Komoditas perkebunan merupakan salah satu pilar penting penopang perokonomian Indonesia. Pada acara pembukaan Expo Nasional Perkebunan RI 2013 yang bertema “Perkebunan Sebagai Pilar Strategis Green Economy Indonesia”, Menteri Pertanian RI melaporkan bahwa nilai surplus perdagangan untuk sektor perkebunan pada tahun 2012 mencapai US $ 24 milyar. Serangka dengan ini, Pemerintah RI telah menyusun program pembangunan pertanian yang diarahkan kepada kegiatan revitalisasi perkebunan, swasembada gula nasional, penyediaan bahan tanaman sumber bahan bakar nabati, pengembangan komoditas ekspor, pengembangan komoditas pemenuhan konsumsi dalam negeri, serta dukungan pengembangan tanaman perkebunan berkelanjutan. Kementerian Pertanian juga memprediksi bahwa bisnis dalam sektor perkebunan akan semakin menarik pada tahun-tahun mendatang. Masuknya berbagai perusahaan nasional sebagai investor dan pelaku bisnis menjadi salah satu pendorong munculnya gairah usaha perkebunan. Di sisi lain, beberapa produk perkebunan Indonesia seperti kakao, kopi, karet, kelapa sawit, lada, vanili, kopra, minyak atsiri dan jambu mete, dinilai memiliki keunggulan komparatif di pasar internasional sehingga peluang produk Indonesia terbuka lebar (Simanjuntak, 2013).
Sesuai dengan potensi alam Indonesia, dalam jangka panjang komoditas perkebunan diprediksi tetap menjadi komoditas andalan dan merupakan pilar penting perekonomian Indonesia dalam sektor pertanian, terutama untuk komoditas kelapa sawit, karet, dan kakao. Hasil analisis Outlook Pertanian 2010-2025 menyimpulkan bahwa dalam kurun waktu 2014-2025 komoditas perkebunan masih akan mengalami pertumbuhan luas areal sebesar 0,04-10,74% dan pertumbuhan produksi sebesar hingga 9,05% selama 11 tahun (Tabel 1) (Hadi et al., 2011). Sementara itu, total surplus perdagangan komoditas perkebunan pada tahun 2025 diproyeksikan bisa mencapai US $ 111,7 milyar atau surplus 99,3%. Nilai surplus terbesar diprediksi akan terjadi pada komoditas kelapa sawit, diikuti oleh karet dan kakao (Tabel 2) (Hadi et al., 2011). Dengan semakin meningkatnya pertumbuhan industri modern seperti otomotif, peralatan kesehatan, dan peralatan rumah tangga, diperkirakan permintaan karet pada pasar internasional juga akan semakin tinggi. Kondisi ini sangat menguntungkan Indonesia yang merupakan produsen karet terbesar kedua di dunia setelah Thailand dengan potensi areal sekitar 3,4 juta ha dan produksi mencapai 2,9 juta ton atau 27,8% dari produksi dunia (data tahun 2008) (Fadjar, 2013).
Tabel 1. Proyeksi luas areal dan produksi komoditas tanaman perkebunan, 2014-2025 (Sumber: Hadi et al., 2011).
|
Komoditas |
Luas Areal |
Produksi |
||
|
Laju 2014 – 2025 (%/thn) |
Luas 2025 (ha) |
Laju 2014 – 2025 (%/thn) |
Produksi 2025 (ton) |
|
| Klp sawitKelapaKakaoKaret
Kopi Tebu Cengkeh Lada Tembakau Teh Kapas Panili Jb. mete |
5,01 0,31 5,37 0,29 -0,81 2,28 1,32 0,81 -0,23 -3,38 10,74 -0,45 0,04 |
17.155.619 3.992.029 3.723.523 3.598.649 1.122.411 613.052 574.095 210.736 187.312 86.797 75.970 25.453 1.026 |
5,49 0,20 3,85 0,83 -0,54 2,59 1,63 0,56 -0,18 -1,11 9,05 -0,32 0,02 |
61.198.230 3.360.121 1.520.743 3.052.245 631.333 4.229.695 147.942 91.658 118.836 123.317 16.192 2.916 145.383 |
Tabel 2. Proyeksi nilai ekspor, impor, dan neraca perdagangan komoditas perkebunan Indonesia 2014-2025 (Sumber: Hadi et al., 2011).
| Komoditas |
Ekspor 2014-2025 |
Impor |
Neraca |
|||
|
Laju (%/th) |
Nilai 2025 (US$’000) |
Laju (%/th) |
Nilai (US$’000) |
Nilai (US$’000) |
% |
|
| K.SawitKaretKakaoKopiKelapa
Lada Tebu Teh J. Mete Cengkeh Panili Tembakau |
261,8 33,2 115.3 -15,9 16,5 10,9 226,2 -19,5 0,3 18,2 -3,2 – 3,1 |
100.320.840 5.608.291 4.406.946 641.402 523.066 163.390 460.630 127.802 82.893 7.456 4.849 164.354 |
-37,2 -5,5 -59,4 22,5 -1,7 -8,7 -29,2 130,3 -0,4 -59,0 8,6 4,3 |
7.640 16.964 31.750 32.202 144 1.338 324.983 39.197 3.980 24 177 309.485 |
100.313.200 5.591.327 4.375.196 609.200 522.922 162.052 135.647 88,605 78.913 7.433 4.672 -145.135 |
99,9 99,7 99,3 95,0 99,9 99,2 29,5 69,3 95,2 99,7 96,4 -88,3 |
| Total |
213,3 |
112.511.920 |
15,9 |
762.885 |
111.744.036 |
99,3 |
Prospek penting komoditas perkebunan di atas tidak hanya untuk skala nasional tetapi juga relevan dengan potensi Provinsi Lampung. Selain merupakan salah satu sentra perkebunan rakyat untuk kopi dan lada, di Lampung telah berkembang pesat berbagai perkebunan besar seperti kelapa sawit, tebu, karet, dan nanas. Berdasarkan luas arealnya, perkebunan kelapa sawit memiliki areal terluas di Provinsi Lampung dengan areal seluas 196.533 ha diikuti oleh kopi robusta dengan luas 161.677 ha (Tabel 3). Dari nilai ekspor komoditas tanaman pertanian pada tahun 2012 yang nilainya mencapai US $ 1.134,61 juta, ekspor kopi mempunyai kontribusi sebesar US $ 604,03 juta atau 53% (Anonim, 2013a). Sementara itu, Provinsi Lampung juga merupakan salah satu penghasil nanas terbesar di Indonesia dengan kontribusi sebesar 32,80% dari produksi nanas nasional (Anonim, 2013b).
Tabel 3. Luas areal dan produksi beberapa tanaman tanaman komersial di Provinsi Lampung pada tahun 2012 (BPS Provinsi Lampung, 2013).
|
No. |
Jenis Tanaman |
Luas Areal (ha) |
Produksi (ton) |
| 1. | Kelapa Sawit |
196.533 |
395.713 |
| 2. | Kopi Robusta |
161.677 |
139.583 |
| 3. | Karet |
133.168 |
75.173 |
| 4. | Tebu |
107.903 |
720.961 |
| 5.6. | NanasLada |
– 63.640 |
585.608 23.005 |
| 6. | Kakao |
53.832 |
28.495 |
Data diolah dari: Lampung dalam Angka 2013 (BPS Provinsi Lampung, 2013)
Sistem Vegetasi Perkebunan Skala Besar dan Outbreak Populasi Serangga Hama
Berdasarkan data, potensi, dan proyeksi di atas, tidak diragukan bahwa komoditas perkebunan dan buah-buahan harus mendapat perhatian serius oleh seluruh stakeholder dalam semua aspeknya, mulai dari budidaya, pascapanen, hingga pemasarannya. Makalah ini terutama menyoroti aspek budidaya dari komoditas perkebunan yang mempunyai potensi dan nilai komersial. Secara lebih khusus, makalah ini membahas aspek pengendalian hama –terutama hama serangga- yang merupakan salah satu faktor penting penghambat produktivitas perkebunan. Pembahasan ini sangat relevan dengan perkembangan investasi dalam bisnis tanaman perkebunan/tanaman komersial, baik secara nasional maupun regional. Relevansi pembahasan ini dilandasi oleh beberapa alasan logis, yaitu: (1) investasi skala besar dalam bidang tanaman perkebunan/tanaman komersial berpengaruh terhadap sistem vegetasi hamparan lokal sehingga cenderung menjadi lebih monokultur; (2) perkebunan skala besar pada umumnya membudidayakan varietas-varietas “unggul” yang secara genetik seragam; (3) budidaya tanaman komersial skala besar menuntut input non alami yang tinggi, baik dalam bentuk pupuk buatan, pestisida, maupun bahan-bahan kimiawi lainnya.
Perpaduan dari kondisi tersebut di atas menyebabkan sistem vegetasi perkebunan skala besar berpotensi mengalami outbreak populasi serangga hama. Oleh karena itu, program pengendalian hama yang diterapkan seyogyanya tidak hanya mengandalkan tindakan-tindakan kuratif tetapi juga memperhatikan dan mempertimbangkan informasi bionomi serangga hama sehingga dalam jangka panjang lebih berkelanjutan. Di dalam konteks ini, yang dimaksud dengan informasi bionomi adalah aspek biologi dan dinamika populasi serangga hama serta interaksinya dengan faktor lingkungan. Database bionomi serangga hama yang akurat juga merupakan salah satu informasi penting dalam penetapan nilai ambang ekonomi hama. Yang terakhir ini kegunaannya dalam program pengendalian hama telah disepakati oleh para pakar pengendalian hama tanaman dari semua mazhab (Pedigo & Higley, 1992; Pedigo, 1989; Luckman, 1982).
Catatan:
Cuplikan di atas merupakan bagian awal dari Pidato Pengukuhan Gurubesar saya yang berjudul: PENGEMBANGAN INFORMASI BIONOMI SPESIFIK LOKASI UNTUK MENINGKATKAN KEEFEKTIFAN PENGENDALIAN HAMA UTAMA TANAMAN KOMERSIAL. Makalah ini menguraikan aspek teori serta memberikan beberapa contoh pengembangan informasi bionomi beberapa hama penting di Lampung dalam skala riset. Bahasan ini ini diharapkan bisa menjadi masukan dan mendapat perhatian dari para pengambil kebijakan dan para praktisi pengendalian hama, khususnya yang mengelola perkebunan/tanaman komersial, agar program pengendalian hama yang dilaksanakan berjalan secara efektif, efisien, dan berkelanjutan. Makalah selengkapnya dapat dibaca pada Buku Pidato Pengukuhan saya.