{"id":408,"date":"2016-11-30T08:21:38","date_gmt":"2016-11-30T01:21:38","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/?p=408"},"modified":"2016-12-08T18:45:35","modified_gmt":"2016-12-08T11:45:35","slug":"lampung-darurat-fakultas-budaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/2016\/11\/30\/lampung-darurat-fakultas-budaya\/","title":{"rendered":"LAMPUNG DARURAT FAKULTAS BUDAYA"},"content":{"rendered":"<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Oleh: Riyan Hidayatullah<\/p>\n<p>Dosen Pendidikan Seni Musik FKIP Universitas Lampung<\/p>\n<p>HP: 081389777661<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Budaya merupakan istilah yang sangat dekat masyarakat. Suatu daerah bisa menjadi ketertarikan karena budayanya. Sebut saja negara Jepang yang memiliki budaya menarik \u2013 tercermin mulai dari bahasa, cara berpakaian, kesopanan sampai seninya. Di Indonesia sendiri masyarakat dunia lebih mengetahui Bali sebagai objek wisata dan berbagai budayanya yang unik. Beberapa negara menjadi sasaran destinasi wisata karena budayanya yang menarik sehingga bisa meningkatkan sumber pendapatan sektor pariwisata. Permasalahannya, sudah seberapa jauh kita menggali potensi daerah di gugusan ribuan pulau Indonesia yang \u201ckatanya\u201d kaya tersebut? Jika seluruh potensi daerah yang ada di Indonesia dioptimalkan, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi salah satu sasaran utama para turis mancanegara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Budaya Sebagai Produk Masyarakat<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kita memahami bahwa dalam konteks bermasyarakat budaya selalu ikut mabil bagian di dalamnya. Sebut saja dalam hal berkesenian, nilai-nilai lokal selalu menjadi cerminan kondisi sosial dalam suatu masyarakat. Tari, musik, sastra menjadi hal yang pertama diidentikkan dengan budaya. Arnold Hauser dalam bukunya yang berjudul <em>The Sociology of Art<\/em>, seni dikatakan sebagai produk masyarakat. Produksi \u201chasil\u201d karya\u00a0 seni\u00a0 tergantung\u00a0 pada\u00a0 proses\u00a0 <em>sociohistorical<\/em>\u00a0 pada\u00a0 sejumlah faktor\u00a0 yang\u00a0 beragam.\u00a0 Hal\u00a0 ini\u00a0 ditentukan\u00a0 oleh\u00a0 alam\u00a0 dan\u00a0 budaya, geografi, ras, waktu, tempat, biologi, psikologi, serta kelas ekonomi dan\u00a0 sosial. Seni merupakan salah satu unsur penguat dalam budaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Masyarakat menciptakan budaya melalui pola komunikasi dan bersikap yang selajutnya dimanifestasikan ke dalam berbagai hal. Misalnya, <em>pi-il pesenggiri<\/em> yang merupakan falsafah hidup orang Lampung yang juga menjadi ciri kepribadian masyarakat Lampung. Istilah <em>pi-il<\/em> tercermin dalam rasa atau pendirian, sedangkan <em>pesenggiri<\/em> berarti harga diri. Pandangan ini lahir beratus-ratus tahun lalu dan pada akhirnya menjadi cerminan masyarakat Lampung. Pandagan ini kemudian diterapkan pada berbagai wilayah budaya, seperti musik, tarian, sastra, masakan, cara berpakaian yang kemudian menjadi \u201cbudaya Lampung\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Institusi Pendidikan Tinggi Sebagai <em>Stakeholder<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Tugas memajukan sektor budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab dinas pendidikan dan kebudayaan saja, tetapi secara <em>de facto<\/em> tanggung jawab masyarakat Lampung dan institusi-institusi pendidikan tinggi yang berperan membangun Lampung melalui sektor pendidikan. Institusi pendidikan tinggi memiliki peran krusial dalam berperan serta melestarikan budaya melalui sarjana-sarjana agen budaya. Sarjana bahasa, sastra dan seni contohnya, merupakan ujung tombak dalam melaksanakan misi penyebaran budaya ke masyarakat luas. Seorang sarjana atau akademisi memiliki fungsi untuk menjembatani antara masyarakat adat lokal, praktisi maupun seniman untuk bersama-sama membangun daerah melalui berbagai program.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sebagai contoh, praktisi budaya dapat mengakomodasi kebutuhan informasi, sementara akademisi membuat rancangan program-program percepatan diseminasi budaya Lampung ke daerah-daerah seluruh Indonesia. Dalam hal ini Pemerintah daerah atau dinas terkait membatu realisasinya. Jika kebersamaan ini bersinergi dengan baik, bukan tidak mungkin Lampung sebagai pintu gerbang Sumatera menjadi destinasi wisata utama para turis lokal maupun mancanegara seperti Bali.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Lampung memiliki banyak institusi pendidikan tinggi ternama seperti, Universitas Lampung (Unila), Institut Teknologi Sumatera (ITERA), IAIN Raden Inten Lampung dan masih banyak lagi. Sebagai salah satu <em>stakeholder,<\/em> Institusi tersebut dapat menyediakan dan meningkatkan program pertukaran mahasiswa, dengan demikian para mahasiswa yang dikirim dapat menjadi representasi jiwa muda dalam memperkenalkan Indonesia di mata dunia. Hal ini dapat memberikan nilai komersial tinggi bagi Indonesia dan secara tidak langsung mereka mempromosikan Indonesia ke dunia secara global. Jika minat orang asing semakin tinggi mengunjungi Negara kita khususnya ke Lampung, perndapatan nasional dan daerah akan terus meningkat di bursa pariwisata. Jika hal ini terjadi, maka ketertarikan mahasiswa asing untuk mengenyam pendidikan di Provinsi Lampung semakin meningkat seperti yang sudah berjalan di beberapa perguruan tinggi besar di Jawa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Wadah yang memungkinkan terealisasinya mimpi tersebut adalah dengan dibukanya fakultas budaya sebagai produk dari institusi pendidikan tinggi di Lampung. Oleh karena itulah beberapa institusi besar Lampung beberapa waktu lalu merapatkan barisan melalui pembentukkan Ikatan Dosen Budaya Daerah Indonesia (IKADBUDI) komisariat Lampung.<\/p>\n<figure id=\"attachment_409\" aria-describedby=\"caption-attachment-409\" style=\"width: 447px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/IMG_9912-1080x380.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-409\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2016\/11\/IMG_9912-1080x380-300x106.jpg\" alt=\"Seminar Nasional IKADBUDI sekaligus pelantikan pengurus komisariat Lampung\" width=\"447\" height=\"166\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-409\" class=\"wp-caption-text\">Seminar Nasional IKADBUDI sekaligus pelantikan pengurus komisariat Lampung<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam acara yang dilaksanakan 30 maret 2016 dan bertempat di lingkungan FKIP Unila tersebut juga dilaksanakan seminar nasional bertemakan \u201cpenguatan budaya loka dalam menunjang promosi wisata nasional dan internasional\u201d. Cita-cita luhur dalam mengangkat budaya Lampung dikenal ke daerah bahkan dunia buka lagi isapan jempol belaka jika rencana ini berjalan dengan semestinya dan saling bersinergi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dokumentasi:<\/p>\n<p>https:\/\/www.google.com\/search?q=ikadbudi+lampung&#038;client=firefox-b&#038;source=lnms&#038;tbm=isch&#038;sa=X&#038;ved=0ahUKEwiR9rT7ps_QAhWIP48KHSjICTEQ_AUICigD&#038;biw=1366&#038;bih=657#imgrc=PTA51m0hnvf2MM%3A<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0 Oleh: Riyan Hidayatullah Dosen Pendidikan Seni Musik FKIP Universitas Lampung HP: 081389777661 &nbsp; Budaya<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"gallery","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,11],"tags":[],"class_list":["post-408","post","type-post","status-publish","format-gallery","hentry","category-culture","category-lampung","post_format-post-format-gallery"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/408"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=408"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/408\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=408"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=408"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=408"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}