{"id":1150,"date":"2022-03-22T08:08:01","date_gmt":"2022-03-22T01:08:01","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/?p=1150"},"modified":"2022-03-22T08:08:38","modified_gmt":"2022-03-22T01:08:38","slug":"perbedaan-teori-belajar-hasil-belajar-dan-prestasi-belajar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/2022\/03\/22\/perbedaan-teori-belajar-hasil-belajar-dan-prestasi-belajar\/","title":{"rendered":"Perbedaan Teori Belajar, Hasil Belajar, dan Prestasi Belajar"},"content":{"rendered":"<p>Belajar merupakan proses kognitif. Bloom (1956) membagi tingkatan kognitif menjadi: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Proses belajar memiliki tingkatan yang dapat dicapai tahap demi tahap. Tahapan tertinggi merupakan pencapaian seorang siswa dalam proses kognitif. Di sisi lain, Schunk (2012) berpendapat bahwa belajar adalah perubahan perilaku yang bertahan lama, atau dalam kapasitas untuk berperilaku dengan cara tertentu, yang dihasilkan dari praktik atau bentuk pengalaman lainnya. Ia memiliki konsep bahwa belajar setidaknya melibatkan tiga kriteria, yakni: (1) melibatkan perubahan perilaku; (2) bertahan dalam waktu yang lama; (3) terjadi melalui pengalaman.<\/p>\n<p>Illeris (2018) memiliki pandangan bahwa pembelajaran adalah integrasi dari dua proses yang sangat berbeda, yaitu interaksi eksternal dan internal. Interaksi eksternal terjadi antara pelajar dan lingkungan sosial, budaya, dan materilnya. Sedangkan interaksi internal berhubungan dengan psikologi. Proses internal (individual) merupakan bagian yang paling menentukan sebuah proses pembelajaran karen berhubungan dengan dua fungsi, yakni konten (pengetahuan, pemahamanm, keterampilan) dan insentif (motivasi, emosi, kemauan). Dua aspek ini yang akan menentukan kualitas proses kognitif selanjutnya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_390\" aria-describedby=\"caption-attachment-390\" style=\"width: 301px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"td-animation-stack-type0-2 wp-image-390\" src=\"https:\/\/pendidikanmusik.com\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image.png\" alt=\"\" width=\"301\" height=\"263\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-390\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 1. Proses fundamental dari belajar (Illeris, 2018)<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<figure id=\"attachment_391\" aria-describedby=\"caption-attachment-391\" style=\"width: 337px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"td-animation-stack-type0-2 wp-image-391\" src=\"https:\/\/pendidikanmusik.com\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-1.png\" alt=\"\" width=\"337\" height=\"345\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-391\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 2. Tiga dimensi pembelajaran dan pengembangan kompetensi (Illeris, 2018)<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cHasil belajar adalah kemampuan\u2013kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya\u201d (Sudjana, 2017). Seorang pakar pendidikan berbasis pada hasil William G. Spady (1994) berpendapat bahwa kemampuan untuk menunjukan hasil belajar adalah kunci dalam pembelajaran itu sendiri. Ia berpendapat bahwa demonstrasi merupakan tolok ukur keberhasilan pembelajaran. Hasil belajar dapat diketahui dengan teknik, tes dan non-tes. Prestasi belajar adalah keberhasilan usaha seseorang setelah mendapatkan pengalaman belajar atau mempelajari sesuatu (Winkel, 1987). Sementara Djalal (1986) berpendapat \u201cprestasi belajar siswa adalah gambaran kemampuan siswa yang diperoleh dari hasil penilaian proses belajar siswa dalam mencapai tujuan pengajaran\u201d. Hamalik (2001) menambahkan prestasi belajar adalah perubahan sikap dan tingkah laku setelah menerima pelajaran atau setelah mempelajari sesuatu. Azwar (1996) melengkapi bahwa prestasi belajar dapat dioperasionalkan dalam bentuk indikator-indikator berupa nilai raport, indeks prestasi studi, angka kelulusan dan predikat keberhasilan. Berdasarkan konsep-konsep tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah gambaran kemampuan siswa yang didapatkan melalui proses belajar yang ditandai dengan indeks prestasi untuk mencapai tujuan pembelajaran.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<figure id=\"attachment_392\" aria-describedby=\"caption-attachment-392\" style=\"width: 602px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"td-animation-stack-type0-2 wp-image-392\" src=\"https:\/\/pendidikanmusik.com\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-2.png\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"186\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-392\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 3. Definisi konsep prestasi belajar<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Hasil belajar merupakan kemampuan siswa setelah mereka menerima pengalaman belajar (Sudjana, 2017), sedangkan prestasi belajar merupakan tingkat keberhasilan siswa dalam menerima materi pelajaran yang umumnya dalam bentuk skor (Syah, 2008). Jadi, perbedaan hasil belajar dan peretasi belajar terletak cakupan atau wilayah penilaiannya. Umumnya prestasi belajar diukur melalui skor atau nilai, sedangkan hasil belajar meliputi seluruh penilaian secara kualitatif, misalnya sikap, tingkah laku, karakter, dan sebagainya.<\/p>\n<p>Benjamin S. Bloom memiliki teori yang menerangkan bahwa kualitas pembelajaran ditentukan oleh karakteristik siswa yang mencakup aspek kognitif dan afektif. Pembelajaran yang berkualitas akan membentuk level dan tipe prestasi belajar, tingkat pembelajaran, dan luaran afektif. Perhatikan gambar berikut!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<figure id=\"attachment_393\" aria-describedby=\"caption-attachment-393\" style=\"width: 504px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"td-animation-stack-type0-2 wp-image-393\" src=\"https:\/\/pendidikanmusik.com\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-3.png\" alt=\"\" width=\"504\" height=\"233\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-393\" class=\"wp-caption-text\">Gambar 4. Variabel utama dalam teori pembelajaran Bloom (Bloom, 1976)<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Berdasarkan gambar di atas, prestasi belajar (<em>learning achievement<\/em>) merupakan salah satu indikator yang ingin dicapai dari sebuah pembelajaran (<em>learning outcome<\/em>), selain tingkatan dan luaran afektif (sikap). Prestasi bukan merupakan hal utama yang akan dicapai dalam sebuah pembelajaran, tetapi mencakup seluruh aspek meliputi kognitif, afektif, dan psikomotor.<\/p>\n<p><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n<p>Azwar, S. (1996). <em>Pengantar psikologi intelegensi<\/em>. Pustaka Pelajar.<\/p>\n<p>Bloom, B. S. (Ed.). (1956). <em>Taxonomy of educational objectives: The classification of educational goals<\/em>. Longmans Green and Co Ltd.<\/p>\n<p>Bloom, B. S. (1976). <em>Human characteristics and school learning<\/em>. McGraw-Hill.<\/p>\n<p>Djalal, M. F. (1986). <em>Penilaian dalam pengajaran bahasa asing<\/em>. P3T IKIP Malang.<\/p>\n<p>Hamalik, O. (2001). <em>Proses belajar mengajar<\/em>. Bumi Aksara.<\/p>\n<p>Illeris, K. (Ed.). (2018). <em>Contemporary theories of learning: Learning theorists\u2026 in their own words<\/em> (Second edition). Routledge.<\/p>\n<p>Schunk, D. H. (2012). <em>Learning theories: An educational perspective<\/em> (6th ed). Pearson.<\/p>\n<p>Spady, W. G. (1994). <em>Outcome-based education: Critical issues and answers<\/em>. American Association of School Administrators.<\/p>\n<p>Sudjana, N. (2017). <em>Penilaian hasil proses belajar mengajar<\/em> (21st ed.). Rosda Karya.<\/p>\n<p>Syah, M. (2008). <em>Psikologi pendidikan<\/em>. PT Remaja Rosdakarya.<\/p>\n<p>Winkel, W. S. (1987). <em>Bimbingan dan konseling di institusi pendidikan<\/em>. Gramedia Pustaka Utama.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Belajar merupakan proses kognitif. Bloom (1956) membagi tingkatan kognitif menjadi: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis,<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":1152,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1150","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-educations"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1150"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1150"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1150\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1152"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1150"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1150"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1150"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}