{"id":536,"date":"2016-12-08T18:32:04","date_gmt":"2016-12-08T11:32:04","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/?p=536"},"modified":"2016-12-08T19:11:11","modified_gmt":"2016-12-08T12:11:11","slug":"sistem-matrix-dalam-musik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/2016\/12\/08\/sistem-matrix-dalam-musik\/","title":{"rendered":"Sistem Metrik dalam Musik"},"content":{"rendered":"<div class=\"date-posts\">\n<div class=\"post-outer\">\n<div class=\"post hentry uncustomized-post-template\">\n<div class=\"post-header\">\u00a0Oleh: Pra Budidharma<\/div>\n<div class=\"post-header\"><\/div>\n<div id=\"post-body-904335103618415385\" class=\"post-body entry-content\" style=\"text-align: justify\">\n<p>Perbedaan paling mendasar antara musik Barat dan Timur adalah sistem metrik yang berkaitan dengan bagaimana kita memperlakukan tempo. Tanpa disadari, budaya Timur yang pada dasarnya non-metris mempengaruhi kita dalam proses mempelajari musik Barat, sehingga kita harus mengolah lebih khusus perihal pembagian waktu secara metris. Agar dapat mencerap esensi musik Barat (kontemporer), kita perlu menyimak kaidah-kaidah TEMPO, BEAT dan RHYTHM untuk menghasilkan GROOVE dan menciptakan FEEL dari musik yang kita mainkan. Seyogyanya, dengan memanfaatkan sistem metrik Barat ke dalam musik Timur, maka akan mendekatkan kedua budaya dunia Timur dan Barat. Sehingga kekuatan \u2018FEEL\u2019 musik Timur dapat mencairkan sistem metrik barat yang dapat berkesan mekanikal dan sebaliknya, sistem metrik Barat dapat memperkaya implementasi musik Timur.<\/p>\n<p>Sistem metrik dinyatakan di dalam bentuk-bentuk nilai nada seperti nada penuh, nada setengah (half-note), nada seperempat yang paling umum digunakan atau quarter-note, nada seperdelapan (eight-note), dan sub-devisi nada-nada yang lainnya. Nilai nada menerangkan berapa lama durasi sebuah nada dibunyikan. Selain bunyi durasi nada, \u2018diam\u2019 atau \u2018silence\u2019 di antara nada-nada diberlakukan dengan nilai nada \u2018rest\u2019 atau istirahat (diam). Hitungan sistem metrik menyatakan berapa jumlah jenis nada-nada tertentu di dalam sebuah \u2018measure\u2019 (birama) atau terkenal dengan istilah \u2018bar\u2019, ditandai dengan istilah \u2018time signature\u2019.<\/p>\n<p>TEMPO &#8211; Dalam bahasa Italia, yang berarti \u201cwaktu\u201d, menunjukkan kecepatan \u201cpulse\u201d atau \u201cdenyut\u201d yang terbagi dalam hitungan per menit. Terminologi populer dalam istilah musik Barat disebut \u201cbeat per minute\u201d atau disingkat b.p.m. Tempo terlambat di dalam musik yang dapat kita temukan adalah 40 bpm dan tempo tercepat adalah 218 bpm, pada umumnya dapat dimainkan oleh sebuah \u201cmetronome\u201d. Pembagian denyut tempo ini menggunakan sistem metrik dalam menempatkan ketukan atau nada yang dapat diuraikan sesuai dengan nilai nada. Tempo dalam musik Barat terbagi atas klasifikasi sebagai berikut :<\/p>\n<p>Very Slow &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Largo : 40 \u2013 60 bpm<br \/>\nSlowly&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Larghetto : 60 \u2013 68 bpm<br \/>\nFairly Slow&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Adagio : 68 \u2013 78 bpm<br \/>\nModerately Slow&#8212;&#8212;- Andante : 78 \u2013 108 bpm<br \/>\nModerate &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Moderato : 108 \u2013 120 bpm<br \/>\nModerately Fast &#8212;&#8212;- Allegro : 120 \u2013 168 bpm<br \/>\nFast &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Presto : 168 \u2013 200 bpm<br \/>\nVery Fast &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Prestissimo : 200 \u2013 218 bpm<\/p>\n<\/div>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/12\/8TGoqraEc.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-539\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/12\/8TGoqraEc-300x261.jpg\" alt=\"8tgoqraec\" width=\"300\" height=\"261\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/12\/8TGoqraEc-300x261.jpg 300w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/12\/8TGoqraEc-768x667.jpg 768w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/12\/8TGoqraEc-345x300.jpg 345w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/12\/8TGoqraEc.jpg 800w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<div id=\"post-body-904335103618415385\" class=\"post-body entry-content\" style=\"text-align: justify\">\n<p>BEAT &#8211; Adalah \u201cpulse\u201d atau denyut yang menjadi unit paling mendasar dari rhythm. BEAT terbagi di dalam devisi tempo secara metrik atau dalam hitungan matematis dalam bentuk denominator (pecahan bilangan). Denyut bunyi yang merata tidak memberikan rasa emosional kepada pendengar maupun pemain, oleh sebab itu beat memiliki tekanan yang kuat dan yang lemah, yang tidak terlalu kuat dan yang tidak terlalu lemah. Misalnya denyut tekanan beat pada lagu berirama rock memiliki beat yang kuat pada ketukan pertama dan ketiga, oleh sebab itu ketukan pertama disebut \u201cdown-beat\u201d. Sementara musik jazz memiliki tekanan beat kuat pada ketukan kedua dan ke-empat. Secara umum, beat terbagi menjadi dua jenis yaitu \u201cdown-beat\u201d dan \u201coff-beat\u201d, down-beat adalah ketukan di bawah (khususnya ketukan pertama pada tiap bar) dan off-beat adalah nada pada ketukan di atas. Penekanan atau aksen pada hitungan off-beat akan menciptakan pola ritem yang disebut sinkopasi. Sering kali BEAT dikonotasikan sebagai corak musik, sebab esensi penempatan aksen pada beat akan memberikan karakter yang khas dari ritme musik.<\/p>\n<p>RHYTHM &#8211; Secara umum, rhythm adalah pergerakan aural atau visual yang terukur dan terkendali, biasanya dihasilkan oleh rancangan yang teratur dari beberapa elemen (nilai-nilai nada) yang berbeda. Rhythm adalah penampilan dasar dari semua bentuk seni, khususnya musik, puisi dan tari. Di dalam musik, rhythm bermakna tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan pergerakan ke depan dari musik di dalam struktur tempo. Sebagai tambahan untuk arti yang lebih luas, terminologi rhythm kadang-kadang digunakan berkaitan dengan kejadian waktu yang spesifik, seperti panjangnya durasi sebuah pola ketukan.<\/p>\n<p>Seperti ritem di dalam alam semesta, pergerakan planet-planet, pergantian iklim dan detak jantung, ritme musik biasanya terorganisir ke dalam pola yang terulang secara rutin. Pola-pola tersebut meregulasi pergerakan dari musik dan membantu pendengaran kita dalam menangkap strukturnya. Unit ritme yang paling mendasar adalah BEAT atau \u2018pulse\u2019 (denyut), pengulangan pola waktu seperti detak jantung.<\/p>\n<p>Di dalam \u2018dance music\u2019, denyut ritem sangat dinyatakan dengan jelas, biasanya oleh drum-beat. Untuk musik yang lebih kompleks, beat sering kali hanya merupakan bilangan pecahan untuk durasi nada yang sebenarnya, dapat lebih panjang atau lebih pendek dari denyut itu sendiri. Namun bila kita mengikuti ketukan dengan hentakan kaki misalnya, maka beat tersebut akan terasa lebih nyata.<br \/>\nPola aksen yang umum dari sebuah komposisi musik dapat diuraikan ke dalam denyut secara individual. Di dalam notasi ritmik, nada-nada diberi nilai sesuai dengan relasinya terhadap beat. Kelompok kesatuan beat-beat di dalam komposisi musik menentukan \u2018meter\u2019 (ukuran). \u2018Meter\u2019 ini diidentifikasikan oleh \u2018time signature\u2019 (denominator ketukan).<\/p>\n<p>Sementara beat-beat meregulasi durasi nada atau nada-nada, beat-beat itu sendiri diregulasikan oleh pengulangan kesatuan yang disebut \u2018measure\u2019. Measure terbentuk oleh penekanan pertama di dalam serangkaian beat-beat, dan beat-beat terkelompok ke dalam sebuah pola. Istilah \u2018meter\u2019 berkenaan dengan, pertama-tama mengenai aksen secara umum, kedua khusus untuk kelompok metrikal yang digunakan di dalam komposisi. Di dalam notasi musik, meter ditandai oleh \u2018time signature\u2019. Misalnya di dalam time signature 2\/4, angka 4 menandakan ketukan dasar yang terulis sebagai nada seperempat atau \u2018quarter-note\u2019, sementara angka 2 berarti ada dua buah nada seperempat pada tiap-tiap \u2018measure\u2019. Demikian juga dengan time signature 6\/8 berati ada enam buah nada seperdelapan di dalam setiap measure, termasuk ke dalam pola ritem yang kompleks disebut \u2018compound meter\u2019.<\/p>\n<p>Ketika beat-beat dikelompokkan ke dalam measure, lalu measure-measure ini juga dikelompokkan ke dalam kesatuan yang lebih besar. Pengelompokan measure-measure menciptakan segmen tempo lebih lebar yang membentuk sebuah komposisi lagu. Sebuah motif (ide melodik pendek yang membentuk kesatuan musikal secara lengkap) dapat terdiri atas lebih dari satu measure. Satu motif atau lebih dapat diulang dan bervariasi untuk membentuk kalimat nada (phrase). Kalimat-kalimat nada dikombinasikan untuk menghasilkan \u2018section\u2019 atau bagan, dan section-section ini membentuk sebuah komposisi secara keseluruhan. Dengan demikian, komposisi musik tercipta pada dasarnya secara ritmik alamiah.<br \/>\nSejak abad pertengahan hingga kini, musik Barat menampilkan lebih dari satu melodi secara bersamaan atau melodi yang dukung oleh pengiring. Hal ini menunjukkan hubungan antara nada-nada membutuhkan persyaratan sistem harmoni yang canggih. Sistem rhythm Barat memiliki kaidah-kaidah rasional yang terkendali dan terukur. Juga memungkinkan untuk menciptakan komposisi \u2018multi-part\u2019 (terdiri dari beberapa bagian) dengan teknik tinggi dan nuansa dramatika yang kompleks.<\/p>\n<p>GROOVE \u2013 Istilah ini berasal dari perngertian kanal pada piringan hitam tempat jarum phonograph membunyikan trak musik yang berputar. Di dalam musik kontemporer, \u201cGROOVE\u201d berkenaan dengan tempo yang konstan dan stabil, saat musisi mengungkapkan FEEL ritmis ketukan atau serangkaian pola nada. Ungkapan atau ekspresi pemusik yang \u201cgroovy\u201d juga memberikan pengertian tentang bagaimana musisi menginterpretasikan TEMPO dari ketukan atau BEAT. Terminologi ini berkembang semenjak corak musik kulit hitam seperti R n B, Motown dan Soul menjadi populer pada dekade 60, istilah groove mulai banyak digunakan oleh musisi pada umumnya. Walaupun pada awalnya tercetus dikalangan pemusik kulit hitam di Amerika Serikat, kaum remaja menggunakan kata ini sebagai ungkapan rasa di dalam kehidupan sehari-hari yang artinya sama seperti istilah \u201ccool\u201d (keren atau asyik). Terminologi musik populer yang berkaitan erat dengan groove adalah tata-cara bermain \u201claid-back\u2019 yang secara harfiah berarti \u201crileks\u201d atau santai. Namun secara teknis, istilah \u2018laid-back\u2019 menerangkan interpretasi beat di belakang akurasi tempo, atau ketukan yang dimainkan sedikit terlambat secara stabil. Pada umumnya di dalam kecepatan tempo yang relatif, efektif di bawah 120 bpm.<\/p>\n<p>Hal yang alami dalam bermain musik, musisi memiliki kecenderungan untuk mempercepat tempo permainan. Ini terjadi oleh karena faktor emosional atau energi bermain yang kurang terkontrol. Terutama ketika memainkan musik dalam tempo medium (80 \u2013 120 bpm adalah tempo yang umum digunakan untuk musik-musik populer), kesulitan dalam mempertahankan tempo secara stabil sangat krusial. Bermain secara \u2018laid-back\u2019 akan efektif dapat menanggulangi dalam mengkontrol emosi pemain agar tidak terjadi \u2018rushing\u2019 atau percepatan tempo yang tidak disengaja. Faktor emosi yang dapat menyebabkan percepatan tempo adalah alami, sebaliknya, tempo yang mengendur atau memperlambat secara tidak disengaja akan menjadi fatal, karena dapat mengakibatkan musik tidak menarik dan berkesan seolah-olah pemain mengalami masalah teknis bermain.<\/p>\n<p>Istilah GROOVE berkembang semenjak James Brown mempopulerkan corak funk atau soul pada akhir dekade 60. \u2018Groove\u2019 tidak lagi semata-mata berkaitan dengan \u2018laid-back feel\u2019 melainkan segala-sesuatu yang \u2018funky\u2019 dengan \u2018syncopated rhythm\u2019 yang agresif, dapat disebut \u2018grooving\u2019. Dengan kata lain, groove adalah ekspresi rasa ritmik pemain musik yang dapat berkomunikasi dengan audiens secara emosional. Atau ekspresi \u2018feel\u2019 musik dari ritem yang dimainkan dengan intensitas yang tinggi dan energik.<\/p>\n<p>FEEL &#8211; \u2018Musical Feel\u2019 adalah \u2018rasa dalam bermusik\u2019 dari musisi ketika memainkan sebuah komposisi sesuai dengan selera, interpretasi, kemampuan teknis, latar-belakang kultural, kreatifitas dan berbagai faktor psichologis seperti aspek komunikasi, sensibilitas dan kejiwaan pemain. Di dalam budaya musik modern, secara kongkrit, musik kontemporer dapat dibagi atas dua jenis \u2018feel\u2019 yaitu \u2018jazz-feel\u2019 dan \u2018rock-feel\u2019. Oleh karena pengaruh kultural budaya musik Irlandia, Jazz-feel cenderung pada devisi ketukan triple, sementara rock-feel lebih menekankan hitungan nada-nada seperdelapan (duple). Esensi feel ini berdasarkan bagaimana asal muasal pola ritmis kedua jenis musik tersebut terbentuk. Di dalam musik jazz yang menerapkan pola ketukan triplet menciptakan \u2018swing-feel\u2019 yang khas. Namun di dalam perkembangannya, setelah era bebop, \u2018swing-feel\u2019 berubah menjadi \u2018straight-eight\u2019 atau \u2018even-eight-feel\u2019 ketika musik jazz dimainkan dalam tempo cepat era post-bop dan modern jazz.<\/p>\n<p>Secara lebih luas, \u2018musical feel\u2019 dapat mencakup berbagai ungkapan rasa dalam bermusik. Misalnya shuffle-feel di dalam musik blues yang juga menggunakan \u2018triplet-feel\u2019 dengan aksen \u2018one and three\u2019 pada bass-drum, sementara beat \u2018two and four\u2019 diberi aksen oleh snare-drum. \u2018Shuffle-feel\u2019 yang sama diterapkan pada salah satu alat \u2018closed hi-hat\u2019 atau pada \u2018ride cymbal\u2019. \u2018Musical feel\u2019 lain yang mengambil pengaruh dari musik Afro-cuban menciptakan \u2018six-eight-feel\u2019, yaitu komposisi musik yang menggunakan ketukan metrik 6\/8 atau \u2018twelve-eight-feel\u2019 (pola ketukan metrik 12\/8). \u2018Six-eight-feel\u2019 dan \u2018twelve-eight-feel\u2019 ini menerapkan aksen pada \u2018off-beat\u2019 sehingga menciptakan pola ritem \u2018syncopated-beat\u2019, karena pengaruh multi-layer rhythm dari budaya musik Afrika. Pengaruh Afrika juga menciptakan berbagai ritme-ritme ganjil dalam birama yang tidak umum selain devisi ketukan tiga dan empat seperti 5\/4, 7\/8, dll, disebut dengan istilah \u2018ODD-TIME feel\u2019. Dalam hal ini penekanan pada down-beat (ketukan pertama pada bar) menjadi sangat penting untuk dapat merasakan pola-pola rhythm ganjil, namun musisi yang telah mahir memainkan \u2018ODD-TIME\u2019, mereka kerap menghindari down-beat untuk mendapatkan kebebasan bermain dan mengembangkan kreatifitas bermusik. \u2018ODD-TIME feel\u2019 yang lebih abstrak dalam sistem metrik menciptakan multi-layer rhythm seperti \u2018five against four\u2019 yang disebut POLY-RHYTHM.<\/p>\n<div><\/div>\n<\/div>\n<div class=\"post-footer\">\n<div class=\"post-footer-line post-footer-line-1\" style=\"text-align: justify\"><span class=\"post-author vcard\"> Diposkan oleh <span class=\"fn\"> <a class=\"g-profile\" title=\"author profile\" href=\"https:\/\/www.blogger.com\/profile\/11967909113779502244\" rel=\"author\"> Gilang Ramadhan Studio Drummer <\/a> <\/span> <\/span> <span class=\"post-timestamp\"> di <a class=\"timestamp-link\" title=\"permanent link\" href=\"http:\/\/grsd-indonesia.blogspot.co.id\/2009\/02\/sistem-matrix-dalam-musik-oleh-pra.html\" rel=\"bookmark\"><abbr class=\"published\" title=\"2009-02-19T22:43:00-08:00\">22.43<\/abbr><\/a><\/span><\/div>\n<div class=\"post-footer-line post-footer-line-1\"><\/div>\n<div class=\"post-footer-line post-footer-line-1\">\n<h2 class=\"date-header\">Kamis, 19 Februari 2009<\/h2>\n<div class=\"post-share-buttons goog-inline-block\"><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0Oleh: Pra Budidharma Perbedaan paling mendasar antara musik Barat dan Timur adalah sistem metrik yang<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"gallery","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-536","post","type-post","status-publish","format-gallery","hentry","category-music","post_format-post-format-gallery"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/536"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=536"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/536\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=536"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=536"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=536"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}