{"id":924,"date":"2020-09-20T08:03:57","date_gmt":"2020-09-20T01:03:57","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/?p=924"},"modified":"2022-11-06T22:27:19","modified_gmt":"2022-11-06T15:27:19","slug":"gitar-tunggal-lampung-pesisir-model-vs-improvisasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/2020\/09\/20\/gitar-tunggal-lampung-pesisir-model-vs-improvisasi\/","title":{"rendered":"Gitar Tunggal Lampung Pesisir: Model VS Improvisasi"},"content":{"rendered":"<p>Sebagian besar orang tentu sepakat bahwa musik tradisional adalah bagian dari budaya. Oleh karena budaya tidak terlepas dari dinamika dan perubahan, tentu saja musik tradisional juga mengalami metamorfosis. Musik tradisional Lampung merupakan salah satu representasi budaya bahwa keragaman diwujudkan dalam unsur-unsur musik, baik secara intrinsik maupuan ekstrinsik. Dalam konteks unsur intrinsik musik musik tradisional memiliki gaya atau bentuk yang diinterpretasikan oleh masing-maisng orang. Sedangkan secara ekstrinsik musik biasanya berhubungan dengan aspek kesejarahan, makna dan nilai-nilai.<\/p>\n<p>Sebagai contoh kesenian gitar tunggal Lampung yang sangat populer di kalangan masyarakatnya. Hingga saat ini eksistensi gitar terus berkembang dengan sentuhan artistik yang sangat modern. Gitar tunggal atau gitar klasik menjadi bagian dari khasanah musik Lampung bersifat interpretative. Dikatakan demikian karena masing-masing seniman memiliki gaya sendiri yang sangat khas. Gaya bermain Hila Hambala akan berbeda dengan Edi Pulampas atau Andi Syahbana. Walaupun mereka masih dalam satu koridor gaya bermain Pesisir (saibatin). Namum fakta menunjukan teknik (petikan), syair, gaya bernyanyi, dan struktur lagu-lagu yang mereka ciptakan masing-masing berbeda.<\/p>\n<p>Para seniman gitar tunggal mengklaim bahwa mereka belajar secara otodidak tanpa sosok guru yang mendampingi dalam belajar. Kemandirian yang terbentuk mungkin ada kaitannya dengan falsafah hidup orang Lampung (<em>piil pesenggiri<\/em>) atau lebih bersifat karakter masyarakatnya saja. Asumsi ini perlu dikaji melalui penelitan lebih lanjut. Hal yang menarik adalah kemunculan gaya bermain gitar tunggal yang unik dan berkarakter itu terbentuk dari sebuah proses transmisi yang alami dan melalui kemampuan dasar seseorang yakni \u201cmelihat dan mendengar\u201d. Bagi Saya ini sangat musikal, karena tidak setiap orang dapat menirukan sebuah permainan gitar tanpa adanya interaksi khusus guru-murid pada umumnya. Hanya melalui mendengarkan para seniman gitar tunggal mampu meniru permainan-permainan para seniornya. Setelah itu mereka mulai mengembangkan sebuah gaya permainan, dalam tulisan ini disebut improvisasi.<\/p>\n<p>Permainan gitar tunggal Lampung memiliki pola-pola khusus, dalam gaya<em> pesisir<\/em> seluruh fakta mengarah pada gaya petikan \u201cbatanghari sembilan\u201d, Palembang. Pola-pola petikan bergaya minor menjadi kunci dalam mempelajari gitar tunggal Lampung bergaya Pesisir ini. Inilah yang disebut sebagai model, sifatnya dapat diulang dan ditularkan. Jadi, model paling dasar (atau bisa dikatakan pakem) dari gitar tunggal Lampung Pesisir adalah pola-pola batanghari sembilan. tentu saja pola ini telah banyak dimodifikasi atau diimprovisasi oleh masing-masing seniman gitar tunggal. Dalam pandangan musik Barat, tentu hal ini tidak sesuai. Tetapi secara antropologi memang inilah fakta riil yang ditemui. Pemahaman emik lebih diutamakan dari pada etik. Improvisasi dalam gitar tunggal justru menjadi fakta menarik untuk dikaji dalam penelitian karena akan berhubungan dengan banyak hal.Improvisasi dalam gitar tunggal justru menjadi fakta menarik untuk dikaji dalam penelitian karena akan berhubungan dengan banyak hal. Misalnya bagaimana pemahaman seniman gitar dalam membuat karyanya, pertunjukan, lungkungan sosial-budaya, dan lain-lain. Identitas musikal yang terwujud dalam permainan gitar tunggal Lampung menyimpan berbagai aspek musikologis yang kompleks<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagian besar orang tentu sepakat bahwa musik tradisional adalah bagian dari budaya. Oleh karena budaya<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":925,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[90,9,11,5],"tags":[98,91,34,32,36,33,35],"class_list":["post-924","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-biografi","category-culture","category-lampung","category-music","tag-batanghari-sembilan","tag-biografi","tag-budaya-lampung","tag-lampung","tag-lampung-pesisir","tag-musik-lampung","tag-tradisi-lampung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/924"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=924"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/924\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media\/925"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=924"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=924"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=924"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}