{"id":1340,"date":"2022-11-17T21:38:08","date_gmt":"2022-11-17T14:38:08","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/?p=1340"},"modified":"2022-11-17T21:45:23","modified_gmt":"2022-11-17T14:45:23","slug":"membangun-narasi-kepemimpinan-melalui-percepatan-literasi-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/2022\/11\/17\/membangun-narasi-kepemimpinan-melalui-percepatan-literasi-digital\/","title":{"rendered":"Membangun Narasi Kepemimpinan Melalui Percepatan Literasi Digital"},"content":{"rendered":"<p>Tulisan ini merupakan naskah yang saya kirim untuk sebuah lomba esai nasional tahun 2022. Meskipun tidak berhubungan langsung dengan musik atau pendidikan musik, saya mengira bahwa tulisan ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi seluruh pembaca, termasuk para masyarakat musik. Saya yakin konsep <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=MxlJW11iwYM&amp;t=450s\">kepemimpinan<\/a> itu relevan diterapkan di dalam situasi apa saja dan dalam bidang apapun, termasuk pendidikan musik.<\/p>\n<h2><a name=\"_Toc106859235\"><\/a>1.1 Latar Belakang Masalah<\/h2>\n<p>Pendidikan di Indonesia terus berkembang seiring dengan pertumbuhan teknologi internet dan media sosial. Akses terhadap ilmu pengetahuan semakin terbuka luas dan tanpa batas. Namun, kemajuan teknologi yang sangat cepat itu belum diimbangi dengan kemampuan menyerap, memilih, dan mengelola informasi. Akibatnya selama beberapa tahun terakhir teknologi dan informasi justru memunculkan masalah sosial yang mengarah pada disintegrasi bangsa. Penggunaan media sosial seolah hilang kendali dan menyebabkan berbagai konflik horizontal. Pada kondisi yang penuh dengan ekses seperti sekarang, perlu penyegaran narasi baru tentang konsep kepemimpinan. Narasi kepemimpinan yang dimaksud tidak selalu berhubungan dengan organisasi atau jabatan tertentu, tetapi juga mampu diimplementasikan pada lingkup terkecil seperti individu. Sebagaimana hadist Riwayat Al-Bukhori yang mengatakan bahwa setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Demikian pula konsep atau wacana tentang kepemimpinan, perlu disederhanakan dan ditanamkan pada setiap warga negara.<\/p>\n<p>Dalam konteks organisasi atau komunitas, masalah <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=MxlJW11iwYM&amp;t=450s\">kepemimpinan <\/a>umumnya muncul akibat lemahnya kemampuan berkomunikasi, tidak menerapkan konsep kesetaraan, tidak memiliki visi yang jelas, kurangnya kemampuan bernegosiasi, serta kemampuan untuk mengatur jalannya sebuah sistem. Masalah yang bersifat sistemik umumnya dipengaruhi oleh kemampuan subjek atau individu dalam mengelola sesuatu. Oleh karena itu, untuk mengembangkan konsep kemepimpinan tidak dimulai dari sebuah lembaga tetapi berangkat pada kemampuan seseorang dalam menggunakan potensi dirinya. Charles Manz (1986) memperkenalkan gagasan tentang kepemimpinan diri atau <em>self leadership<\/em> di mana seseorang memiliki kontrol terhadap pikiran, perasaan, dan tindakannya untuk satu tujuan. <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=MxlJW11iwYM&amp;t=450s\">Kepemimpinan<\/a> diri akan mendorong seseorang untuk mengenali dan mengembangkan potensi melalui komunikasi, pengelolaan emosi, dan perilaku (Bryant &amp; Kazan, 2013). <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=MxlJW11iwYM&amp;t=450s\">Kepemimpinan<\/a> diri yang baik akan berimplikasi pada kinerja sehingga mampu ditempatkan pada ruang lingkup yang lebih besar seperti perusahaan hingga negara.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=MxlJW11iwYM&amp;t=450s\">Kepemimpinan<\/a> yang baik merupakan sebuah produk yang dicetak melalui upaya pendidikan, sementara pendidikan harus didukung oleh budaya literasi. Berdasarkan hasil survei Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) melalui\u00a0 Program for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2019, literasi Indonesia berada di peringkat ke 62 dari 70 negara (Kemenko PMK, 2021). Menanggapi hal ini pemerintah melakukan upaya-upaya percepatan budaya literasi melalui program di beberapa Kementerian. Peningkatan literasi merupakan salah satu solusi yang paling konkret untuk menjawab tantangan \u2018Indonesia Emas\u2019 tahun 2045 di mana saat itu Indonesia genap berusia 100 tahun. Saat itu Indonesia menghadapi bonus demografi dengan jumlah penduduk produktif di atas 50%. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut serta memanfaatkan peluang, pemerataan pendidikan dan literasi perlu mengalami percepatan. Tujuannya agar pertumbuhan keterampilan dalam menghasilkan gagasan dan penulisan karya terus meningkat.<\/p>\n<p>Selain proses pembudayaan literasi melalui aktivitas membaca dan menulis, kemampuan menguasai media digital juga menjadi aspek krusial. Karena akses dan keberlimpahan informasi memungkinkan setiap orang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya secara mandiri. Pada tahun 2021 indeks literasi digital di Indonesia mencapai 3,49. Data itu didapatkan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Katadata Insight Center (Husna, 2022). Angka itu kemudian diterjemahkan ke dalam kategori sedang untuk kapasitas Indonesia. Artinya, kemampuan \u201cmelek teknologi\u201d berpotensi mempercepat pertumbuhan IQ nasional. Individu yang memiliki kemampuan membaca, menulis, serta menguasai teknologi telah memiliki peralatan yang lengkap dalam melahirkan berbagai karya inovatif di masa depan.<\/p>\n<p>Upaya untuk meningkatkan literasi digital harus dilakukan secara sistemik dan masif, baik dalam ruang lingkup pendidikan formal maupun informal. Di lingkungan lembaga pendidikan formal, beberapa sekolah dan kampus di London, Inggris, telah melakukan transformasi besar-besaran ke ruang virtual. Berbicara mengenai pendidikan di London, tentu tidak dapat dilepaskan dari sistem pendidikan di Inggris yang efektif dan efisien. Inggris dikenal sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia melalui rekam jejak para alumninya. Beberapa kampus seperti Universitas Cambridge, Universitas Manchester, dan Universitas Oxford yang sering menjadi rujukan institusi pendidikan favorit di berbagai negara. Keberhasilan pengelolaan pendidikan di negara itu tentu tidak akan terwujud tanpa kepemimpinan yang baik dan peduli terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Konsep transformasi pendidikan secara digital berangsur-angsur diadaptasi oleh beberapa kampus di Indonesia. Pembudayaan literasi digital merupakan upaya melakukan pembibitan atau kaderisasi kepemimpinan.<\/p>\n<h2><a name=\"_Toc106859236\"><\/a>1.2 Urgensi Permasalahan<\/h2>\n<p>Setelah berlalunya era disrupsi, Diamandis &amp; Kotler (2012) telah memprediksi periode keberlimpahan (<em>abundance<\/em>) data beberapa tahun lalu. Akses informasi menjadi murah dan mudah melalui gawai dan internet. Karena keterjangkauan itu maka informasi juga mengalir sangat deras dan semakin sulit untuk dikontrol. Setiap individu dari kalangan akademisi maupun masyarakat non-akademisi ikut mengonsumsi dan memproduksi informasi. Pada titik ini, keberlimpahan data atau informasi berpotensi mengancam peradaban dan kerukunan sosial. Oleh karena itu, kemampuan menguasai teknologi tidak lagi cukup menjadi bekal yang utama. Kecakapan dalam mempergunakan internet dan media sosial juga perlu didukung oleh literasi digital, yakni sebuah kesadaran penuh dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.<\/p>\n<p>Gagasan dan potret <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=MxlJW11iwYM&amp;t=450s\">kepemimpinan<\/a> hari ini harus memiliki kepedulian terhadap literasi digital. Internet dan media sosial adalah wahana untuk mengalirkan pengetahuan secara luas. Tanpa adanya pembekalan literasi digital, internet dan media sosial hanya akan menimbulkan konflik berkepanjangan. Literasi digital adalah sebuah sistem pengetahuan yang lengkap, meliputi: (1) pengoperasian teknologi secara teknis; (2) membudayakan melakukan filtrasi terhadap informasi yang diterima; (3) mempergunakan internet dan media sosial sesuai kebutuhan; dan (4) melakukan pengamanan terhadap data-data pribadi. Selain memiliki kepedulian terhadap literasi digital, kepemimpinan perlu meluangkan waktu untuk mengawal proses keberlangsungannya. Literasi digital akan melahirkan banyak narator-narator perubahan dengan pemikiran dan karya-karyanya. Narator-narator itu tidak hanya berfungsi menyuarakan pesan positif tetapi juga mendorong seluruh masyarakat untuk melahirkan karya-karya yang monumental.<\/p>\n<h2><a name=\"_Toc106859237\"><\/a>1.3 Tujuan Penulisan<\/h2>\n<p>Esai ini bertujuan menguraikan pentingnya literasi digital bagi kemajuan suatu bangsa. Literasi digital seperti memberdayakan sel-sel untuk menghasilkan ide-ide kreatif. Hal itu dimulai dari sebuah konsep <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=MxlJW11iwYM&amp;t=450s\">kepemimpinan<\/a> yang matang dan bertanggung jawab. Kepemimpinan yang baik dihasilkan melalui pendidikan dan literasi yang baik. Sebuah konsep kepemimpinan yang baik tidak hanya berlaku untuk masyarakat di lingkungan akademik, tetapi juga dapat ditularkan ke seluruh lapisan masyarakat. Karena setiap individu yang memiliki kesadaran kepemimpinan diri akan membantu pembangunan negara secara masif. Setiap orang akan memiliki kesadaran kolektif untuk berkontribusi positif bagi negaranya. Konteks kepemimpinan dalam esai ini tidak hanya berlaku secara organisatoris, tetapi juga bagi individu yang masing-masing akan berperan sebagai aktivis. Seorang aktivis biasanya memiliki idealisme yang tinggi dan personalitas yang tangguh. Literasi digital diharapkan mampu menghasilkan berbagai aktivis dengan kecakapan mumpuni untuk membangun Indonesia Emas di tahun 2045.<\/p>\n<h2><a name=\"_Toc106859239\"><\/a>2.1 Tinjauan Pustaka<\/h2>\n<p><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=MxlJW11iwYM&amp;t=450s\">Kepemimpinan<\/a> memiliki berbagai definisi, tetapi yang paling sederhana itu berkaitan dengan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mencapai satu tujuan (Hughes, 2009). Kepemimpinan dapat berbentuk sistem kontrol diri individu sehingga mampu mengelola setiap tugas yang dikerjakan (Manz, 1986). Rasa <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=MxlJW11iwYM&amp;t=450s\">kepemimpinan <\/a>juga mendorong individu dapat mengelola motivasi dan mengembangkan potensi diri. Seorang pemimpin memiliki visi yang jelas dan gambaran tentang informasi untuk mengambil keputusan. Pemimpin memiliki komitmen untuk peningkatan kapasitas dan pemberdayaan orang lain, menghormati dan akomodatif, tetapi bersedia untuk membuat keputusan yang sulit bila diperlukan. Inti dari gagasan seorang pemimpin adalah karakter atau atribut kredibilitas. <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=MxlJW11iwYM&amp;t=450s\">Kepemimpinan<\/a> melekat pada pribadi seseorang, sehingga dapat digambarkan konsekuensinya untuk melakukan prediksi masa depan (Hogan &amp; Kaiser, 2005, p. 169). Kepemimpinan juga terletak pada pengajaran moral yang biasanya ditularkan melalui contoh (Burns, 2012). Artinya, menularkan konsep kepemimpinan dapat dilakukan dengan menunjukkan perilaku yang baik. <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=MxlJW11iwYM&amp;t=450s\">Kepemimpinan <\/a>di era modern mengutamakan pengelolaan yang progresif, bertindak sebagai fasilitator, mengutamakan prinsip kolaborasi, merawat keberagaman, dan tetap rendah hati (Draft, 2014).<\/p>\n<p>Wacana kepemimpinan hari ini telah banyak mengalami disrupsi oleh teknologi. Metode mentransmisikan konsep kepemimpinan tidak lagi ditularkan secara langsung tetapi menyebar ke dalam ruang digital. Gilster (1997) telah memikirkan tentang pentingnya beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Internet tidak hanya digunakan sebagai alat penyedia informasi, tetapi juga sebagai alat berpikir. Konsep itu semakin berkembang menuju tingkat pemahaman baru tentang literasi digital. Literasi digital merupakan serangkaian pengetahuan yang berfokus pada penggunaan alat digital untuk mencapai suatu tujuan dalam situasi tertentu (Martin &amp; Grudziecki, 2006). Literasi digital tidak hanya digunakan sebagai konsep pengetahuan yang fundamental, tetapi juga digunakan sebagai praktik sosial (Dobson &amp; Willinsky, 2009, p. 298). Perkembangan internet dan media sosial hari telah mengubah cara pandang manusia dan pola interaksi mereka. Kondisi ini mendorong munculnya stragtegi khusus dalam menyebarluaskan teknologi dengan jalan transformasi digital.<\/p>\n<p>Transformasi digital perlu dilandasi empat hal, diantaranya: (1) keterampilan digital (<em>digital skills<\/em>); (2) budaya digital (<em>digital culture<\/em>); (3) etika digital (<em>digital<\/em> <em>ethics<\/em>); dan (4) keamanan digital (<em>digital safety<\/em>) (Agustini, 2021). Keterampilan digital merupakan kemampuan teknis dalam mengoperasikan perangkat digital. Budaya digital diharapkan mampu menghasilkan aktivitas virtual dengan menginternalisasikan wawasan kebangsaan, kebhinekaan, dan nilai-nilai Pancasila. Penggunaan internet dan media sosial perlu untuk menghasilkan berbagai informasi, tetapi tetap mempertimbangkan etika digital berbentuk kesadaran dalam beraktivitas di ruang virtual. Kesadaran itu bukan hanya berlandaskan sistem moral yang berlaku, tetapi juga atas dasar perlindungan terhadap potensi tindak kejahatan digital.<\/p>\n<p><iframe loading=\"lazy\" title=\"RIYAN HIDAYATULLAH_MEMBANGUN NARASI KEPEMIMPINAN MELALUI PERCEPATAN LITERASI DIGITAL\" width=\"640\" height=\"360\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/MxlJW11iwYM?start=450&#038;feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/p>\n<h2><a name=\"_Toc106859240\"><\/a>2.2 Narator Kepemimpinan<\/h2>\n<p>Sebagai sebuah bangsa, Indonesia memiliki narasi yang istimewa, mulai dari konsep \u2018Bhineka Tunggal Ika\u2019 hingga keberagaman budaya yang termanifestasi ke dalam berbagai bentuk. Keunggulan yang sedemikian besarnya itu perlu dibahasakan dan dipresentasikan oleh seorang narator yang baik. Narator yang dimaksud adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan luas, baik dari segi sains maupun literasi digital. Narator dengan pembekalan mumpuni mampu menghasilkan karya-karya terbaik yang berimplikasi terhadap kemajuan bangsa Indonesia. Para narator bangsa akan bertugas menjadi agen terbaik yang bekerja secara sporadis maupun organisatoris, tujuannya tetap sama yakni membangun kedaulatan negara secara utuh. Mereka tersebar di segala lini dengan tugas dan tanggung jawab yang besar. Narator memiliki peran sebagaimana sistem metabolisme tubuh manusia yang bekerja sesuai kapasitasnya secara otomatis. Jika melihat potensi bonus demografi beberapa tahun yang akan datang, maka upaya untuk menghasilkan para calon narator-narator bangsa sangat mungkin dilakukan melalui pembudayaan literasi digital. Narator juga aktivis yang sangat vokal mengampanyekan konsep kepemimpinan di berbagai kesempatan. Sehingga konsep kepemimpinan juga terus bertumbuh sejalan dengan penyebaran informasi di ruang digital.<\/p>\n<p>Menjadi pemimpin berarti juga berperan sebagai narator yang baik. Artinya, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk mendeskripsikan gagasan kolektif ideal suatu komunitas atau bangsa. Dengan menarasikan gagasan-gagasan yang positif dan bersifat membangun, maka kaderisasi ideologi tentang <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=MxlJW11iwYM&amp;t=450s\">kepemimpinan <\/a>semakin mudah untuk dilakukan. Hal itu bisa ditempuh dengan jalan pendidikan dan membuka akses terhadap teknologi digital. Pemimpin adalah representasi komunitas atau masyarakat sehingga harus mengakomodir seluruh kepentingan berbagai pihak. Di sisi lain, pemimpin juga memiliki fungsi mengintegrasikan bangsa melalui narasi-narasi yang dibangun. Jika narasi yang selalu diucapkan pemimpin bertolak belakang dengan Pancasila, maka muncul sebuah perpecahan. Sebaliknya, jika narasi-narasi yang dibangun mendorong pembentukan kader pemimpin yang sehat, maka dampak dari kepemimpinan itu akan terus berkembang.<\/p>\n<p>Potensi sumber daya alam dan manusia di Indonesia sangat besar. Seorang pemimpin harus mampu membaca potensi-potensi yang bersifat laten atau tersembunyi. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah visi yang besar terhadap keberlanjutan ilmu pengetahuan dan pendidikan. <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=MxlJW11iwYM&amp;t=450s\">Kepemimpinan<\/a> yang baik harus selalu berpihak pada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara. Seorang pemimpin memiliki otoritas penuh untuk memastikan literasi tetap berlangsung. Literasi digital merupakan salah satu cara meningkatkan kecerdasan masyarakat secara merata.<\/p>\n<h2><a name=\"_Toc106859241\"><\/a>2.3 Percepatan Literasi Digital<\/h2>\n<p>Seiring dengan pertumbuhan teknologi yang semakin cepat, maka perlu dilakukan upaya-upaya khusus untuk meningkatkan literasi digital. Salah satunya dengan melakukan transformasi besar-besaran ke dalam ruang digital. Pada tahun 2021 pengguna internet mencapai 202,6 Juta atau sekitar 73,7% dari total penduduk Indonesia (Akbar, 2021). Namun, pertumbuhan jumlah pengguna internet tersebut belum sejalan dengan kesadaran literasi digital masyarakatnya. Hal inilah yang kerap menimbulkan permasalahan sosial di tengah-tengah komunitas digital hari ini. Kemajuan teknologi tidak sejalan dengan intelektualitas pengguna internet dan media sosial. Upaya meliterasi masyarakat perlu dipercepat, misalnya dengan melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak dan menyediakan berbagai konten digital yang bisa dikonsumsi semua kalangan. Jika diasumsikan sekitar 200 Juta pengguna internet di Indonesia terdiri dari masyarakat berlatar belakang pendidikan dan usia berbeda, maka ketersediaan konten digital perlu menargetkan seluruh lapisan sosial. Pengguna internet dan media sosial jauh lebih beragam, sehingga pendekatan dalam menyampaikan informasi juga perlu disesuaikan.<\/p>\n<p>Dalam rangka mempercepat pertumbuhan literasi digital akses internet perlu ditingkatkan di berbagai wilayah. Penyediaan perpustakaan digital dan program-program yang melibatkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) juga menjadi agenda utama setiap pimpinan atau kepala pemerintahan. Dengan memanfaatkan pengaruh media sosial sebagai alat pemodelan, gagasan atau ide-ide kepemimpinan dapat disematkan di berbagai konten digital. Misalnya, untuk membelajarkan masyarakat pengguna internet tentang bahaya <em>hoax<\/em> bisa dilakukan dengan membuat konten-konten edukasi. Konten-konten tersebut menyesuaikan selera pengguna media sosial yang sebagian besar anak muda. Platform-platform seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan YouTube menjadi sarana utama mengampanyekan gagasan kepemimpinan.<\/p>\n<h2><a name=\"_Toc106859242\"><\/a>2.4 Kepemimpinan Berbasis Digital<\/h2>\n<p>Selama ini kepemimpinan selalu diajarkan melalui program pendidikan dasar, penataran, dan pelatihan. Seluruh kegiatan dilakukan melalui interaksi fisik dan komunikasi verbal secara langsung. Namun keadaan seketika berubah manakala pandemi Covid-19 menyebabkan seluruh aktivitas belajar dan bekerja dari rumah. Hampir seluruh pengajar di seluruh penjuru dunia kemudian menerapkan pola kepemimpinan jarak jauh di ruang virtual. Kondisi yang sama juga terjadi di lingkungan perkantoran antara pimpinan dan karyawan. Pembatasan sosial berskala besar menyebabkan munculnya pola kepemimpinan berbasis digital. Tentu saja pola kepemimpinan ini perlu beradaptasi pada berbagai keterbatasan dan penyesuaian. Bentuk komunikasi yang terbentuk kemudian terbagi atas dua macam, yakni sinkronus (<em>synchronous<\/em>) dan asinkronus (<em>asynchronous<\/em>). Percakapan sinkronus umumnya dilakukan menggunakan <em>Zoom Meetings, Skype, Google Hangouts<\/em>, dan sebagainya. Sementara percakapan asinkronus biasa terjadi melalui <em>Email, Whatsapps,<\/em> Media Sosial, dan <em>Massive Open Online Courses<\/em> (MOOCs).<\/p>\n<p>Setelah pandemi Covid-19 muncul konsep kepemimpinan jarak jauh (<em>remote leadership<\/em>). Model kepemimpinan ini terus berkembang secara substantial dan membawa dampak yang cukup signifikan. Meskipun konsep kepemimpinan tradisional masih tetap diterapkan, tetapi praktik kepemimpinan jarak jauh ini berpotensi meningkatkan keterampilan dasar, misalnya dalam berkomunikasi. Selama masa transisi (Covid-19) komunikasi menjadi hambatan utama bagi pekerjaan dan pembelajaran jarak jauh. Interaksi yang biasa dilakukan langsung kemudian berubah menjadi kegiatan pengiriman pesan, panggilan, dan telekonferensi. Implikasinya, komunikasi menjadi sangat bermakna dan menemukan pola-pola baru yang lebih efektif dan efisien. Karena komunikasi terbatas pada teks dan audio-visual, etika digital kemudian menjadi elemen penting yang perlu diperhatikan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<figure id=\"attachment_1341\" aria-describedby=\"caption-attachment-1341\" style=\"width: 517px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2022\/11\/Untitled.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-1341\" src=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2022\/11\/Untitled-300x145.jpg\" alt=\"\" width=\"517\" height=\"250\" srcset=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2022\/11\/Untitled-300x145.jpg 300w, https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-content\/uploads\/sites\/13\/2022\/11\/Untitled.jpg 549w\" sizes=\"(max-width: 517px) 100vw, 517px\" \/><\/a><figcaption id=\"caption-attachment-1341\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 1. Skema percepatan literasi digital dalam membangun kepemimpinan<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Percepatan literasi digital mengutamakan kekuatan komunikasi, penguasaan teknologi, kesadaran budaya, etika, keamanan, dan literasi dasar. Pendistribusian informasi harus didukung dengan komunikasi digital yang baik, kemudian diikuti oleh keterampilan dasar selainnya. Strategi untuk mempercepat dampak dan luaran literasi digital dilakukan dengan berkolaborasi dan partispasi. Kolaborasi antar individu, kelompok, institusi memperkuat jaringan dan konektivitas. Kolaborasi memunculkan kesadaan partisipatif serta menumbuhkan rasa kepemilikan yang tinggi akan sesuatu. Sebagai contoh, dalam mengampanyekan penggunaan internet untuk hal-hal yang positif maka dilakukan kolaborasi antara pemerintah, penggiat media sosial, dengan penyedia layanan. Setelah bersepakat untuk satu tujuan, seluruh pihak yang terlibat dalam kerja sama bergerak sebagai sebuah sistem. Gejala ini dapat muncul setelah kesadaran partisipatif mengikat setiap elemen untuk berkontribusi positif.<\/p>\n<h2><a name=\"_Toc106859244\"><\/a>Kesimpulan<\/h2>\n<p>Patronase kepemimpinan yang baik adalah yang berlandaskan kesadaran atau dorongan internal. Pemimpin yang baik adalah mereka yang diikuti tanpa ada tekanan politik tertentu, melainkan berdasarkan naluri alamiah komunal. Kepemimpinan harus memiliki prinsip meritokrasi, artinya kemampuan atau kualitas individu menjadi landasan utama. Konsep kepemimpinan tidak melulu membahas tentang konsep kekuasaan tunggal dalam sebuah organisasi atau bangsa. Kepemimpinan dapat berbentuk internalisasi nilai-nilai dan menggambarkan intelektualitas. Kepemimpinan bisa hadir pada setiap individu karena melekat pada karakter dan pengetahuan seseorang. Individu dengan karakter dan intelektualitas yang baik berpotensi mengaktualisasikan jiwa kepemimpinannya di masyarakat. Oleh karena itu, sasaran kepemimpinan tidak terletak pada lembaga, organisasi, perusahaan, atau komunitas tertentu, melainkan pada pengembangan manusia secara personal. Setiap warga negara berpeluang menjadi pemimpin, tetapi hanya sedikit yang akan lolos kualifikasi. Hanya agen atau aktivis terpilih yang akan muncul sebagai narator bangsa untuk menyuarakan gagasan positif tentang Indonesia.<\/p>\n<p>Eskalasi narasi kepemimpinan akan terus berkembang melalui percepatan literasi digital. Ruang virtual dan media digital merupakan wahana penyebaran informasi yang bersifat kontemporer. Upaya mendiseminasikan narasi kepemimpinan melalui ruang virtual adalah strategi yang dapat ditawarkan di tengah kondisi masyarakat dan budaya artifisial. Kemampuan kepemimpinan merupakan salah satu pra-syarat menjadi warga negara di era digital. Dengan memiliki kompetensi kepemimpinan setiap individu berdaulat atas dirinya dalam mengakses dan mempergunakan informasi. Kepemimpinan dalam diri seseorang akan membantu dalam memilih, menerima, menganalisis, dan mengelola informasi sesuai kapasitas dan kebutuhannya. Kepemimpinan perlu menjadi faktor fundamental yang tertanam di dalam setiap individu. Ketika dibutuhkan, perangkat kepemimpinan akan muncul secara hormonal. Indoktrinasi kepemimpinan melalui strategi literasi digital adalah teknik propaganda modern untuk lebih melekatkan dan menyimpannya dalam pikiran bawah sadar.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n<p>Agustini, P. (2021). Empat pilar literasi untuk dukung transformasi digital [Situs Web]. Retrieved 22 June 2022, from https:\/\/aptika.kominfo.go.id\/2021\/01\/empat-pilar-literasi-untuk-dukung-transformasi-digital\/<\/p>\n<p>Akbar, D. (2021). Literasi digital jadi kunci utama percepatan transformasi digital [Situs Web]. Retrieved 22 June 2022, from https:\/\/infokomputer.grid.id\/read\/122986514\/literasi-digital-jadi-kunci-utama-percepatan-transformasi-digital<\/p>\n<p>Bryant, A., &amp; Kazan, A. L. (2013). <em>Self-leadership: How to become a more successful, efficient, and effective leader from the inside out<\/em>. New York: McGraw-Hill.<\/p>\n<p>Burns, J. M. (2012). <em>Leadership<\/em>. United States of America: Open Road Media.<\/p>\n<p>Diamandis, P. H., &amp; Kotler, S. (2012). <em>Abundance: The future is better than you think<\/em>. New York: Free Press. Retrieved from www.SimonandSchuster.com<\/p>\n<p>Dobson, T. M., &amp; Willinsky, J. (2009). Digtal literacy. In D. R. Olson &amp; N. Torrance (Eds.), <em>The Cambridge Handbook of Literacy<\/em> (pp. 286\u2013312). United States of America: Cambridge University Press.<\/p>\n<p>Draft, R. L. (2014). <em>The leadership experience<\/em>. United States of America: Cengage Learning.<\/p>\n<p>Gilster, P. (1997). <em>Digital literacy<\/em>. New York: Wiley Computer Pub.<\/p>\n<p>Hogan, R., &amp; Kaiser, R. B. (2005). What we know about Leadership. <em>Review of General Psychology<\/em>, 9(2), 169\u2013180. Retrieved from https:\/\/doi.org\/10.1037\/1089-2680.9.2.169<\/p>\n<p>Hughes, R. (2009). Time for leadership development interventions in the public health nutrition workforce. <em>Public Health Nutrition<\/em>, 12(8), 1029\u20131029. Retrieved from https:\/\/doi.org\/10.1017\/S1368980009990395<\/p>\n<p>Husna, H. T. (2022). Indeks literasi digital Indonesia 3.49, ini yang bisa dilakukan pemerintah [Situs Web]. Retrieved 21 June 2022, from https:\/\/aptika.kominfo.go.id\/2022\/03\/indeks-literasi-digital-indonesia-3-49-ini-yang-bisa-dilakukan-pemerintah\/<\/p>\n<p>Kemenko PMK. (2021). Tingkat literasi Indonesia memprihatinkan, Kemenko PMK siapkan peta jalan pembudayaan literasi nasional | Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan [Situs Web]. Retrieved 22 June 2022, from https:\/\/www.kemenkopmk.go.id\/tingkat-literasi-indonesia-memprihatinkan-kemenko-pmk-siapkan-peta-jalan-pembudayaan-literasi<\/p>\n<p>Manz, C. C. (1986). Self-leadership: Toward an expanded theory of self-influence processes in organizations. <em>The Academy of Management Review<\/em>, 11(3), 585\u2013600. Retrieved from https:\/\/doi.org\/10.2307\/258312<\/p>\n<p>Martin, A., &amp; Grudziecki, J. (2006). DigEuLit: Concepts and tools for digital literacy development. <em>Full Terms &amp; Conditions of Access and Use Can Be Found at Https:\/\/Www.Tandfonline.Com\/Action\/JournalInformation?JournalCode=rhep14 Innovation in Teaching and Learning in Information and Computer Sciences<\/em>, 5(4), 249\u2013267. Retrieved from https:\/\/doi.org\/10.11120\/ital.2006.05040249<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tulisan ini merupakan naskah yang saya kirim untuk sebuah lomba esai nasional tahun 2022. Meskipun<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":455,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"gallery","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,102],"tags":[109,110,111,113,112],"class_list":["post-1340","post","type-post","status-publish","format-gallery","has-post-thumbnail","hentry","category-educations","category-teknologi","tag-kepemimpinan","tag-leadership","tag-literasi-digital","tag-narator","tag-teknologi","post_format-post-format-gallery"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1340"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1340"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1340\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media\/455"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1340"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1340"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1340"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}