{"id":542,"date":"2016-12-08T19:10:05","date_gmt":"2016-12-08T12:10:05","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/?p=542"},"modified":"2016-12-09T05:33:07","modified_gmt":"2016-12-08T22:33:07","slug":"kajian-singkat-tentang-metrik-gamolan-lampung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/2016\/12\/08\/kajian-singkat-tentang-metrik-gamolan-lampung\/","title":{"rendered":"Kajian Singkat Tentang Metrik Gamolan Lampung"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Oleh: Riyan Hidayatullah<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dosen FKIP Unila<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Beberapa waktu lalu saya mengunjungi sebuah rumah milik salah seorang keturunan asli <a href=\"http:\/\/www.lampungbaratkab.go.id\/\">Lampung Barat<\/a>, <a href=\"https:\/\/www.facebook.com\/rajo.cetik?fref=nf\">Syapril Yamin<\/a> (Bang Lil). Dia adalah seorang penggiat alat musik <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Lampung\">Lampung<\/a> <a href=\"https:\/\/bamboeindonesia.wordpress.com\/alat-musik-dari-bambu\/jenis-alat-musik-bambu\/gamolan-pekhing\/\"><em>gamolan <\/em><\/a>atau lebih dikenal di masyarakat dengan <em><a href=\"https:\/\/bamboeindonesia.wordpress.com\/alat-musik-dari-bambu\/jenis-alat-musik-bambu\/gamolan-pekhing\/\">gamolan<\/a> pekhing<\/em> (bambu). Ada beberapa komunitas yang menyebutnya sebagai <em>Rajo gamolan<\/em> (Raja <a href=\"https:\/\/bamboeindonesia.wordpress.com\/alat-musik-dari-bambu\/jenis-alat-musik-bambu\/gamolan-pekhing\/\">gamolan<\/a>), namun bukan itu yang menjadi fokus bahasan saya kali ini. Saat ini saya sedang menulis buku mengenai musik tradisional Lampung dan salah satu materinya adalah seputar <em>gamolan.<\/em> Dalam buku yang saya tulis, terdapat beberapa lagu atau <em>tabuhan<\/em> (orang Lampung menyebutnya) yang ditulis dalam bentuk notasi (<em>Score<\/em>). Dari beberapa <em>tabuhan <\/em>yang saya tulis ada yang berasal dari <em>tabuhan <\/em>modern yang diciptakan oleh Syapril sendiri dan ada tabuhan klasik yang merupakan transkrip dari pola permainan <em>talo balak.<\/em> dari beberapa <em>tabuhan <\/em>tersebut ada beberapa yang difungsikan untuk mengiringi tari, diantaranya tabuh <em>Layang Kasiwan<\/em> yang digunakan untuk tari <em>layang Kasiwan<\/em>, Tabuh <em>jakhang<\/em>, tabuh <em>sambai agung <\/em>dan tabuh <em>sekeli<\/em>. Tabuh <em>sambai agung<\/em> memilii kemiripan dengan tabuh <em>sekeli<\/em> dan tabuh <em>arus.<\/em> Saat saya mempelajari tabuh <em>sambai agung<\/em> terdengar pola tabuhan antara dua tangan berbeda. Perhatikan gambar berikut.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/12\/untitled11.gif\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-543\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/12\/untitled11-300x55.gif\" alt=\"untitled11\" width=\"340\" height=\"73\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Keterangan:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">T = Ditabuh dengan cara ditahan atau <em>mute<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">B = Ditabuh dengan cara dibuka atau bunyi dibirkan <em>sustain<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Perlu ditegaskan, bahwa apa yang digambarkan melalui notasi di atas hanya merupakan pola ritmiknya saja, tidak mengandung unsur melodi. Dalam notasi di atas, saya menggambarkan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Notasi_musik\">notasi<\/a> dalam dua buah lapis (layer) paranada. Pada garis pertama saya menggambarkan pola ritmik atau tabuhan tangan kanan, sedangkan pada garis kedua saya menggambarkan pola ritmik tangan kiri. Saya membagi ke dalam dua persepsi:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Persepsi pertama<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ritmik atau tabuh pada kedua tangan sesuai dengan notasi di atas, sehingga secara visual (dengan asumsi jika kita mampu membaca notasi) kita dapat mengetahui pola ritmik dan memainkannya secara langsung menggunakan <em>gamolan<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Persepsi Kedua<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ritmik atau tabuh yang saya gambarkan menggunakan notasi di atas tidak sepenuhnya dimainkan sesuai dengan kondisi visual yang ada, dengan kata lain ada sedikit perbedaan yang sulit untuk diterjemahkan ke dalam notasi. Fenomena ini mungkin hampir mirip dengan notasi pada musik <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Jazz\">jazz<\/a>. Tinjau gambar berikut.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/12\/summer-time.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-544\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/12\/summer-time-300x194.jpg\" alt=\"summer-time\" width=\"300\" height=\"194\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/12\/summer-time-300x194.jpg 300w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/12\/summer-time-768x497.jpg 768w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/12\/summer-time-464x300.jpg 464w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/12\/summer-time.jpg 985w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Notasi di atas merupakan notasi dalam karya atau lagu jazz standar berjudul \u201csummer time\u201d. Cara membaca (terutama pada not yang ditandai) not tersebut tidaklah sesuai dengan apa yang terlihat, tetapi menggunakan pola ritmik ala jazz (baca: swing). Artinya, untuk memainkan pola ritmik tangan kanan dan kiri tidaklah sesuai dengan konsep notasi yang ditawarkan pada gambar pertama. \u00a0Notasi pada persepsi kedua merupakan gambaran umum saja tetapi sebenarnya sama sekali berbeda jika dimainkan. Saya menyebutnya dengan istilah <em>laidback<\/em>. <span style=\"color: #ff0000\"><em>Laidback<\/em><\/span> dapat diartikan sebagai sebuah interpretasi tempo yang cenderung sedikit keluar dari akurasi ritmik. Contoh yang paling sederhana fenomena ini banyak terjadi di musik R n B &#8211; Rapp, Motown dan soul. Tentu belum terbayang bagi kita sebelum mendegarkan musiknya secara langsung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Perbedaan Metrik Indonesia dan Barat<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ada perbedaan yang sangat mendasar antara musik tradisional Indonesia dengan budaya musik Barat. Sistem musik Barat memiliki metrik yang ditungkan ke dalam nilai-nilai ritmik dan not. Seluruh nilai ditulis dan terpola secara matematis, misalnya pada not penuh, not setengah, not seperempat, tanda diam dan seterusnya. Di Indonesia sistem ini mungkin hanya berlaku di beberapa tradisi, ingat bahwa kita memiliki sekitar 34 provinsi dengan ribuan suku dan etnis, masing-masing etnis memiliki kesepakatan dalam bermusik. Nyawa dalam musik sesungguhnya adalah kesepakatan, jadi apabila notasi yang berkembang secara universal (dikenal dengan notasi balok) saat ini tidak disepakati, tidak mungkin digunakan sampai saat ini. Terlepas dari benar atau salah, efektif atau tidak, baik atau buruk, kesepakatan-kesepakatan dalam kultur musik tradisional adalah sah. Dalam mempelajari musik tradisional Lampung seperti <a href=\"https:\/\/bamboeindonesia.wordpress.com\/alat-musik-dari-bambu\/jenis-alat-musik-bambu\/gamolan-pekhing\/\"><em>gamolan<\/em><\/a> misalnya, kita harus menaggalkan pengetahuan budaya Barat yang kita kuasai, sehingga tidak menimbulkan intervensi saat belajar musik tradisional itu sendiri, karena musik tradisional memiliki aturannya sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam kaitannya dengan tabuh <em>sambai agung<\/em> yang sedang dibahas di atas, mempelajari musik tradisional harus berpedoman pada kaidah musik lokal, sehingga estetika musiknya dimengerti dan tidak hilang. Untuk mengetahui <em>feel<\/em> tabuh <em>gamolan<\/em> dengan detail, berkunjung ke seniman alam (<em>Indigenous<\/em>) merupakan hal yang paling tepat dilakukan karena musik harus ditelusuri di tempat dimana musik itu lahir dan berkembang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Riyan Hidayatullah Dosen FKIP Unila Beberapa waktu lalu saya mengunjungi sebuah rumah milik salah<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"gallery","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,3,11,5],"tags":[],"class_list":["post-542","post","type-post","status-publish","format-gallery","hentry","category-culture","category-educations","category-lampung","category-music","post_format-post-format-gallery"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/542"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=542"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/542\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=542"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=542"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=542"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}