{"id":475,"date":"2016-11-30T21:47:47","date_gmt":"2016-11-30T14:47:47","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/?p=475"},"modified":"2016-12-01T05:59:02","modified_gmt":"2016-11-30T22:59:02","slug":"musik-dan-kaitannya-dengan-sains","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/2016\/11\/30\/musik-dan-kaitannya-dengan-sains\/","title":{"rendered":"Musik dan Kaitannya Dengan Sains"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Oleh: Riyan Hidayatullah<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dosen FKIP Unila<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam pandangan umum, di dalam otak kita, musik selalu diasosiasikan dengan sesuatu yang berbunyi, padahal tidak berbunyi pun dikatakan elemen dari musik, contohnya adalah tanda istirahat (the rest not) yang tiap kali muncul ketika kita membaca sebuah partitur. Selain itu, musik selalu dikaitkan dengan genre musik tertentu, seperti rock, jazz, dangdut, pop, blues atau musik tradisi, hal ini tidaklah salah karena secara umum manusia berpikir berdasarkan pengalaman musikalnya sendiri dan atas apa yang ia pahami, bukan ia yakini kebenarannya. Hal ini akan sangat jauh berbeda jika kita berbicara soal disiplin ilmu lain, seperti matematika, fisika, bahasa dan bidang-bidang lain yang bersebrangan dari dunia musik. Sebagai contoh, pandangan umum selalu menganggap bahwa matematika itu ilmu pasti dan musik itu ilmu ketidakpastian karena merupakan cabang dari seni yang merupakan &#8220;cucu&#8221; dari ilmu filsafat. Jika 1+1 = 2 menurut matematika, maka 1+1 bisa bermakna dua, empat, sebelas atau apapun. Hal ini tidak sepenuhnya salah tetapi tidak juga sepenuhnya benar, karena pada dasarnya matematika itu sendiri merupakan bahan baku semua ilmu, termasuk musik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Contoh yang paling sederhana, misalnya saja pada kasus berikut di dalam musik:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/Bentuk-dan-nilai-not-serta-tanda-diam1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-476 aligncenter\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/Bentuk-dan-nilai-not-serta-tanda-diam1-287x300.jpg\" alt=\"bentuk-dan-nilai-not-serta-tanda-diam1\" width=\"348\" height=\"363\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/Bentuk-dan-nilai-not-serta-tanda-diam1-287x300.jpg 287w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/Bentuk-dan-nilai-not-serta-tanda-diam1.jpg 480w\" sizes=\"(max-width: 348px) 100vw, 348px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pada tabel di atas, sangat jelas terlihat bahwa not atau nada-nada yang membentuk sebuah ritme atau melodi itu memiliki nilai. Nilai tersebut digunakan untuk membentuk sebuah sistem melodi dan harmoni agar menghasilkan nada-nada musik yang indah (baca: estetika). Ini merupakan unsur matematis dalam musik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Di dalam otak kita terdapat sebuah bagian otak yang dinamakan &#8220;Cingulate Cortex&#8221; (cc), bagian inilah yang mempengaruhi kerja otak yang berhubungan dengan perasaan manusia. Rasa senang, benci, sedih, marah dan sebagainya diproduksi atas seizin bagian tersebut. Saat kita mendengarkan sebuah musik tertentu atau melodi-melodi yang &#8220;menenangkan&#8221; CC akan bereaksi dengan membuat tubuh dan pikiran merasa rileks. Berikut ini contoh lagu yang dimaksud:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=Jh5JqpGYQHI%20%20%20\">https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=Jh5JqpGYQHI<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Lagu Cantabile karya Niccolo Paganini ini memiliki nada dasar D. Jika dihubungkan dengan teori terapi musik dan warna, nada dasar D memiliki hubungan dengan warna orange yang memberikan energi keberanian dan keseimbangan diri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Kaitan Musik dengan Bahasa<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Mari kita tinjau unsur-unsur bahasa dari mulai yang terkecil sampai terbesar sebagai berikut:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">1. Huruf<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">2. Kata<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">3. Kalimat<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">4. Paragraf<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Unsur-unsur tersebut jika digabungkan akan menjadi sebuah cerita yang dalam bahasa musik dinamakan lagu. Huruf dalam gramatika musik diasosiasikan sebagai not atau nada seperti gambar berikut:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/a.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-480 aligncenter\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/a.jpg\" alt=\"a\" width=\"92\" height=\"59\" \/><\/a><\/p>\n<p>Kata dalam gramatika merupakan gabungan dari not atau nada-nada tersebut, seperti pada gambar berikut:<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/b.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-481\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/b-300x59.jpg\" alt=\"b\" width=\"300\" height=\"59\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/b-300x59.jpg 300w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/b.jpg 329w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: left\">Kalimat dalam bahasa musik memiliki struktur yang lebih lebar dari kalimat, seperti gambar berikut:<\/p>\n<p style=\"text-align: left\"><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/c.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-482 aligncenter\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/c-300x31.jpg\" alt=\"c\" width=\"414\" height=\"57\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: left\">Paragraf merupakan susunan dari satu atau lebih kalimat musik, tinjau gambar berikut:<\/p>\n<p style=\"text-align: left\"><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/d.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-483 aligncenter\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/d-300x238.jpg\" alt=\"d\" width=\"374\" height=\"300\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: left\">Penggabungan dari semua unsur tersebut membentuk sebuah cerita atau lagu yang utuh, seperti karya berikut:<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/AirOnGVlFirst_BIG.gif\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-484\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/AirOnGVlFirst_BIG-212x300.gif\" alt=\"airongvlfirst_big\" width=\"212\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/AirOnGVlFirst_BIG-212x300.gif 212w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/AirOnGVlFirst_BIG-724x1024.gif 724w\" sizes=\"(max-width: 212px) 100vw, 212px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: left\"><strong>Musik dan Matematika<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Jika di awal pembahasan saya mengulas mengenai nilai not atau nada yang menjadi pondasi sebuah musik. Maka saya akan memberikan contoh lain menggunakan bahasa matematika. Kita mengetahui bahwa matematika adalah suatu alat yang digunakan untuk mempermudah menukan pola (baca:rumus), dalam kaitannya dengan musik dianalogikan menggunakan tangga nada (scale). Di dunia ini ada ribuan atau bahkan lebih tangga nada, sesuai dengan daeah dan budaya dimana musik itu lahir dan berkembang. Sedangkan secara universal kita mengenal yang dinamakan sistem tangga nada diatonis dan pentatonis. Dalam bahasan kali ini saya hanya menggunakan contoh diatonis. Tangga nada diatonis merupakan sistem skala nada yang memili 8 susunan nada, yakni Do-re-mi-fa-sol-la-si-do atau 1 &#8211; 2 &#8211; 3 &#8211; 4 &#8211; 5 &#8211; 6 &#8211; 7 &#8211; 1. Jarak dari nada ke-1 dan nada ke- 2 dinamakan interval. Interval antar nada memiliki konfigurasi yang berbeda. Tinjau gambar berikut:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/jarak-nada.gif\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-485 aligncenter\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/jarak-nada-300x94.gif\" alt=\"jarak-nada\" width=\"300\" height=\"94\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/jarak-nada-300x94.gif 300w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/jarak-nada-500x157.gif 500w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Saya menggunakan contoh Do = C, C ke D berjarak 1, D ke E berjarak 1, E ke F berjarak 1\/2 dan seterusnya. Pola ini sudah tersistem di dalam tangga nada diatonis dalam bahasa matematis kita asumsikan sebagai rumus. Dalam sebuah instrumen musik melodis maupun harmonis, Interval akan sangat mempengaruhi posisi. Sebagai contoh dalam gitar yang memiliki susunan fret yang semakin mengecil menuju lubang suara, hal ini dikarenakan susunan atau pola tadi. dalam hubungannya dengan bermain gitar, sangat mempengaruhi jari dalam menekan nada-nada pada setiap fret. Tinjau Gambar berikut:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/2-2-1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-486 aligncenter\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/2-2-1-300x136.jpg\" alt=\"2-2-1\" width=\"300\" height=\"136\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/2-2-1-300x136.jpg 300w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/2-2-1-500x226.jpg 500w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/2-2-1.jpg 595w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Jika anda seorang pemain gitar, maka anda akan tahu pola-pola seperti ini. Pola-pola yang disusun menggunakan rumus interval tadi akan sangat membantu para pemain gitar untuk menemukan posisi jari yang nyaman dan sesuai, sehingga bermain musik terasa lebih mudah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Musik dan Fisika<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Saat saya masih bersekolah di UPI Bandung, saya mempelajari mengenai akustik. akustik sendiri merupakan ilmu yang mempelajari tentang bunyi-bunyian beserta segala gejalanya. Jika kita pernah mendengar frekuensi, day bunyi, intensitas atau hal-hal semacam ini maka bisa dipastikan kita sudah tidak asing dengan istilah fisika tersebut. Ilmu akustik sangat dibutuhkan dalam berbagai hal, salah satunya dalam musik. Seorang musisi yang memanfaatkan studio musik, auditorium, amphiteater atau gedung-gedung berkapasitas besar yang diperuntukkan untuk seminar pasti memanfaatkan akustik. Sebagai contoh, dalam dunia musik klasik, standar gedung pertunjukan untuk sebuah musik klasik adalah yang memiliki akustik terbaik tanpa menggunakan amplifikasi. Hal ini berkenaan dengan estetika organologi dan estetika suara, dan estetika musik akustik itu sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kasus lain saya memberikan contoh menggunakan volin atau biola:<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/vintage-Stainer-violin.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-487\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/vintage-Stainer-violin-300x162.jpg\" alt=\"vintage-stainer-violin\" width=\"300\" height=\"162\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/vintage-Stainer-violin-300x162.jpg 300w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/vintage-Stainer-violin-500x270.jpg 500w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/vintage-Stainer-violin.jpg 650w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Dalam sebuah bow (alat penggesek) biola, terdapat titik kuasa, titik tumpu dan titik beban<\/p>\n<div class=\"sg-content-box sg-content-box--spaced-bottom\">\n<div class=\"brn-answer__text\">\n<div class=\"sg-text\" style=\"text-align: justify\">\n<p><strong>Titik kuasa<\/strong>, adalah tempat yang digunakan untuk tempat kuasa yang dilakukan. <strong>Titik tumpu\/fulcrum<\/strong>, adalah tempat yang digunakan untuk bertumpunya batang tuas. Titik tumpu letaknya dapat berubah. <strong>Titik beban<\/strong>, adalah berat benda yang diusahakan untuk dikalahkan. Tinjau gambar berikut:<\/p>\n<\/div>\n<div class=\"sg-text\" style=\"text-align: center\"><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/L15035.1L.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-488\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/L15035.1L-300x70.jpg\" alt=\"l15035-1l\" width=\"346\" height=\"91\" \/><\/a><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"sg-text\" style=\"text-align: center\"><\/div>\n<div class=\"sg-content-box sg-content-box--spaced-bottom\">\n<div class=\"brn-answer__text\">\n<div class=\"sg-text\" style=\"text-align: justify\">Dengan memahami konsep seperti ini, seorang pemain biola akan tahu bagaimana mengolah kekuatan tangan dalam menggunakan bow, memanfaatkan kuasa dan beban untuk menghasilkan gesekan yang efektif dan efisien. Karena, jika teknik bermain biola ini diterapkan secara salah, maka yang terjadi bukan saja berpengaruh pada kulialtas bunyi, tetapi menimbulkan dampak negatif yang serius secara fisiologi.<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"sg-text\" style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div class=\"sg-text\" style=\"text-align: justify\">Demikian sekilas tulisan dari saya, semoga bermanfaat.<\/div>\n<div class=\"sg-text\" style=\"text-align: justify\">Dokumentasi: Riyan Hidayatullah<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Riyan Hidayatullah Dosen FKIP Unila Dalam pandangan umum, di dalam otak kita, musik selalu<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"gallery","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-475","post","type-post","status-publish","format-gallery","hentry","category-music","post_format-post-format-gallery"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/475"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=475"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/475\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=475"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=475"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=475"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}