{"id":1234,"date":"2022-10-01T18:49:22","date_gmt":"2022-10-01T11:49:22","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/?p=1234"},"modified":"2022-11-07T13:24:29","modified_gmt":"2022-11-07T06:24:29","slug":"menggali-tulisan-lama-tentang-istilah-kontemporer","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/2022\/10\/01\/menggali-tulisan-lama-tentang-istilah-kontemporer\/","title":{"rendered":"Menggali Tulisan Lama Tentang Istilah \u201cKontemporer\u201d"},"content":{"rendered":"<p>Tulisan ini saya temukan dalam sebuah majalah lama (saya lupa namanya) yang ditulis oleh Royke B. Koapaha, seorang musisi, edukator, dan peneliti yang sejak kuliah saya kagumi. Hingga saat ini saya masih terkesan dengan sudut pandang dan kaidah dalam menguraikan istilah \u201ckontemporer\u201d yang bagi sebagian kalangan membingungkan dan cukup rumit. Bagi saya, gagasan dan ide yang baik patut untuk dirawat dan diinventarisasi untuk generasi berikutnya. Melalui potongan artikel berikut saya coba menyajikannya kembali.<\/p>\n<hr \/>\n<p>Seringkali istilah yang asing menimbulkan pengertian yang beragam dan kadang tidak jelas. Musik kontemporer, misalnya. Istilah \u201ckontemporer\u201d di sini jelas merupakan kata serapan dari bahasa asing (Inggris). <em>Contemporer, Contemporary<\/em>, yang berakar dari bahasa latin <em>contemporerrius<\/em>: <em>com + tempus,<\/em> <em>tempor <\/em>(<em>time<\/em>) + <em>rius<\/em> (<em>ary<\/em>). Istilah ini dapat diartikan sebagai kehidupan kejadian atau keadaan pada waktu yang sama, selain dapat juga diartikan sebaya atau juga masa kini (dengan kandungan pengertian <em>characteristic of present<\/em> maupun <em>belong to present time<\/em>). Di sini dapat dilihat bahwa istilah kontemporer lebih berhubungan dengan batasan atau kurun waktu (<em>time frame<\/em>) daripada suatu kesatuan ideal (misalnya saja gaya atau aliran tertentu). Dengan demikian dalam pengertian yang paling luas musik kontemporer merupakan musik apapun yang ditulis pada zamannya. Entah musik dalam lingkaran \u2018musik seni\u2019 maupun \u2018musik hiburan.\u2019 Di sini di sisi lain kita tidak dapat menutup mata bahwa istilah kontemporer tidak dapat dipisahkan dari sejarah musik diatonis Barat (musik seni, musik klasik, atau apapun padanannya). Istilah ini tidak sekadar berhubungan dengan kurun waktu namun menunjuk pada gaya atau aliran-aliran yang spesifik. Secara umum istilah ini digunakan untuk musik dari abad ke-20 sejak masa emansipasi disonan (ada yang berpendapat sejak impresionisme), lalu liberasi bunyi pasca PD II hingga <em>trend<\/em> Yang ada sekarang( <em>new age, happening art, \u00a0posminimalis, world music, sound art, cross culture<\/em>); entah dalam satuan-satuan ide yang masih berwujud gerakan maupun yang sudah terkulminasi menjadi gaya atau aliran. Dengan kata lain, istilah musik kontemporer digunakan sebagai payung besar yang menaungi berbagai aliran atau gaya. Dari sisi pandangan ini, Schoengerg, Bartok, Stravinsky, Philip Corner, Glass, John Adams, Nakagawa atau Abdul syukur dapat dikategorikan komponis-komponis kontemporer.<\/p>\n<p>Selain itu musik kontemporer tidak jarang digunakan untuk musik sekitar paruh kedua abad ke-20, terutama karya-karya pasca 1960. Seperti diketahui kurang lebih sejak 1600 sampai 1950 perbedaan-perbedaan gaya dalam musik lebih terletak pada <em>degree<\/em>, yaitu beragam dialek dan kosakata dalam penggunaan bahasa yang umum. Selanjutnya setelah tahun 50-an perbedaan-perbedaan lebih pada <em>kind<\/em>, yaitu kosakata baru dalam bahasa baru yang mengekspresikan konsep-konsep baru pula (<em>non determinate, non-semi-tonal, non-traditional sounds, non-traditional media<\/em>). Dalam pengertian yang terakhir ini, pengertian musik kontemporer sering disinonimkan dengan musik garda depan (entah dengan atribut musik eksperimental, musik konseptual, musik elektronik, <em>flexus<\/em>, <em>mix-media<\/em> <em>indeterminacy,<\/em> dan sebagainya).<\/p>\n<p>Demikianlah istilah kontemporer lebih berhubungan dengan <em>time frame<\/em> daripada suatu kesatuan ide. Selain itu istilah musik kontemporer tidak hanya memuat pengertian tunggal. Akibatnya, terutama di lingkungan akademis, hanya untuk pengertian istilah ini saja masih sering berputar-putar dalam wacana <em>infantile<\/em> yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Hemat saya, banyak hal yang perlu dibicarakan selain berputar-putar pada terminologi dan etimologi musik kontemporer. Paling tidak menyangkut tiga persoalan; pertama, sikap pelaku seni dalam menyikapi dunia di luar dirinya. Kedua, kualitas pelaku seni, dan ketiga, intensitas dan keseriusan pelaku seni termasuk kejujuran dalam berkarya.<\/p>\n<p>Sudah tentu masing-masing terdiri dari banyak butir lagi, selain saling mengait dengan butir lainnya. Misalnya butir pertama dapat terdiri dari sikap pelaku seni terhadap pemaknaan musik kontemporer untuk dirinya, menyikapi arti kekinian, menyikapi godaan <em>mainstream<\/em> \u2018musik seni\u2019 saat ini, menyikapi \u2018ekspansi estetis (?) laten\u2019 musik musik populer sehubungan dengan terpengaruhan diri secara sadar maupun tidak sadar, menyikapi \u2018karya pesanan\u2019 (dalam arti luas), hingga hal-hal yang lebih luas seperti kendala-kendala dalam \u2018manajemen pemasaran karya.\u2019 Contoh butir kedua, misalnya kemampuan macam apa yang perlu dimiliki (dua butir ini tidak berdiri sendiri). Contoh butir ketiga, misalnya seberapa banyak curahan tenaga yang digunakan saat proses penciptaan, apa yang apa dan bagaimana sikap atau perilaku saat evaluasi, \u2018sublimasi,\u2019\u2019 pendinginan,\u2019 dari \u2018anasir-anasir estetis di luar diri\u2019 untuk karya yang dibuat, menyikapi makna orisinalitas dalam hubungannya dengan memilih dan menyusun materi termasuk evaluasi kejujuran diri.<\/p>\n<p>Butir-butir itu menjadi lebih luas jika dihubungkan dengan aspek-aspek sosial, misalnya kemampuan ekonomi pelaku seni sehubungan dengan karya maupun mentalitas kehidupannya. Hubungan karya dengan masyarakat yang relatif belum apresiatif, persaingan yang tidak sehat antara pelaku seni kompromi-kompromi yang tidak sehat dengan penyelenggara\/prosedur, mengatasi sulitnya pemasaran karya, pemahaman mengangkat tradisi yang hanya bersifat <em>tautology <\/em>atau malah sebaliknya dan banyak lagi. Kontemporer seperti udara yang kita hirup saat ini begitu dekat tapi seringkali tidak disadari karena sesungguhnya kita lebur di dalamnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/drive.google.com\/file\/d\/1gq4OjEeAGdLUyy7--9-NcaWt7PxVhRte\/view?usp=sharing\">Sumber\/rujukan<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tulisan ini saya temukan dalam sebuah majalah lama (saya lupa namanya) yang ditulis oleh Royke<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":952,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5,15],"tags":[43,41,42,37,44],"class_list":["post-1234","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-music","category-teori-musik","tag-istilah-kontemporer","tag-kontemporer","tag-musik-kontemporer","tag-sejarah-musik","tag-teori-musik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1234"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1234"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1234\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media\/952"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1234"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1234"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1234"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}