus sehingga tidak perlu mereka alami tiap hari kelonggaran harus diberikan sedikit demi sedikit sehingga mereka bisa merasa senang.

Untuk menggapai kesuksesan, sang panggeran wajib dikelilingi para menteri yang mampu dan setia: Machiavelli memperingatkan Pangeran agar menjauhkan diri dari penjilat dan minta pendapat apa yang laik dilakukan. Dalam menjalankan kekuasaan, sang panggeran memerlukan beberapa pembantu yang setia untuk mengabdi kepadanya. Oleh karena itu pemilihan para menteri adalah hal yang sangat penting. Kita dapat menganggap bahwa sang penguasa adalah seorang yang bijaksana karena dia dapat mengenali kemampuan mereka dan mampu membuat mereka tetap setia kepadanya. Namun apabila mereka adalah  kebalikan dari yang sebelumnya, kita dapat menilai buruk akan penguasa tersebut karena kesalahan pertama yang dilakukannnya adalah dengan melakukan pilihan ini. Di damping itu seorang pemimpin tidak selayaknya memiliki ego yang besar. Penguasa harus meminta nasehat dan saran-saran dar para pembantunya.

Loncat ke Bab Kekejaman dan Klemensi, Serta Mana yang Lebih Baik: Dicintai atau Ditakuti. Dalam bagian ini, Machiavelli mendiskusikan apakah sang  pangeran itu lebih baik dibenci atau dicintai. Dalam konteks ini, Machiavelli menjelaskan secara tegas, “… Jawabnya ialah orang selayaknya bisa ditakuti dan dicintai sekaligus. Tetapi … lebih aman ditakuti daripada dicintai, apabila kita harus pilih salah satu. Sebabnya, cinta itu diikat oleh kewajiban yang membuat seseorang mementingkan dirinya sendiri, dan ikatan itu akan putus apabila berhadapan dengan kepentingannya. Tetapi … takut didorong oleh kecemasan kena hukuman, tidak pernah meleset …”. Bagi Machiavelli, manusia tidak segan untuk lebih membela orang yang mereka takuti dibanding yang mereka cintai.  Sang Pangeran haruslah menjadikan dirinya ditakuti dengan cara dimana apabila dia tidak dicintai maka dia tidak boleh dibenci, karena rasa takut dan kebencian dapat berjalan bersamaan.

Selanjutnya pada Bab Bagaimana Para Panggeran dapat Mempercayai Seseorang, Machiavelli menegaskan bahwa sang penguasa yang cermat tidak harus memegang kepercayaannya jika pekerjaan itu berlawanan dengan kepentingannya karena pada dasarnya tidak ada dasar resmi yang menyalahkan seorang Pangeran yang minta maaf karena dia tidak memenuhi janjinya. Bagi Machiavelli manusia itu begitu sederhana dan mudah mematuhi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukannya saat itu, dan bahwa seorang yang menipu selalu akan menemukan orang yang mengijinkan dirinya ditipu. Dari pandangan itu, Machiavelli memberikan nasihat pada sang pangeran supaya senantiasa waspada terhadap janji-janji orang lain. Inilah bentuk realis dari politik yang diusung Machiavelli. Seringkali dalam politik, yang mempertemukan para politisi dan menjadikan mereka sebagai koalisi adalah adanya janji yang menemukan titik temu. Namun janji tersebut retak dalam perjalanannya karena ada pihak tertentu yang membatalkan janjinya. Oleh karena itu sang panggeran harus selalu dalam posisi terus waspada dengan siapa pun. Pemikiran inilah yang seringkali mengantarkan gagasan Machiavelli sebagai pedoman pada diktator. Padahal dalam pelbagai tulisannya yang lain, Machiavelli menunjukkan bahwa secara umum ia lebih sepakat dengan pemerintahan republik, alih-alih diktator. Apa yang telah ia tulis melalui Il Principle merupakan kecemasan yang ia rasa atas lemahnya politik dan militer Italia saat itu. Oleh karenanya, Machiavelli merindukan sosoka sang panggeran yang kuat yang mampu mengatur negeri dan menghalau tentara-tentara asing yang dapat merusak negerinya. Hal lain yang perlu dicatat, Machiavelli bukanlah seorang Machiavellis, karena dirinya tidak begitu mampu mempraktikkan sendiri apa yang ia tulis.

Pandangan Machiavelli terhadap pemimpin dan negara tidak bisa dilepaskan dari paradigam berpikir Machiavelli yang sekuler dalam politik dan sikap kritis terhadap moralitas. Oleh karena itu, pemikirannya tentang negara layak diapresiasi, karena Machiavelli merupakan sosok pelopor dalam membangun konsep negara yang modern. Negara, bagi Machiavelli, adalah konsep yang bersifat impersonal, dengan kata lain negara bukanlah pribadi. Negara menjadi entitas yang dimiliki oleh publik. Selain bersifat demikian, Machiavelli mengkonseptualisasikan lebih lanjut bahwa negara adalah sebuah bentuk yang terbatasi dalam suatu teritori dan memiliki kekuasaan yang koersif.

Di sisi lain, ada kontribusi konkret dari pemikiran Machiavelli melalui karya Il Principle. Pertama, Machiavelli telah meletakkan suatu studi yang moderen mengenai politik dan negara. Machiavelli berhasil memoderenisasikan seluruh pemahaman klasik tentang politik dan negara. Kedua, Machiavelli telah menjadi salah satu peletak analisa strukturalis dalam memahami peta sosial dan politik dalam suatu masyarakat atau negara (Manulang, 2010).

Refleksi: Adakah Hikmah yang Dapat Peroleh?

Machiavelli memperbincangkan sejarah dan politik sepenuhnya dalam kaitan manusiawi dan mengabaikan pertimbangan-pertimbangan moral. Masalah sentral, dia bilang, adalah bukan bagaimana rakyat harus bertingkah laku; bukannya siapa yang mesti berkuasa, tetapi bagaimana sesungguhnya orang bisa peroleh kekuasaan. Teori politik ini diperbincangkan sekarang dalam cara yang lebih realisitis daripada sebelumnya tanpa mengecilkan arti penting pengaruh Machiavelli.

Hikmah, kalau boleh kita menyebutnya demikian, dari mambaca Il Priciple yang paling sederhana adalah memberikan kita sebuah pengetahuan penting. Hal positif secara umum yang sering diulas dalam banyak kajian adalah, melalui pemikiran Machiavelli, kita menjadi tahu bagaimana cara berpikir dan cara kerja seorang diktator. Kita menjadi paham dengan logika yang mereka gunakan untuk mempertahankan kekuasaan. Dengan demikian kita menjadi waspada dan juga semakin paham bagaimana mencegah agar  kehidupan kita tidak jatuh pada pemerintahan diktator. Namun pembacaan tersebut bagi penulis terlalu normatif, dan bahkan terjebak dalam alur political-correctness. Oleh karena itu, alih-alih menjelaskan dampak negatif, penulis mencoba lebih melihat apa yang positif secara inheren dalam pemikiran Machiavelli. Dalam hal ini penulis sepakat dengan rekonstruksi pemikiran Machiavelli yang ditulis oleh Manullang (2010).

Machiavelli menjelaskan bahwa dalam diri setiap manusia terdapat kepentingan-kepentingan yang tidak rasional. Oleh karena itu mereka kerap terombang-ambing dalam emosi. Dengan berbagai sumber daya kuasanya, sang panggeran sesungguhnya bisa membentuk opini umum masyarakatnya, bila  penguasa memahami bagaimana caranya memobilisasi emosi dari tiap-tiap orang, agar senantiasa kekuasaannya makin kokoh. Dalam konteks seperti itulah, seorang penguasa harus memperhatikan bahwa alasan-alasan moral itu tidak diperlukan apabila kekuasaannya dapat langgeng (Manullang, 2010).

Penguasa kadang seolah-olah menjadi moralistis, tapi pada ujungnya, semua yang dilakukan harus demi kekuasaannya. Machiavelli mengatakan bila kekuasaan seorang penguasa itu ingin langgeng, maka pilihannya bukanlah hukum karena hukum dianggap sebagai hal yang bersifat moralistis, karena ia memberikan sanksi atas setiap pelanggaran, tapi ia tidak tentu menjamin bahwa kekuasaan si penguasa dalam suatu negara akan tetap langgeng. Oleh sebab itu, yang diusulkan  Machiavelli adalah berbagai cara untuk menjaga kekuasaan; dari pembatalan sepihak terhadap suatu perjanjian yang telah disepakati dengan penguasa lain, memihak kepada kekuatan yang lebih kuat dalam perang, agar mendapatkan pampasan perang yang lebih besar, hingga menyingkirkan orang-orang yang cerdik dari lingkaran kekuasaannya (Tarlton dalam Manullang, 2010) dan menempatkan orang-orang yang patuh.

Kekuasaan harus dipandang dalam kerangka dan tujuan yang nyata; bagaimana menguasai dan merawat kekuasaan selanggeng mungkin. Jadi semua konsep tentang otoritas atau hak-hak kepenguasaan tidak dianggap sebagai sebuah efek yang positif, jikalau itu tidak berujung pada pelanggengan kekuasaan. Maka itu, apa saja yang bernuansa moral, itu dianggap tidak penting oleh Machiavelli, apalagi nuansa itu tidak memberikan keuntungan politik apapun bagi si penguasa. Ringkasnya, apa yang disampaikan oleh Machiavelli itu adalah sebuah traktat politik yang bersifat praktis, yang mana substansinya tidak berisikan tentang apa yang benar atau salah dari segi moral, namun berupa anjuran-anjuran praktis yang perlu diketahui oleh setiap penguasa untuk menjaga dan merawat kekuasaannya (Thayer dalam Manullang, 2010).

Eksplanasi di atas, menjadi penting untuk kembali memerhatikan konteks historis dalam jangkar pemikiran Machiavelli. Apa yang disampaikan oleh Machiavelli telah melampaui zamannya, dan dianggap sebagai hal yang baru bagi kebanyakan orang sebuah proyek filsafat politik yang telah melepaskan dirinya dari motif teologis dan moral (Althusser,1999). Oleh sebab itu, apa yang Machiavelli sampaikan itu berkesan sebagai sebuah perlawanan yang didorong oleh motif karena berbeda sama sekali dengan kelaziman gagasan politik pada masa itu. Padahal, sekali lagi, Machiavelli ingin mengajak kita untuk lebih realistis dalam memandang politik; tidak terjebak pada hal-hal yang irasional dalam politik.

Dalam pandangan Machiavelli, politik tidak lagi datang dari wahyu yang berasal dari langit. Politik seperti itu telah berakhir. Baginya, politik adalah sebuah realitas. Itulah refleksi filosofis yang ia tawarkan. Oleh sebab itu, menuduh pemikiran Machiavelli sebagai biang keladi kebejatan moral dalam politik adalah penjelasan yang ahistoris yang harus ditinjau kembali, mengingat seluruh tudingan itu kurang dibangun di atas dasar refleksi filosofis yang komprehensif. Dengan penjelasan ini, maka kita bisa merevisi pernyataan Michael Hart tentang Il Principle, menjadi “buku pedoman untuk para realis.” [*]

Daftar Pustaka

Althusser,L. 1999. Machiavelli an Us. London: Verso

Hardiman, F. B. 2001. Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramdeia Pustaka Utama

Machiavelli, N. 2008. Il Principle (Sang Panggeran) (Alih Bahasa Dwi Eksari). Yogyakrta: Penerbit Narasi.

Manullang, E. F. M. 2010. Nicollo Machiavelli: Sang Bells Politik? Suatu Refleksi dan Kritik Filosofis Terhadap Gagasan Politik Machiavelli dalam II Principe. Jurnal Hukum dan Pembangunan 40 (4).