{"id":657,"date":"2018-05-15T05:55:55","date_gmt":"2018-05-14T22:55:55","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/?p=657"},"modified":"2022-07-03T08:57:07","modified_gmt":"2022-07-03T01:57:07","slug":"kritik-dan-nyinyir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/2018\/05\/15\/kritik-dan-nyinyir\/","title":{"rendered":"KRITIK DAN &#8220;NYINYIR&#8221;"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: Riyan Hidayatullah<\/p>\n<p>Kritik berakar dari bahasa Yunani \u201cKrinein\u201d, berarti memisahkan atau merinci. Dalam bahasa Inggris \u201ccritic\u201d memiliki makna mengupas atau membahas. Kritik bersifat positif, karena berkenaan dengan cara-cara, langkah-langkah dalam menganalisa dan mengevaluasi sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman akan sesuatu. Istilah kritik selama ini \u201cdiselewengkan\u201d dengan bumbu negatif, sehingga berbau mengecam atau \u201cnyinyir\u201d. Lemahnya pemahaman orang-orang\u00a0 akan istilah ini menyebabkan istilah \u201ckritik\u201d berkonotasi negatif. Sejatinya, kritik adalah sebuah keniscayaan, segala tindak-tanduk atau produk perlu dikritik untuk menguji sejauh mana kuliatasnya. Makanya orang yang sering mempertanyakan segala sesuatu disebut \u201ckritis\u201d. Kritik tidak berkewajiban menghasilkan solusi, karena setelah sesuatu itu berhasil diuraikan maka solusi muncul sebagai implikasinya.<\/p>\n<p>Seni, tidak lepas dari kritik. Jika sebuah karya itu lahir dan disajikan pada khalayak ramai lalu dikonsumsi oleh publik maka kritik langsung melekat pada objek maupun subjeknya. Mengritik tidak bertujuan untuk membuat Subjek (pelaku) seni menjadi kerdil, tetapi dalam rangka mengetahui lebih dalam, apa, siapa, kapan, di mana, mengapa dan bagaimana karya itu dibuat dengan tujuan memahami atau mempelajari proses, latar belakang dan hubungan-hubungan yang bersifat antropologis, sosiologis, dan sebagainya. Seni tidak kebal dengan kritik, tetapi harus menjadi bagian dari kritik itu sendiri. Bahkan, seni dapat\u00a0 digunakan sebagai alat kritik yang paling objektif jika digunakan dengan benar dan ditempatkan dengan tepat.<\/p>\n<p>Kritik seni, kadang sering keliru dipahami \u00a0dan membawa pesan-pesan personal untuk mengecilkan nilai seni itu sendiri. Kritik berbeda dengan \u201cnyinyir\u201d, kritik memiliki standar operasional dan konteks yang sangat ketat. Setiap\u00a0 orang boleh mengritik, tetapi tidak setiap orang mampu mengritik seni. Mengritik sebuah karya seni membutuhkan pengalaman, sama halnya dengan apresiasi. Dalam seni, kritik dan apresiasi sering disandingkan. Seorang seniman harus kritis dan terbuka dalam menilai karyanya sendiri. Kritikus seni harus memiliki \u201ctools\u201d\u00a0 dalam mengritik karya, misalnya pemahaman mendalam\u00a0 tentang seni, memiliki banyak referensi yang Ia gunakan sebagai pembanding, mampu menganalisa secara interdisiplin mengenai seni yang sedang dikritiknya, pengkaryaan, pengkajian seni, paham sejarah seni dan teori-teori seni serta masih banyak lagi standar-standar yang harus dimiliki seorang kritikus seni. Semakin lengkap standar tersebut, semakin tajam analisa dan evaluasinya.<\/p>\n<p>Kritik seni juga dapat berfungsi sebagai \u201cframe\u201d untuk menyampaikan sebuah realitas terhadap sesuatu. Misalnya, tragedi pengeboman yang dijadikan sebuah karya pertunjukan teater. Orang-orang biasanya akan menganggap ini sebuah pelecehan, komedia atau mempermainakan norma sosial, padahal tujuan para pelaku teater adalah hanya sebatas menghadirkan kembali bagaimana suasana kesedihan itu muncul; bagaimana realitas secara lebih tajam-detail dimunculkan agar orang yang melihat paham bagaimana proses pengebomam dan dampak yang ditimbulkan itu. Seni hanya sebagai media untuk menyampaikan gagasan, pikiran dari sebuah realitas. Seorang seniman harus terbuka terhadap kritik dan mau mendengarkan gagasan apa yang disampaikan oleh kritikus dalam rangka mempelajari dan memahami bagaimana sebuah karya itu sebaiknya disampaikan.<\/p>\n<p>Kritik terkadang terasa sangat menyakitkan, karena belum siapnya mental seniman untuk menerima fakta-fakta akan karyanya, menerima hal-hal yang perlu Ia masukkan dalam karyanya dan terjadi ketimpangan antara pengalaman seniman dan pengalaman kritikus.\u00a0 Berkarya dan kritik itu sama-sama harus merdeka. Berkarya tidak selalu membutuhkan &#8220;tools&#8221; atau standarisasi kesenimanan. Sedangkan kritik juga harus lepas dari segala kepentingan politis atau berusaha mempolitisasi keadaan melalui kritiknya.<\/p>\n<p>Karya seni apapun sah untuk dibuat dan sah juga untuk dikritik. Setiap orang boleh membuat karya, tetapi tiak setiap orang mampu mengritik sebuah karya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Riyan Hidayatullah Kritik berakar dari bahasa Yunani \u201cKrinein\u201d, berarti memisahkan atau merinci. Dalam bahasa<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":226,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,3],"tags":[],"class_list":["post-657","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-culture","category-educations"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/657"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=657"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/657\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media\/226"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=657"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=657"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=657"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}