{"id":1135,"date":"2022-03-22T07:45:41","date_gmt":"2022-03-22T00:45:41","guid":{"rendered":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/?p=1135"},"modified":"2022-03-22T07:45:41","modified_gmt":"2022-03-22T00:45:41","slug":"kuliah-jurusan-musik-apakah-pilihan-tepat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/2022\/03\/22\/kuliah-jurusan-musik-apakah-pilihan-tepat\/","title":{"rendered":"Kuliah Jurusan Musik, Apakah Pilihan Tepat?"},"content":{"rendered":"<p>Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis melihat isu klasik yang kerap dibicarakan, yaitu seberapa penting dan relevan sekolah musik? Apakah memutuskan sekolah musik adalah pilihan yang tepat? (setidaknya hingga kondisi saat ini). Penulis juga sudah menulis artikel tentang ragam pilihan jurusan musik <a href=\"https:\/\/www.researchgate.net\/publication\/340666756_Pendidikan_Musik_Pendekatan_Musik_Untuk_Anak_di_Era_40\">(Klik di sini)<\/a>. Tulisan ini bertujuan untuk melengkapi gagasan tentang sekolah musik dan relevansinya di masa yang akan datang.<\/p>\n<p>Perbincangan tentang musik di Indonesia memang cukup mengalami peningkatan, terutama selama masa <a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/2020\/11\/09\/pendidikan-musik-di-era-pandemi-dan-new-normal\/\">pandemi COVID-19<\/a>. Berbagai webinar di gelar untuk membicarakan berbagai kasus dan permasalah musik, serta bagaimana mencari solusi terbaik untuk kehidupan selanjutnya. Diskusi daring banyak diadakan mulai dari akademisi hingga praktisi musik yang terdampak situasi yang tidak menguntungkan itu. Di akhir diskusi solusi umum yang kerap ditawarkan adalah melakukan kolaborasi, literasi digital, dan meningkatkan kreativitas. Asumsi yang didapat sebagian orang lainnya adalah mencari pekerjaan lain dan memulai bisnis baru di luar bidang musik. Sekilas melihat pernyataan itu saja orang mungkin berpendapat bahwa bidang musik bukanlah bidang yang aman untuk ditekuni (setidaknya untuk saat ini). Setelah melihat berbagai dampak yang terjadi (terutama) terhadap kehidupan musisi yang hidup dari industri musik pertunjukan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/2020\/10\/07\/pendidikan-musik-pentingkah\/\">Penting atau tidaknya sekolah musik<\/a> tentu dikembalikan pada seberapa serius seseorang memiliki komitmen untuk menjalaninya. Orientasi juga menjadi tolok ukur manakala seseorang berangan-angan untuk memiliki pekerjaan di bidang musik, pada akhirnya Ia akan mulai berhitung seberapa besar waktu, tenaga, dan uang yang dikeluarkan. Sehingga ekspektasi belajar musik adalah untuk bekerja di bidang musik. Sebagian lagi ada yang tetap memiliki orientasi karena kecintaannya terhadap musik.<\/p>\n<p>Bidang musik disejajarkan dengan bidang lain, jika orang-orang yang kuliah di bidang ekonomi, politik, hukum, kesehatan, dan bisnis bisa sukses, musik tentu memiliki kesempatan yang sama. Apakah ada diantara orang yang memilih bidang yang disebutkan di atas tidak sukses? Tentu saja ada, karena kesuksesan tidak diukur dari bidang yang dipilih tapi seberapa besar individu berkomitmen dan berusaha. Pilihan karir di dunia musik sangat beragam, mulai dari produser, terapis<em>, session player<\/em>, instruktur, <em>sound engineer, sound designer<\/em>, teknisi suara, dan masih banyak lagi. Diantara profesi-profesi tersebut tidak selalu berkaitan dengan musik secara langsung, misalnya bisa memainkan alat musik. Profesi <em>sound engineer<\/em> misalnya, ini merupakan salah satu profesi yang tidak membutuhkan keterampilan bermain alat musik. Karena yang dibutuhkan adalah pengetahuan dan keterampilan teknis tentang penghitungan frekuensi bunyi, pengaturan posisi speaker, atau ilmu akustik. Profesi ini merupakan salah satu profesi pendukung untuk eksistensi sebuah pertunjukan musik.<\/p>\n<p>Di era disrupsi seperti saat ini lebih banyak lagi profesi yang mengalami penyesuaikan. Para sarjana musik atau seni bahkan sudah beradaptasi dengan kebutuhan pasar. Misalnya dengan bergabung dalam sebuah <em>event organizer<\/em> atau dunia <em>broadcast.<\/em> Tentu saja bekal kemampuan musik harus dibungkus dengan <em>soft skill<\/em> yang baik, seperti kemampuan berkomunikasi, kreatif, mampu memecahkan masalah, dan memiliki fleksibilitas yang tinggi. Di sisi lain, kampus juga selalu berusaha menyediakan apa yang dibutuhkan di dunia kerja. Kurikulum di berbagai jurusan musik mulai disesuaikan dan mengalami perubahan. Intinya harus relevan dengan kondisi saat ini, harapannya daya serap alumni cukup tinggi sehingga menekan angka pengangguran di kemudian hari. Elemen kampus dan fakta di lapangan terus berubah, ini mengakibatkan jurusan apapun (tidak hanya musik) yang akan dipilih juga memiliki kesempatan untuk berkembang dan bersaing di masa depan.<\/p>\n<p>Secara sosial, profesi musik memungkinkan seseorang berinteraksi dengan banyak pihak, termasuk dalam sebuah komunitas atau organisasi. Ini adalah hal yang meyenangkan sekaligus membuka kesempatan untuk memanfaatkan kekuatan jaringan. Di sekolah musik saja misalnya, setidaknya mahasiswa terlibat dalam satu kegiatan paduan suara, orkestra, band, atau teater musikal. Seluruh kegiatan itu melibatkan banyak orang dan memungkinkan terjadinya komunikasi. Setelah lulus atau keluar dari kampus, pengalaman berinterkasi tidak berhenti sampai di situ, peluang karir yang lebih besar telah menunggu.<\/p>\n<p>Seorang sarjana musik dapat bekerja di lingkungan pendidikan (sekolah, dinas pendidikan), atau mengadakan pertunjukan musik secara teratur. Kesempatan seperti itu bisa terbuka bagi siapa saja yang cermat untuk memanfaatkan keadaan. Kekuatan interaksi dan jaringan merupakan salah satu kunci di dunia musik. Karena dalam profesi musik yang dijual adalah jasa, sehingga menjaga hubungan baik kepada setiap orang adalah sebuah keharusan.<\/p>\n<p><strong><a href=\"https:\/\/www.researchgate.net\/publication\/340666756_Pendidikan_Musik_Pendekatan_Musik_Untuk_Anak_di_Era_40\">Karir di Bidang Musik<\/a><\/strong><\/p>\n<p>Menjadi musisi adalah satu dari sekian banyak profesi di bidang musik, industri kreatif membutuhkan lebih dari sekadar pelaku (player) musik yang bisa memainkan instrumen (music performer), tetapi manusia yang fleksibel dan menyesuaikan di berbagai kondisi. Salah satu profesi yang didambakan sebagian musisi adalah terjun di dunia bisnis, terutama bisnis musik. tentu saja ini membutuhkan keahlian selain musik, misalnya ekonomi, mengelola finansial, dan menganalisis data. Seorang <em>engineer<\/em> musik juga bisa mengembangkan karir secara mandiri dengan membaca kebiasaan pasar anak muda saat ini. Narsisme, konsumsi terhadap aplikasi seperti TikTok adalah bagian dari kehidupan milenial. Bagi pemusik yang kreatif, perubahan sosial semacam ini dapat menjadi peluang usaha.<\/p>\n<p><strong>Pengaruh Media Sosial Terhadap Musik<\/strong><\/p>\n<p>Hal yang perlu dipahami adalah mengerti bahwa kondisi sosial saat ini telah jauh berubah selama 10 tahun terakhir. Aplikasi seperti TikTok, instagram, spotify, dan SoundCloud telah merubah cara orang mengonsumsi musik. Saat ini melalui platform digital, seorang musisi kreatif bisa menghasilkan uang. Semakin kreatif, maka semakin banyak penghasilan yang didapat. Musisi tidak lagi menjual CD, peran aplikasi <em>streaming<\/em> telah meningkat. Mereka bahkan tidak perlu lagi mendownload lagu-lagu yang akan memenuhi memori <em>handphone <\/em>atau laptop, tetapi cukup memutar lagu lewat <em>streaming<\/em>, yang dibutuhkan hanya koneksi internet.<\/p>\n<p>Dulu para pecinta musik gemar berlangganan majalah musik, sekarang hanya perlu membuka mem-follow Twitter salah satu musisi favoritnya untuk mengetahui informasu terbaru tentang album. Interaksi manusia telah bergeser, hal ini menyebabkan bisnis musik juga ikut beradaptasi. Seseorang bia memproduksi karya musik hasil ciptaannya sendiri, proses produksi hingga pemasaran bisa dilakukan sendiri melalui YouTube atau Facebook. Kontrol yang dimiliki oleh seorang musisi tidak lagi terikat pada tim dan manajemen. Musisi tidak lagi membutuhkan penggemar, semua telah berubah menjadi \u201cfollower\u201d. Tentu saja follower tidak semuanya mendukung tetapi ada juga sebaliknya. Tetapi tujuan akhirnya bukan penjualan album, melainkan iklan dan <em>endorsement.<\/em><\/p>\n<p><strong>Memulai Sekolah Musik<\/strong><\/p>\n<p>Banyak musisi yang memulai pendidikan musiknya di usia sekolah, umumnya belajar otodidak atau masuk ke lembaga kursus. Pelatihan musik dengan pendampingan super ketat yang dijalani banyak musisi\/artis membentuk karakter dan keterampilan bermusiknya. Musisi seperti Isyana Sarasvati telah mengenal dan dibekali musik dengan baik. Teknik bernyanyi dan piano yang berakar musik klasik mendukung proses penciptaan musiknya seperti sekarang.<\/p>\n<p>Selain mengejar industri musik, berkecimpung di dunia akademis juga menjadi pilihan yang menarik. Menjadi seorang instruktur atau guru musik setidaknya membutuhkan ijazah S1, sedangkan menjadi dosen musik setidaknya berbekal ijazah S2 dan S3. Profesi lain yang juga membutuhkan sertifikat misalnya: terapis musik, komposer profesional, profesor musik, dan sejarawan musik. Di negara-negara maju, sertifikat itu menentukan jumlah pendapatan mereka.<\/p>\n<p>Di sekolah atau kampus musik, memilih spesialisasi adalah salah satu hal yang lazim ditemui. Ini merupakan keputusan yang sulit karena akan menentukan karirnya di masa depan, sama seperti seorang dokter spesialis. Spesialisasi juga mendukung seorang mahasiswa untuk fokus menekuni satu bidang musik. Sekolah musik menyediakan lebih dari sekadar keterampilan bermusik, tetapi juga meningkatkan pengetahuan teoretik secara mendalam. Walaupun tidak dapat dipungkiri salah satu tujuannya adalah mempersiapkan keterampilan alumni untuk berkarir di industri musik. Sekolah musik bukan satu-satunya tempat yang digunakan untuk mengakses informasi, pengetahuan bisa didapatkan di ruang kelas, panggung pertunjukan, magang, dan pengalaman musikal lainnya.<\/p>\n<p>Berkuliah di jurusan musik bisa merupakan hal yang baik bagi seseorang atau sebaliknya. Ada baiknya sebelum memutuskan untuk studi musik, terlebih dahulu mengumpulkan sumber informasi yang lengkap. Sehingga memiliki pengetahuan awal tentang hal apa saja yang perlu dipersiapkan dan diantisipasi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis melihat isu klasik yang kerap dibicarakan, yaitu seberapa penting<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":784,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,5],"tags":[],"class_list":["post-1135","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-educations","category-music"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1135"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1135"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1135\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media\/784"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1135"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1135"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dosen.unila.ac.id\/riyanhidayat\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1135"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}