{"id":1164,"date":"2022-03-22T08:22:05","date_gmt":"2022-03-22T01:22:05","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/?p=1164"},"modified":"2022-03-22T08:22:05","modified_gmt":"2022-03-22T01:22:05","slug":"buku-komunikasi-seni-sebuah-telaah-dalam-konteks-kearifan-lokal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/2022\/03\/22\/buku-komunikasi-seni-sebuah-telaah-dalam-konteks-kearifan-lokal\/","title":{"rendered":"Buku Komunikasi Seni: Sebuah Telaah dalam Konteks Kearifan Lokal"},"content":{"rendered":"<p>Judul Buku: Komunikasi Seni: Sebuah Telaah dalam Konteks Kearifan Lokal<\/p>\n<p>Penulis:<\/p>\n<p>Richard Jr Kapoyos, Eka Titi Andaryani, Emah Winangsit, Nike Suryani, Fajry Sub\u2019haan Syah Sinaga, Moh Faturrahman, Laila Fitriah, <a href=\"https:\/\/www.researchgate.net\/publication\/351462248_Sistem_Komunikasi_Musikal_dalam_Gitar_Tunggal_Lampung_Pesisir\">Riyan Hidayatullah<\/a>, Alfa Kristanto, Putri Yanuarita S., Bandi Sobandi<\/p>\n<p>Editor: Dr. Syakir Muaharrar, M.Sn.<\/p>\n<p>Penerbit: Jurusan Seni Rupa FBS UNNES<\/p>\n<p>Cetakan Pertama, 2021<\/p>\n<p>ISBN: 978-623-94538-3-1<\/p>\n<p>Deskripsi:<\/p>\n<p>Buku yang ditulis, dan ini merupakan buku ke-dua dari mereka,<br \/>\ndibungkus dalam tema pendidikan seni dalam konteks komunikasi<br \/>\nseni. Komunikasi Seni merupakan mata kuliah pilihan yang<br \/>\nditawarkan kepada mahasiswa S3 Program Dotor Pendidikan Seni<br \/>\ndi Unnes di semseter 3, untuk mendalami dan meningkatkan<br \/>\npemahaman teoretik dengan memandang seni sebagai media<br \/>\nkomunikasi dalam pendidikan. Dalam hal ini, pertama-tama seni<br \/>\ndilihat dalam konteks sosial, artinya seni bukan semata-mata<br \/>\nberupa bentuk ekspresi individu melainkan sebuah pesan \u2013simbol<br \/>\ndan maknanya atau bentuk dan isinya\u2014untuk mengikat<br \/>\npemahaman bersama dalam interaksi sosial insan yang terlibat di<br \/>\ndalamnya. Manusia, sesungguhnya, merupakan makhluk sosial. Ia<br \/>\ntumbuh dan berkembang secara sosial menuju kedewasaannya.<br \/>\nDalam perkembangan peradaban manusia, di manapun dan<br \/>\nkapanpun, senantiasa tercatat bahwa seni selalu menyertai dalam<br \/>\nmelengkapi kemampuan intelektual manusia. Seni menjadi bagian<br \/>\ntidak terpisahkan bersama-sama dengan ilmu pengetahuan dan<br \/>\nteknologi menjadi soko utama dalam pencapaian peradaban. Dan,<br \/>\nsecara tersirat juga tersurat dalam kehidupan manusia, proses<br \/>\npencapaian peradaban itu dapat dan telah berlangsung melalui<br \/>\nproses pendidikan secara menyeluruh dalam berbagai bentuk dan<br \/>\nsifatnya, dalam kategori tempat (sekolah, keluarga, dan masyarkat)<br \/>\nyang terlaksana secara formal, nonformal, dan\/atau informal.<br \/>\nBuku yang ditulis oleh mahasiswa S3 Program Doktor Pendidikan<br \/>\nSeni ini secara khusus memandang Nusantara sebagai sumber<br \/>\nyang potensial untuk memajukan peradaban yang memiliki dasar<br \/>\nkuat dalam pengukuhan identitas masyarakat di satu segi dan<br \/>\npenegasan integrasi bangsa di segi lainnya. Oleh karena itu, isuisu<br \/>\nyang terkait dengan ke-Nusantara-an inilah yang menjadi<br \/>\ntopik utamanya. Pembahasan isu-isu tersebut, memang didasari<br \/>\noleh kenyataan bahwa ke-Nusantara-an dewasa ini menghadapi<br \/>\ntantangan yang disebabkan oleh perubahan-perubahan yang<br \/>\nterjadi, baik di dunia maupun dalam interaksi internal lokalitasnya.<br \/>\nBerkaitan dengan hal itu, dengan memandang seni sebagai media<br \/>\nkomunikasi yang efektif, sekaligus juga menempatkannya sebagai<br \/>\nunsur kebudayaan yang strategis, pembahasan dalam buku ini<br \/>\nmenegaskan bahwa seni merupakan media yang halus untuk<br \/>\nmempertautkan perbedaan-perbedaan budaya dalam jejaring<br \/>\nyang bersifat empatetik dan apresiatif. Melaluinya, dialog<br \/>\nterbebas dari prasangka dan juga tekanan-tekanan yang bersifat<br \/>\nfisik dan dangkal. Seni merupakan media komunikasi yang<br \/>\nmemberi ruang untuk mewujudkan makna tentang dinamika<br \/>\nkehidupan yang terjadi yang menjembatani persaudaraan dari<br \/>\nmasa ke masa; tentang cerita masa lalu, hidup yang dijalani<br \/>\nsemasa ini, dan harapan serta cita-cita di masa depan.<br \/>\nDemikian, buku yang berisikan sekumpulan tulisan yang berkaitan<br \/>\ndengan isu dalam seni (dalam konteks Komunikasi Seni) ini,<br \/>\nmudah-mudahn dapat membuka pemahaman baru, pemaknaan<br \/>\ndan paradigma alternatif dalam memahami persoalan seni Nusantara,<br \/>\nkhususnya dalam pelestarian dan pengembangannya.<br \/>\nSumbangan pemikiran dari para penulis buku ini semoga dapat<br \/>\nmemperkaya pemahaman budaya kita, dan masyarakat akademik<br \/>\npada umumnya, tentang berbagai hal yang berkaitan dengan ke-<br \/>\nNusantara-an, dalam rangka memajukan seni, ilmu pengetahuan,<br \/>\ndan teknologi yang bersumber dari kawasan Nusantara.<\/p>\n<p>Kajian budaya khususnya bidang seni dapat diselami dengan<br \/>\nberbagai pendekatan atau sudut pandang dari berbagai disiplim<br \/>\nilmu dan teori sebagai piranti analisis dan penjelas. Tulisan dalam<br \/>\nbuku ini menyajikan hasil telaah seni dengan perpektif komunikasi<br \/>\nyang lebih tepat disebut sebagai komunikasi seni dalam ragam<br \/>\nfenomena dan problematika. Keragaman tersebut merupakan<br \/>\nhasil telaah eksploratif yang muncul dari pembacaan teks budaya<br \/>\ndan seni dengan berbagai keunikannya. Pembacaan teks yang<br \/>\ntelah dilakukan oleh insan akademis mahasiswa Program Doktor<br \/>\nPendidikan Seni Pascasarjana UNNES ini menjadi varian narasi atas<br \/>\npengkajian seni dalam dimensi yang lebih luas dan lentur.<br \/>\nPembacaan seni dalam perpektif komunikasi ini dapat<br \/>\nmerepresentasikan makna berbagai dimensi baik estetis maupun<br \/>\nsimbolis. Bahkan ranah yang lebih kompleks yang menyentuh<br \/>\npersoalan edukasi, politis, identitas hingga spiritualitas dengan<br \/>\npendekatan interdisiplin.<br \/>\nMemposisikan seni dalam konteks komunikasi, dapat menjadi<br \/>\nsebuah media atau sebuah sistem komunikasi tersendiri yang<br \/>\nmana hal ini menegaskan bahwa eksistensi seni tidak bisa lepas<br \/>\ndari dimensi kehidupan manusia. Dari zaman kuno, orang telah<br \/>\nmenggunakan gambar untuk berkomunikasi sebelum mengenal<br \/>\ntulisan yang berarti pula seni sejalan dengan perjalanan<br \/>\nperadaban manusia yang selalu lekat dengan sistem tanda. Dalam<br \/>\nkonteks kekinian, pembacaan seni sebagai media dan sistem<br \/>\nkomunikasi menjadi metanarasi yang senantiasa membuka ruang<br \/>\nbagi akademisi untuk mengkaji hingga meretas teori. Sistem<br \/>\nkomunikasi yang tercipta, baik lingkup intrapersonal,<br \/>\ninterpersonal, kelompok hingga komunikasi massa.<br \/>\nSeni adalah matra yang menjadi medium dan sistem komunikasi,<br \/>\nbaik komunikasi musikalistik, kinestetik, dramatik, maupun<br \/>\nkomunikasi visualistik. Maka apa yang tersaji dalam buku ini dapat<br \/>\nmenjadi narasi dalam konteks komunkasi seni yang terbangun<br \/>\ndari realita seni dengan segala ragam dan keunikannya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.researchgate.net\/publication\/351462248_Sistem_Komunikasi_Musikal_dalam_Gitar_Tunggal_Lampung_Pesisir\">(Klik untuk mengakses artikel Riyan Hidayatullah dalam buku ini)<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Judul Buku: Komunikasi Seni: Sebuah Telaah dalam Konteks Kearifan Lokal Penulis: Richard Jr Kapoyos, Eka<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":1165,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,5],"tags":[],"class_list":["post-1164","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-educations","category-music"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1164"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1164"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1164\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1165"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1164"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1164"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1164"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}