{"id":761,"date":"2020-07-13T14:08:52","date_gmt":"2020-07-13T07:08:52","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/?p=761"},"modified":"2020-07-13T14:08:52","modified_gmt":"2020-07-13T07:08:52","slug":"tentang-walking-bass","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/2020\/07\/13\/tentang-walking-bass\/","title":{"rendered":"Tentang Walking Bass"},"content":{"rendered":"<p>Beberapa diantara kita mungkin mengenal istilah \u201cbassline\u201d. Istilah ini kerap dikaitkan dengan gaya permainan bas yang terdapat di beberapa genre musik tertentu, seperti jazz, blues, funk, dan musik-musik elektronik. Dalam pengertian musik klasik, istilah \u201cbassline\u201d dipahami sebagai permainan instrumen musik yang bernada\/pitch rendah (low). Alat musik bas dapat memiliki beberapa fungsi. Pertama, sebagai \u201crhythm section\u201d, artinya dia bersifat mengiringi kelompok instrumen musik lain seperti gitar, piano, dan saxophone. Dalam memainkan perannya sebagai \u201crhythm section\u201d bas tidak terlalu dominan (tetapi bisa juga jika memang dibutuhkan). Bas yang bisa dimainkan sebagai sebuah \u201crhythm section\u201d berupa <em>electric bass<\/em> dan <em>kontra bas<\/em> (double bass). Untuk kontra bas fungsi selanjutnya dapat berupa \u201cstring section\u201d. \u201cBassline\u201d tidak selalu harus dimainkan oleh alat musik bas, tetapi dapat apapun sejauh register-nya (wilayah suara) masuk dalam kelompok \u201clow pitch\u201d. Dalam musik klasik \u2018bassline\u201d umumnya juga dimainkan oleh isntrumen bassoon, klarinet bas, trombon bas, tuba dan berbagai \u201clow pitch\u201d instrumen lainnya. Dalam sebuah band \u201cbassline\u201d dimainkan oleh pemain bas <em>electric,<\/em> karena memang permbagian instrumen di dalamnya tidak sebanyak orkestra. Jadi alat musik yang mungkin memainkan nada-nada \u201clow\u201d hanya bas atau piano\/keyboard yang memiliki 5-8 oktaf.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"n3VNCb aligncenter\" src=\"https:\/\/33z9kf15n22s4dt1tbo8v7xz-wpengine.netdna-ssl.com\/wp-content\/uploads\/2015\/11\/Screen-Shot-2019-03-12-at-14.10.11-800x434.png\" alt=\"Walking Bass Through a 12 Bar Blues - TalkingBass\" width=\"514\" height=\"279\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em>Salah satu pola permainan walking bass<\/em><\/p>\n<p>Sebelum dikenal sebagai sebuah gaya permainan musik jazz, istilah \u201cwalking bass\u201d sebetulnya sudah banyak ditemui pada karya-karya musik di era Barok (1600-1750). Pola (pattern) <em>walking bass<\/em> sangat beragam mulai dari penggunaan not \u00bc sampai 1\/16 setiap bar atau beat-nya. Selain itu, penggunaan tangga nada, kromatik, dan arpeggio untuk menunjang progresi chord setiap bar atau beat-nya. Dalam jazz, pola permainan <em>walking bass<\/em> saat ini jauh berkembang dan pengembangan variasi yang semakin kompleks.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beberapa diantara kita mungkin mengenal istilah \u201cbassline\u201d. Istilah ini kerap dikaitkan dengan gaya permainan bas<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":762,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[16,15],"tags":[17,18],"class_list":["post-761","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-jazz","category-teori-musik","tag-musik-jazz","tag-walking-bass"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/761"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=761"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/761\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media\/762"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=761"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=761"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=761"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}