{"id":999,"date":"2020-11-09T11:24:41","date_gmt":"2020-11-09T04:24:41","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/?p=999"},"modified":"2020-11-09T11:37:50","modified_gmt":"2020-11-09T04:37:50","slug":"dangdut-kontestasi-politik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/2020\/11\/09\/dangdut-kontestasi-politik\/","title":{"rendered":"DANGDUT &amp; KONTESTASI  POLITIK"},"content":{"rendered":"<p>Saat ini masyarakat sedang disibukkan dengan berbagai isu terkait hal-hal yang mewarnai tahun-tahun politik akhir-akhir ini. Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK menjadi hal yang seolah menjadi santapan segar bagi insan-insan yang haus akan berita \u2018panas\u2019 seputar PILKADA. Banyak diantara kepala daerah tersandung berbagai kasus terikait kosurpsi dan menyebabkan langkahnya terhenti dan mendapat hadiah \u2018rompi orange\u2019. Hal ini sangatlah ironis, di mana kepala daerah yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam mengawal penegakan hukum, malah tertangkap melakukan tindakan-tindakan melawan hukum.<\/p>\n<p>Namun, bukan itu yang menjadi sorotan penulis kali ini. Tidak banyak orang yang peduli dengan hal-hal yang mewarnai atau pemberitaan selain masalah kriminalisasi dalam kontestasi politik. Padahal segala keseruan dan euphoria ini, tak akan mungkin selalu berjalan dengan meriah dan tentu \u2018menghibur\u2019 tanpa kehadiran para pendukung pesta rakyat ini. Pernahkah Anda melihat kampanye PILKADA atau PILPRES hanya diisi oleh orasi politik saja? Tentu saja ada peran aktor-aktor hiburan juga terdapat di dalamnya, salah satunya adalah sajian musik Dangdut. Entah ini sebuah tradisi atau tidak, yang jelas hampir dapat dipastikan dalam sebuah acara kampanye dari \u2018bendera\u2019 mana pun selalu menyajikan musik ini dalam agenda acaranya. Dangdut merupakan musik rakyat dengan penikmat yang tidak hanya berasal dari kalangan masyarakat menengah ke bawah, tetapi juga masyarakat menengah ke atas.<\/p>\n<p><strong>Identitas Yang Hilang<\/strong><\/p>\n<p>Kehadiran biduan yang\u00a0 berpakainya \u2018seksi\u2019, goyangan yang saat ini semakin bervariasi membuat Dangdut semakin digemari oleh masyarakat, khususnya kaum Adam. Alunan musik ini seolah mengajak penonton lupa sejenak dengan segala permasalahan hidupnya, hanya \u2018goyang\u2019 dan \u2018goyang terus..\u2019. Sajian musik yang tervisualisasikan secara \u2018erotis\u2019menjadi daya tarik yang kuat bagi Dangdut saat ini untuk manrik massa. Padahal, identitas Dangdut di awal masa perkembangannya sangatlah jauh dari kesan \u2018genit\u2019dan menggoda. Sebut saja Rhoma Irama, yang menjadi salah satu pelopor kejayaan Dangdut di era 70-an. Salah satu pendiri Orkes Melayu ternama \u2018Soneta\u2019 ini mempopulerkan Dangdut dalam perpektif dakwah. Syair-syair, nada-nada serta kostum yang digunakan sangatlah jauh dari kesan seksi. Cikal bakal Dangdut berasal dari gambus yang bersumber dari Melayu dan Arab dan Asia Barat. Dangdut seolah kehilangan jati diri, menjadi alat politik untuk mengumpulkan massa dan keperluan <em>rating<\/em> acara sebuah televisi saja.<\/p>\n<p>Musik dangdut pada awalnya dipandang sebagai musik kampungan karena banyak penikmatnya berasal dari masyarakat kalangan kelas bawah. Hal tidaklah sepenuhnya dapat diamini, karena sebenarnya ada bebera hal yang membuat musik ini sangat dekat dengan rakyat, diantaranya: (1) gaya rhythm, melodi dan vokal yang kental dengan nuansa Melayu membuat musik ini sangat dekat dengan masyarakat Indonesia; (2) lirik berbahasa Indonesia dan kerap berbahasa daerah; (3) tarian atau goyangan yang membuat tampilannya semakin menarik; (4) lirik yang berisi mengenai masalah sosial yang sangat umum dan dekat dengan kehidupan masyarakat.<\/p>\n<p>Masih terasa segar dalam ingatan kita, sekitar tahun 2003 silam Rhoma Irama dan Paguyuban Artis Melayu Indonesia (PAMMI) mengeluarkan imbauan kepada seluruh statiun televisi untuk memboikot aksi \u201cnge-bor\u201d Ainur Rohimah atau yang lebih dikenal dengan nama Unul Daratista itu. Hal ini rupanya tidak menjadikan para neyanyi Dangdut jera, malah semakin banyak artis Dangdut yang bangga dengan <em>trademark<\/em> goyangnya, sebut saja Uut Permatasai dengan \u201cgoyang nge-cor\u201d, Anisa Bahar dengan \u201cgoyang patah-patah\u201d, Dewi Persik dengan \u201cgoyang gergaji\u201d, Zazkia Gotik dengan \u201cgoyang itik\u201d dan masih banyak lagi yang lainnya. Alih-alih membersihkan Dangdut dari kesan tak senonoh, hal ini justru dijadikan alat bagi kaum oportunis, salah satunya adalah dibuatnya sinetron \u201cKenapa harus Inul\u201d tahun 2004.<\/p>\n<p>Saat ini dangdut bertransformasi menjadi musik yang mengedepankan \u2018kemasan\u2019 daripada kualitas musikalnya. Sisi religi dari Dangdut seolah hilang tergerus sisi sensualnya. Sisi ini yang akhirnya digunakan sebagai alat politik untuk menarik massa dalam kampanye. Di luar pesta politik, Dangdut tetap hidup dan berkembang di acara-acara resepsi pernikahan yang umumnya ada di berbagai kampung. Tidak sulit menemukan Dangdut lengkap dengan biduannya di berbagai daerah saat ini. Cengkok alsi Dangdut saat ini tergeser dengan gaya \u2018panturaan\u2019 yang penuh dengan <em>beat<\/em> memacu penonton untuk bergoyang.<\/p>\n<p><strong>Dangdut sebagai hiburan dalam masyarakat<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p>Sebagai sebuah kesenian, Dangdut memiliki berbagai versi bahasa sesuai dengan daerahnya masing-masing, Kita ambil satu contoh dalam konteks masyarakat Lampung. Jika kita mengunjungi pasar Simpur, Bambu Kuning atau Ramayana dan menyisir setiap sudut di sana, kita akan dengan mudah menemukan CD atau kaset lagu-lagu Pop-Melayu dan Dangdut dengan bahasa Lampung. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Lampung juga menjadi pangsa bagi musik tersebut. Tentu Dangdut tidak akan berkembang dan mengalami transliterasi kebahasaan jika tidak ada yang menikmati. Artinya, musik ini tidak hanya dikonsumsi tetapi juga diproduksi oleh musisi-musisi lokal.<\/p>\n<p>Koentjoroningrat mengatakan kebudayaan merupakan gagasan, tindakan serta hasil karya manusia, maka Dangdut bukan kebudayaan asli masyarakat Lampung. Karena secara musikal, Dangdut tidak diciptakan oleh masyarakat Lampung, hanya saja di-alihbahasakan liriknya. Penulis pennah mengujungi berbagai kabupaten di Lampung, seperti Lampung timur, Lampung Utara, Lampung Tengah dan masih banyak lagi. Diantara tempat-tempat tesebut, masih banyak sekali ditemukan pertunjukan Dangdut yang ditampilkan, misalnya saja sebagai hiburan dalam pesta perkawinan dalam sebuah masyarakat. Sebagai sebuah kesenian, Dangdut tentu bukan identitas budaya Lampung, tetapi kenyataannya musik ini semakin eksis. Keberadaan musik ini tidak dapat dicegah, karena masyarakat sendiri yang menjadi agen penyebarannya.<\/p>\n<p>Bagaimanapun, musik Dangdut telah menjadi dari bagian masyarakat Lampung terutama dalam berbagai acara-acara. Kemajuan teknologi juga ikut menyumbangkan penyebaran musik ini. Penggunaan keyboard yang secara digital mampu mengoperasikan musik 90% menggunakan kompoterisasi membuat penjualan alat musik keyboard meningkat. Masyarakat umum (siapa pun) mampu mengoperasikan musik dangdut yang bermodalkan &#8220;minus one&#8221; lagu-lagu yang bisa didapatkan di mana saja. Keterbukaan akses dan kemudahan menjangkau perlengkapan inilah yang membuat bisnis Dangdut semakin subur, bahkan sampai ke pelosok desa.<\/p>\n<p><strong>Dangdut Sebagai Alat <\/strong><\/p>\n<p>Dangdut akan selalu hadir dalam setiap ranah kehidupan tidakn terkecuali dalam dunia politik. Musik ini selalu muncul dalam kontestasi poltik dan mewarnai setiap orasi di dalamnya. Hal ini mungkin merupakan cara terbaik untuk menarik perhatian masyarakat. Ya, bisa saja, namanya juga \u2018pesta rakyat\u2019, masyarakat harus dibuat senang dan bergembira terlebih dahulu, barulah mereka dapat diajak bernegosiasi mengenai janji-janji manis sang pasangan calon. Penulis mengutip apa yang dituliskan oleh Andrew W. Weintraub dalam bukunya \u201cDangdut: Musik, Identitas dan Budaya Indonesia\u201d Dangdut merupakan musik yang memiliki popularitas di kalangan masyarakat kelas bawah. Mengapa Dangdut dijadikan alat untuk mengumpulkan massa? Karena\u00a0 mayoritas masyarakat kelas bawah umumnya menyukai musik ini. Weintraub menambahkan bahwa peran lembaga politik dan lembaga kebudayaan memobilisasi Dangdut, tujuannya untuk menciptakan makna secaraspesifik mengenai kesatuan politik.<\/p>\n<p>Upaya-upaya timses partai semakin liar menggeliat untuk menemukan cara-cara baru untuk melakukan kontrak politik dan gerakan secara halus untuk pemenangan. Tidak hanya menggunakan Dangdut sebagai alat tetapi para pelaku (Artis\/penyanyi Dangdut) kerap dijadikan alat untuk melakukan <em>deal-deal<\/em> politik. Mudahnya akses dan pemenuhan kepuasan tersendiri menajdikan artis Dangdut kerap menjadi sasaran empuk para kader dan pejabat untuk sekedar urusa syahwat.<\/p>\n<p>Media menjadi alat yang juga sangat berperan, apakah digunakan sebagai alat propaganda atau sebaliknya. Misalnya, sebuah skenario yang disusun oleh seorang (sebut saja) simpatisan untuk melakukan sebuah konsprirasi untuk menjatuhkan lawan politiknya dalam kontestasi dapat dengan mudah dibuat. Media cetak maupun <em>daring<\/em> (online) saat ini akan dengan mudah dan cepat merusak nama baik seseorang saat ini, terutama seorang <em>public figure<\/em>. Dangdut mungkin saja bukan menjadi satu-satunya alat yang digunakan untuk menarik simpatik masyarakat, atau sekedar mengumpulkan massa untuk melakukan orasi. Semua itu tergantung pada konsumsi masyarakat dan konsep budaya populer. Dangdut mungkin saja tidak lagi menjadi primadona dalam \u2018menggaet\u2019 massa, tetapi tetap akan terus berkembang di berbagai pelosok daerah. Entah digunakan sebagai politik atau tidak, citra Dangdut akan selalu melekat di dalam hati Masyarakat Indonesia. Selama Dangdut masih diputar di radio, televisi, dan orkes-orkes keliling masih terus eksis, musik ini tetap hidup dan bersemayam di masyarakat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat ini masyarakat sedang disibukkan dengan berbagai isu terkait hal-hal yang mewarnai tahun-tahun politik akhir-akhir<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":1001,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,5],"tags":[],"class_list":["post-999","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-culture","category-music"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/999"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=999"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/999\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1001"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=999"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=999"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=999"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}