{"id":977,"date":"2020-11-09T04:40:54","date_gmt":"2020-11-08T21:40:54","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/?p=977"},"modified":"2020-11-09T10:29:47","modified_gmt":"2020-11-09T03:29:47","slug":"pendidikan-musik-di-era-pandemi-dan-new-normal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/2020\/11\/09\/pendidikan-musik-di-era-pandemi-dan-new-normal\/","title":{"rendered":"Pendidikan Musik di Masa Pandemi dan New Normal"},"content":{"rendered":"<p>Pendidikan musik di masa pandemi dan \u201cnew normal\u201d memasuki tahapan baru. Berbagai institusi dan lembaga pendidikan musik saling berlomba menggagas ide-ide untuk mengonversi pembelajaran ke dalam konsep dijital atau virtual. Seminar dan pelatihan telah banyak membahas tentang cara-cara beradaptasi, berkomunikasi, dan memanfaatkan teknologi ditawarkan\u2014seolah inilah satu-satunya jalan untuk keluar dari keterpurukan. Kurikulum musik disusun ulang dengan harapan memberikan langkah-langkah solutif untuk keberlangsungan musik dan pembelajarannya. Guru-guru musik, instruktur dan dosen berpikir keras tentang pembelajaran daring untuk menjaga motivasi belajar dan keterampilan bermusik siswa. Mereka dituntut untuk belajar produk teknologi pembelajaran secara cepat dan menerapkan pada siswa-siswanya. Pandemi seolah mempercepat guru musik dan siswanya untuk beradaptasi dengan pembelajaran yang bersifat virtual.<\/p>\n<p>Pada awalnya banyak guru musik terjebak dalam kebingungan; bagaimana untuk memulai sebuah proses pembelajaran baru yang dilakukan jarak jauh. Semua pengajar musik sedang mencari bentuk dan model pembelajaran yang cocok diterapkan untuk muridnya. Beberapa guru memulai dengan sesuatu yang sederhana dan memaksimalkan alat-alat yang mereka miliki. Misalnya penggunaan telepon pintar (<em>smartphone<\/em>) yang memiliki fitur yang lengkap. Berbagai aplikasi di dalamnya digunakan untuk keperluan <em>live-streaming<\/em>,\u00a0 merekam materi ajar musik, dan mengirimkan materi berbentuk teks<\/p>\n<p>Guru dan instruktur musik mengantisipasi keadaan ini dengan melakukan langkah-langkah konkret, seperti membuat video tutorial dan pembelajaran di YouTube dan mengunggah materi-materi musik ke sebuah platform pembelajaran (ruang guru, zenius, cousersa, kelas pintar, dan lain-lain).\u00a0 Pendidikan jarak jauh (<em>remote learning<\/em>) memberikan banyak tantangan baru, mulai dari akses internet yang belum merata, daya beli masyarakat terhadap kuota internet, minimnya literasi dijital, dan permasalahan teknis lainnya. Berbagai kesenjangan yang terjadi membuat guru atau pendidik musik perlu menata dan memikirkan ulang apakah langkah-langkah tentang konsep pendidikan jarak jauh tersebut sepenuhnya tepat.<\/p>\n<p>Dalam konteks pembelajaran musik di kelas\u2014sebelum masa pandemi\u2014hambatan-hambatan yang muncul biasanya berkaitan dengan teknik, porsi latihan, efikasi diri, aspek pedagogis lainnya. Setelah <em>new normal<\/em> tantangan yang dihadapi semakin berat, salah satunya memanfaatkan platform pembelajaran yang tepat untuk berkomunikasi (<em>zoom, google classroom, whatsapp, facebook, Instagram<\/em>). Untuk pembelajaran piano dan alat musik misalnya, guru-guru musik mengalami kesulitan melihat jari-jari siswanya secara jelas. Pembelajaran musik khususnya instrumen musik membutuhkan metode demonstrasi yang ketat dan kontrol penuh dalam praktiknya. Hal tersebut yang membedakan kelas musik dengan mata pelajaran lain.<\/p>\n<p>Seorang guru piano atau violin perlu mengatur posisi kamera agar siswanya dapat melihat jari-jari gurunya memainkan alat musik secara jelas. Kedua belah pihak (guru dan murid) perlu mengatur cahaya dan suara yang dihasilkan dari <em>gadget<\/em>-nya agar tetap mendukung jalannya interaksi satu sama lain. Guru musik umumnya merasa kesulitan dengan berbagai hal-hal teknis semacam ini, tetapi bagi siswa mungkin sebaliknya. Karena mereka tidak perlu menghabiskan waktu di perjalanan dan menunggu proses dimulainya kelas. Selain itu, keterlibatan orang tua sebagai pendamping saat proses belajar musik ikur menentukan keberhasilan pembelajaran. Orang tua dapat menjadi jembatan komunikasi antara guru dan murid, mencatat hal-hal detail yang disampaikan guru, dan mengatur waktu latihan di rumah. Ibu atau ayah memiliki fungsi untuk mengawasi dan mengontrol anaknya dalam mempelajari alat musik.<\/p>\n<p>Situasi lain dalam kelas teori musik juga telah mengalami berbagai penyesuaian. Jika biasanya guru memberikan materi di depan para siswa, kelas daring dilakukan menggunakan perangkat laptop, telepon pintar, dan aplikasi-aplikasi pembelajaran. Di kelas teori musik guru menjelaskan materi menggunakan piano sebagai media penunjang pembelajaran. Pembelajaran dapat dilakukan dengan dua cara, yakni sinkron (<em>syncronous<\/em>)dan asinkron (<em>asynchronous<\/em>). Pembelajaran sinkron dilakukan menggunakan aplikasi <em>teleconference<\/em> yang bersifat langsung (<em>real-time<\/em>) seperti <em>zoom, google meet, skype<\/em>, dan lain-lain. Sementara pembelajaran asinkron bersifat tidak langsung (<em>delayed<\/em>) menggunakan e-mail, blog, atau MOOC (<em>Massive Open Online Courses<\/em>). Apapun medianya, hal terpenting adalah membelajarkan musik terhadap siswa.<\/p>\n<p>Berbagai langkah-langkah kreatif perlu diambil dalam rangka meningkatkan strategi belajar musik di masa pandemi. Selain menyesuaikan metode-metode baru, guru musik juga perlu menguasai berbagai perangkat aplikasi untuk memaksimalkan konten yang akan diberikan kepada siswanya. Untuk menjelaskan materi tangga nada misalnya, guru dapat membuat video animasi singkat yang manarik. Di dalamya terdapat tokoh-tokoh kartun, pengisi suara (<em>voice over<\/em>), dan cara guru memainkan alat musik. Cara-cara visual semacam ini dapat mengatasi masalah kejenuhan dan motivasi dalam belajar musik.<\/p>\n<p><strong>Pertunjukan musik dijital<\/strong><\/p>\n<p>Situasi pandemi memunculkan sebuah kesadaran untuk beradaptasi dengan hal-hal baru. Beberapa musisi merasa nyaman mempertunjukan musik di atas panggung dan disaksikan jutaan penonton. Di sisi lain, beberapa musisi lebih suka membuat banyak karya dan mengunggahnya ke YouTube. Dua kondisi berbeda ini mempengaruhi sikap seorang musisi dalam mengatur sikap, teknik atau cara bermain, <em>setting<\/em> audio, dan sebagainya. Bagi musisi A, suara penonton memberikan spirit yang besar dalam memberikan pertunjukan yang sempurna, sementara musisi B sangat mudah menuangkan ide-ide musiknya jika Ia berhadapan dengan kamera.<\/p>\n<p>Pertunjukan musik ansambel <em>live<\/em> <em>streaming<\/em> hanya bisa dilakukan jika masing-masing anggota berada dalam kondisi waktu yang sama (<em>real time<\/em>). Pengaturan tempo, dinamika, harmoni <em>chord<\/em>, dan <em>tutti<\/em> (unison) sangat ditentukan oleh kemampuan setiap orang untuk menangkap bunyi dan memproduksi setiap not-nya. Konsep pertunjukan dijital (<em>digital performance<\/em>) yang banyak dilakukan saat ini memiliki ketergantungan yang besar terhadap akses internet. Dalam hal komposisi dan penggunaan instrumen, para musisi mencari berbagai trik sebagai sebuah strategi untuk memperkecil kendala-kendala saat pertunjukan. Misalnya, menonjolkan piano dan perkusi untuk memandu tempo dan <em>beat<\/em> bagi anggota lain atau pemilihan repertoar (lagu) yang mudah dimainkan dalam konteks dijital.<\/p>\n<p>Dalam kondisi normal seorang pemain piano biasa melakukan ritual khusus sebelum konser, misalnya memeriksan gedung pertunjukan, akustik ruangan, dan posisi pemain. Ia tidak perlu melakukan pengecekan yang bersifat teknis, seperti menyetem (<em>tuning<\/em>), mengatur suara di <em>front of house<\/em> (FoH), dan sebagainya. Hal-hal tersebut jauh berbeda dengan pertunjukan dijital, baik itu dilaksanakan secara langsung <em>live<\/em> (langsung) atau <em>taping<\/em> (tidak langsung). Musisi hampir melakukan seluruh tahapannya sendiri, mulai dari pengaturan lampung, kamera, suara, alat musik, aplikasi, dan perangkat pendukung lainnya. Aktivitas kompleks semacam ini membuat musisi disibukkan dengan hal-hal di luar musik yang bersifat teknis.<\/p>\n<p><strong>Tantangan<\/strong><\/p>\n<p>Pendidikan musik menghadapi kenyataan yang cukup rumit karena dihadapkan pada migrasi besar-besaran kelas virtual. Di sisi lain, kegiatan fisik tetap perlu dilakukan berkaitan dengan unsur pedagogi. Seluruh lembaga pendidikan musik mempersiapkan infrastruktur untuk pembelajaran daring. Peluang untuk belajar musik secara daring bisa didapatkan di mana saja kapan saja, tetapi seluruh informasi tersebut terlalu banyak ditawarkan. Ini menimbulkan masalah baru yang cukup membingungkan dalam memilih platform dan materi musik. Selain itu, rasa bosan dan jenuh membuka peluang distraksi dalam belajar. Sebagai contoh, siswa yang melakukan kuliah daring lima kali dalam seminggu mungkin saja mengalami tingkat stress yang lebih tinggi. Aktivitas belajar yang sama membuat mereka lelah dan mencari cara untuk menyiasati hal-hal tersebut. Dalam <em>teleconference<\/em> di zoom misalnya, seseorang bisa dengan mudah meninggalkan perkuliahan atau seminar hanya dengan menekan tombol <em>leave<\/em> atau <em>end<\/em>. Jika mereka tetap ingin terlibat dalam perkuliahan tetapi merasa malas, tombol <em>stop video<\/em> merupakan salah satu solusi. Kondisi ini merupakan tantangan baru yang dihadapi para pengajar dan siswa dalam belajar musik atau mata pelajaran apapun. Kurangnya interaksi fisik membuka peluang siswa melakukan berbagai kecurangan.<\/p>\n<p>Banyak orang lupa pendidikan musik tidak hanya bergerak pada tataran praktis (belajar alat musik), tetapi menyangkut aspek sosial. Musik harus bisa digunakan untuk mengelola dan merekatkan hubungan manusia dengan komunitasnya. Kesadaran semacam ini yang menjadi inti pendidikan (melalui) musik. Jadi, pembelajaran daring tidak hanya berbicara tentang perubahan pembelaran langsung (<em>direct learning<\/em>) ke dalam mode virtual, tetapi lebih memikirkan aspek-aspek pedagogis yang terancam hilang. Setelah menerima materi di kelas, seorang siswa perlu mengulang pelajaran musik yang didapatnya melalui latihan di rumah. Hasil latihan perlu diuji melalui tes, misalnya dengan melakukan konser kecil yang disaksikan guru dan siswa lain. Situasi semacam ini sangat diperlukan oleh seorang pembelajar untuk mengembangkan keterampilan dan mentalnya di bidang musik; sesuatu yang sulit didapat di depan kamera.<\/p>\n<p><strong>Pedagogi Digital<\/strong><\/p>\n<p>Istilah pedaggi digital merupakan jenis metode pengajaran yang bersifat digital, memanfaatkan unsur teknologi dalam pembelajarannya. Pedagogi digital juga dapat dipahami sebagai sebuah pendekatan dalam mengajar dengan melibatkan penggunaan teknologi dan berbagai platform untuk menunjang tujuan pembelajaran. Jadi, dalam situasi tertentu, tidak selamanya pembelajaran berbasis digital, tetapi penggunaan unsur teknologi dapat disesuaikan. Jika guru merasa perlu menggunakan media web sebagai sarana pembelajaran, maka itu termasuk perwujudan dari pedagogi digital. Ada juga yang menggunakan cara yang lebih sederhana seperti hanya menggunakan power poin dalam pengajarannya. Tujuan guru juga memberikan pengalaman lain dalam proses pendidikan. Pedagogi digital merupakan sebuah upaya untuk menggunakan teknologi dan mengubah proses pembelajaran pada tingkat yang berbeda. Dalam konteks era 4.0 seperti sekarang, siswa sebagai \u201cdigital native\u201dadalah subjek yang sesuai untuk penerapan berbagai model pembelajaran \u00a0virtual, semuanya terletak pada kreativitas guru\/pengajar. Minat siswa terhadap dunia digital dan virtual, setidaknya, dapat terlihat dari interaksi mereka menggunakan media sosial. Bahkan platform seperti YouTube, Facebook, dan Instagram adalah alat yang sangat tepat untuk \u201cberkomunikasi\u201d dengan mereka, karena berselancar di berbagai platform tersebut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2020\/11\/digital-pedagogy.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-984\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2020\/11\/digital-pedagogy-300x161.png\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"161\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2020\/11\/digital-pedagogy-300x161.png 300w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2020\/11\/digital-pedagogy.png 666w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pendidikan musik di masa pandemi dan \u201cnew normal\u201d memasuki tahapan baru. Berbagai institusi dan lembaga<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":988,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,3,5],"tags":[],"class_list":["post-977","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-culture","category-educations","category-music"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/977"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=977"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/977\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media\/988"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=977"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=977"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=977"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}